Sabtu, 31 Oktober 2015

Lia Amalia



Assalamu’alaikum a Rian.
Surat ini Nisa perkenankan untuk a Rian *sebenernya, tapi berhubung “nanaonan atuh nis pake ngasih surat buat a Rian segala”, jadi kayaknya yang baca mba Lia aja yah. =P
Sejauh ini, yang nisa kenal tentang seorang Lia Amalia tidaklah banyak. Tapi yang pasti Nisa pengen banget nitipin seorang dengan pribadi sanguinis koleris, si ceria yang alay dan keras kepala ini sama a Rian.
Lia ini a, orangnya “Seneng minta pendapat orang dan muji orang”. Kebukti sama sikap dia yang sering nanya pendapat nisa dan sering baper sama tulisan-tulisan nisa yang biasa aja. Tapi sikap Lia benar-benar hangat a, Lia bikin nisa ngerasa kalo pemikiran nisa dibutuhin juga ternyata sama orang lain, tulisan nisa bisa istimewa dan bermanfaat juga ternyata buat orang lain. A Rian beruntung bisa dapetin Lia yang baik hati, bisa hangat, bersahabat dan bikin orang lain ngerasa senang dan berarti.
Lanjut ya a, Lia itu “Paling gak suka dibilang berubah”. Kebukti sama cerita nisa tentang sikap nisa yang dulu nuduh ke 'temen' nisa kalo dia berubah padahal kata Lia bukan dia yang berubah tapi cara pandang nisa tentang dia yang berubah. Lia emang bener a, kadang dengan kata berubah kita seolah menghakimi seseorang dengan sikap yang justru itu hanya kita yang merasakan tapi bisa saja dirinya bahkan orang lain yang juga disekitarnya tidak merasakan perubahan itu. Tapi hanya diri kita sendiri lah yang merasakannya. Hati-hati yah a kalo mau bilang Lia berubah. Hihi.
Terus a, keras kepala nya lia ini muncul “Kalo mau harus iya, kalo nggak iya rungsing”. Dia sering bilang ke nisa khususnya kalo lagi stres dan galau “Mba, aku pengen pulang dan ketemu Mamah”. Sebelum Lia pulang ke rumah dan ketemu sama mamah tercintanya, biasanya Lia bakalan susah fokus dan susah diajak kerjasama buat ngerjain tugas. Jadi intinya kalo Lia pengen pulang, dia harus pulang. Kalo nggak, duh rungsing nya gak ketulungan a. Ripuh nisa, suka greget apalagi kalo liat Lia nyantei ngerjain tugas gegara galau pengen pulang *haha iya gitu pernah? Gatau sih nisa ngarang aja. Wkwk
Selain yang tadi a, Lia juga “Kalo gak mau harus nggak, kalo iya ya siap” aja liat perubahan sikapnya”. Lia itu kalo ngelakuin sesuatu secara terpaksa jatohnya dia gaakan ngeluarin kehebatannya dia. Dia bakal kerja tapi gak maksimal, asal meski gak jelek-jelek amat hasilnya. Yaa, ini beda tipis sih a sebenernya sama yang diatas. Hoho.
Nah ini sisi melownya Lia a, “Kalo lagi jauhin orang yg dia sayang karena kecewa dia juga nyakitin dirinya sendiri”. Lia pernah marah sama nisa sama epi juga gegara salah paham sama kejadian di lab computer. Waktu itu Lia nanya sesuatu ke nisa, Lia manggil” nisa tapi nisa gak nyaut dan malah ngobrol terus sama epi. Alhasil, Lia pundung dan ngerjain tugas lewat searching, padahal nisa sama epi bisa bantuin dia. Pas nisa nyapa, dia baeud wae a. Pas nisa mau bantu, Lia bilang Lia bisa sendiri. Sampe tiba waktunya kita kajian, tapi Lia pundung dan kita sms an ala ala orang gak kenal dengan bahasa yang kaku dan kita ini orang asing, Bhay. Tapi a, besoknya dia nangis ke nisa, minta maaf. Padahal nisa yang salah, tapi dia yang nangis. Hoho. Lia baik kan a, nisa yang salah tapi Lia yang minta maaf. Nisa yang cuekin dia duluan meski sebenernya karena gak denger dia manggil” nisa, tapi Lia yang nangis ke nisa. Dia peluk nisa, padahal harusnya marah besar. Haha Lia, Lia, kamu mah suka bikin malu aja. Hoho.
Nah, kalo yang ini a Rian kudu sabar yah, soalnya Lia “Sering lupa sama apa yg dia ucapin dan nasihatin”. Kebukti sama kejadian dimana nisa lagi curhat terus ditengah” curhat nisa bilang “kan kata mba juga … bla bla bla…” tiba” dia nyela dan nanya “emang aku pernah ngomong gitu?” atau “emang aku pernah ngeluarin nasehat sekece itu?” ini tanda kalo Lia seneng nasehatin orang a, bantuin orang yang lagi butuh nasehat, solusi dan teman berbagi *elaahh.
Yang kedua, Lia juga “Sering lupa kalo dia udah cerita tentang suatu hal sampe diulang berkali-kali”. Naahh, jadi a Rian jangan heran yah kalo dia tiba-tiba cerita hal berulang tanpa sadar kemudian nanya “ehh, aku udah pernah certain ini belum?” hohoho.
Kemarin, waktu kita kumpul geng terakhir ceritanya Lia bilang kalo dia paling gak enakan sama orang, apalagi kalo orang itu nunggu. Menurut nisa, itu sikap yang melankolis, tapi yaa kalo memang Lia merasakannya itu bukan masalah. Karena nisa tau, Lia orang baik a. Nisa udah cerita kan a, kalo Lia itu kadang suka minta maaf duluan sama orang yang justru punya salah sama dia. Hahaha ingetin aja yah a biar Lia jadi orang yang sabar dan kuat.
Masih banyak hal tentang Lia yang gak bisa Nisa sebut satu persatu, tapi yang pasti hal-hal diatas adalah diantara kenangan yang nisa inget tentang Lia. Tapi yang paling berarti buat nisa adalah Lia selalu bilang bahwa melankolis itu istimewa, itu selalu nisa jaga dan nisa tanam di diri nisa. Hehe.
Oiyah a, Lia itu kadang suka rada khilaf jadi dia centil dan alay sih a, tapi itu bentuk keceriannya dia, bentuk becandanya dia sama semua temen-temennya, bentuk bersahabatnya dia sama lingkungan. Diwajarin aja yah a, namanya juga sanguinis, kadang dia gak sadar sikap welcome nya dia bikin sakit melankolis *lho *curcol *pengalaman pribadi ajah.
Titip Lia yah a, mungkin setelah hari ini apa yang biasa dia ceritain ke nisa jadi ke a Rian aja, apa yang biasanya dia omelin ke nisa jadi ke a Rian aja, apa yang biasa dia tumpahin ke nisa jadi ke a Rian aja.
Salam buat Lia juga yah a, mungkin setelah hari ini nisa jadi canggung buat cerita sama dia, nisa jadi bingung kalo mau curhat dan nangis lepas ke dia, nisa makin ngerasa ngebebanin dia. Kita gak tau kan a apa yang bakalan terjadi di masa depan?
Akhir kata, nisa ucapkan selamat buat a Rian yang udah beruntung banget dapetin Lia dan makasih buat a Rian yang udah jadi pasangan terkece buat Lia. Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khaiir.
Nisa percaya bareng a Rian, Lia bakal makin hebat dan kece. Titip Lia yah a.

Salam, sahabat perkuliahan Lia,
Nisa Wiyati Ilahi.

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #4



Fifi Nurshifa Budiarti, itulah nama seorang divergent yang aku kenal sejak kami berada dalam salah satu organisasi Himpunan Mahasiswi sebagai alumni PPI (Pesantren Persatuan Islam). Saat itu, aku belum terlalu banyak mengenal kepribadian dan sifatnya. Yang aku tahu, dia adalah teman dari temanku saat duduk di tingkat mu’allimien. Yang aku tahu, dia berprestasi dan memiliki keahlian di bidang organisasi, sejak saat itu aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki kepribadian koleris. Pribadi yang menurutku pekerja keras dan dipercaya menduduki jabatan-jabatan penting dalam organisasi, seperti ketua atau bahkan sekretaris.
Waktu berlalu, jika kami bertemu maka kami hanya sekedar menyapa satu sama lain. Kami tidak memiliki kontak satu sama lain, tidak memiliki perbincangan diluar “Apa kabar himi? Masih suka ikut kegiatan himi?”. Bahkan mungkin kami tidak pernah memikirkan satu sama lain atau memperhatikan satu sama lain atau memperdulikan satu sama lain dalam setiap hari, minggu bahkan bulannya.
Qadarullah (itu bahasa yang dia ucapkan) kami dipertemukan kembali di kelompok KKN yang bertempatkan di Caringin, Karang tengah, Garut. Suatu kejutan dan hadiah dari Allah agar kami bisa saling menjaga satu sama lain, mengingatkan satu sama lain dan memperhatikan satu sama lain. Yang intinya, mengenal dengan baik satu sama lain untuk dapat berjalan bersama dalam kebaikan dan perubahan.
Pertemuan pertama kami dan perbincangan terpanjang kami adalah pada saat meet up pertama kelompok KKN. Ia diajukan dan disepakati untuk menjadi sekretaris kelompok, sisi kolerisnya sudah mulai terlihat disana. Berlanjut saat kami mulai sering mengadakan pertemuan dan perkumpulan, aku semakin mengetahui kepribadiannya, caranya memutuskan, arah berfikirnya, komunikasinya, dan hal lainnya yang menunjukkan bagaimana kepribadiannya. Kurasa dia mulai terlihat memiliki kemiripan denganku dari beberapa sisi, terkadang ia bisa menjadi orang yang pendiam, terkadang juga sangat tidak bisa berdiam diri di tempat, terkadang menangis tertahan, dan terkadang-terkadang lainnya. Intinya, aku sedikit kebingungan apakah ia melankolis atau phlegmatis.
10 hari pertama, kami seringkali bersama-sama dalam melakukan sesuatu. Memperbincangkan sesuatu yang terkadang hanya kita berdualah yang mengerti hal itu, seperti masa-masa di pesantren, teman-teman di pesantren, kisah cinta di pesantren, ups. Intinya, kami semakin dekat dan senantiasa berusaha satu sama lain untuk dapat saling memahami pribadi dan pola pikir masing-masing. Dan aku menyimpulkan bahwa dia memiliki 3 pribadi, koleris, melankolis dan phlegmatis.
Dia orang yang baik, dia bisa mengarahkan orang lain dengan bijak, mengerjakan sesuatu dengan tekun dan menjadi teman bicara atau bercanda yang asik dan enerjik. Dia anak gunung, bahkan mengikuti salah satu perkumpulan bernama Matagira. Sejujurnya aku belum bisa memahami dia sepenuhnya, itulah mengapa aku memandangnya sebagai seseorang yang divergent.
Poy, itu sapaan hangatku padanya. Meski bukan hanya dia yang kupanggil dengan sapaan ‘poy’ tapi melalui sapaan itulah aku merasa bahwa aku adalah teman dekatnya, akrab dengannya dan memahaminya.
Poy, kau tahu bukan bahwa kau adalah orang yang kuat dan menguatkan. Buktinya, aku membiasakan diri menjadi kuat karenamu. Kau juga orang yang perhatian dengan batasan yang pas, dari sikapmu aku bisa belajar untuk tidak memperhatikan dan peduli pada seseorang secara berlebihan. Kau pemimpin yang baik meski kau tak menyadarinya, dari caramu berfikir dan memutuskan aku belajar untuk bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Poy, terima kasih banyak sudah memberikan waktu dan kesempatan bagiku untuk mengenalmu, menjadi temanmu, meski sulit rasanya jika aku menjadi kakak iparmu (abaikan). Yang pasti, kau memberikan banyak kebaikan dan kenangan padaku termasuk saat kau tak menyadarinya. Ada saat dimana aku merasa tenang dan begitu bahagia meski hanya melihatmu terbaring dan tertidur pulas disampingku. Mungkin ini berlebihan, tapi di masa itulah aku bisa benar-benar tahu dan melihat keadaanmu secara langsung. Tak tega rasanya membayangkan kau menangis, lelah, terluka dan sakit tanpa aku berada disampingmu sebagai teman yang mendengarkan keluh kesahmu dan membantu menghilangkannya.
Poy, aku pun ingin minta maaf jika sikapku belum bisa memberikan yang terbaik bagimu. Jika pemikiranku belum bisa mendukung keputusan bijakmu. Jika pribadiku belum bisa memahami pribadimu secara jelas dan menyeluruh. Jika hadirku belum bisa menjadi bagian kecil dari kebahagiaanmu. Jika tulisanku belum bisa memberikan rasa haru yang berarti bagimu. Dan jika dilain waktu, aku menuliskan sesuatu untukmu atau tentangmu, semoga itu tidak mengganggu.
Akhir kata, ingin kuucapkan “Alhamdulillah untuk kelahiranmu, semoga umurmu berkah dan dapat memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada disisimu”. Aamiin.
Salam hangat (dari calon kakak iparmu *semoga jadi aamiin wkwk abaikan ini informal)
Nisa Wiyati Ilahi