Keluarga
adalah sebuah organisasi terkecil di dunia ini. Diperankan oleh seorang Ayah
yang bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seorang ibu
yang bertugas untuk memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya dan merawatnya dengan
penuh kelembutan dan kasih sayang. Seorang kakak yang bertugas untuk membimbing
adik kecilnya yang memerlukan perhatian dan arahan darinya. Dan seorang adik
yang selalu di manja oleh semua anggota keluarganya, kehadirannya sering kali
membawa kebahagiaan dan keceriaan keluarga setiap harinya. Namun berbeda halnya
denganku, seorang kakak yang tidak memperdulikan adiknya.
Namaku Naya,
aku mempunyai adik perempuan bernama Ara. Umurnya 2 tahun dibawahku, meskipun
tingkat pendidikan kami berbeda 3 tahun. Kami sangat dekat beberapa bulan
terkahir ini, namun sikapnya yang sangat manja padaku membuatku lelah
menghadapinya.
Pagi
itu, Ara menderita demam, kurasa ia sedang sakit. Teman-temannya menjenguk
secara bergantian ke ruangannya. Namun aku sebagai kakaknya, tidak
memperdulikannya sama sekali, meskipun kami berada dalam satu ruangan.
“Kak Naya,
sejak kapan Ara demam? Apa dia sudah makan?” tanya salah seorang teman Ara
padaku.
“Entahlah,
aku tak tahu. Tapi, bukankah sudah ada yang bertugas untuk mengurusi orang yang
sakit di asrama ini?” jawabku yang masih tak peduli dengan keadaan Ara.
“Tapi
kau kan kakaknya, apa kau tak mau mengurusinya?” tanya salah seorang teman Ara
lainnya.
“Aku
harus bergegas pergi ke kelas, lagipula mungkin temanku yang sedang bertugas di
bagian kesehatan akan segera datang untuk mengurusnya,” jawabku dengan malas,
“Aku pergi, kau jangan lupa makan obatmu Ara,” hanya itu yang kuucapkan pada
Ara saat hendak pergi ke kelas.
Ku
tinggalkan Ara bersama teman-temannya tanpa melihat keadaannya atau sekedar
mengusap kepalanya saat berpamitan. Aku tahu Ara adalah adikku, meskipun dia
bukan adik kandungku tapi dia sudah menganggapku sebagai kakak kandungnya
sendiri. Namun aku selalu bersikap dingin pada Ara, bagaimana pun keadaannya.
Termasuk saat ia sedang sakit, aku tidak mengurusnya sama sekali. Karena aku
sering berfikir, bahwa jika Ara terus bersikap manja kepadaku, Ara takkan
pernah bisa dewasa. Lagipula, aku sudah merasa lelah menghadapi sikap
kekanak-kanakkan Ara.
“Ku
dengar, adikmu sakit,” ucap temanku.
“Maksudmu
Ara? Ya, dia demam sejak pagi tadi,” jawabku.
“Apa
kau tak mengkhawatirkannya?” tanyanya lagi.
“Dia
hanya demam, aku yakin sore ini pun dia akan lekas sembuh,” sebenarnya aku
sedang tak mau membahas Ara.
“Memangnya
kenapa dia bisa sakit?” tanya temanku yang lain.
“Entahlah,
aku tak peduli,” jawabku.
“Kau
tak boleh bersikap seperti itu padanya, dalam kondisi seperti ini dia pasti
sangat membutuhkan perhatian seorang kakak,” balasnya.
Aku
terdiam. Terlintas di fikiranku Ara yang selalu tersenyum di setiap harinya.
Saat ini, dia hanya terdiam dan terbaring di ranjangnya untuk memulihkan
keadaannya. Apa aku merindukan itu semua? Tapi sudahlah, aku tak mau terlalu
memperhatikan keadaannya.
Sepulang
sekolah aku berdiam diri di ruanganku untuk menghafal. Dan saat itu Ara kembali
menggangguku.
“Kak Naya,
bisakah kita bicara sebentar?” tanya Ara.
“Ada
apa? Aku sedang menghafal untuk ujian besok dan aku tak suka jika ada yang
menggangguku menghafal,” jawabku dengan jengkel.
“Sebenarnya
Ara merasa bosan karena seharian ini Ara berada di ruangan dan Ara ingin
mengobrol dengan kakak. Tapi, jika kakak sedang menghafal Ara takkan mengganggu,”
balasnya.
“Apa
yang ingin kau bicarakan? Sebaiknya kau mempercepat ceritamu,” entah kenapa
saat itu aku memenuhi permintaan Ara untuk berbicara dengannya.
“Kata
temanku tadi, Ara mendapatkan nilai rata-rata 8 di UTS minggu ini kak,” Ara
terlihat sangat senang.
“Lalu?”
aku tak tahu, kenapa Ara harus menceritakan hal yang tak penting padaku.
“Apa
kakak tak bangga padaku?” tanya Ara.
“Kau
beristirahatlah kembali, supaya lekas sembuh,” aku malas mendengarkan
pembicaraannya.
“Tapi
kak, Ara belum selesai bercerita. Sesudah itu, Ara ingin memberitahu kakak
bahwa saat ini Ara sedang menjalin sebuah hubungan dengan seseorang. Sayangnya,
dia mantan kekasih temanku. Tapi Ara tidak memperdulikannya, karena Ara
menyukainya sejak dulu,” dia tersenyum.
“Kau
ini terlalu kecil untuk menjalin sebuah hubungan, lagipula kau sedang sakit
Ara. Bisa-bisanya kau memikirkan hal itu di saat seperti ini. Dan harusnya kau
menghargai temanmu itu dengan cara tidak menjalin hubungan dengan mantan
kekasihnya,” balasku.
“Tapi
kak, Ara sudah 15 tahun,” Ara merengek, merasa bahwa aku tak memperbolehkannya
pacaran, “lagipula bukan salahku jika memang dia menyukaiku bukan? Ara
menyukainya sejak dulu kak dan Ara selalu menantikan saat-saat dimana Ara
berkesempatan untuk menjalin hubungan dengannya”.
“Kalau
hanya ini yang akan kau bicarakan, aku akan kembali menghafal,” waktuku terasa
habis percuma mendengarkan cerita Ara.
“Kenapa
kak Naya selalu bersikap seperti itu padaku?” pertanyaan Ara mengagetkanku.
“Apa
maksudmu? Sudah sana beristirahatlah kembali,” aku berusaha menghentikan
pembicaraan.
“Apa
kakak membenciku?” Aku tak tahu kenapa Ara berbicara seperti itu padaku.
“Beristirahatlah,
tak seharusnya kau membahas itu semua saat kau sedang sakit seperti ini,”
balasku sambil berjalan keluar dari ruangan dan meninggalkan Ara sendirian.
Sebenarnya,
Ara adalah adik yang baik, dia sangat memperhatikanku. Jika aku sakit, dia akan
senantiasa memberikanku makan dan merapikan selimutku sebelum dia berangkat ke
sekolah. Dia selalu membelikanku makanan sepulang pergi keluar asrama bersama
teman-temannya. Selain itu, dia selalu menceritakan semua hal yang dilakukannya
hari ini padaku meskipun aku tak pernah memperhatikan apa yang sedang ia
bicarakan. Apa yang sedang dia rasakan dan apa yang sedang dia fikirkan selalu
dia ungkapkan padaku saat itu juga. Dia benar-benar bersikap seperti aku adalah
kakak perempuannya, kakak kandung perempuannya.
Layaknya
adik dan kakak, kami sering bertengkaar. Entah itu karena ulah Ara yang
membuatku jengkel atau ulahku yang
membuatnya jengkel. Namun seringkali,
Ara tak suka melihat kedekatanku dengan orang lain. Meskipun itu adalah
temannya sendiri, Ara tak pernah rela jika aku mempunyai keakraban dengan orang
lain selain dirinya. Dan seringkali, Ara sendirilah yang mendatangiku terlebih
dahulu untuk meminta maaf padaku atas perilakunya yang membuatku jengkel padanya.
Aku
tahu, sebagai kakak yang baik harusnya aku bisa membalas kebaikannya dan
memperhatikannya serta memberikannya kasih sayang selayaknya kakak kepada
adiknya. Namun sayang rasa jengkelku
lebih besar dibandingkan rasa sayangku padanya. Atau bahkan mungkin, aku hanya
bersikap ramah padanya jika aku sudah mulai mengasihaninya. Sekalipun aku
memperhatikannya, tetap saja sikap dinginku tak pernah lepas dari
kepribadianku. Karena yang kau tak suka adalah, dia tak pernah mendengarkan
nasihatku.
Sejak
dulu, Ara adalah seorang perempuan yang baik hati, terlebih dia cantik dan
merupakan anak dari salah seorang ustadz yang tekenal baik di kalangan
pesantren dan diluar pesantren. Tak heran jika banyak lelaki yang menyukainya
dan menginginkannya untuk menjadikan dirinya sebagai kekasihnya. Ara selalu
menceritakan setiap lelaki yang mendekatinya padaku, jengkelahan terbesarku adalah tak pernah
melarangnya secara tegas untuk menolak beberapa lelaki yang menurutku tak
pantas untuknya. Pada akhirnya, aku selalu berkata “Terserah padamu Ara,
ikutilah kata hatimu”.
Aku
tahu, aku sangat berbeda jauh dengannya. Dia cantik, menarik, mudah bergaul,
dan baik hati, bahkan sangat baik hati. Terkadang terlintas di fikiranku rasa
malu dan tak pantas jika harus menjadi kakaknya, meskipun hanya sekedar kakak
kelas yang dekat dengannya. Aku hanya bisa memberikan sesuatu yang kurasa
takkan pernah diberikan oleh orang lain. Sejak saat itulah sifatku seolah tak
memperdulikannya dan jika aku memperhatikannya, maka sikap dinginku tak pernah
hilang.
Sore
menjelang maghrib, aku kembali ke ruanganku untuk bersiap-siap mengambil mukena
dan Al-Qur’an. Saat itu, kulihat Ara sudah sembuh seperti biasanya.
“Kau
sudah sembuh?” tanyaku pada Ara.
Ara
hanya mengangguk sambil tersenyum ceria.
“Baguslah,"
ucapku padanya.
“Kak Naya,
terima kasih karena kakak sudah menemaniku mengobrol tadi dan menyuruhku untuk
beristirahat sepanjang hari,” balasnya.
“Aku
tak melakukan apapun untukmu, jadi kau tak perlu berterima kasih padaku,”
ucapku sambil berjalan keluar ruangan.
“Kak Naya
selalu bersikap aneh,” ucapan Ara menghentikan langkahku.
“Apa
maksudmu?” tanyaku heran.
“Ara
selalu berusaha untuk bersikap ramah pada kakak, tapi rasanya kakak tak pernah
mau bersikap ramah padaku. Selalu saja bersikap dingin saat berhadapan
denganku. Berbeda dengan teman-teman Ara, teman-teman kak Naya, kakak selalu
bersikap ramah pada mereka, tapi kenapa kakak selalu bersikap dingin pada Ara?
Ara merindukan kakak yang dulu, kak Naya yang selalu memperhatikan Ara dengan penuh
kelembutan dan kasih sayang seorang kakak,” jelasnya panjang lebar.
Aku
hanya diam, tak menjawab pertanyaan Ara dan beranjak pergi ke mesjid karena
adzan berkumandang.
Seusai
shalat maghrib, terlihat Ara sedikit memperhatikanku namun aku mengacuhkannya.
Tanpa sadar aku melamun dengan sendirinya, pandanganku kosong dan aku sedang
tak memikirkan apapun, benar-benar tak memikirkan apapun.
“Ada
apa dengan Ara? Sejak tadi dia memperhatikanmu dengan pandangan yang
menunjukkan ke jengkelannya padamu,”
Ucapannya
menyadarkanku dari lamunanku, “Dia memang sedang jengkel padaku, karena sikapku berubah
padanya”.
“Berubah?
Apa maksud pembicaraanmu?” tanyanya.
“Mungkin
kau tahu, dulu aku sangat memanjakan Ara dengan penuh perhatian dan selalu
membiarkan Ara mengambil keputusannya sendiri. Sedangkan sekarang, aku selalu
bersikap dingin padanya dan tak pernah peduli pada apa yang terjadi padanya,
lagipula dia tak pernah mendengarkan nasihatku,” jawabku.
“Aku
tahu, kau mungkin jengkel dengan sikap
manjanya. Tapi apakah sikap seperti itu akan membuatnya menjadi lebih baik?”
tanyanya lagi.
“Apa
kau bisa kuat jika kau mempunyai seorang adik yang sangat manja padamu, tak
pernah mau kau berdekatan dengan orang lain selain denganmu, tetapi tak pernah
mendengarkan nasihatmu?” aku mulai jengkel.
“Tentu
saja tidak,” jawabnya.
“Kalau
begitu, harusnya kau tahu apa alasanku bersikap seperti ini padanya,” balasku.
“Maaf Naya,
tapi kurasa dia takkan lebih baik jika kau menjauhinya seperti itu. Harusnya,
kau memanfaatkan sikap manjanya padamu untuk terus membimbingnya menjadi
seseorang yang lebih baik. Kurasa, dia tak berniat untuk mengacuhkan nasihatmu,
dia hanya ingin perhatian lebih darimu. Dia benar-benar ingin dibimbing olehmu,
tidak hanya sekedar diberikan nasihat” temanku mengutarakan pendapatnya.
Dia
benar, harusnya aku tak bersikap seperti ini pada Ara. Harusnya aku bisa
memanfaatkan keadaan untuk membimbingnya, bukan malah menjauhinya dan tidak
mempedulikannya.
“Tapi,
untuk sikapnya yang tak pernah mau kau dekat dengan orang lain, kurasa dia
jatuh cinta padamu,” canda temanku.
“Kau
ini, membuatku merasa takut dan khawatir saja,” tak sadar aku tertawa
bersamanya.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya
dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya, kuharap kau selalu
mengingat ayat itu. Jika kau menganggap bahwa sikap Ara adalah sebuah ujian
bagimu, maka hadapilah karena Allah tahu kau bisa menghadapinya. Berbuat
baiklah padanya sebelum secara tidak sadar kau melukai hatinya dan hal itu
dianggap sebagai sebuah kejahatan,” pesannya padaku sambil menepuk pundakku dan
pergi meninggalkanku.
Aku termenung, memikirkan
perkataannya tadi. Tapi sudahlah, kurasa 1 atau 2 hari cukup bagi Ara untuk
menyadari kejengkelanku pada sikapnya yang terlalu manja padaku.
*-*-*
Ini adalah hari ke-2 dimana Ara
mulai menjauhiku, aku tak mencoba untuk mendekatinya ataupun sekedar bertegur
sapa dengannya. Namun yang kulihat, Ara tak pernah berhenti memalingkan wajahnya
saat tak sengaja bertemu denganku. Bahkan, dia sering memandangku dengan sinis
dan penuh kejengkelan.
“Apa hubungan kalian sudah
membaik?” tanya temanku.
“Sejauh ini, kami masih saling menjauhkan
diri,” ucapku sambil tersenyum.
“Kurasa kau tahu apa yang akan
dilakukan seorang muslim jika ia sedang bermusuhan, lagipula kau lebih dewasa
darinya bukan,” dia mengingatkanku.
“Ya, aku sadar akan hal itu.
Tenanglah, aku takkan melebihi batas waktuku. Kita lihat apa yang akan terjadi
di esok hari,” ucapku dengan yakin.
Aku tahu, muslim yang baik
harusnya tak bertengkar melebihi 3 hari. Namun, aku yakin tak lama lagi Ara
pasti mendatangiku untuk meminta maaf dan mencoba untuk mendekatkan kembali
hubungan kami berdua. Entah kenapa, aku sangat yakin akan hal itu.
Pagi itu, saat sedang membaca
buku, tiba-tiba “Kak Naya,” Ara menyapaku.
Aku tersenyum dalam hati, “Ada
apa?”.
“Ara ingin mengembalikan buku
Nahwiyah ini,” ucapnya.
“Taruh saja di atas lemariku,”
balasku tanpa melihat ke arahnya.
“Baiklah,” nada bicara Ara
mengisyaratkan kejengkelan.
Aku tak tahu, kenapa saat Ara mulai
berbicara padaku, aku masih saja tak mau bersikap ramah padanya seperti dulu.
Sikap dingin ini sudah terlalu lama ku terapkan dalam kepribadianku. Aku yakin,
dengan Ara mengembalikan buku itu tadi, Ara ingin hubungan kami membaik dan
kembali seperti biasanya. Namun jengkelahan
besar telah kulakukan dan aku yakin Ara sudah tak mau menyapaku lagi sebelum
aku menyapanya.
Saat adzan dzuhur berkumandang,
aku berpapasan dengan Ara di tempat wudhu’. Ara tak menyapaku, bahkan Ara hanya
melewatiku seolah benar-benar tak melihatku berada di dekatnya. Saat pulang
sekolah pun, kami kembali berpapasan di gerbang asrama. Namun Ara mengalihkan
pandangannya yang memang melihatku dan memalingkan wajahnya sambil berlari
menjauhiku. Dan saat aku memasuki ruangan, secara tiba-tiba Ara memakai
kerudungnya sambil berjalan keluar ruangan.
Saat itulah aku merasa sadar
sepenuhnya bahwa aku memang menyayangi Ara. Meskipun hatiku selalu membuat
sikapku dingin padanya, aku tetap bersedia meluangkan waktuku untuk
memperhatikannya sekilas saja. Dan aku mulai merasa bahwa hatiku terasa
merindukan keceriaannya dalam hari-hariku, cerita tak penting darinya yang
memekakkan telingaku karena dia terlalu bersemangat saat bercerita. Aku baru
sadar, sikap Ara adalah hal-hal kecil yang membuatku jengkel, sekaligus hal-hal penting yang selalu
ingin ku rasakan setiap harinya.
Saat adzan ashar berkumandang, aku
bergegas pergi menuju mesjid dan saat itu hujan turun dengan deras membuat
hampir seluruh badanku kebasahan. Beruntung sejadahku cukup tebal sehingga
dapat menutupi sebagian tubuhku. Sayang, seusai shalat ashar tubuhku tetap saja
menggigil kedinginan dan kepalaku terasa sangat pusing. Tanpa sadar, di
perjalanan menuju ruangan, aku terjatuh pingsan tak sadarkan diri.
“Kumohon, cepat sadarlah kak Naya,”
suara Ara terdengar samar-samar di telingaku.
“Tenanglah Ara, kau ini selalu
saja tak bisa bersikap tenang,” terdengar suara lainnya.
“Bagaimana Ara bisa tenang kalau
kak Naya belum tersadar dari pingsannya,” sepertinya nada bicara Ara sedikit membentak.
“Sebaiknya kau keluar, biar aku
yang menyadarkan Naya dari pingsannya,” itu suara temanku.
Mataku perlahan terbuka, namun
kepalaku masih terasa sakit. Badanku sudah tak menggigil, berganti dengan rasa
dingin yang terbalut oleh kehangatan.
“Akhirnya kau sadar, seharusnya
kau tak memaksakan diri untuk shaum kalau memang kau tak kuat,” ucap temanku.
“Dari mana kau tahu aku sedang
shaum?” tanyaku.
“Ara tadi bercerita, 4 hari
terakhir ini kau sedang melaksanakan shaum qadha’, namun kau tak pernah
terlihat sahur karena kau selalu mendahulukan mandi sebelum shubuh dibandingkan
dengan sahur. Terlebih, 2 hari yang lalu dapur selalu terbuka jika sudah pukul
05.30,” jelasnya.
“Ara?” aku merasa heran, ternyata
dia masih memperhatikanku meski dia terlihat sangat jengkel padaku.
Pintu ruangan terbuka, tiba-tiba
kulihat Ara sedang memasuki ruangan.
“Kakak sudah sadar,” ucapnya
setengah berteriak, “Ara sangat mengkhawatirkan keadaan kakak,” Ara memelukku.
Astaghfirullahal’azhim.. Aku
tersentak, seberapa besar rasa jengkel
Ara pada sikapku yang dingin padanya, dikalahkan oleh kebaikan hatinya yang
memperhatikanku saat sedang sakit seperti ini. Meskipun saat dia sakit tempo
hari aku tak mengurusnya sama sekali. Aku benar-benar merasa malu padamu Ara.
Sesaat, aku tersadar bahwa aku sedang terbaring di atas ranjang Ara,
menggunakan jaket milik Ara dan dibalut dengan selimut tebal milik Ara.
Terlintas di benakku, pesan dan
nasihat dari temanku kemarin.
“Ara, maafkan aku yang tak bisa
membalas kebaikanmu. Aku benar-benar malu padamu dan kurasa aku sudah tak
berhak menjadi kakakmu,” kata-kata itu keluar begitu saja.
“Sejujurnya, Ara sangat jengkel pada kakak,” balas Ara.
“Aku tahu, siapa yang tak jengkel jika perbuatan baik kita dibalas
dengan sikap dingin. Terlebih, aku terlalu sering tak mempedulikan keadaanmu.
Mungkin, jika aku merasa bahwa kau tidak mengikuti nasihatku, hal itu karena
nasihatku tak baik bagimu dan tak sesuai dengan kata hatimu,” ucapku.
“Ara meminta maaf pada kakak, jika
kakak merasa bahwa Ara tak mengikuti nasihat kakak. Kakak akan selalu menjadi
penasihat jiwa bagi Ara, karena Ara sudah menyayangi kakak seperti kakak
kandung Ara sendiri, tempat curahan hati dan meminta nasihat bagi Ara,”
balasnya.
Rasa bersalah itu semakin kuat,
“Kenapa kau menganggapku sebagai seorang kakak? Dan kenapa kau selalu
memperhatikanku meskipun aku sering membuatmu jengkel dan menangis?” tanyaku pada Ara.
“Meskipun kakak sering membuatku jengkel, Ara tetap menyayangimu kak,” Ara
tersenyum.
“Lalu, bagaimana dengan sikap
dinginku padamu?” aku benar-benar malu pada Ara.
“Meskipun kemarin Ara sempat jengkel, tapi Ara sadar bahwa itu memang
kepribadian kakak. Jadi, itu sudah tak aneh untuk Ara kak,” jawabnya.
“Aku sadar, sikapku memang seperti
itu. Ara, sungguh aku benar-benar malu padamu, kau begitu memperhatikanku,”
ucapku.
“Kak Naya baru sadar, Ara
senantiasa memperhatikan kakak?” Ara kembali tersenyum, “Kakak tak perlu malu,
lagipula Ara sadar bahwa Ara selalu bersikap manja pada kakak dan selalu
bercerita panjang lebar pada kakak,” balasnya.
“Kau memang sangat baik Ara, aku
beruntung menjadi orang yang bisa kau anggap sebagai kakak kandungmu sendiri,”
aku membalas senyuman Ara.
Terkadang, begitu banyak anugerah
dan keistimewaan di dunia ini. Namun yang tak pernah kusadari adalah anugerah
dan keistimewaan itu berada disekitarku, berada disekelilingku, bahkan berada sangat
dekat denganku, hingga aku tak mampu menyadarinya.
Jika aku pernah lelah menghadapi
semua sikap Ara yang selalu manja padaku, bahkan hingga tak rela melihat
kedekatan orang lain denganku, harusnya aku bersyukur akan hal itu. Karena itu
artinya, ada orang yang benar-benar menyayangiku dan membutuhkanku. Dengan
sedikit sikap sabar dan kedewasaanku, harusnya aku bisa membimbing Ara. Terima
kasih Ara, kau menyadarkanku bahwa hal-hal kecil yang menjengkelkan adalah
hal-hal penting yang suatu hari akan ku rindukan.
*-*-*