Senin, 28 November 2016

Teman

Budaya Sayang Teman
1. Berkata baik kepada teman
2. Berbuat baik kepada teman
3. Mendoakan teman

Kamis, 29 September 2016

DUNIA ANAK



Seru, menantang, diluar sangkaan, penuh pelajaran.

#1

Guru: “Anak-anak sudah boleh pulang”
Murid: *ribut sun tangan kemudian lari keluar kelas
Guru: *beresin kelas bekas belajar anak2
Murid: *lari-lari balik lagi ke kelas, kemudian bilang “Bu guru, makasih yah”
Guru: *melted ibu nak~

#2

Guru badmood = murid susah diatur pas belajar, murid ngantuk, pembelajaran gaje
Guru goodmood = murid belajar dengan senang tanpa beban~

Kamis, 15 September 2016

Tentang Kata

Kata, yang dengannya dapat memotivasi.
Kata, yang dengannya dapat menginspirasi.
Kata, yang dengannya dapat membuat tersenyum.
Kata, yang dengannya dapat membuat semangat.
Kata, yang dengannya dapat merasakan bahagia.
Kata, yang dengannya dapat..... ahh bersyukur atas hidup yang dijalani, atas setiap hal yang terjadi.

Tapi, siapa sangka bahwa terkadang,

Minggu, 04 September 2016

Tentang perbincangan sederhana

Apa kau tahu, berbincang denganmu memunculkan begitu banyak inspirasi kata. Tapi sayang kau bertindak curang, kau memberiku begitu banyak kata tanpa memberi tahu bagaimana caraku untuk menyusunnya.

Selasa, 09 Agustus 2016

Hati


“Ada sesuatu hal yang seringkali berada diluar kendali pribadiku, namun siapa sangka justru hal tersebut mengendalikan segalanya?”

Sabtu, 06 Agustus 2016

Kerja



Bekerja itu....
Bisa menjadi suatu kebutuhan, entah itu berhubungan dengan kebutuhan fisik dalam melakukan sesuatu hal maupun kebutuhan finansial yang akan dapat terpenuhi dengan cara bekerja, meskipun hanya dengan melakukan sesuatu hal yang ringan dan sederhana.
Bisa menjadi suatu kewajiban, seperti halnya beban atau mungkin tanggung jawab yang dimiliki oleh seseorang, yang secara tidak langsung menuntut seseorang untuk melakukan sesuatu hal.
Bisa menjadi suatu bentuk pengakuan, ibarat kata ada perasaan bangga dan percaya diri ketika sedang ditanya, apa pekerjaanmu atau dimana kau bekerja?
Bisa menjadi suatu bentuk pengabdian, dengan alasan tidak diterima di perusahaan atau yayasan lain, maka bentuk terima kasih atas ketersediaan kesempatan untuk bekerja di tempat yang bersangkutan dilakukanlah sebuah pengabdian dengan cara melakukan sesuatu hal untuk tempat terkait.
Bisa menjadi suatu keterpaksaan, dikarenakan tak ada hal lain yang bisa dilakukan, atau karena tak ada pilihan lain lagi, maka mau tidak mau harus melakukan pekerjaan ini.
Lantas, apa arti pekerjaan bagimu? Apakah ia adalah sebuah kebutuhan, kewajiban, pengakuan, pengabdian atau justru keterpaksaan?

Minggu, 31 Juli 2016

Langkah pilihan



Pernahkah kau melangkah namun tak tahu alasan kenapa kau mengambil langkah tersebut?
Pernahkah kau melakukan sesuatu yang rasanya bukan keinginan dirimu sendiri juga bukan tuntutan dari lingkungan sekitarmu?
Pernahkah kau memilih dan memihak terhadap sesuatu hal namun kau tak mengerti dorongan apa yang membuatmu bersikeras untuk memilih dan memihaknya?
Jika kau pernah mengalaminya, bisakah kau ceritakan padaku hal apa yang terjadi setelahnya?

Minggu, 17 Juli 2016

Prasangka



Ini tentang Prasangka
Iyyakum wa dzanna fa inna dzanna akdzabul hadits
(Jauhilah oleh kalian prasangka karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan).
Dzann, prasangka, pernah dengar istilah suudzan dan husnudzan? Atau mungkin bahkan sudah paham?
Suudzan mengarah kepada prasangka buruk sedangkan husnudzan mengarah kepada prasangka baik.
Lantas, bagaimana kita menanggapi prasangka yang akan selalu ada dalam diri kita? Karena manusia tidak luput dari kesalahan bukan? Dan mungkin saja prasangka itu adalah sesuatu yang termasuk dalam kesalahan itu sendiri.
Jadi kita perlu mengingat 2 hal,
Pertama, hal yang diawali dengan buruk akan berakhir dengan buruk pula. Jikalau akhirnya prasangka buruk itu salah, maka sungguh perasaan malu dan bersalah akan menyelimuti hati dan pikiran kita. Jikalau pun benar, yakin akan membawa kebaikan dan ketenangan pada hati dan pikiran? See. Hindari prasangka buruk.
Kedua, hal yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula. Jikalau akhirnya prasangka baik itu salah, meskipun perasaan kesal dan kecewa akan menyelimuti hati dan pikiran tapi sungguh itu bukti bahwa Allah menyayangi kita. Allah menunjukkan hal tersebut agar kita tak semakin tenggelam dalam hal yang hanya berakhir pada kekecewaan dan kesalah pahaman yang berlarut-larut. Jikalau pun benar, sudah barang pasti membawa ketenangan pada hati dan pikiran. See, usahakanlah untuk selalu berprasangka baik.
Meski begitu, ada seseorang yang pernah memberi tahu saya bahwa berprasangka mengenai perasaan seseorang adalah hal yang keliru alias ‘teu kaci’ katanya. Dan saya paham karena bahkan seseorang yang hangat pun tak selalu mengekspresikan perasaannya melalui keramahan sikap. Begitupun dengan seseorang yang terhitung kasar dan egois pun tak selalu mengekspresikan perasaannya melalui keacuhan sikap. setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menanggapi perasaan yang ia rasakan. *maaf sedikit intermezzo
Salam,
Seseorang yang penuh ‘prasangka’.

Selasa, 05 Juli 2016

Jika Anda Bersedia Membaca



Seperti yang telah kita ketahui bahwa hari raya Idul Fitri telah datang, tanpa terasa bulan Ramadhan yang suci telah pergi. Semoga amalan kita selama bulan Ramadhan dapat di terima oleh Allah SWT. Aamiin. Karenanya saya pribadi mengucapkan.
تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم من العائدين و الفائزين كل عام و أنتم بخير آمين
Sebelumnya, perkenalkan nama saya Nisa Wiyati Ilahi.
Saya mungkin adalah salah satu dari beberapa teman dekat anda, atau salah satu orang yang hanya sekedar anda kenal dan anda tahu saja.
Tulisan ini saya buat dalam rangka permohonan maaf, yang tentunya diharapkan juga dapat menjadi pengingat bagi kita semua.
Berbicara tentang manusia yang merupakan sosok dengan berbagai macam kesalahan dan khilaf yang dilakukan, maka tentu sudah pasti saya pribadi pun memiliki kesalahan kepada setiap orang yang saya kenal baik itu disadari maupun tidak.
Jika ada yang menganggap bahwa saya adalah orang yang baik, maka mari kita ingat bahwa terkadang seseorang dipandang baik adalah karena Allah telah menutupi aibnya. Oleh karenanya sudah pasti bahwa saya pun telah tertutup aibnya ketika dipandang sebagai orang yang baik. Dan jika ada yang menganggap bahwa saya adalah orang yang tidak baik, maka saya harap akan ada pengingat dan pemberitahuan kepada saya pribadi agar saya bisa memperbaiki diri, bukan dengan tujuan agar terlihat baik, tetapi agar benar-benar belajar dan membiasakan diri untuk menjadi seorang hamba Allah yang taat.
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah bersikap sebagai seseorang yang ingin terlihat baik, menunjukkan ketulusan yang bahkan tidak terasa sedikitpun dalam hati saya. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah bersikap sebagai seseorang yang begitu perhatian, padahal nyatanya terlihat dan terkesan mengganggu, atau mungkin justru sebagai seseorang yang begitu cuek dan tidak peka. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah berucap pujian atau justru kekecewaan pada seseorang, yang bahkan tanpa terpikir sekali pun bahwa ada kekeliruan dalam diri saya sehingga terucaplah kalimat pujian dan kekecewaan itu, yang bahkan tanpa terpikir sekali pun bagaimana perasaan dari orang yang mendengarnya. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah melakukan kesalahan berulang, entah itu kesalahan yang bisa dimaklumi atau kesalahan fatal yang dilakukan pada teman yang sangat dekat dan akrab, hingga rasanya sudah merasa yakin dan percaya diri bahwa dia akan bersedia memaafkan dan memaklumi. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah berlagak seperti orang yang paling paham, orang yang paling tahu, orang yang paling benar, dalam sesuatu hal, tidak bersedia mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain yang bisa memperbaiki pemikiran saya, perilaku saya. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah menyebabkan orang lain membicarakan saya di belakang, merasakan emosi dan amarah berlebih yang entah tertahankan atau terlepaskan, merasakan ketidak nyamanan akan keberadaan saya di sekitarnya, merasakan ketidak terbukaan dalam bercerita tentangnya sedang saya terus menerus mengganggunya dan bercerita padanya, menyebabkan orang lain mengalami penyakit hati, menyebabkan orang lain berprasangka buruk akibat perilaku yang buruk dari saya, atau mungkin bahkan sebaliknya, saya lah yang membicarakan di belakang, memiliki penyakit hati dan berprasangka buruk. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Manusia itu tempatnya salah dan lupa bukan?
Oleh karenanya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dari hati yang sedalam-dalamnya. Jika saya pernah melakukan kesalahan dan melupakan kebaikan, semoga dapat dimaklumi dan dimaafkan serta untuk ke depannya diberikan teguran.
Terima kasih banyak untuk kesediaan dalam membaca tulisan ini. Semoga Allah memberikan ampunan-Nya kepada kita semua. Wassalam.

Jumat, 20 Mei 2016

Sidang Ibun ^^



Buat ibun(der) yang besok mau sidang.
Tau gak? Skripsi kita ini bukan cuman tentang penelitian, tapi juga tentang keyakinan dan kemampuan.
Kita sama-sama punya keyakinan, tapi ada bedanya.
Keyakinan ibun kuat sejak jauh-jauh hari menuju bulan April, jadi besok ibun bisa sidang ekekek. Keyakinan nisa lemah jauh-jauh hari sebelum menginjak bulan April, jadi sampe detik ini belum dapet ACC huhu.
Di sisi lain kita sama-sama mampu tapi dalam hal yang berbeda juga, Allah sama-sama memampukan kita. Untuk ibun dalam hal sidang bulan ini, mungkin aja kalo bulan depan detun terlalu lelah ya bun muehehe. Dan lagi dengan kondisi dospem skripsi yang seperti itu seolah percuma di lama-lamain kalo ujung-ujungnya gitu aja cara revisi dan bimbingannya, iya gak bun? Salah gak aku? Wkwk.
Untuk nisa dalam hal menanti bimbingan dan acc biar bisa sidang bulan depan (Aamiin). Mungkin nisa kudu usaha lebih keras lagi ya bun, atau lebih sabar lagi, atau lebih teliti lagi, dan nisa (yang bahkan jomblo ini *lho, maksudnya belum punya tuntutan sama imam dan calon malaikat kecil kayak ibun) mungkin lebih mampu buat sabar, teliti dan usaha lebih keras dibanding sidang dengan prepare ala ala deadliner muehehe piiss.
Yang pasti keyakinan kita yang atur kan bun, dengan catatan kehendak Allah yang mewujudkannya. Seperti banyak teman yang mengingatkan kita bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Dan kemampuan kita yang usahakan, dengan catatan kehendak Allah yang memutuskan hasilnya. Meskipun hasil tergantung usaha, tetap saja mesti ada peran kapabilitas diri didalam perolehan itu, iya gak sih bun bahasanya gitu? Wkwk.
Maap bun tulisan ini abstrak, tapi gak se teoritis abstrak skripsi kok. Haha.
Oke bun, selamat dan sukses buat sidangnya.
Note: pesan ini dibuat pada malam sebelum pelaksanaan sidang, dibaca ibun pada siang seusai pelaksanaan sidang, ditangisi setelah selesai membaca dan selesai pengumuman yudisium *ini gak nyambung *oke bhay.
Akhir kata, mapyabun nisa jadi bawang merah terus buat ibun. Lopyubun <3.

MayDay



Hay Bep *kedipcentil*
Siang tadi, sepertinya ada sedikit kode buat nisa biar nulis sesuatu tentang kamu. Atau mungkin lebih tepatnya mengungkapkan sesuatu untukmu lewat tulisan.
Sejujurnya aku tak tahu apa yang sebaiknya aku sampaikan padamu dengan kondisi seperti ini. Apakah memang benar-benar tentang bertambah umur, atau tentang hal lainnya yang mungkin secara tidak sadar perlu untuk ku sampaikan padamu.
Oke kita mulai dengan Shelfira Meisarani, SUP. Muehehe
Terkadang kita tak tahu apa yang direncanakan Allah dibalik setiap apa yang terjadi dan ditetapkan pada diri kita. Kita pernah bersitegang yang mungkin waktunya kurang lebih adalah satu tahun yang lalu. Kejadian itu memang memalukan, menyakitkan, mengharukan atau entahlah bagaimana kita perlu membahasakannya. Tapi mungkin itu memang harus terjadi, karena dengannya aku bisa belajar untuk mengontrol diri, menghindari perkataan yang meski di niatkan untuk candaan namun tak berakhir dengan menyakiti hati orang lain. Saat itu, kau sudah memberikan pelajaran yang berharga, terima kasih. Memalukan sekali rasanya jika aku mengingatnya.
Sekitar akhir Maret pun, sesuatu terjadi. Ada emosi tak tertahankan darimu setelah pelaksanaan sidang di bulan itu. Dengannya aku pun belajar bahwa mungkin kau membutuhkan sesuatu untuk diungkapkan, kau membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, kau membutuhkan pemahaman dari teman-teman disekitarmu, sekaligus penguatan untuk terus yakin dan berjuang.
Hingga akhirnya pada bulan April, apa yang kau nantikan pun terjadi. Kau menjalani seminar usulan proposal dengan lancar dan penuh senyuman. Tenang rasanya melihat kau begitu polos menghadapi seminar dengan senyuman(maut *wkwk).
Bep, setiap apa yang kita jalani dan kita hadapi adalah ketetapan dari Allah bukan? Aku percaya bahwa ada rencana dan pelajaran dibalik setiap apa yang ditetapkan itu. Mungkin kau ditetapkan untuk melaksanakan seminar di bulan April agar kau mengajukan judul pembelajaran, bukan lagi tentang SIM. Mungkin kau ditetapkan seperti itu agar kau berada di bawah bimbingan Papi baru. Mungkin kau ditetapkan seperti itu agar kelak teman-teman di sekitarmu bisa membantumu dan mendengarkanmu dengan lebih leluasa. Sesuai dengan apa yang telah mereka alami dan rasakan.
Jujur saja, aku ingin meminta maaf karena mungkin seringkali aku tak mampu memahami kondisimu, aku juga tak mampu menyesuaikan pembicaraan yang sesuai denganmu, atau aku tak mampu membahasakan dengan baik apa yang ingin kusampaikan padamu untuk memberikan kekuatan padamu.
Tapi bep, meski begitu, aku harap aku tetap bisa mendengarkan keluh kesahmu tentang kelanjutan perjuangan skripsimu. Aku harap aku tetap bisa sedikit banyak membantumu dalam penelitian atau dalam penyusunan skripsimu. Aku harap aku tetap bisa kepo dengan perkembangan kisah cintamu *lho *abaikan bagian ini.
Intinya, yang ingin kusampaikan adalah Ayo berjuang bersama !!
Mungkin kita tidak punya hak sepenuhnya untuk menentukan kapan tanggal kelulusan kita di perkuliahan, tapi kita diberikan kewajiban untuk senantiasa berdoa, berusaha dan berikhtiar bukan?
Mungkin kita tidak punya hak sepenuhnya untuk belajar, membaca dan membuat diri menjadi seseorang yang mampu untuk segera mengakhiri studi dan skripsi, tapi kita diberikan kewajiban untuk memahami dengan baik bahwa tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak Allah bukan?
Mungkin kita tidak punya hak sepenuhnya untuk bahagia dan mendapatkan hasil yang diharapkan, tapi kita diberikan kewajiban untuk meyakini bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik untuk kita bukan?
Bep, selamat berjuang dengan skripsimu. Andai saja kamu tidak terlambat saat kemarin atau saat pagi tadi, mungkin MAY DAY akan benar-benar menjadi hari yang sangat berarti dan berharga untukmu karena waktu dimana kamu bertemu dengan Papi untuk bimbingan pertama kalinya berdampingan dengan waktu bertambahnya umurmu menjadi duadua *haha. Anggap saja ini pelajaran, mungkin dengan cara ini Allah memberikan peringatan agar kita bisa lebih disiplin waktu. Bukankah begitu, bagaimana menurutmu?
Akhir kata,
Bep, agustus wisuda barengan yuk !! ^^
Terima kasih sudah bersedia menjadi salah satu sahabat terbaik.
Salam,
Rekan calon S.Pd. mu.

Kamis, 24 Maret 2016

Skripsi~

Skripsi itu kadang berkaitan sama hati, mood ngerjain skripsi, segala macam tahapan uji yang bikin baper. hadeuh -,- -,-
Kadang berkaitan juga sama diri sendiri, dosen pembimbing skripsi, sama sekolah yang mau diteliti yang bikin emosi. hadeuh -,- -,-
-Senin, 22 Maret 2016-

Skripsi itu bukan hanya tentang ngerjain bab per bab nya, tapi skripsi itu adalah suatu karya, karya tulis ilmiah, penentuan syarat kelulusan, yang kelak harus dipertanggung jawabkan saat sidang.
dan berbicara tentang sidang, bukan hanya tentang acc dan tanda tangan dari dosen pembimbing skripsi, tapi juga tentang usaha yang dilakukan, waktu yang dihabiskan, tenaga yang dikorbankan.
setelah itu semua, yang terpenting adalah keyakinan, kapan pengerjaan skripsi ini akan selesai, kapan karya ilmiah ini dipertanggung jawabkan, kapan waktunya sidang, itu sangat berhubungan erat dengan keyakinan.
keyakinan pada kemampuan diri sendiri, setelah keyakinan pada Allah SWT untuk memampukan dan menghendaki acc, tanda tangan, dan sidang itu terjadi.
-Senin, 18 April 2016-

Pengerjaan skripsi itu tidak membutuhkan waktu yang lama, begitupun dengan pengerjaan revisian. Komentar dan  perbaikan oleh dosen pembimbing di setiap bab nya, entah itu dicoret, entah itu dilipat, entah itu dibicarakan saja, sebenarnya tak butuh waktu berhari-hari untuk mengerjakannya. Jika dihitung-hitung maka mungkin hanya dibutuhkan waktu maksimal sekitar 5 hingga 9 jam lamanya. Terkecuali ada hal yang harus kau lakukan dibalik itu semua demi kelancaran skripsi, kita tandai pembahasan ini dengan pengolahan data yang mana setiap peneliti akan membutuhkan waktu yang berbeda untuk mengolah data yang menghasilkan jawaban atau pernyataan yang sesuai harapan. Kembali lagi pada waktu, sungguh hanya butuh beberapa jam saja untuk melakukan revisi bahkan tidak sampai satu hari satu malam, cukup dengan satu hari saja atau satu malam saja. Itulah mengapa ada yang mampu mengerjakan skripsi dalam rentang waktu 1 sampai 3 bulan, namun ada juga yang justru menghabiskan waktu selama 4 sampai 6 bulan atau lebih. Terlepas dari bagaimana tanggapan dosen pembimbing, jika kita membahas waktu sungguh hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk revisi. Lantas, apa yang membuatnya menjadi berhari-hari? Sepertinya, harus ada semangat dalam mengerjakan skripsi, semangat yang terkadang terkumpul hanya dalam beberapa menit atau justru membutuhkan waktu berhari-hari untuk mendapatkannya. Fokus yang terkadang tak bisa terganggu oleh hal apapun, namun juga terkadang sangat terganggu oleh hal se-sepele apapun. Detail, ideal, sikap yang terkadang membuat pengerjaan menjadi terlihat sempurna namun terkadang juga seolah terlihat masih saja terdapat kesalahan didalamnya.
Tapi, yang paling penting dalam pengerjaan skripsi adalah menyeimbangkan waktu dimana tugas duniawi ini dengan kebutuhan ukhrawi. Jika waktunya shalat, maka shalatlah sesegera mungkin di awal waktu. Jika ada kesempatan mengerjakan yang sunnah, maka kerjakanlah dengan tanpa ada perasaan terbebani dengan belum selesainya pengerjaan skripsi dan revisi. Jika buku panduan skripsi senantiasa kau jadikan buku landasan, maka buku panduan kehidupan pun tak pernah boleh kau abaikan.
Menurutku, dengan menyeimbangkan dan mengerjakan setiap hal sesuai porsinya, sesuai kebutuhan dalam diri kita, maka itulah pengerjaan skripsi dan revisi yang paling efektif dan efisien. Percayalah.
-Sabtu, 23 April 2016-