Senin, 24 Maret 2014

Peringatan-Ujian-Hukuman

Hari itu, tertanggal 21 Maret 2014 seorang hamba yang lemah telah diberi peringatan oleh sang Maha Kuasa. Ia kehilangan handphone yang baru saja dibelinya sekitar 7 bulan yang lalu. Waktu yang terhitung sangat singkat baginya memiliki handphone itu.

Hamba itu tak tahu, apakah itu sebuah peringatan agar ia selalu bersikap hati-hati dalam setiap situasi dan kondisi yang dianggap “ter-aman-” sekalipun.
Ia pun tak tahu, apakah itu sebuah ujian yang ditimpakan kepadanya untuk menguji sejauh mana keikhlasan dan kesabaran yang dimiliki olehnya.
Bahkan ia tak tahu, apakah itu sebuah hukuman atas apa yang telah diperbuatnya, hukuman karena ia telah melakukan suatu hal yang membuatnya berdosa ataupun belum sempat dan tenggelam dalam khilaf untuk melakukan sesuatu yang berbuah pahala dan kebaikan untuknya.

Ia menangis dan bersedih, namun kesedihannya bukan karena hilangnya handphone tersebut. Ia bersedih karena ia tak bisa menjaga amanah dari kedua orang tuanya untuk menjaga barang yang dimilikinya sebaik mungkin. Karena semua itu adalah titipan Allah SWT semata. Sempat terlintas dalam fikirannya, mungkin sudah saatnya Allah SWT mengambil apa yang menjadi titipan dan apa yang memang secara haq adalah milik-Nya.

Namun ternyata ia merasa khawatir, jika memang itu adalah sebuah peringatan ia khawatir bahwa ia sudah melupakan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan olehnya. Jika itu adalah sebuah ujian, ia hanya berharap semoga Allah SWT memberikan ujian ini karena ia sanggup untuk melewatinya. Dan jika itu adalah sebuah hukuman, ia takut bahwa ia sudah melakukan suatu perbuatan dosa yang mungkin tak pernah disadari olehnya. Hukuman untuk perbuatan yang membuatnya melupakan Allah SWT dan mementingkan sesuatu yang bukan seharusnya.

Hingga pada akhirnya, ia mencoba untuk ikhlas dan selalu menjadikan apa yang telah dialami olehnya sebagai suatu pelajaran yang berharga. Dan ia pun berharap dengan sepenuh hati, semoga barang titipan yang telah diambil oleh-Nya dapat tergantikan dengan yang lebih baik dan barang itu akan memberi manfaat yang lebih banyak di tangan orang lain. Jauh didalam hatinya, ia menyayangi barang tersebut, karena didalamnya seperti ada kehidupan yang sangat berarti untuknya.

Astaghfirullaahal’adzhim.. Ampuni hamba-Mu ya Allah.. Dengan segala kehampaan hati tanpa adanya kehadiran-Mu.. Astaghfirullaahal’adzhim.. 

Jumat, 21 Maret 2014

Buatlah Aku Cemburu

Saat melihat sepasang kekasih bercanda gurau bersama, mungkin aku cemburu..
Saat melihat mereka tertawa bahagia bersama, mungkin aku cemburu..
Hingga saat melihat mereka senantiasa bersama dalam kesedihan dan permasalahan rumit pun, mungkin aku tetap saja cemburu..

Ya Allah.. Apakah rasa ini salah dan hamba tak boleh merasakannya?
Ya Allah.. Apakah rasa ini termasuk pada karunia dan nikmat-Mu yang tiada terduga itu?
Ya Allah.. Apakah rasa ini memang suatu kehendak dan ketetapan dari-Mu sang Maha Cinta dan Pemilik Hati para hamba-Nya?

Aku tak tahu, mengapa aku cemburu..
Namun, aku kan selalu memanjatkan doa pada-Nya agar aku tetap cemburu..

Buatlah aku sangat cemburu melihat sepasang kekasih romantis dan harmonis yang memang terikat dalam izin-Mu..
Buatlah aku sangat cemburu pada mereka yang menjaga hatinya hanya untuk seseorang yang telah menjadi kehendak-Mu..
Buatlah aku sangat cemburu pada hamba yang mampu menunggu dengan penuh kesabaran semua ketetapan dari-Mu..
Dan buatla aku sangat cemburu pada siapapun yang menjadikan cinta dan kasih sayang dalam hidupnya hanya atas diri-Mu..

Yaa Muqallibal Qalb, jauhkanlah hamba dari rasa cemburu pada mereka yang entah bahagia karena taat pada perintah-Mu atau taat dan terjatuh pada perasaan dalam hati mereka atas karunia-Mu..
Namun, jadikanlah hamba sebagai bagian dari mereka yang dengan penuh kesabaran menanti karunia terindah dari-Mu, kehendak dan ketetapan yang paling tepat dari-Mu, serta izin yang diharapkan oleh semua hamba-Mu..

Buatlah aku cemburu ya Allah..

Aamiin..

Rabu, 19 Maret 2014

Kebetulan atau Ketentuan

Kebetulan??
Seringkali kita mendengar atau bahkan mungkin mengatakan kata-kata itu..
Kebetulan saat saya sedang..
Kebetulan saat dia sedang..
dan lain sebagainya..
Lantas, benarkah memang ada "kebetulan" di dunia ini??

Sayangnya tidak, tak ada yang kebetulan kawan. Tapi, ketetapan dan ketentuan Allah lah yang sebenarnya ada.
Apa terciptanya dunia ini hanya sekedar sebuah kebetulan belaka??
Apa semua alur kehidupan di dunia ini pun sama sebagai sebuah kebetulan semata??
Dunia ini, ada Allah yang menciptakan.. Alur kehidupan pun, ada Allah yang mengatur semuanya dari waktu yang tak pernah kita tau hingga waktu yang tak pernah bisa kita perkirakan..

Begitupun jika kita berbicara tentang sebuah perasaan yang kita miliki.
Tentang sebuah rasa yang mungkin tak bisa untuk diterjemahkan apa maksud dari semuanya.
Karena semua itu adalah fitrah dari Allah, karunia terbesar dari-Nya, untuk makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna, yaitu manusia.
Ingatlah kawan, karena hatimu sekalipun adalah tetap milik Allah sampai kapanpun, jasadnya maupun isi hatinya.

Maka, perlu kita sadari sepenuhnya bahwa..
Semua yang terjadi di dunia ini, bukanlah suatu kebetulan, melainkan apa yang telah Dia tetapkan.
Semua yang kau rasakan di dalam hatimu, bukanlah suatu kebetulan, melainkan apa yang telah Dia karuniakan.
Oleh karena itulah, mengapa kita harus selalu meminta dan mengharapkan yang terbaik dari-Nya.
Agar ketetapan dan karunia dari-Nya, bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita impikan.

Semoga Allah selalu memberikan ketetapan dan karunia terbaik-Nya bagi kita semua. Aamiin.


“Dan ketentuan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku” (Q.S. Al-Ahzab:38)

Senin, 03 Maret 2014

nikmat dan alam

Rabu, 29 Januari 2014

Waktu menunjukkan pukul 18:06, sore itu adzan maghrib sudah berkumandang dan aku berada dalam perjalanan pulang. Diperjalanan kulihat dengan begitu indahnya hiasan malam yang diberikan berkat lampu dan cahaya dari rumah-rumah yang berjajar rapi dari sudut kanan ke kiri memenuhi barisan depan ke belakang yang semakin mengarah ke atas dari dasarnya. Subhaanallaah.. hanya kata itulah yang mampu terucap oleh lidah ini melihat pemandangan yang begitu menawan.
Namun, beberapa detik kemudian terlintas dalam fikiranku tentang semua nikmat karunia-Nya yang telah diberikan dalam setiap hembusan nafas para keturunan Adam Hawa. Yang dibalas dengan perbuatan semena-mena terhadap alam dan tak adanya rasa terima kasih berwujud tunduk syukur kepada Allah sang Tuhan alam semesta.
Terkadang, terfikir olehku tentang sikap seseorang atau bahkan sebuah golongan yang tidak mentaati perintah Allah. Jika saja Allah mau dan berkehendak untuk memusnahkan mereka, tentu dengan mudah Allah akan memberikan pelajaran bahkan musibah pada mereka. Namun Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha menentukan segala yang terjadi memberikan kenikmatan yang tiada tara. Nikmat bernafas, nikmat kehidupan, nikmat seluruh panca indera yang dimiliki.

Maa Syaa Allah.. aku takkan pernah mampu menghitung seluruh nikmat karunia serta ampunan yang selalu Kau berikan.. Ampuni aku Ya Allah.. Ampuni kami semua selaku hamba-Mu.. Aamiin..

Aku ingin mencintai nabiku

Saat ada perintah untuk mengucapkan syahadat, telah kulakukan dan kuusahakan setiap harinya dalam setiap shalatku.
Saat ada perintah untuk mendirikan shalat, telah kuusahakan menanamkan dalam diri ini bahwa shalat adalah salah satu kebutuhanku menjalani kehidupan.
Saat ada perintah untuk menunaikan zakat, telah kuserahkan sepenuhnya dalam tanggungan kedua orangtuaku dan kuusahakan menyisihkan sebagian dari apa yang aku peroleh untuk memberikannya pada yang lebih layak mendapatkannya.
Saat ada perintah untuk melaksanakan shaum, telah kuusahakan melewati hari-hari di bulan Ramadhan dengan melaksanakannya dan diselingi dengan shaum sunnah dalam hari-hari tertentu selain didalamnya.
Saat ada perintah untuk bersyukur, berdoa, ataupun menghadirkan Allah dalam setiap hembusan nafas dan detik yang dilalui, telah kuusahakan dengan melakukannya tanpa ada unsur paksaan atau alasan dan kondisi tertentu.

Ya Allah, hamba tahu hanya Engkau lah yang mampu menilai kadar keimanan seseorang terhadap Tuhannya dan apa yang seharusnya diimani. Namun, berikanlah aku jalan dan kesempatan untuk mencintainya, seseorang yang telah menunjukkan jalan yang penuh dengan cahaya yang terang benderang dan berujung pada kebahagiaan hakiki di alam akhirat. Berikanlah aku cara dan ketentuan untuk mengikuti sunnahnya, melakukan setiap kegiatan dalam kehidupan berdasarkan contohnya, hingga meniru akhlak mulianya.

Allaahumma shallii ‘ala Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad..
Ajarkanlah aku cara mencintai nabi-Mu, rasul-Mu, kekasih-Mu..

Aamiin..

Hai masalah besar, aku punya Allah yang Maha Besar

“Ketika memiliki masalah yang besar terkadang kita mengeluh kepada Allah dengan percaya diri “Ya Allah, aku memiliki masalah besar..” Seharusnya percaya diri itu kita ganti dengan “wahai masalah besar, aku memiliki Allah..”.
#inspirasi Q.S. Al-Baqarah:286. *m.r

Permasalahan, setiap orang tentu memiliki hal itu. Merasakannya di sela-sela perjalanan hidupnya, sambil belajar dan menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Namun, yang perlu disadari adalah keluhan yang sering dilontarkan tidaklah tepat. Seringkali keluhan tersebut berbunyi “aku mempunyai masalah yang besar”, padahal telah diketahui bersama dalam lafadz adzan sekalipun disebutkan “Allahu Akbar” yaitu Allah Maha Besar.
Tak menutup kemungkinan jika permasalahan yang dihadapi termasuk kepada hal yang sangat rumit. Namun, masalah itu dianggap sebagai sebuah kesulitan, maka percayalah bahwa kemudahan akan datang suatu hari nanti. Ataupun, jika masalah itu dianggap sebagai sebuah ujian, maka percayalah akan ada masa dimana ujian itu berakhir. Layaknya soal yang dibuat oleh seorang guru mata pelajaran yang menghadirkan jawaban pada setiap soalnya.
Terkadang, ada hal kecil yang terlupakan dalam setiap penyelesaian masalah yang dihadapi. Tanpa adanya ketenangan dalam hati, tentu permasalahan akan terasa sulit untuk diselesaikan. Tanpa adanya kejernihan dalam berfikir, tentu penyelesaian yang tepat tak kan muncul dalam tindakan. Dan semua itu akan datang jika terlebih dahulu kita datang kepada sang pemilik hati dan fikiran serta pengatur kehidupan.

Allah dulu.. Allah lagi.. Allah terus.. (pesan seorang pembimbing mentoring kepada penulis)

*Risalah Inspirasi 29 Agustus 2013

Aku sebagai hamba-Mu

“Kita mau mengingkari atau mentaati-Nya, Dia tetaplah Tuhan. Tidak seperti tukang kayu yang membelah kayu untuk kebutuhannya seperti kayu bakar dan pondasi rumah. Bukan kayu yang membutuhkan tukangnya tetapi tukang yang itulah yang membutuhkannya.
Ibadah = Allah memerintah hamba-Nya untuk sujud, bukan karena Dia membutuhkan sujud-sujud sang hamba, melainkan sang hamba-lah yang membutuhkan sujud dihadapan-Nya.”
#hikmah surat Adz-Dzariyat:56 *m.r

Setiap sesuatu yang dilakukan oleh manusia tentu ada tujuannya. Yang padanya diharapkan bahwa hal-hal yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebuah kebaikan. Sehingga dimulai dari tujuan, pelaksanaan, pencapaian, hingga hasil yang diperoleh sebagai akibat dari semua itu adalah hal yang melahirkan sebuah kebaikan pula.
Salah satu ayat yang terdapat dalam Surat Adz-Dzariyat menyatakan tentang apa tujuan hidup manusia. Dan ternyata, tujuan hidup manusia itu semata-mata hanyalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Tujuan tersebut, merupakan suatu tujuan yang mulia bagi manusia.
Kehidupan yang penuh dengan kenikmatan meski hanya semata dan sementara saja telah diberikan oleh Allah SWT. Kebahagiaan yang memenuhi seluruh alur kehidupan tak pernah henti dirasakan berkat karunia-Nya. Hingga tak lupa akan ketenangan hati dan fikiran yang senantiasa menemani langkah-langkah manusia dalam menjalani rutinitas kehidupannya sehari-hari.
Lalu, apa lagi yang menghambat kita untuk beribadah kepada-Nya? Apa lagi alasan kita untuk tak mencapai tujuan hidup yang telah ditetapkan oleh-Nya?
Tak mampukah kita membalas semua kenikmatan dan karunia dari Allah SWT meski hanya sekedar bersimpuh dihadapan-Nya dan bersujud atas semua yang telah dianugerahkan olehnya? Meski hanya sekedar bersujud dihadapan-Nya memohon ampun atas semua dosa dan kesalahan yang telah diperbuat?

Mari bermuhasabah =)


*Risalah Inspirasi 24 Agustus 2013

cinta??

“Cinta itu indah bila kita berani untuk mengenalnya secara utuh.. tak perlu karena indah kita cinta, yakinilah saja semua akan terasa dan nampak indah karena cinta..
Sepasang insan pasti akan dipersatukan selamanya jika mereka mempertahankan eksistensi ridha Allah diatas cinta.”
#hikmah Q.S. Ar-Rum:21 *m.r

Cinta.. sebuah rasa yang tak mungkin jika tidak dirasakan oleh setiap manusia pada umumnya. Cinta tidak hanya dari lawan jenis, seorang sahabat, keluarga, ataupun orang tua. Tetapi bahkan ada cinta dari sang Maha Cinta, Allah SWT. Karena cinta adalah fitrah seorang manusia yang diberikan oleh Allah SWT.
Lalu, selama ini dimanakah cinta itu bergantung dan berlabuh?
Apakah kepada lawan jenis, seorang sahabat, keluarga, orang tua, atau Allah SWT.
Teringat akan sebuah lagu yang berjudul “Sandiwara Cinta – Shaffix” yang mengutarakan bahwa cinta pada manusia hanya akan membawa pada impian dan harapan, luka mendalam yang sulit tuk disembuhkan, hingga akhirnya berujung pada sebuah kekecewaan. Tentu sudah tak asing lagi istilah “pacaran” dalam kehidupan di zaman ini. Yang merupakan bukti serta perwujudan akan adanya cinta yang dilabuhkan pada manusia.
Tak ada salahnya jika rasa cinta ada pada seseorang untuk lawan jenisnya. Karena cinta adalah suatu perasaan suci yang diberikan oleh Allah SWT kepada makhluk-Nya. Namun yang salah adalah ketika seseorang menggantungkan dan melabuhkan cinta itu pada manusia, makhluk yang justru seluruh hidupnya bergantung pada-Nya.
Cinta dan hati itu milik Allah SWT, manusia hanya mempunyai hak dan kewajiban atas keduanya. Yaitu hak guna pakai dan kewajiban menjaga keduanya.
Lalu, bagaimana hati, perasaan dan cinta itu digunakan namun tetap terjaga?
Sejauh ini, nikmatilah apa yang sedang dirasakan karena itu adalah sebuah nikmat yang luar biasa. Gunakanlah cinta dalam hal yang membawa kepada suatu kebaikan. Tak perlu mengelak jika cinta yang dimaksudkan adalah cinta kepada manusia. Hanya satu hal yang perlu diingat dan digaris bawahi, tetaplah gantungkan dan labuhkan cinta itu pada Allah SWT. Dalam arti, cintailah seseorang itu karena Allah, atau meski hanya sekedar membuatnya semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin mencintai Allah.
Jika muncul keinginan untuk mendapatkan cinta dari seseorang, maka dekatilah sang pemberi cinta. Namun, jika muncul keinginan untuk melupakan cinta pada seseorang, maka berdoalah kepada sang pemilik cinta, dan sang pembolak balik hati manusia.
Akhir kata, terlantun sebuah lagu yang menyatakan bahwa cinta pada Allah adalah cinta yang hakiki, cinta pada Allah adalah cinta yang sejati, dengan membersihkan diri dan hati, cinta pada Ilahi akan tergapai dengan mudah dan indah.

Salam cinta Lillah dan fillah..

*Risalah Inspirasi 3 September 2013

perbedaan jin, iblis dan manusia

“Perbedaan jin, iblis dan syaithan berdasarkan kronologis ayat Qur’an:
Dalam surat Al-Baqarah:34 pernah dijelaskan bahwa iblis dengan sombongnya menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam.
Pada ayat selanjutnyan yaitu ayat 36 dijelaskan lagi bahwa syaithan menggelincirkan Adam dan Hawa dari syurga.
Kenapa redaksi ayat selanjutnya memakai kata syaithan, padahal ayat ini sedang menceritakan iblis? Maka jawaban perbedaan istilah tadi bahwa iblis adalah istilah untuk jin yang membangkang perintah Allah. Dan iblis adalah golongan jin, sebagaimana firman Allah SWT “Kaana minal jin” sedangkan syaithan adalah istilah penamaan jin yang dalam aktifitasnya menggoda manusia.”
*m.r

Syaithan, iblis dan jin. Terkadang yang terlintas dalam fikiran hanyalah persamaan dari ketiganya, yaitu makhluk yang sifatnya berlawanan dengan malaikat. Namun ternyata terdapat perbedaan yang perlu diingat dan difahami dari ketiga makhluk tersebut.
Sumber lainnya (salah seorang dosen mata kuliah PAI) menyatakan mengenai perbedaan dari ketiga makhluk tersebut dengan tak berbeda jauh dari apa yang telah diterangkan diatas.
·         Jin merupakan suatu makhluk, dimana jin mempunyai 2 golongan. Golongan jin pertama adalah golongan yang mentaati perintah Allah SWT. Sedangkan golongan yang kedua adalah jin yang tidak mentaati perintah Allah SWT.
·         Iblis merupakan bagian dari golongan jin yang tidak mentaati perintah Allah SWT yang salah satu contohnya adalah menolak untuk bersujud kepada Adam.
·         Syaithan berasal dari kata “syathana” yang memiliki arti sombong, angkuh dan congkak. Sehingga, pada dasarnya syaithan itu bukanlah suatu makhluk yang berwujud pasti. Karena syaithan merupakan sebuah sifat atau karakter yang bisa saja terdapat pada golongan jin maupun manusia.
Perilaku syaithan bisa dicermati dalam Q.S. An-Naas:4-6 yang artinya,
“dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,” (4)
“yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (5)
“dari (golongan) jin dan manusia.” (6)

*Risalah Inspirasi 2 September 2013

jalan hijrah sapaan persahabatan

Sapaan Persahabatan
“Bukan aku yang dikirim oleh-Nya untuk membimbing kalian, tetapi kalianlah yang dikirim oleh-Nya untuk mengingatkanku dalam kebaikan”.
Sapaan dari seorang sahabat di bangku perkuliahanmu. LA_SM ^^
Naya, Faza dan Syafa adalah tiga orang sahabat yang dipertemukan dalam satu jalan hijrah dengan tujuan yang berbeda. Sayangnya, jalan hijrah Naya lah yang paling sulit dan berbeda dari kedua temannya itu.
Siang itu sepulang kuliah, Naya dan bersama teman-temannya pergi mencari makan siang sesaat setelah melaksanakan shalat dzuhur. Di tengah perjalanan, mereka sedang membicarakan fashion hijab yang sedang marak saat ini. Salah satu teman Naya yang bernama Faza sangat menyukai fashion hijab itu, selain itu Faza berasal dari sekolah umum. Penampilannya sehari-hari dalam perkuliahan selalu menggunakan style seorang “hijabers”.
Berbeda halnya dengan Naya yang ingin berpenampilan sederhana saja seperti biasanya, terlebih dia berasal dari pondok pesantren. Selama 6 tahun, Naya menghabiskan jenjang pendidikan SMP dan SMA nya dengan mondok di pesantren. Disana, ia terhitung sebagai santri yang baik dalam mengenakan jilbab dan juga pakaiannya. Begitupun dengan saat ini, ia merupakan salah satu gadis yang berpenampilan “muslimah” dibandingkan teman-teman sekelasnya. Meskipun pada dasarnya, perbedaan antara Naya dan teman-teman lainnya hanyalah karena ia selalu menggunakan rok dan menggunakan jilbab yang sekedar menutup dadanya. Naya sangat berharap bahwa suatu hari, akan ada temannya yang bisa mengenakan pakaian sepertinya, memakai rok dan menutupi dada.
“Memangnya, kenapa kau tak menyukai fashion hijab yang sedang marak saat ini?” tanya Faza pada Naya di tengah perbincangan mereka.
Naya hanya tersenyum, dalam hatinya ia hanya tak mau mengikuti fashion hijab tersebut karena ia merasa bahwa apa yang sedang dipakainya dengan sederhana ini lebih baik.
Namun, tak lama setelah itu Naya menjawab, “Bentuk mukaku bulat,” jawabnya.
“Memangnya bentuk mukaku apa? Mukaku juga bulat,” ujar Faza sambil membayangkan bentuk mukanya sendiri.
“Kau sudah terbiasa memakainya, sedangkan aku tak pernah sekalipun memakainya,” balas Naya.
“Kalau begitu cobalah,” ucap Faza sambil tersenyum.
Naya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar pada Faza. Kemudian, terlintas di fikirannya untuk bertanya “Apa menurutmu jilbabku sudah cukup panjang?”.
“Karena kau berasal dari pondok pesantren, kurasa jilbabmu pendek,” jawab Faza sekenanya.
Naya tersentak mendengar jawaban Faza, sejujurnya ia merasa malu karena dengan basic alumni pondok pesantren jilbab yang dikenakannya selama ini ternyata tidak cukup panjang.
Perbincangan akhirnya terhenti saat mereka sampai di tempat tujuan dan dengan semangat mereka segera mengambil makanan yang tersedia di warung nasi, sayangnya Naya masih saja memikirkan jawaban Faza padanya beberapa saat yang lalu.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau melamun atau sedang memikirkan sesuatu?” Faza bertanya pada Naya yang terlihat pendiam beberapa saat.
“Aku.. hanya..” ucap Naya terbata-bata.
“Kau kenapa?” tanya Faza dengan nada khawatir.
“Aku hanya.. merasa sangat lapar,” jawab Naya sambil tersenyum lebar.
Faza menepuk jidatnya, “Kau ini.. kukira ada apa, kalau begitu lekaslah mengambil makanan”.
Naya menggaruk kepalanya.
Saat sedang makan, Faza dan teman-teman Naya lainnya berbincang bersama sambil tertawa sejenak menikmati perbincangan mereka. Naya hanya ikut-ikutan tersenyum dan tertawa, meskipun kondisi hatinya memikirkan hal lain. Ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat Faza mengomentari pakaiannya.
Saat itu, Faza dan Naya sedang bersiap-siap untuk melakukan study tour bersama teman-teman sekelasnya. Karena mereka sedang berada di ruangan yang sama, tentu saja Faza bisa melihat apa yang dikenakan Naya pada saat itu. Naya mengenakan baju kurung berbahan levis yang berukuran pas di badannya, namun di bagian atas pinggang baju tersebut terdapat kerutan yang membuat Naya terlihat memakai baju dengan ukuran yang kecil.
“Kurasa, tak ada seorang wanita muslimah yang mau mengenakan pakaian seperti itu,” Faza mengomentari pakaian Naya.
“Memangnya, aku sudah bisa masuk kategori wanita muslimah yang sangat menutup auratnya? Kurasa aku masih perlu banyak perubahan untuk menjadi seorang wanita muslimah yang sempurna,” Naya membela diri.
“Maksudku, rasanya baru kali ini kulihat kau mengenakan pakaian dengan model seperti itu,” jelas Faza.
“Kau tenang saja, aku akan berusaha menutupinya dengan jilbab yang akan ku pakai nanti,” balas Naya.
Naya menundukkan wajahnya sejenak, sambil berusaha menutupi apa yang sedang difikirkannya dihadapan teman-temannya, terutama Faza. Naya bersyukur ia dipertemukan dengan Faza yang mampu membuatnya kembali memikirkan tentang ukuran jilbab yang dikenakannya selama ini dan juga pakaian yang dikenakannya sehari-hari. Harusnya sebagai alumni pondok, ia mampu merubah orang lain, namun ternyata sebaliknya orang lainlah yang telah merubahnya. Sejak saat itu, Naya sadar bahwa ia harus merubah semuanya untuk menjadikan dirinya seorang waNaya muslimah yang baik.
“Terima kasih banyak untukmu Faza. Ku anggap peringatan darimu tentang jilbab dan pakaianku adalah sapaan persahabatan darimu yang peduli padaku,” ucap Naya dalam hatinya.
*-*-*
Siang itu, Naya dan Syafa pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas perkuliahan, namun ternyata tepat didepan perpustakaan sedang diadakan bazzar buku, hal itu membuat mereka terhenti dan berkunjung sebentar.
“Lihat, ada bazzar buku !” ucap Syafa kegirangan, “bagaimana jika kita berkunjung kesana sebentar, ada buku yang sedang kucari,” ajaknya pada Naya.
“Tentu, mengapa tidak? Ayo kita kesana,” balas Naya sambil berjalan menuju bazzar buku tersebut, “Memangnya buku apa yang ingin kau beli?” tanyanya pada Syafa.
“Judul bukunya, “Udah Putusin Aja !”,” jawab Syafa, “sudah lama aku mencarinya, semoga saja buku itu ada disini”.
Hari itu, akhirnya Syafa mendapatkan buku yang diinginkannya, Naya ikut senang melihat temannya yang satu itu.
“Memangnya, buku itu membahas tentang apa?” Naya penasaran.
“Tentu saja tentang pacaran, zaman sekarang siswa siswi sekolah menengah sudah banyak yang melakukannya, padahal semua itu dilarang agama bukan?” jawab Syafa, “Hey, bagaimana pendapatmu anak pondok?” Syafa tersenyum lebar.
Muka Naya tiba-tiba memerah, ia sadar bahwa sebagai seorang santri yang mempelajari agama lebih banyak dibandingkan dengan seorang siswa di sekolah umum tak seharusnya ia berpacaran. Meskipun ia  merasa tidak terlalu salah, karena cara berpacarannya tidaklah seperti yang dilakukan kebanyakan orang pada umumnya. Naya tidak punya jadwal “berpacaran”, bahkan sekedar diajak bertemu, berjalan berdua atau mengobrol pun ia merasa takut dan enggan. Caranya berpacaran hanya sekedar berkomunikasi lewat dunia maya dan handphone saja, tak lebih dari itu.
Naya sadar sepenuhnya, bahwa ia haruslah merasa sangat malu pada Syafa yang tidak berpacaran, meskipun ia adalah seorang alumni sekolah umum, bukan pondok pesantren seperti dirinya. Naya menggaruk kepalanya, ia tak tahu harus menjawab apa karena saat itu Naya masih berpacaran dengan salah satu santri di pondok pesantrennya dulu. Awalnya Naya hanya ingin memberikan sedikit komentar saja, tapi ia rasa jujur akan lebih baik.
“Entahlah, aku tahu bahwa pacaran itu mendekati zina dan Allah secara tegas melarangnya dalam kitab suci Al-Qur’an. Namun, aku sendiri pun pacaran,” balasnya sambil tersenyum lebar.
“Kau berpacaran?,” Syafa mengernyitkan dahinya, “Kalau begitu kau harus membaca buku ini, agar kau tak pacaran lagi”.
“Sejujurnya, aku pun ingin segera mengakhiri hubunganku dengannya, namun aku butuh waktu agar tak menyakiti hatinya,” balas Naya dengan wajah yang mengisyaratkan keraguan atas perkataannya.
“Hmm.. memangnya apa alasan utamamu mempertahankan hubungan itu?” tanya Syafa.
“Pacarku masih duduk di bangku sekolah, bukan kuliah,” jawab Naya jujur, “Selain itu, ia akan menjalani Ujian Nasional dan beberapa ujian lainnya di pondok pesantren. Aku hanya tak mau membuatnya kalah dalam semua ujian itu hanya karena hubungan kami berakhir”.
Syafa tersenyum sambil tertawa sejenak, “Kau lihat, pacaran akan membuatmu memikirkan sesuatu yang tak seharusnya kau fikirkan. Kau merasa sedih dan kebingungan tak berujung jika kau masih saja berpacaran. Meskipun aku bisa mengerti itu, tapi apakah baik memperlambat apa yang dianggap salah?” ia mencoba mengingatkan.
“Maksudmu?” Naya tak mengerti apa yang diucapkan temannya itu.
“Intinya, apakah baik jika kau memperlambat putusnya hubunganmu dengannya? Padahal pacaran adalah sesuatu yang dianggap salah oleh agama,” jelas Syafa.
“Kau benar, mungkin seharusnya aku mencoba untuk membicarakan ini terlebih dahulu,” Naya benar-benar merasa malu atas apa yang telah diperbincangkannya bersama Syafa sesaat yang lalu.
“Lihatlah,” Syafa membuka buku yang baru saja dibelinya dan menunjukkan bukunya pada Naya.
Di buku itu tertulis kata-kata yang diselipkan dalam beberapa gambar, sejenak Naya bisa mengambil kesimpulan atas apa yang dilihatnya. Meskipun cara berpacarannya terhitung baik dan tidak melakukan sesuatu yang tidak wajar, atau bahkan tidak melakukan apa-apa, ia tetap berdosa atasnya. Oleh karena itu ia harus berfikir ulang untuk tetap berpacaran, karena jika tidak ia akan terus larut dalam dosa dan tipu daya sandiwara cinta akibat berpacaran tersebut. Wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik, begitupun sebaliknya, harusnya Naya sangat tak asing dengan semua itu. Mau tak mau, Naya harus mengambil langkah untuk mengakhiri hubungannya.
Harusnya, Naya yang memperingatkan teman-temannya bahwa pacaran itu tidak diperbolehkan agama, namun kenyataan yang terjadi adalah ia diberi peringatan dan dukungan dari temannya untuk tidak lagi berpacaran.
“Terima kasih banyak untukmu Syafa. Ku anggap peringatan darimu tentang hubunganku dengannya dalam ikatan “pacaran” adalah sapaan persahabatan darimu yang peduli padaku,” ucap Naya dalam hatinya.
Naya, seorang santri alumni pondok pesantren yang mempunyai tugas untuk Amr Ma’ruf dan Nahyi Munkar pada teman-temannya ternyata menemukan kedua sahabatnya yang justru menyuruhnya dalam kebaikan dengan cara merubah cara berpakaiannya dan melarangnya dalam kemungkaran dengan cara memperingatkannya akan dosa akibat berpacaran.
Meskipun Naya adalah seorang santri, ia yakin bahwa bukan ia yang dikirim untuk kedua sahabatnya, Faza dan Syafa, tapi mereka berdualah yang dikirim Allah SWT yang Maha Pengasih untuk merubahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan sadar akan statusnya sebagai seorang “santri”.
*-*-*
Sapaan persahabatan, sesuatu yang akan selalu ada dalam benak hati Naya yang terdalam atas kehadiran kedua temannya dalam jalan hijrahnya. Namun disisi lain, Naya merasa sedih, hatinya merasa terharu saat membaca tulisan kedua temannya itu. Tulisan tentang jalan hijrah mereka yang sama persis, merubah pribadi mereka dengan step by step menuju jilbab syar’i.
Faza dan Syafa memiliki latar belakang yang sama, penampilan mereka pada bulan-bulan pertama di perkuliahan pun tidak jauh berbeda. Hanya saja, Faza memang terlihat sangat feminim berbeda dengan Syafa yang terlihat lebih cuek dan tomboy dibandingkan dengannya.
Sekata demi sekata, Naya membaca tulisan Faza.
“Ingat ! Kau tak boleh terlihat centil saat mengenakan jilbabmu !” itu adalah kata-kata pertama yang tertulis disana, Naya tersenyum dan meneruskan membaca.
Aku merasa bahwa kata-kata itu berputar di dalam fikiranku dan tak henti-hentinya terdengar dengan jelas oleh telingaku. Mungkin, Allah sedang memberikanku “kode” dan petunjuk padaku. Karena memang, saat ini aku sedang berada dalam perjalanan jauh nan sulit yang tempat pemberhentiannya adalah menjadi seorang wanita shalehah yang lebih baik. Ku patrikan rasa syukurku pada Allah karena ternyata cara berpakaianku dulu yang selalu memakai celana jeans telah berganti dengan rok panjang yang menutup auratku. Perkataanku dulu tentang “begitu lucunya celana itu”, sekarang telah berganti menjadi “begitu lucunya baju kurung itu”. Aku tahu, Allah selalu menyukai proses seorang hamba menjadi lebih baik, buktinya aku butuh waktu lebih dari 6 bulan untuk menjadi sosok seorang Faza saat ini. Mungkin celana jeans memang sudah ku tinggalkan, namun kenyataannya aku masih saja mengenakan jilbab yang bisa disimpulkan “belum syar’i”.
Sampai akhirnya di hari itu, hati ini rasanya merasa takut dan khawatir, kegelisahan tiada henti yang hanya akan terhenti jika ku lampiaskan semua rasa ini dengan menangis. Dan dengan kuasa Allah, ku baca al-qur’an dan menemukan satu ayat yang membuat hati ini sangat ingin menangis.

 “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah Memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyang-mu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat,dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dia-lah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong” (Q.S. Al Hajj ayat 78)

Di hari itu, aku sedang berada di kamar kos temanku Syafa. Aku memutuskan untuk mencoba mengenakan jilbab miliknya yang sudah lebih baik dariku. Aku menghadap cermin, kulihat keadaanku lebih baik dari sebelumnya, rasanya seperti wajah ini terlihat lebih cantik dan lebih indah saat mengenakan jilbab sesuai dengan perintah dari-Nya. Tanpa sadar, aku menangis haru tak henti-hentinya disana. Terfikir, mungkin inilah cara Allah untuk memberikan peringatan padaku untuk memantapkan niat dan berusaha lebih baik lagi. Semoga kedepannya nanti, tak ada lagi sapaan lain untukku selain “wanita dengan jilbab syar’inya”. Aamiin.
Seusai membaca tulisan Faza, Naya merasa bersalah padanya, ia merasa malu pada dirinya sendiri karena ia tak mampu menemani temannya dalam perjalanan hijrahnya. Begitupun saat ia membaca tulisan Syafa tentang cara hijrahnya.
Bismillaah...
"Fa, saat kau kuliah nanti kau harus memakai rokmu, jangan terlalu sering mengenakan celana jeansmu,"
"Fa, kau tak boleh mengenakan celana jeans yang membentuk tubuhmu, karena itu sama saja dengan telanjang bagimu,"
Awal mula ketika ibuku menyuruh memakai rok saat kuliah, aku menolak. Malas sekali rasanya ribet-ribet memakai rok. Karena dulu memang aku lebih suka sesuatu yang simple. Setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu.
Mungkin karena masih awal masuk kuliah, budaya celana jeans dari SMA masih terbawa sampai semester 1. Memakai rok hanya pada waktu tertentu, pada mata kuliah tertentu yang mewajibkan mahasiswanya memakai pakaian yang rapi. Kemeja dan rok hitam span. Besoknya, di saat mata kuliah yang notabene dosennya santai, ku pakai lagi celana jeans itu.
Cerita selanjutnya, perkenalanku dengan rok pada saat kumpul pertama member of SCIEmics.  Ada hijab yang memisahkan antara ikhwan dengan akhwat. Aku dan temanku, Faza, hanya kami berdua yang memakai celana jeans ketat saat itu. Kami melihat sebagian besar anggota SCIEmics yang menutup auratnya membuat kami berdua canggung berada di sekitar mereka. 
"Fa, bagaimana jika saat ada perkumpulan SCIEmics lagi, kita pakai rok."
Setelah dari perkumpulan itu, kami berdua membuat kesepakatan kalau ada kumpul SCIEmics lagi, kita pakai rok. Deal.
Memang awalnya hanya pada saat perkumpulan SCIEmics saja, tetapi lama-kelamaan sejalan dengan waktu kami jadi sering memakai rok. Tidak hanya di saat mata kuliah tertentu saja.  Aku merasakan ada yang berbeda, seperti mendapatkan chemistry. Hahaha
Lagi-lagi 'perkataan singkat' ibuku terkabul. Aku jadi lebih sering memakai rok ke kampus. Perubahanku terasa sedikit demi sedikit. Ku kurangi keberadaan dan pemakaian celana jeans. Sekarang, saat hendak membeli baju bersama ibuku, akulah yang seolah meminta padanya, "mah, Syafa mau beli rok aja. Hehe", bukan lagi "Syafa, nanti mamah beliin rok, ya."
Terbawa juga ketika berada di lingkungan rumahku, sewaktu di ajak main oleh temanku, yang tadinya aku memakai celana jeans sekarang berubah memakai rok dan dilengkapi kaos kaki.  
"Kau terlihat lebih baik mengenakan rok, akupun ingin seperti itu. Namun, kurasa aku baru bisa memulainya dengan mengenakan kaos kaki saat pergi kuliah ke kampus"
Step-by-step. Awalnya juga aku masih suka yang simple-simple. Dari pergantian celana jeans dengan rok, lalu mulai pakai kaos kaki, dan menutup dadaku dengan jilbabku. Yang dulunya setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu berubah jadi kerudung-baju panjang-rok-kaos kaki-sepatu sendal. Pelajaran: Terkadang, lingkungan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kita. Jika kita berada di lingkungan yang sebagian besar terdapat orang-orang yang baik, maka terbawa pula kita di dalamnya. :)
Faza dan Syafa memang hijrah bersama, bedanya Faza lebih dulu mengenakan rok dibandingkan dengan Syafa, dan Syafa lebih dulu mengenakan jilbab yang panjang dibandingkan dengan Faza. Mereka berdua, saling mengajak dan saling mengingatkan.
Satu hal yang mungkin tidak mereka sadari adalah, mereka telah mengajak dan mengingatkan Naya secara tidak langsung.
*-*-*
Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya..
Allah selalu memberikan jalan yang menuntun hamba-Nya..
Dan Allah selalu menjadi pembuat rencana bagi setiap alur kehidupan hamba-Nya..

Cerita ini hanyalah fiktif yang terinspirasi dari kisah Naya, Faza dan Syafa.. tiga orang wanita yang telah mendapatkan jalan hijrahnya.. Dan bagi Naya, Faza dan Syafa adalah orang yang Allah kirimkan untuk mendapatkan jalan hijrahnya..
Ini jalan hijrahku, mana jalan hijrahmu?

*-*-*