Sapaan Persahabatan
“Bukan
aku yang dikirim oleh-Nya untuk membimbing kalian, tetapi kalianlah yang
dikirim oleh-Nya untuk mengingatkanku dalam kebaikan”.
Sapaan
dari seorang sahabat di bangku perkuliahanmu. LA_SM ^^
Naya,
Faza dan Syafa adalah tiga orang sahabat yang dipertemukan dalam satu jalan
hijrah dengan tujuan yang berbeda. Sayangnya, jalan hijrah Naya lah yang paling
sulit dan berbeda dari kedua temannya itu.
Siang itu sepulang kuliah, Naya dan bersama teman-temannya
pergi mencari makan siang sesaat setelah melaksanakan shalat dzuhur. Di tengah
perjalanan, mereka sedang membicarakan fashion hijab yang sedang marak saat
ini. Salah satu teman Naya yang bernama Faza sangat menyukai fashion hijab itu,
selain itu Faza berasal dari sekolah umum. Penampilannya sehari-hari dalam
perkuliahan selalu menggunakan style seorang “hijabers”.
Berbeda halnya dengan Naya yang ingin
berpenampilan sederhana saja seperti biasanya, terlebih dia berasal dari pondok
pesantren. Selama 6 tahun, Naya menghabiskan jenjang pendidikan SMP dan SMA nya
dengan mondok di pesantren. Disana, ia terhitung sebagai santri yang baik dalam
mengenakan jilbab dan juga pakaiannya. Begitupun dengan saat ini, ia merupakan
salah satu gadis yang berpenampilan “muslimah” dibandingkan teman-teman sekelasnya.
Meskipun pada dasarnya, perbedaan antara Naya dan teman-teman lainnya hanyalah
karena ia selalu menggunakan rok dan menggunakan jilbab yang sekedar menutup
dadanya. Naya sangat berharap bahwa suatu hari, akan ada temannya yang bisa
mengenakan pakaian sepertinya, memakai rok dan menutupi dada.
“Memangnya, kenapa kau tak menyukai fashion hijab
yang sedang marak saat ini?” tanya Faza pada Naya di tengah perbincangan
mereka.
Naya hanya tersenyum, dalam hatinya ia hanya tak
mau mengikuti fashion hijab tersebut karena ia merasa bahwa apa yang sedang
dipakainya dengan sederhana ini lebih baik.
Namun, tak lama setelah itu Naya menjawab, “Bentuk
mukaku bulat,” jawabnya.
“Memangnya bentuk mukaku apa? Mukaku juga bulat,”
ujar Faza sambil membayangkan bentuk mukanya sendiri.
“Kau sudah terbiasa memakainya, sedangkan aku tak
pernah sekalipun memakainya,” balas Naya.
“Kalau begitu cobalah,” ucap Faza sambil
tersenyum.
Naya hanya menggelengkan kepalanya sambil
tersenyum lebar pada Faza. Kemudian, terlintas di fikirannya untuk bertanya
“Apa menurutmu jilbabku sudah cukup panjang?”.
“Karena kau berasal dari pondok pesantren, kurasa
jilbabmu pendek,” jawab Faza sekenanya.
Naya tersentak mendengar jawaban Faza, sejujurnya
ia merasa malu karena dengan basic alumni pondok pesantren jilbab yang dikenakannya
selama ini ternyata tidak cukup panjang.
Perbincangan akhirnya terhenti saat mereka sampai
di tempat tujuan dan dengan semangat mereka segera mengambil makanan yang
tersedia di warung nasi, sayangnya Naya masih saja memikirkan jawaban Faza
padanya beberapa saat yang lalu.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau melamun atau sedang
memikirkan sesuatu?” Faza bertanya pada Naya yang terlihat pendiam beberapa
saat.
“Aku.. hanya..” ucap Naya terbata-bata.
“Kau kenapa?” tanya Faza dengan nada khawatir.
“Aku hanya.. merasa sangat lapar,” jawab Naya
sambil tersenyum lebar.
Faza menepuk jidatnya, “Kau ini.. kukira ada apa,
kalau begitu lekaslah mengambil makanan”.
Naya menggaruk kepalanya.
Saat sedang makan, Faza dan teman-teman Naya
lainnya berbincang bersama sambil tertawa sejenak menikmati perbincangan
mereka. Naya hanya ikut-ikutan tersenyum dan tertawa, meskipun kondisi hatinya
memikirkan hal lain. Ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat Faza
mengomentari pakaiannya.
Saat itu, Faza dan Naya sedang bersiap-siap untuk
melakukan study tour bersama teman-teman sekelasnya. Karena mereka sedang
berada di ruangan yang sama, tentu saja Faza bisa melihat apa yang dikenakan Naya
pada saat itu. Naya mengenakan baju kurung berbahan levis yang berukuran pas di
badannya, namun di bagian atas pinggang baju tersebut terdapat kerutan yang
membuat Naya terlihat memakai baju dengan ukuran yang kecil.
“Kurasa, tak ada seorang wanita muslimah yang mau
mengenakan pakaian seperti itu,” Faza mengomentari pakaian Naya.
“Memangnya, aku sudah bisa masuk kategori wanita
muslimah yang sangat menutup auratnya? Kurasa aku masih perlu banyak perubahan
untuk menjadi seorang wanita muslimah yang sempurna,” Naya membela diri.
“Maksudku, rasanya baru kali ini kulihat kau
mengenakan pakaian dengan model seperti itu,” jelas Faza.
“Kau tenang saja, aku akan berusaha menutupinya
dengan jilbab yang akan ku pakai nanti,” balas Naya.
Naya menundukkan wajahnya sejenak, sambil berusaha
menutupi apa yang sedang difikirkannya dihadapan teman-temannya, terutama Faza.
Naya bersyukur ia dipertemukan dengan Faza yang mampu membuatnya kembali
memikirkan tentang ukuran jilbab yang dikenakannya selama ini dan juga pakaian
yang dikenakannya sehari-hari. Harusnya sebagai alumni pondok, ia mampu merubah
orang lain, namun ternyata sebaliknya orang lainlah yang telah merubahnya. Sejak
saat itu, Naya sadar bahwa ia harus merubah semuanya untuk menjadikan dirinya
seorang waNaya muslimah yang baik.
“Terima kasih banyak untukmu Faza. Ku anggap
peringatan darimu tentang jilbab dan pakaianku adalah sapaan persahabatan
darimu yang peduli padaku,” ucap Naya dalam hatinya.
*-*-*
Siang itu, Naya dan Syafa pergi ke perpustakaan
untuk mengerjakan tugas perkuliahan, namun ternyata tepat didepan perpustakaan
sedang diadakan bazzar buku, hal itu membuat mereka terhenti dan berkunjung
sebentar.
“Lihat, ada bazzar buku !” ucap Syafa kegirangan,
“bagaimana jika kita berkunjung kesana sebentar, ada buku yang sedang kucari,”
ajaknya pada Naya.
“Tentu, mengapa tidak? Ayo kita kesana,” balas Naya
sambil berjalan menuju bazzar buku tersebut, “Memangnya buku apa yang ingin kau
beli?” tanyanya pada Syafa.
“Judul bukunya, “Udah Putusin Aja !”,” jawab
Syafa, “sudah lama aku mencarinya, semoga saja buku itu ada disini”.
Hari itu, akhirnya Syafa mendapatkan buku yang
diinginkannya, Naya ikut senang melihat temannya yang satu itu.
“Memangnya, buku itu membahas tentang apa?” Naya
penasaran.
“Tentu saja tentang pacaran, zaman sekarang siswa
siswi sekolah menengah sudah banyak yang melakukannya, padahal semua itu
dilarang agama bukan?” jawab Syafa, “Hey, bagaimana pendapatmu anak pondok?”
Syafa tersenyum lebar.
Muka Naya tiba-tiba memerah, ia sadar bahwa
sebagai seorang santri yang mempelajari agama lebih banyak dibandingkan dengan
seorang siswa di sekolah umum tak seharusnya ia berpacaran. Meskipun ia merasa tidak terlalu salah, karena cara
berpacarannya tidaklah seperti yang dilakukan kebanyakan orang pada umumnya. Naya
tidak punya jadwal “berpacaran”, bahkan sekedar diajak bertemu, berjalan berdua
atau mengobrol pun ia merasa takut dan enggan. Caranya berpacaran hanya sekedar
berkomunikasi lewat dunia maya dan handphone saja, tak lebih dari itu.
Naya sadar sepenuhnya, bahwa ia haruslah merasa
sangat malu pada Syafa yang tidak berpacaran, meskipun ia adalah seorang alumni
sekolah umum, bukan pondok pesantren seperti dirinya. Naya menggaruk kepalanya,
ia tak tahu harus menjawab apa karena saat itu Naya masih berpacaran dengan
salah satu santri di pondok pesantrennya dulu. Awalnya Naya hanya ingin memberikan
sedikit komentar saja, tapi ia rasa jujur akan lebih baik.
“Entahlah, aku tahu bahwa pacaran itu mendekati
zina dan Allah secara tegas melarangnya dalam kitab suci Al-Qur’an. Namun, aku
sendiri pun pacaran,” balasnya sambil tersenyum lebar.
“Kau berpacaran?,” Syafa mengernyitkan dahinya, “Kalau
begitu kau harus membaca buku ini, agar kau tak pacaran lagi”.
“Sejujurnya, aku pun ingin segera mengakhiri
hubunganku dengannya, namun aku butuh waktu agar tak menyakiti hatinya,” balas Naya
dengan wajah yang mengisyaratkan keraguan atas perkataannya.
“Hmm.. memangnya apa alasan utamamu mempertahankan
hubungan itu?” tanya Syafa.
“Pacarku masih duduk di bangku sekolah, bukan
kuliah,” jawab Naya jujur, “Selain itu, ia akan menjalani Ujian Nasional dan
beberapa ujian lainnya di pondok pesantren. Aku hanya tak mau membuatnya kalah
dalam semua ujian itu hanya karena hubungan kami berakhir”.
Syafa tersenyum sambil tertawa sejenak, “Kau
lihat, pacaran akan membuatmu memikirkan sesuatu yang tak seharusnya kau
fikirkan. Kau merasa sedih dan kebingungan tak berujung jika kau masih saja
berpacaran. Meskipun aku bisa mengerti itu, tapi apakah baik memperlambat apa
yang dianggap salah?” ia mencoba mengingatkan.
“Maksudmu?” Naya tak mengerti apa yang diucapkan
temannya itu.
“Intinya, apakah baik jika kau memperlambat
putusnya hubunganmu dengannya? Padahal pacaran adalah sesuatu yang dianggap
salah oleh agama,” jelas Syafa.
“Kau benar, mungkin seharusnya aku mencoba untuk
membicarakan ini terlebih dahulu,” Naya benar-benar merasa malu atas apa yang
telah diperbincangkannya bersama Syafa sesaat yang lalu.
“Lihatlah,” Syafa membuka buku yang baru saja
dibelinya dan menunjukkan bukunya pada Naya.
Di buku itu tertulis kata-kata yang diselipkan
dalam beberapa gambar, sejenak Naya bisa mengambil kesimpulan atas apa yang dilihatnya.
Meskipun cara berpacarannya terhitung baik dan tidak melakukan sesuatu yang
tidak wajar, atau bahkan tidak melakukan apa-apa, ia tetap berdosa atasnya.
Oleh karena itu ia harus berfikir ulang untuk tetap berpacaran, karena jika
tidak ia akan terus larut dalam dosa dan tipu daya sandiwara cinta akibat
berpacaran tersebut. Wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik,
begitupun sebaliknya, harusnya Naya sangat tak asing dengan semua itu. Mau tak
mau, Naya harus mengambil langkah untuk mengakhiri hubungannya.
Harusnya, Naya yang memperingatkan teman-temannya
bahwa pacaran itu tidak diperbolehkan agama, namun kenyataan yang terjadi
adalah ia diberi peringatan dan dukungan dari temannya untuk tidak lagi
berpacaran.
“Terima kasih banyak untukmu Syafa. Ku anggap
peringatan darimu tentang hubunganku dengannya dalam ikatan “pacaran” adalah
sapaan persahabatan darimu yang peduli padaku,” ucap Naya dalam hatinya.
Naya, seorang santri alumni pondok pesantren yang
mempunyai tugas untuk Amr Ma’ruf dan Nahyi Munkar pada teman-temannya ternyata
menemukan kedua sahabatnya yang justru menyuruhnya dalam kebaikan dengan cara
merubah cara berpakaiannya dan melarangnya dalam kemungkaran dengan cara
memperingatkannya akan dosa akibat berpacaran.
Meskipun Naya adalah seorang santri, ia yakin
bahwa bukan ia yang dikirim untuk kedua sahabatnya, Faza dan Syafa, tapi mereka
berdualah yang dikirim Allah SWT yang Maha Pengasih untuk merubahnya menjadi
lebih baik dari sebelumnya dan sadar akan statusnya sebagai seorang “santri”.
*-*-*
Sapaan persahabatan, sesuatu yang akan selalu ada
dalam benak hati Naya yang terdalam atas kehadiran kedua temannya dalam jalan
hijrahnya. Namun disisi lain, Naya merasa sedih, hatinya merasa terharu saat
membaca tulisan kedua temannya itu. Tulisan tentang jalan hijrah mereka yang
sama persis, merubah pribadi mereka dengan step by step menuju jilbab syar’i.
Faza dan Syafa memiliki latar belakang yang sama,
penampilan mereka pada bulan-bulan pertama di perkuliahan pun tidak jauh
berbeda. Hanya saja, Faza memang terlihat sangat feminim berbeda dengan Syafa
yang terlihat lebih cuek dan tomboy dibandingkan dengannya.
Sekata demi sekata, Naya membaca tulisan Faza.
“Ingat ! Kau tak boleh terlihat centil saat
mengenakan jilbabmu !” itu adalah kata-kata pertama yang tertulis disana, Naya
tersenyum dan meneruskan membaca.
Aku merasa bahwa kata-kata itu berputar di dalam
fikiranku dan tak henti-hentinya terdengar dengan jelas oleh telingaku.
Mungkin, Allah sedang memberikanku “kode” dan petunjuk padaku. Karena memang,
saat ini aku sedang berada dalam perjalanan jauh nan sulit yang tempat
pemberhentiannya adalah menjadi seorang wanita shalehah yang lebih baik. Ku
patrikan rasa syukurku pada Allah karena ternyata cara berpakaianku dulu yang
selalu memakai celana jeans telah berganti dengan rok panjang yang menutup
auratku. Perkataanku dulu tentang “begitu lucunya celana itu”, sekarang telah
berganti menjadi “begitu lucunya baju kurung itu”. Aku tahu, Allah selalu
menyukai proses seorang hamba menjadi lebih baik, buktinya aku butuh waktu
lebih dari 6 bulan untuk menjadi sosok seorang Faza saat ini. Mungkin celana
jeans memang sudah ku tinggalkan, namun kenyataannya aku masih saja mengenakan
jilbab yang bisa disimpulkan “belum syar’i”.
Sampai akhirnya di hari itu, hati ini rasanya
merasa takut dan khawatir, kegelisahan tiada henti yang hanya akan terhenti
jika ku lampiaskan semua rasa ini dengan menangis. Dan dengan kuasa Allah, ku
baca al-qur’an dan menemukan satu ayat yang membuat hati ini sangat ingin
menangis.
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan
jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah Memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan
kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyang-mu Ibrahim. Dia
(Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu, dan (begitu pula)
dalam (al-qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan
agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat
dan tunaikanlah zakat,dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dia-lah Pelindungmu;
Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong” (Q.S. Al Hajj ayat 78)
Di hari
itu, aku sedang berada di kamar kos temanku Syafa. Aku memutuskan untuk mencoba
mengenakan jilbab miliknya yang sudah lebih baik dariku. Aku menghadap cermin,
kulihat keadaanku lebih baik dari sebelumnya, rasanya seperti wajah ini
terlihat lebih cantik dan lebih indah saat mengenakan jilbab sesuai dengan
perintah dari-Nya. Tanpa sadar, aku menangis haru tak henti-hentinya disana.
Terfikir, mungkin inilah cara Allah untuk memberikan peringatan padaku untuk
memantapkan niat dan berusaha lebih baik lagi. Semoga kedepannya nanti, tak ada
lagi sapaan lain untukku selain “wanita dengan jilbab syar’inya”. Aamiin.
Seusai
membaca tulisan Faza, Naya merasa bersalah padanya, ia merasa malu pada dirinya
sendiri karena ia tak mampu menemani temannya dalam perjalanan hijrahnya.
Begitupun saat ia membaca tulisan Syafa tentang cara hijrahnya.
Bismillaah...
"Fa, saat kau
kuliah nanti kau harus memakai rokmu, jangan terlalu sering mengenakan celana
jeansmu,"
"Fa, kau tak
boleh mengenakan celana jeans yang membentuk tubuhmu, karena itu sama saja
dengan telanjang bagimu,"
Awal mula ketika
ibuku menyuruh memakai rok saat kuliah, aku menolak. Malas sekali rasanya
ribet-ribet memakai rok. Karena dulu memang aku lebih suka sesuatu yang
simple. Setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu.
Mungkin karena masih
awal masuk kuliah, budaya celana jeans dari SMA masih terbawa sampai semester
1. Memakai rok hanya pada waktu tertentu, pada mata kuliah tertentu yang
mewajibkan mahasiswanya memakai pakaian yang rapi. Kemeja dan rok hitam span.
Besoknya, di saat mata kuliah yang notabene dosennya santai, ku pakai lagi
celana jeans itu.
Cerita selanjutnya,
perkenalanku dengan rok pada saat kumpul pertama member of
SCIEmics. Ada hijab yang memisahkan antara ikhwan dengan akhwat. Aku
dan temanku, Faza, hanya kami berdua yang memakai celana jeans ketat saat itu.
Kami melihat sebagian besar anggota SCIEmics yang menutup auratnya membuat kami
berdua canggung berada di sekitar mereka.
"Fa, bagaimana
jika saat ada perkumpulan SCIEmics lagi, kita pakai rok."
Setelah dari
perkumpulan itu, kami berdua membuat kesepakatan kalau ada kumpul SCIEmics
lagi, kita pakai rok. Deal.
Memang awalnya hanya
pada saat perkumpulan SCIEmics saja, tetapi lama-kelamaan sejalan dengan waktu
kami jadi sering memakai rok. Tidak hanya di saat mata kuliah tertentu saja.
Aku merasakan ada yang berbeda, seperti mendapatkan chemistry. Hahaha
Lagi-lagi 'perkataan
singkat' ibuku terkabul. Aku jadi lebih sering memakai rok ke kampus.
Perubahanku terasa sedikit demi sedikit. Ku kurangi keberadaan dan pemakaian
celana jeans. Sekarang, saat hendak membeli baju bersama ibuku, akulah yang
seolah meminta padanya, "mah, Syafa mau beli rok aja. Hehe",
bukan lagi "Syafa, nanti mamah beliin rok, ya."
Terbawa juga ketika
berada di lingkungan rumahku, sewaktu di ajak main oleh temanku, yang tadinya
aku memakai celana jeans sekarang berubah memakai rok dan dilengkapi kaos kaki.
"Kau terlihat
lebih baik mengenakan rok, akupun ingin seperti itu. Namun, kurasa aku baru
bisa memulainya dengan mengenakan kaos kaki saat pergi kuliah ke kampus"
Step-by-step. Awalnya
juga aku masih suka yang simple-simple. Dari pergantian celana jeans dengan
rok, lalu mulai pakai kaos kaki, dan menutup dadaku dengan jilbabku. Yang
dulunya setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu berubah jadi kerudung-baju
panjang-rok-kaos kaki-sepatu sendal. Pelajaran:
Terkadang, lingkungan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kita.
Jika kita berada di lingkungan yang sebagian besar terdapat orang-orang yang
baik, maka terbawa pula kita di dalamnya. :)
Faza dan Syafa memang
hijrah bersama, bedanya Faza lebih dulu mengenakan rok dibandingkan dengan
Syafa, dan Syafa lebih dulu mengenakan jilbab yang panjang dibandingkan dengan
Faza. Mereka berdua, saling mengajak dan saling mengingatkan.
Satu hal yang mungkin
tidak mereka sadari adalah, mereka telah mengajak dan mengingatkan Naya secara
tidak langsung.
*-*-*
Allah
selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya..
Allah
selalu memberikan jalan yang menuntun hamba-Nya..
Dan
Allah selalu menjadi pembuat rencana bagi setiap alur kehidupan hamba-Nya..
Cerita
ini hanyalah fiktif yang terinspirasi dari kisah Naya, Faza dan Syafa.. tiga
orang wanita yang telah mendapatkan jalan hijrahnya.. Dan bagi Naya, Faza dan
Syafa adalah orang yang Allah kirimkan untuk mendapatkan jalan hijrahnya..
Ini
jalan hijrahku, mana jalan hijrahmu?
*-*-*