Minggu, 24 Agustus 2014

Melepaskan dalam Kedewasaan

Sosok itu hilang, sosok penuh tangisan manja yang setiap harinya selalu ditunjukkan.
Sosok itu hilang, sosok penuh keceriaan dan canda tawa yang tak peduli meski teracuhkan.
Sosok itu hilang, sosok penuh kisah tanpa rahasia yang senantiasa diceritakan.
Sosok itu hilang, dan aku tak pernah menyangka hilangnya sosok yang sangat aku rindukan.

Sosok itu hilang, sosok yang penuh dengan kedewasaan dan kasih sayang.
Sosok itu hilanh, sosok yang penuh perhatian dan kepercayaan.
Sosok itu hilang, sosok yang bijak akan setiap pengambilan sikap dan keputusan.
Sosok itu hilang, dan aku tak pernah menyadari hilangnya sosok yang sangat aku butuhkan.

Semakin dewasa seseorang, maka semakin besar pula tuntutan dan tanggung jawab yang ada di pundaknya.
Bukan hanya tentang pola fikir yang tidak boleh menuntut untuk bersikap egois, tetapi juga keikhlasan hati akan perasaan yang merasa sangat berat untuk melepaskan seseorang.
Seorang kakak penyayang, akan selalu merindukan pelukan hangat yang selalu diberikannya pada adik yang sangat disayanginya.
Seorang sahabat sejati, akan selalu siap memberikan pundaknya demi membagi beban ataupun sekedar dijadikan sandaran saat salah satunya merasa perlu bantuan dan saran.
Tapi ada saat dimana semua itu akan menghilang, dan hanya kedewasaanlah yang akan membuat seseorang merasa rela dengan semua itu.
Karena manusia hanya bisa melakukan sesuatu yang sifatnya sementara, selalu saja ada waktu dimana semuanya berhenti ataupun berganti. Kenangan akan menjadikan semuanya seolah abadi.
Kau sudah dewasa, begitupun dengan mereka. Lepaskanlah mereka dengan kedewasaanmu dan kedewasaannya.
Bersikaplah dewasa dalam melepaskan seseorang yang sudah dewasa.

Sapaan Kedewasaan
Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 21 Agustus 2014

Sapaan Kebahagiaan

setiap tempat punya kebahagiaan, jika satu tempat tak memberikan kebahagiaan maka percayalah bahwa tempat lain memiliki kebahagiaan yang telah disediakan.
meski begitu, hanya diri sendiri lah yang bisa membuat seluruh tempat yang didatanginya memberikan kebahagiaan.

setiap orang punya kebahagiaan, jika seseorang tak dapat memberikan kebahagiaan maka percayalah bahwa orang lain bersedia untuk memberikan kebahagiaan dengan suka hati.
meski begitu, hanya diri sendiri lah yang bisa membuat setiap orang yang berada dilingkungannya membuatnya bahagia.

yang terpenting adalah berbahagialah, karena ternyata yang terbaik adalah memberikan kebahagiaan di setiap tempat dimana diri ini berada dan juga memberikan kebahagiaan pada setiap orang di lingkungan sekitarnya.
meski begitu, hanya diri sendiri lah yang menentukan apakah ia akan memilih untuk memberikan kebahagiaan atau diberikan kebahagiaan.

tenanglah, saat tak ada tempat atau orang yang memberikan kebahagiaan, ada Allah yang senantiasa mempersiapkan kebahagiaan tiada tara untuk hamba-Nya yang percaya akan kuasa-Nya.
berikanlah kebahagiaan pada setiap tempat dan setiap orang, dan biarlah Allah yang memberikan kebahagiaan sebagai balasannya.

Sapaan Kebahagiaan
Nisa Wiyati Ilahi

Selasa, 19 Agustus 2014

Berhentilah Mengalah

Malam itu aku belajar, meski sedikit namun sangat penting untuk prinsip yang kutentukan sendiri.
Seorang pribadi melankolis cenderung rela berkorban dan mengalah, begitupun denganku. Apa yang menjadi kebiasaanku adalah mengalah pada orang lain.
Namun, kesalahan yang ada pada sikap mengalah itu terjadi saat apa yang kuharapkan dan apa yang menjadi alasanku untuk mengalah tidak sesuai dengan realitanya.
Alasanku hanya 1, tidak mau menyakiti hati pihak lain, khususnya 1 pihak tertentu. Hal itu terlihat baik dan positif, meski sering berakhir dengan efek negatif.
Karena ternyata dibalik itu semua, pihak yang tersakiti melebihi dari apa yang ku bayangkan, termasuk diriku sendiri.
Apa mungkin aku telah dzalim pada diriku sendiri? Menahan diri untuk menggapai dan menjalankan apa yang sebenarnya kusukai.
Astaghfirullaahal'adzhiim, aku tahu aku salah jika merasa bahwa aku adalah orang yang paling baik. Namun aku harus dan perlu untuk menganggap bahwa aku adalah orang yang baik. Agar aku bisa belajar untuk tidak menyalahkan diriku sendiri.

Kawanku berpesan, kau punya potensi yang luar biasa diluar perkiraanmu. Allah selalu menciptakan makhluk-Nya dengan potensi beragam yang dimiliki masing-masing. Manfaatkanlah itu semua, jika kau suka maka lakukanlah. Kau pantas memilih untuk tidak mengalah pada sesuatu yang salah.

Sapaan Pesan Kawan
Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 14 Agustus 2014

SHAUM SUNNAH DI BULAN MUHARRAM

Oleh: Salman Al Farisi
عَنْ أَبي غَطَفَانَ بْنَ طَريْق الْمُري يَقُوْلُ سَمعْتُ عَبْدَ الله بْنَ عَباس رَضيَ الله عَنْهُمَا يَقُوْلُ حيْنَ صَامَ رَسُوْلُ الله صَلى الله عليه وَسَلمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ أَمَرَ بصيَامه قَالُوا يَا رَسُوْلَ الله إنَهُ يَوْمٌ تُعَظمُهُ الْيَهُوْدُ وَ النَصَارَى فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وَسَلمَ فَإ ا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبلُ إنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَاسعَ قَالَ فَلَمْ يَأْت الْعَامُ الْمُقْبلُ حَتَى تُوُفيَ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم.
(رَوَاهُ مُسْلمٌ)
“Dari Abu Ghatafan Bin Tharif, ia berkata: aku mendengar Ibnu Abbas RA berkata: bahwa ketika rasulullah SAW sedang melaksanakan shaum di hari asyura dan memerintahkan para sahabat agar melaksanakannya, para sahabat berkata: ya Rasulullah! Hari ini adalah hari yang di agungkan oleh kaum yahudi dan nashrani. Rasulullah SAW bersabda: nanti tahun depan insya Allah kita akan melaksanakan shaum tanggal sembilannya. Ibnu Abbas berkata: sebelum datang tahun itu, rasulullah SAW telah wafat”.
(H.R Muslim)
Dalam ilmu hadits, hadits terbentuk dalam 5 bagian:
1.       Hadits qauli, ialah perkataan yang di sampaikan oleh nabi SAW dalam berbagai kesempatan dan berkaitan dengan berbagai hal.
2.       Hadits fi’li , ialah perbuatan yang dilakukan nabi SAW mengenai perkara ibadah dan yang lainnya.
3.       Hadits taqriri, ialah persetujuan nabi SAW terhadap berbagai perbuatan sebagian sahabat dengan tidak menegurnya atau memperlihatkan keridhoan beliau bahkan terkadang memberikan pujian dan dukungan.
4.       Hadits sifati (hadits ahwali), ialah sifat-sifat beliau yang termasuk kandungan hadits.
5.       Hadits hammi, ialah perkara yang berupa keinginan rasul yang belum terealisasikan.

Hadits yang termaktub di atas adalah contoh dari hadits Hammiyah yaitu, yang berupa keinginan rasulullah yang belum terealisasikan. Ketika rasulullah menyuruh kepada para sahabatnya agar shaum pada tanggal sembilannya, ternyata sebelum datang tahun depan rasulullah telah wafat dahulu.
Muharram adalah nama bulan pada awal tahun hijriah, yang di dalamnya terdapat suatu rangkaian ibadah sunnah. Yaitu pada tanggal 9 dan 10 muharram ada yang dinamakan dengan saum sunnah tasu’a asyura. Ketika itu rasulullah sudah melaksanakan shaum di hari asyura, dan memerintahkan para sahabatnya untuk melaksanakan shaum tersebut. Para sahabat pun membantah bahwa pada hari itu lah, hari yang di agung-agungkaan oleh kaum yahudi dan nashrani. Maka rasulullah pun bersabda nanti tahun depan insya Allah kita akan melaksanakan shaum pada tanggal sembilannya.
Menurut penjelasan para ulama, seperti Imam Syafi’i shaum pada tanggal 9 muharram (Tasu’a) sama sunnahnya dengan tanggal 10 muharram (Asyura). Keduanya merupakan rangkaian ibadah shaum sunnah yang ada pada bulan muharram. Dalam hadits rasul di jelaskan:
عَنْ أَبيْ هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْه وسلم: أَفْضَلُ الصيَام بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله الْمُحَرَمُ, وَ أَفْضَلُ الصَلَاة بَعْدَ الْفَريْضَة صَلَاةُ اللَيْل.
“Dari Abu Hurairah R.A, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: puasa yang paling mulia setelah ramadhan adalah puasa di bulan muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (H.R Muslim 3/169)
Sangat dianjurkan bagi umat islam untuk melaksanakan shaum di bulan muharram (tasu’a asyura), karena shaum tasu’a asyura lebih utama setelah shaum ramadhan. Dan pada hari asyura pula terdapat peristiwa yang sangat agung, tatkala pada hari itu Allah menyelamatkan musa dan kaumnya, dan menenggelamkan fir’aun beserta kaumnya. Dalamhadits di jelaskan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ, فَقَالَ لَهُمْ رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا هَذَا الْيَوْمُ اَّلذِيْ تَصُوْمُوْنَهُ, فَقَالُوْا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ أَنْجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَ قَوْمَهُ, وَ غَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَ قَوْمَهُ, فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ, فَقَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَ أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ, فَصَامَهُ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم, وَ أَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW datang ke Madinah, lalu beliau mendapati orang-orang yahudi berpuasa pada hari Asyura, kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, “Hari apa yang kalian berpuasa ini?” mereka menjawab, “ini hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan Allah menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur, dan kami pun berpuasa pada hari ini.” Kemudian Rasulullah berkata, “ Kamilah yang lebih berhak dan lebih utama pada kalian terhadap Musa.” Maka Rasulullah berpuasa pada hari itu, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.{Muslim 3/150}.
Adapun pada hari apa di lakukan shaum Asyura, di jelaskan dalam hadits rasul:
عَنِ الْحَكَمِ بْنِالْأَعْرَجِ قَالَ: انْتَهَيْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ رِدَاءَهُ فِى زَمْزَمَ, فَقُلْتُ لَهُ: أَخْبِرْنِي عَنْ صَوْمِ عَاشُوْرَاءَ! فَقَالَ: إِذَا رَأَيْتَ هِلَالَ الْمَحَرَّمِ, فَاعْدُدْ وَ أَصْبِحْ يَوْمَ التَّاسِعِ صَائِمًا, قُلْتُ: هَكَذَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُوْمُهُ؟ قَالَ نَعَم.
Dari Al-Hakim, dari Al‘raj, dia berkata, “Aku pernah mendetangi Ibnu Abbas ketika ia sedang berbantal selendangnya di dekat Zamzam, lalu aku berkata kepadanya’ ‘Beritahukanlah kepadaku tentang puasa Asyura !’ Ia menjawab,’Jika kamu telah melihat hilal (bukan sabit) pada bulan Muharam, maka hitunglah, lalu berpuasalah sejak Subuh pada hari kesembilan, ‘ Aku bertanya, ‘Apakah Rasulullah SAW berpuasa seperti itu?’ Ia menjawab, ‘Ya.’’’’’ {Muslim 3/151}
Dikalangan masyarakat kita masih belum mengetahui rangkaian ibadah sunnah pada bulan muharram, padahal ibadah tersebut adalah suatu keinginan rasul yang belum tercapai. Oleh karena itu kitalah para pengikutnya serta umatnya yang harus menjalankan sunnah rasul yang belum terealisasikan tersebut. Sedangkantanggal 9 dan 10 muharram (bulan ini) 1435 H jatuh Pada hari rabu dan kamis tanggal 13 dan 14 november 2013. Wallahu a’lam bis-shawwab


Al-Haya Salah Satu Barometer Keimanan

Oleh : Salman Al Farisi
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاَسِ مِنْ كَلَامٍ النُبُوَّةَ الأَوْلَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya diantara apa yang ia dapati oleh manusia dari ucapan para nabi terdahulu,(ialah) apabila engkau tidak punya rasa malu, maka lakukanlah sekehendakmu”.(H.R. Bukhari)
Takhrijhadits.
1.       Shahihbukhari, kitabahadits al- anbiya, bab.Hadits al-ghaar, no.3484, kitab al-adab, bab.Idza lam tastahyiyfasna ma syi’ta.
2.       Sunanibnumajah, kitabaz-zuhdi, bab. Al-haya’ no.4183
3.       Musnadahmad, no.16641,22742.
4.       Shahihibnuhibban, kitabar-raqaaiq, bab al-haya
Syarahmufrodat
اَلْحَيَاءُ: menahandiri (hilangnyasemangat) dariberbuatsesuatudanmeninggalkannyakarenawaspadaatautakutdaricelaanpadanya (karenaperbuatantersebut) (at-ta’rifat, hal.99 no.796:4)
Syarahijmali
Sesungguhnya al-hayamerupakansinyal yang dapatmenerangkantabiatdalamdiriseseorang, jugadapatmenjadiukurankadarkeimanan .
Para ulamamengistinbatkanduahaltentang al-haya, yaitu: pertama, rasa maludapatmenahanseseorangdariberbuatjahatdanma’siat. Kedua, memberiartibahwajikahendakbertindakfikirkanterlebihdahulu, bilamemalukantinggalkanlah.
Makatakheran, bilaada yang menyebutzamansekarangzamanjahilliyahmoderen.Karenamanusiapadazamansekarangsemakinharisemakinmenurunkadarkeimanannya, hilang pula rasa malunya, sampaihancurlahakhlaqnya. Jikainidibiarkan, akhlaqmanusiaakansepertibinatang, takkenaltemanlawansalinghantam, tertekandanmenjatuhkan. Bahkanbisalebih (hina) daribinatang.
Sebagaimanafirman Allah SWT:
“Merekaitubagaikanbinatangternak, bahkanmerekalebihsesatlagi”. (Al-A’raf:179).
Rasulullahbersabda:
وَ فِيْاْلحَدِيْثِ, لَوْلَاأَنَّاللهَسَتَرَالْمَرْأَةُبِاالْحَيَاءِلَكَانَتْلاَتُسَاوِىْكَفّاًمِنْتُرَابٍ. (عُقُوْدُاللُّجَيْنِص: ٦)
Dan padasatuhadits (diterangkan): Seandainya Allah tidakmenutupiperempuandengan rasa malu, tentuialebihrendahdaripadasekepaltanah”.(uqudu al-lujain, hal: 6, Tarbiyah an-nisa, hal: 10)
Dari hadits di atasjelasbahwajikadalamdirimanusiasudahhilang rasa malumakaderajatmanusiaakanlebihrendahdaripadasekepaltanah. Samahalnyaketikaseseorangsudahkehilanganakhlaqnyamakaseseorangituakanlebihhinadaripadabinatang.
اَلْخُلُقْ: Satuungkapantentangsuatubentuk yang menancappadajiwa, bersumberdarinyaperbuatan-perbuatan yang reflex danspontanterjaditanpapemikirandanpertimbangansebelumnya. (At-Ta’rifat, hal 105 no.835)
Dan akhlaqitumerupakangambaranjiwaseseorang, yang kemudiantimbuldan di aplikasikanoleh raga.Secara global akhlaqmenurut Imam Al-Ghazali :adakhuluqhasan ( AkhlaqTerpuji), yang timbuldarinyaperbuatanterpujibaiksecaraakalmaupunsyara’, dankhuluqsayyi’ (AkhlaqTercela) yang timbuldariperbuatantercela. Hal tersebutakanterusberkembangdanterusmeningkatapabilatelahhilang rasa maludalamdiriseseorang, sabdaRasul SAW sebagaimana yang tertulispadamuqaddimah.
Dan dalamhaditslainRasul SAW bersabda:
عَنْ أَبِيْ دَرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : مَا مِنْ شَيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ. (أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِي وَ صَحَّحَهُ)                              
“Dari Abu DardaRA, iaberkata: telahbersabdaRasulullah SAW: Tidakadasesuatupundaripertimbanganamal yang lebihberatdariakhlaq yang baik”.
Olehkarenaitu, jagalahdirikita di area abu-abu.Ada udang di balikbatu.Ada orang dibalikkelabu.Ada misitersembunyi yang merekamau.Bisikansyaithan yang merayu.Tarikannafsu yang mendayu.Makasyurgakanpesanmu, jaga rasa malumu! Olehkarenaitu Al-Hayadiartikanmalu, yang ma’nanyasangatdekatdengan Al-Hayah yang berartikehidupan.Kita haruskembalipadakekuataniman.Dan jagalahsupaya virus-virus itutidakmenyerbudanmenghinakandirikita.Wallahu ‘alambish-shawwab

Menyikapi Perintah Agama

Oleh : Salman Al Farisi
دَعُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْا وَ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Takhrij Hadits
1.       Shahih Al-Bukhari kitab al-I’tisham bil-kitab was-sunnah bab al-iqtida bi sunani Rasulillah no. 6744.
2.       Shahih Muslim kitab al-fadla’il bab tauqiruhu saw wa tarku iktsari su’alihi no. 4348
3.       Musnad Ahmad musnad Abi Hurairah no. 7063, 8310, 9865.
Mufradat
‘Allamah ar-raghib al-asfahani menjelaskan bahwa asal kata istitha’ah adalah Thau’an (tunduk dengan pasrah), kebalikan dari Karhan (tunduk dengan terpaksa). Pengertiannya:
وُجُوْدُ مَا يَصِيْرُبِهِ الْفِعْلُ مُتَأَتِّيًا
Terdapat faktor-faktor yang membuat sebuah pekerjaan terlaksana. (Mu’jam Mufradat Alfazh Al-Quran, hlm. 319).
‘Allamah ar-raghib menjelaskan lebih lanjut, para ulama menyebutkan adanya empat faktor yang dapat mengukur istitha’ah ini, yaitu: (1) Keahlian dari pelaku, (2) pemahaman terhadap jenis pekerjaan, (3) materi pekerjaan, (4) alat, jika pekerjaan membutuhkan alat. Contohnya menulis, seseorang disebut mampu menulis jika ia punya keahlian menulis, tahu itu apa yang dinamakan penulis, ada materi yang akan ditulis, dan ada alat tulisnya. Jika salah satunya saja tidak ada, maka seseorang bisa dikatakan tidak istitha’ah (mampu) menulis. Contoh lainnya, ibadah haji, seseorang dikatakan mampu ibadah haji jika ia punya keahlian untuk melakukan serangkaian ibadahnya, paham apa itu ibadah haji, bagaimana materinya, dan mempunyai alat (bekal) untuk melaksanakannya.
Syarah Hadits
Hadits di atas memberikan arahan kepada umat islam, bahwa dalam menghadapi perintah agama yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana agar bisa melaksanakannya sebagaimana mestinya, bukan malah mempertanyakannya. Hal seperti itu harus dijadikan pegangan agar umat islam tidak seperti umat-umat sebelum islam, yang saking terlalu fokus pada “mempertanyakan”, akibatnya terjebak pada sikap membangkang. Pada awalnya memang sebatas bertanya, tapi karena pertanyaan mendatangkan jawaban, dan semakin terus mereka bertanya semakin banyak pula jawaban yang didapat, mereka kemudian jadi enggan melaksanakannya karena ternyata jawaban-jawaban tersebut memperberat perkara yang pada awalnya sederhana.
Para ulama sepakat bahwa “sikap bertanya” yang dipersoalkan Nabi SAW diatas bukan artinya melarang bertanya, melainkan mengingatkan agar umat islam tidak latah dengan banyak bertanya. Karena sikap seperti itu lekat dengan protes, membangkang, dan pertanyaan lebih terlihat sebagai dalih semata. Banyak sekali tanya jawab dalam Al-quran dan Hadits yang semuanya itu menunjukan bahwa bertanya diperkenankan. Hanya tentu jika pertanyaan diungkapkan dengan sikap yang cenderung protes dan mengelak, itulah yang dilarang Nabi SAW dalam hadits di atas.
Perhatikan misalnya sikap Bani Israil ketika mereka mempertanyakan sapi yang harus mereka sembelih seperti diceritakan QS. Al-baqarah [2] : 67-71. Padahal kalau saja mereka langsung melaksanakannya semampu mereka, masalahnya tidak akan menjadi berat. Tapi karena mereka terus-menerus mempertanyakannya, dan itu sebagai bentuk mengelak dari perintah asal, akibatnya hampir-hampir saja mereka tidak bisa melaksanakannya. Wa ma kadu yaf’alun, demikian ditegaskan Al-quran.
Maka dari itu Rasulullah SAW pun tegas menyatakan, pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan semampu kalian, jangan banyak bertanya. Yang mampu lakukan, yang tidak mampu, sementara jangan dilakukan.
فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
                Apa yang aku perintah, kerjakanlah semampu kalian”.
Jika terus-terusan bertanya,tidak mustahil efek sampingnya akan kembali kepada si penanya. Sesuatu hal yang tentu tidak ada maslahatnya.
“Sesungguhnya orang islam yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lalu jadi diharamkan karena pertanyaan itu”.(Shahih Bukhari kitab al-iltisham bil-kitab was-sunnah bab ma yukrahu min katsratis-su’al wa takallufi ma la ya’nihi no. 6745)
            “Manusia tidak akan berhenti bertanya sampai ia mengatakan: “Allah adalah pencipta segala sesuatu, lalu siapakah yang menciptakan Allah?” (Shahih Bukhari –ibid-no. 6752)
Walau hadits-hadits di atas konteksnya untuk masa ketika turun wahyu, bukan berarti sudah tidak berlaku lagi pada zaman sekarang. Fiqhul-hadits yang bisa kita ambil dari hadits-hadits di atas adalah, dalam menyikapi perintah agama yang qath’i dan ijma’ di kalangan para ulama tentunya diperlihatkan sami’na wa atha’na (sikap patuh dan ta’at), bukan mempersoalkannya seperti yang cenderung marak akhir-akhir ini; mempersoalkan jilbab, waris, larangan menikah dengan non muslim, haji pada tanggal 8-13 dzulhijjah, shalat jum’at yang khusus laki-laki, larangan homoseks, dan lain sebagainya. Dari kesemua ketentuan agama itu, sudah terima saja, yang mampunya laksanakan, yang tidaknya sementara jangan dilaksanakan.
            Dipakai kalimat “sementara”, karena perintah terkait istitha’ah ini ada dua bentuk:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadanya” (QS. Ali ‘Imran : 102).
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun : 16).
Kedua ayat di atas tidak saling me-nasakh (menggugurkan), kedua-duanya tetap berlaku. Yang pertama, perintah untuk bertaqwa dengan sepenuhnya adalah yang pokok. Sementara yang kedua, perintah untuk bertaqwa semampunya, ditujukan bagi mereka yang tidak mampu. Artinya, bagi yang tidak mampu perintah agama itu harus. Terus diusahakan agar mampu dilaksanakan, karena itulah yang pokok. Kalau masih juga tidak mampu, maka itulah yang dimaksud dengan fa-ttaqul-‘llaha ma-statha’tum. Jadi jangan karena alasan tidak mampu, usaha tidak pernah dimaksimalkan, karena itu melanggar perintah Allah, ittaqul-‘llaha haqqa tuqatihi.
Akan tetapi ingat, hal ini hanya berlaku dalam perintah, tidak berlaku dalam larangan. Maka dari itu Nabi SAW tidak menyebutkan ma-statha’tum ketika menyinggung larangan.
فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ
Maka apa yang aku larang, tinggalkanlah (tidak disebutkan “semampu kalian”).
Menurut para ulama, alasannya jelas, karena larangan menuntut kita “tidak bekerja” atau diam, jadi tidak bisa diterima kalau ada alasan “tidak mampu”. Sementara perintah, menuntut “bekerja”, dan itu artinya harus mewujudkan sesuatu yang akan sangat tergantung pada kemampuan.

Jadi jelasnya, ayat-ayat tentang taklif (tugas) kepada hamba yang disesuaikan dengan kemampuan (seperti la yukallifu-‘llaha nafsan illa wus’aha), mutlak dipahami dengan memperhatikan penjelasan Nabi SAW dalam hadits di atas. Karena al-quran dan hadits saling menjelaskan, tidak bisa dipisahkan. Wallahu a’lam bis-shawab  

Teruntuk Adik Kecilku

Sejak aku masih duduk di sekolah dasar, aku selalu meminta seorang adik kepada kedua orang tuaku. Aku selalu berdoa, semoga kelak aku akan mempunyai seorang adik perempuan untuk menemaniku bermain. Kalaupun yang diberikan kepada keluargaku adalah seorang adik laki-laki, itu tak masalah bagiku, karena yang ku inginkan adalah seorang adik.

Saat aku duduk di kelas 3 SD, Allah menghadirkan seorang adik kecil untukku, dan dia perempuan. Aku sangat bahagia saat itu, meski umurku masih 8 tahun, tapi aku sudah bisa merasakan kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terhingga atas kelahirannya. Bahkan, orang tuaku bilang, ia diberi nama Syifa Aulia, yang artinya adalah Obat yang Utama. Maksudnya, dia adalah penyembuh bagi kakaknya yang sangat ingin mempunyai adik perempuan.

Terhitung beberapa menit setelah kelahirannya, ia mengalami kesulitan bernafas. Akhirnya, bidan memutuskan untuk membawa adikku ke rumah sakit agar ia mendapatkan penanganan yang tepat dengan alat yang lebih lengkap. Aku tak boleh ikut kesana, karena aku masih kecil, lagipula aby tak mau jika aku khawatir. Setelah aby kembali dari rumah sakit, kulihat matanya merah. Tapi adik Syifa masih di pangkuannya. Kenapa aby menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi pada adik Syifa?

Aby mengajakku masuk ke rumah, ia berbisik pelan padaku sambil mengusap-usap kepalaku. Kemudian dengan perlahan aby berkata padaku “Nak, kau tahu bukan setiap manusia terlahir atas kuasa Allah dan ia pun akan kembali kepada-Nya atas ketentuan Allah pula. Kau harus bisa bersabar, karena adik kecilmu yang baru saja dilahirkan harus kembali kepada pemiliknya, Allah SWT”. Mungkin aku masih sangat polos, anak kecil yang baru saja berumur 8 tahun. Saat mendengar perkataan aby, air mataku mengalir begitu saja. Kurasakan kesedihan yang memenuhi relung hatiku, bagaimana mungkin adik kecil yang kurindukan, yang baru saja terlahir, bisa meninggal dengan secepat ini.

Tak lama setelah itu, kudengar tangisan umy yang cukup keras, dan air mataku terus menerus mengalir. Yang kuingat, saat itu aby masih sibuk menenangkan umy di dalam kamar. Dan aku hanya ditemani oleh tetangga yang sedari tadi membantu umy melahirkan adik Syifa. Aku harus kuat, meski aku sangat sedih dan kehilangan adikku, aku harus bisa membuat aby dan umy tenang, aku tak boleh manja dan menangis di depan mereka. Tak terbayang rasa sakitnya saat seorang ibu kehilangan anak yang baru saja dilahirkannya. Sejak saat itu, ku urungkan niatku untuk kembali meminta adik pada kedua orang tuaku. Meski aku yakin, sebenarnya mereka pun sangat ingin memberikanku adik kecil.

Teruntuk adik kecilku, bidadari kecil yang sangat kurindukan, bahkan sebelum ia terlahir ke dunia yang fana ini.
Adik kecilku sayang, apa kabarmu disana? Aku yakin, kau sangat bahagia bukan disana?
Meski kau tidak dibesarkan oleh ibu yang melahirkanmu, kau tidak bermain dengan ayah yang sangat menyayangimu, dan kau tidak bercanda riang dengan kakak laki-lakimu ataupun kakak perempuanmu, yang tak lain adalah diriku.
Tapi aku yakin, dan aku sadar sepenuhnya, kau pasti ditempatkan di surga-Nya, kau diasuh oleh bidadari-bidadari surga disana.

Adik kecilku sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?
Alam yang kau tempati dengan apa yang kutempati berbeda dik, aku tak tahu pasti apakah kau terus tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik jelita atau tetap pada kondisimu saat kau baru saja dilahirkan dan meninggalkan keluarga kecil ini.
Tapi aku yakin, dan aku sadar sepenuhnya, kau pasti sangat senang disana, mendapatkan kebahagiaan yang diberikan secara langsung oleh Sang Penciptamu.

Adik kecilku sayang, bolehkah kusampaikan sapaan kerinduan yang mendalam padamu?
Aku sangat merindukanmu jauh sebelum kau terlahir ke dunia.
Dan aku masih sangat merindukanmu sampai saat ini, sampai saat dimana mungkin jika kau hidup kau sedang menduduki tingkat akhir di sekolah dasar. Kau pasti menjadi anak yang cantik jelita dan menjadi kebanggaan kami sekeluarga dik.

Adik kecilku sayang, bolehkah kusampaikan harapan terbesarku padamu?
Aku sangat ingin memelukmu secara langsung, bermain denganmu, membantumu dan mengajarimu untuk menutup auratmu, aku yakin, aku akan senang bisa melihatmu mengenakan jilbab yang cantik dan indah di wajahmu.

Tapi aku harus bisa menerima kepergianmu dik, karena itulah yang telah terjadi 11 tahun yang lalu. Kau hanya diberikan kesempatan hidup yang terhitung sangat singkat oleh Sang Pencipta, Allah SWT.
Tapi aku harus bisa menerima ketiadaanmu dalam hidupku dik, karena itulah yang terbaik untuk dirimu dan untuk keluarga kecil kita. Mungkin kau tidak akan kuat menghadapi semua alur kehidupan di dunia, itu bisa saja. Mungkin kau dihadirkan untuk menjadi penyembuh atas penyakit kerinduan pada seorang adik yang selalu ada di dalam hati kecilku. Mungkin kau kembali kepada-Nya untuk menyelamatkan ibu kita, untuk menyelamatkan keluarga kita, serta bentuk ujian kesabaran pada keluarga kita.

Adik kecilku sayang, semoga di akhirat kelak, kita bisa dipertemukan di surga-Nya yang abadi. Semoga kelak keluarga kita bisa berkumpul seutuhnya disana.
Adik kecilku sayang, aku sangat menyayangimu. Tapi Allah lebih menyayangimu, sehingga kau kembali lagi kepada-Nya.

Aku selalu merindukanmu adik kecilku, Syifa Aulia.

Sapaan Kerinduan, dari seorang kakak perempuan yang merindukan adik kecilnya.
Nisa Wiyati Ilahi

Istikharah Cinta untuk Milea

Berbicara tentang cinta, rasanya berjuta kata yang terangkai dengan penuh keindahan macamnya takkan pernah bisa menggambarkan apa itu cinta.
Yang ku tahu, cinta itu suci, jika ia memang dianggap sebagai fitrah dan nikmat terindah yang diberikan oleh Allah SWT.
Namun sebaliknya, cinta itu amarah, rasa cemburu, egois, jika kehadiran cinta dalam hati dinodai oleh hawa nafsu yang ada dalam diri.
Karena cinta adalah fitrah yang datang atas dasar kasih sayang dan kekuasaan penuh dari-Nya sang Maha Cinta, maka alangkah baiknya dan alangkah indahnya jika cinta yang dikaruniakan itu dirasakan untuk hal-hal yang seharusnya, untuk sosok yang seharusnya, untuk kebahagiaan yang seharusnya.
Namun jika cinta telah ternodai oleh hawa nafsu dan emosi negatif dalam diri pribadi seseorang, keindahannya takkan pernah bisa dirasakan, kenikmatan akan karunianya takkan pernah bisa melahirkan suatu kebahagiaan.
Tak ada satupun makhluk yang bersalah jika Allah telah memberikan karunia terindah kepadanya berupa cinta. Namun yang salah, adalah ketika kesucian cinta dinodai oleh hawa nafu dan emosi semata.

Istikharah cinta, seringkali banyak yang menganggap bahwa istikharah cinta adalah sesuatu hal yang mudah. Hal yang akan memberikan keyakinan begitu saja kepada yang memintanya. Memang benar, istikharah cinta itu mudah dan berkah, ia bisa menjadi jawaban atas sekian keraguan yang tersirat dalam hati dan fikiran. Namun karena dalam diri manusia selalu ada kekurangan dan hal negatif, tak menutup kemungkinan jika jalan yang ditempuh untuk mencapai haqqul yaqin itu sangatlah penuh dengan liku keraguan, berupa ujian atau petunjuk yang datang.

Ujian dalam mendapatkan keyakinan bukanlah hal yang sedih atau mengharukan saja, namun juga ujian bisa berupa sikap terlenanya seseorang akan kebahagiaan semu yang sedang dihadapinya saat ini.
Ujian berupa kesedihan dan rasa sakit akan sangat terasa keberadaannya, tapi ujian berupa kebahagiaan dan kenikmatan semata tidak akan terasa dengan mudah.

Pilihan untuk melabuhkan cinta, sebagai bentuk perwujudan ketaatan kepada-Nya melalui salah satu sunnah Rasul bukanlah hal yang mudah.
Terkadang, ujian datang dengan sikap yang tak disukai dari pasangan masing-masing, padahal ia adalah orang yang benar-benar tepat untuknya.
Namun juga terkadang ujian datang dengan adanya kenyamanan dalam hati masing-masing pasangan, kebahagiaan sesaat yang sangat dinikmati hingga membuatnya terlena dan terlupa untuk selalu berdoa.

Sahabat, mungkin apa yang sedang kau alami saat ini bukanlah hal yang mudah. Kau tak tahu apakah yang sedang terjadi saat ini padamu adalah ujian untuk bertahan atau justru petunjuk dan peringatan untuk melepaskan.
Namun apapun yang terjadi, seorang sahabat hanya ingin melihatmu bahagia bersama pasanganmu. Seorang sahabat, takkan pernah tega jika air mata berlinang hanya karena kesedihan dan rasa sakit yang kau rasakan karena sikap pasanganmu. Tapi seorang sahabat, selalu akan berada disampingmu, menghormati keputusan yang kau ambil, dan keyakinan yang tertanam dalam hatimu.

Hanya doa dan dukungan yang bisa kuberikan, sebagai bentuk dari kepedulianku padamu. Semoga kau segera menemukan jalan keluar yang terbaik, sahabatku.

Sapaan Persahabatan
Nisa Wiyati Ilahi

Rindu 19

Ada saat dimana kau melewati sahur pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama teman-teman terbaikmu di sebuah ruang yang dikenal dengan “Math’am”.
Ada saat dimana kau melakukan shaum pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama teman-teman terbaikmu di tempat yang sementara itu kau anggap rumah.
Ada saat dimana kau menghabiskan makanan “ta’jil” pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama teman-teman terbaikmu dengan turut membagikannya kepada setiap orang disana.
Ada saat dimana kau menjalani ibadah shalat tarawih pertamamu di bulan suci Ramadhan dengan diimami oleh guru-guru terbaikmu dengan suasana sangat ramai disana.
Ada saat dimana kau diajarkan melafadzkan doa seusai shalat tarawih pertamamu di bulan suci Ramadhan dengan dibimbing untuk melafadzkan doa oleh guru-guru terbaikmu supaya kau mampu untuk menghafalnya dan mengamalkannya sendiri kelak.

Namun saat ini, ada saatnya kau melewati sahur pertamamu, melakukan shaum pertamamu, menghabiskan ta’jil pertamamu, menjalani shalat tarawih pertamamu, hingga melafadzkan doa seusai shalat tarawih pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama keluarga kecilmu, rumahmu yang sebenarnya.
Saat itulah, kau merasakan kerinduan untuk kembali pada waktu dimana kau takkan pernah bisa mengulanginya. Waktu yang takkan pernah bisa terbayarkan oleh apapun dan waktu yang takkan pernah bisa kau lupakan bagaimana kebahagiaan dalam hatimu merasakannya.

Masih saja teringat, antrian sahur ataupun berbuka yang panjang membuat kita menyela antrian orang lain.
Masih saja teringat, tumpukan makanan ta’jil yang harus dibagikan pada setiap santri membuat kita berebut untuk membagikannya dengan alasan mengharapkan pahala karena telah memberikan makanan pada orang yang sedang shaum.
Masih saja teringat, kumandang adzan isya’ yang terdengar dari mesjid diluar asrama putri yang membuat kita bersegera untuk menuju mesjid demi melakukan shalat isya’ dan shalat tarawih berjama’ah disana.
Masih saja teringat, keluhan seusai shalat tarawih saat diimami oleh ustadz yang bacaannya benar-benar sangat panjang.
Masih saja teringat, semangat untuk shalat tarawih saat diimami oleh ustadz yang suaranya merdu mengalunkan lafadz-lafadz Allah dengan indahnya.
Itulah kenangan yang takkan terlupakan disana.

Bahkan kita sempat melewati hal lain,
Kita sempat melewati saat dimana untuk sahur dan berbuka haruslah kita yang memasak sendiri dan haruslah kita yang mempersiapkan segalanya.
Kita sempat melewati saat dimana seusai shalat shubuh ataupun shalat ashar, mengisi pengajian dan beberapa kegiatan untuk anak-anak yang sedang mengaji.
Kita sempat melewati saat dimana kita bersama-sama hidup di lingkungan luar, lingkungan orang asing yang justru saat ini sudah menganggap kita sebagai bagian dari keluarga mereka.
Itulah kenangan yang takkan terlupakan bersama kalian.

Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang selalu dirindukan kedatangannya oleh setiap muslim di dunia ini. Dan bulan suci Ramadhan adalah bulan yang selalu membuatku rindu pada tempat itu, tempat dimana beberapa saat yang lalu aku menimba ilmu dan pengalaman disana. Selalu membuatku rindu pada kalian, kalian teman-teman seperjuangan terbaik Hikaru 19.
Saat aku merindukan bulan suci Ramadhan, aku pun merindukan kenangan bersama kalian.

Sapaan Kerinduan
Nisa Wiyati Ilahi

Kebahagiaan Hakiki

Pernahkah kau merasakan betapa bahagianya dirimu saat apa yang kau cita-citakan dan apa yang sangat kau impikan tercapai?
Bagaimana rasanya? Tentu kau tak bisa mengutarakannya dengan berbagai rangkaian kata indah yang tersusun rapi bukan.

Pernahkah kau merasakan betapa bahagianya dirimu saat kau telah menjadi seseorang yang membuat orang tuanya bangga, membuatnya bermanfaat dalam pandangan setiap orang yang mengenalnya. Keluarganya, teman-temannya, bahkan lingkungan terdekatnya yang bukanlah siapa-siapa bagi dirinya.
Bagaimana rasanya? Tentu kau tak bisa berucap mengeluarkan begitu banyak kata yang menjelaskan alangkah bahagianya dirimu saat itu.

Pernahkah kau merasakan betapa bahagianya dirimu saat memikirkan seseorang yang senantiasa menjadi pilihan dihatimu? Ia menempati posisi terdalam di hatimu sampai-sampai saat kau memikirkannya pun kau akan merasa sangat bahagia.
Bagaimana rasanya? Tentu kau akan lebih banyak tertawa dan tersenyum atas apa yang sedang terjadi pada dirimu saat itu.

Namun, aku menemukan suatu kebahagiaan yang berbeda. Yang kunamakan dengan kebahagiaan hakiki dalam hati terdalam seorang muslim yang sangat mencintai Allah.

Yaitu kebahagiaan yang tercapai saat seseorang melakukan suatu hal duniawi yang bertujuan ukhrawi dalam rangka mendekatkan diri pada-Nya, Allah yang Maha Segalanya.
Kebahagiaan yang tercapai saat seseorang telah ditakdirkan untuk berada dalam nikmat iman dan islamnya sejak ia dilahirkan ke muka bumi hingga akhirnya tumbuh dewasa sampai sekarang ini.
Kebahagiaan yang tercapai saat seseorang memandang segala sesuatu hal yang terjadi di dunia hanya atas kehendak Allah SWT saja. Sehingga, apapun yang terjadi ia akan selalu tersenyum bahagia karena mengetahui dan menyadari sepenuhnya bahwa Allah yang telah mengatur semuanya.
Allah yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu tak kan pernah memberikan sesuatu yang buruk pada makhluk-Nya. Bila pun dirasa buruk, maka ia pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik. Atau kebaikan yang sudah disiapkan terlebih dahulu agar tak terjerumus dalam keburukan itu.

Tersenyumlah atas segala sesuatu yang terjadi padamu. Baik itu hal yang membuat hatimu sangat senang dan bahagia ataupun sebaliknya. Percayalah bahwa kebaikan yang datang padamu hanyalah dari Allah semata. Percayalah bahwa semua ujian dan kejadian buruk yang menimpamu pun hanyalah dari Allah semata.
Allah mempunyai maksud tertentu yang terkadang kita sendiri tak pernah mampu untuk dapat memahami itu dengan akal kita. Namun yakinlah, sebesar apapun ujian dan musibah yang kita hadapi, suatu hari akan berbuah kebaikan dan kebahagiaan tak terhingga dalam hati kita.

Senantiasa berhusnudzan pada Allah, senantiasa tersenyum atas apa yang sedang dijalani, akan membuat kebahagiaan menjadi suatu hal yang sangat berharga. Karena kebahagiaan itu adalah karunia yang datang dari Allah.
Semoga kita diberikan kehendak untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki yang datang dari Allah dan karena Allah.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan dan memohon ampun atas segala kesalahan yang dilakukan.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang dapat mencapai kebahagiaan karena senantiasa mengingat-Mu di setiap alur kehidupan yang dijalani.
Kabulkanlah doa kami Ya Allah.
Aamiin.

Sapaan Kebahagiaan karena Allah
Nisa Wiyati Ilahi