Namanya Milea, biarlah itu menjadi nama yang mengingatkanku padanya untuk saat ini.
Dia bukan sosok yang cantik sempurna secara fisik, tapi dia selalu cantik saat ia berbicara dengan lancar saat di depan umum. (itu salah satu pengakuannya padaku)
Dia orang yang berkepribadian Sanguinis untuk saat ini, tapi lebih baik untuk selamanya kurasa. Mengapa? Karena memang kepribadian itu yang mengantarkannya menjadi salah satu sahabat terbaikku di bangku perkuliahan.
Kabar yang kudapat, orang dengan kepribadian tersebut punya berbagai macam kelebihan. Seperti hangat, bersahabat, berbelas kasihan, responsif, antusias, ramah dan banyak bicara. Namun juga kekurangan, seperti tidak disiplin, emosi labil, tidak produktif, egosentris dan membesar-besarkan masalah. Mari kita bahas apa yang benar-benar menempel dalam dirinya.
Milea memang antusias, atau lebih tepatnya dramatis. Apa pun yang terjadi padanya, apa pun yang dilakukannya, dan apapun yang diinginkannya ia selalu bersikap antusias sampai aku dan sahabatku (sekaligus sahabatnya yang lain) selalu menyebutnya ‘alay’ dan cukup berlebihan. Tapi itulah dirinya, pribadi sanguinis.
Milea juga banyak bicara, dalam arti dia senang dan mampu untuk berbicara di depan umum. Sewaktu presentasi, ia bisa menguasai, sewaktu bertanya, ia bisa menguji, dan sewaktu menjawab, ia bisa menanggapi. Hingga terkadang, terdengar pujian dosen untuknya ‘presentasi kamu bagus’.
Kupikir, hal yang sering kali ditunjukkan olehnya adalah emosi labil atau egosentris. Bukan karena dirinya mudah emosi, meski memang terkadang kenyataan mengatakan seperti itu. Bahasa yang sering diungkapkannya adalah ‘aku rungsing’ (kata yang selalu diucapkannya ketika emosi sampai ada orang yang memarahinya karena ia selalu bersikap seperti itu, akhirnya ia mengurangi kata-kata itu, bukan sikap rungsingnya, kurasa)
Masih ada lagi, bahasa yang diucapkannya kali ini menunjukkan sikap tidak produktifnya. Bukan karena dirinya sulit mengerjakan sesuatu, meski terkadang kenyataan mengatakan seperti itu. Bahasa itu berbunyi ‘aku na teu kiyeung’ , bahasa yang asing untukku bahkan sebenarnya aku tak tau bagaimana cara menulisnya dengan baik dan benar agar sesuai dengan tatanan bahasa ‘Kuningan’ nya. Hingga dia menjelaskan ‘kiyeung itu rajin’ , baiklah kali ini bisa ku mengerti maksudnya.
Dua kata itu akan keluar saat ia dituntut untuk melakukan sesuatu hal yang sedang tak ingin dilakukan olehnya. Kata kedua biasanya keluar tepat sebelum dia bersedia mengerjakannya atau mungkin terlanjur malas dan menolak melakukannya. Sedangkan kata pertama keluar tepat saat ia mengalami kesulitan saat mengerjakan tugasnya, entah itu benar-benar kesulitan atau sesuatu akibat kecerobohannya, kurasa.
Tapi Milea, sebaik apapun kelebihan yang kau miliki dalam dirimu, separah apapun kejelekan yang kau tunjukkan padaku, semoga itu tak membuat persahabatan kita menjadi terhalang untuk tetap terjalin. Aku mengalami banyak jenis persahabatan di setiap jenjang pendidikan, dan tak pernah ada persahabatan dengan tiga orang yang selalu terjalin cukup lama. Selalu saja ada titik kecemburuan dari salah satu diantara ketiganya.
Apa itu terjadi pada kita? Kuharap tidak, sahabat.
Hal lain yang ingin kuucapkan adalah, terima kasih, karena setidaknya kau selalu bersabar menghadapi sifat negatifku yang selalu mengalah kepada siapapun, yang selalu merasa bersedih dan terlupa untuk selalu bersyukur dan memohon ampun.
Terima kasih, karena setidaknya saat begitu banyak cerita yang ingin kuungkapkan kau bersedia mendengarkannya dengan penuh kesabaran dan tanggapan, sambil terus memberikan saran dan motivasi terbaik bagimu dengan bahasa yang selalu kuingat, ‘alirkan energi positif’.
Terima kasih, karena setidaknya kau bersedia menjadi salah satu sahabat terbaikku.
Maaf jika aku kurang mengenalmu, maaf jika aku kurang memahami apa yang terbaik untukmu, apa yang kau harapkan dan apa yang kau butuhkan dalam hidupmu.
Harapku atasmu, semoga kau selalu bahagia. Seceria saat ini, saat kau tertawa bersamaku dan bersamanya, atau bahkan bersama mereka. (aku yakin kau tahu siapa yang kumaksudkan tanpa harus menyebut nama-nama mereka satu persatu bukan?)
Sekali lagi, terima kasih, Lia Amalia ‘Madkoesuji’ ^^ .
بارك الله في كل حال. يا صاحبتي. عفوا إذ أنا لمّا أكن خير الصاحب لك. سعدت بتكون صاحبك.
Always be happy, and be better than last. Aamiin.
Sapaan Persahabatan
Nisa Wiyati Ilahi