Sabtu, 31 Oktober 2015

Lia Amalia



Assalamu’alaikum a Rian.
Surat ini Nisa perkenankan untuk a Rian *sebenernya, tapi berhubung “nanaonan atuh nis pake ngasih surat buat a Rian segala”, jadi kayaknya yang baca mba Lia aja yah. =P
Sejauh ini, yang nisa kenal tentang seorang Lia Amalia tidaklah banyak. Tapi yang pasti Nisa pengen banget nitipin seorang dengan pribadi sanguinis koleris, si ceria yang alay dan keras kepala ini sama a Rian.
Lia ini a, orangnya “Seneng minta pendapat orang dan muji orang”. Kebukti sama sikap dia yang sering nanya pendapat nisa dan sering baper sama tulisan-tulisan nisa yang biasa aja. Tapi sikap Lia benar-benar hangat a, Lia bikin nisa ngerasa kalo pemikiran nisa dibutuhin juga ternyata sama orang lain, tulisan nisa bisa istimewa dan bermanfaat juga ternyata buat orang lain. A Rian beruntung bisa dapetin Lia yang baik hati, bisa hangat, bersahabat dan bikin orang lain ngerasa senang dan berarti.
Lanjut ya a, Lia itu “Paling gak suka dibilang berubah”. Kebukti sama cerita nisa tentang sikap nisa yang dulu nuduh ke 'temen' nisa kalo dia berubah padahal kata Lia bukan dia yang berubah tapi cara pandang nisa tentang dia yang berubah. Lia emang bener a, kadang dengan kata berubah kita seolah menghakimi seseorang dengan sikap yang justru itu hanya kita yang merasakan tapi bisa saja dirinya bahkan orang lain yang juga disekitarnya tidak merasakan perubahan itu. Tapi hanya diri kita sendiri lah yang merasakannya. Hati-hati yah a kalo mau bilang Lia berubah. Hihi.
Terus a, keras kepala nya lia ini muncul “Kalo mau harus iya, kalo nggak iya rungsing”. Dia sering bilang ke nisa khususnya kalo lagi stres dan galau “Mba, aku pengen pulang dan ketemu Mamah”. Sebelum Lia pulang ke rumah dan ketemu sama mamah tercintanya, biasanya Lia bakalan susah fokus dan susah diajak kerjasama buat ngerjain tugas. Jadi intinya kalo Lia pengen pulang, dia harus pulang. Kalo nggak, duh rungsing nya gak ketulungan a. Ripuh nisa, suka greget apalagi kalo liat Lia nyantei ngerjain tugas gegara galau pengen pulang *haha iya gitu pernah? Gatau sih nisa ngarang aja. Wkwk
Selain yang tadi a, Lia juga “Kalo gak mau harus nggak, kalo iya ya siap” aja liat perubahan sikapnya”. Lia itu kalo ngelakuin sesuatu secara terpaksa jatohnya dia gaakan ngeluarin kehebatannya dia. Dia bakal kerja tapi gak maksimal, asal meski gak jelek-jelek amat hasilnya. Yaa, ini beda tipis sih a sebenernya sama yang diatas. Hoho.
Nah ini sisi melownya Lia a, “Kalo lagi jauhin orang yg dia sayang karena kecewa dia juga nyakitin dirinya sendiri”. Lia pernah marah sama nisa sama epi juga gegara salah paham sama kejadian di lab computer. Waktu itu Lia nanya sesuatu ke nisa, Lia manggil” nisa tapi nisa gak nyaut dan malah ngobrol terus sama epi. Alhasil, Lia pundung dan ngerjain tugas lewat searching, padahal nisa sama epi bisa bantuin dia. Pas nisa nyapa, dia baeud wae a. Pas nisa mau bantu, Lia bilang Lia bisa sendiri. Sampe tiba waktunya kita kajian, tapi Lia pundung dan kita sms an ala ala orang gak kenal dengan bahasa yang kaku dan kita ini orang asing, Bhay. Tapi a, besoknya dia nangis ke nisa, minta maaf. Padahal nisa yang salah, tapi dia yang nangis. Hoho. Lia baik kan a, nisa yang salah tapi Lia yang minta maaf. Nisa yang cuekin dia duluan meski sebenernya karena gak denger dia manggil” nisa, tapi Lia yang nangis ke nisa. Dia peluk nisa, padahal harusnya marah besar. Haha Lia, Lia, kamu mah suka bikin malu aja. Hoho.
Nah, kalo yang ini a Rian kudu sabar yah, soalnya Lia “Sering lupa sama apa yg dia ucapin dan nasihatin”. Kebukti sama kejadian dimana nisa lagi curhat terus ditengah” curhat nisa bilang “kan kata mba juga … bla bla bla…” tiba” dia nyela dan nanya “emang aku pernah ngomong gitu?” atau “emang aku pernah ngeluarin nasehat sekece itu?” ini tanda kalo Lia seneng nasehatin orang a, bantuin orang yang lagi butuh nasehat, solusi dan teman berbagi *elaahh.
Yang kedua, Lia juga “Sering lupa kalo dia udah cerita tentang suatu hal sampe diulang berkali-kali”. Naahh, jadi a Rian jangan heran yah kalo dia tiba-tiba cerita hal berulang tanpa sadar kemudian nanya “ehh, aku udah pernah certain ini belum?” hohoho.
Kemarin, waktu kita kumpul geng terakhir ceritanya Lia bilang kalo dia paling gak enakan sama orang, apalagi kalo orang itu nunggu. Menurut nisa, itu sikap yang melankolis, tapi yaa kalo memang Lia merasakannya itu bukan masalah. Karena nisa tau, Lia orang baik a. Nisa udah cerita kan a, kalo Lia itu kadang suka minta maaf duluan sama orang yang justru punya salah sama dia. Hahaha ingetin aja yah a biar Lia jadi orang yang sabar dan kuat.
Masih banyak hal tentang Lia yang gak bisa Nisa sebut satu persatu, tapi yang pasti hal-hal diatas adalah diantara kenangan yang nisa inget tentang Lia. Tapi yang paling berarti buat nisa adalah Lia selalu bilang bahwa melankolis itu istimewa, itu selalu nisa jaga dan nisa tanam di diri nisa. Hehe.
Oiyah a, Lia itu kadang suka rada khilaf jadi dia centil dan alay sih a, tapi itu bentuk keceriannya dia, bentuk becandanya dia sama semua temen-temennya, bentuk bersahabatnya dia sama lingkungan. Diwajarin aja yah a, namanya juga sanguinis, kadang dia gak sadar sikap welcome nya dia bikin sakit melankolis *lho *curcol *pengalaman pribadi ajah.
Titip Lia yah a, mungkin setelah hari ini apa yang biasa dia ceritain ke nisa jadi ke a Rian aja, apa yang biasanya dia omelin ke nisa jadi ke a Rian aja, apa yang biasa dia tumpahin ke nisa jadi ke a Rian aja.
Salam buat Lia juga yah a, mungkin setelah hari ini nisa jadi canggung buat cerita sama dia, nisa jadi bingung kalo mau curhat dan nangis lepas ke dia, nisa makin ngerasa ngebebanin dia. Kita gak tau kan a apa yang bakalan terjadi di masa depan?
Akhir kata, nisa ucapkan selamat buat a Rian yang udah beruntung banget dapetin Lia dan makasih buat a Rian yang udah jadi pasangan terkece buat Lia. Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khaiir.
Nisa percaya bareng a Rian, Lia bakal makin hebat dan kece. Titip Lia yah a.

Salam, sahabat perkuliahan Lia,
Nisa Wiyati Ilahi.

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #4



Fifi Nurshifa Budiarti, itulah nama seorang divergent yang aku kenal sejak kami berada dalam salah satu organisasi Himpunan Mahasiswi sebagai alumni PPI (Pesantren Persatuan Islam). Saat itu, aku belum terlalu banyak mengenal kepribadian dan sifatnya. Yang aku tahu, dia adalah teman dari temanku saat duduk di tingkat mu’allimien. Yang aku tahu, dia berprestasi dan memiliki keahlian di bidang organisasi, sejak saat itu aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki kepribadian koleris. Pribadi yang menurutku pekerja keras dan dipercaya menduduki jabatan-jabatan penting dalam organisasi, seperti ketua atau bahkan sekretaris.
Waktu berlalu, jika kami bertemu maka kami hanya sekedar menyapa satu sama lain. Kami tidak memiliki kontak satu sama lain, tidak memiliki perbincangan diluar “Apa kabar himi? Masih suka ikut kegiatan himi?”. Bahkan mungkin kami tidak pernah memikirkan satu sama lain atau memperhatikan satu sama lain atau memperdulikan satu sama lain dalam setiap hari, minggu bahkan bulannya.
Qadarullah (itu bahasa yang dia ucapkan) kami dipertemukan kembali di kelompok KKN yang bertempatkan di Caringin, Karang tengah, Garut. Suatu kejutan dan hadiah dari Allah agar kami bisa saling menjaga satu sama lain, mengingatkan satu sama lain dan memperhatikan satu sama lain. Yang intinya, mengenal dengan baik satu sama lain untuk dapat berjalan bersama dalam kebaikan dan perubahan.
Pertemuan pertama kami dan perbincangan terpanjang kami adalah pada saat meet up pertama kelompok KKN. Ia diajukan dan disepakati untuk menjadi sekretaris kelompok, sisi kolerisnya sudah mulai terlihat disana. Berlanjut saat kami mulai sering mengadakan pertemuan dan perkumpulan, aku semakin mengetahui kepribadiannya, caranya memutuskan, arah berfikirnya, komunikasinya, dan hal lainnya yang menunjukkan bagaimana kepribadiannya. Kurasa dia mulai terlihat memiliki kemiripan denganku dari beberapa sisi, terkadang ia bisa menjadi orang yang pendiam, terkadang juga sangat tidak bisa berdiam diri di tempat, terkadang menangis tertahan, dan terkadang-terkadang lainnya. Intinya, aku sedikit kebingungan apakah ia melankolis atau phlegmatis.
10 hari pertama, kami seringkali bersama-sama dalam melakukan sesuatu. Memperbincangkan sesuatu yang terkadang hanya kita berdualah yang mengerti hal itu, seperti masa-masa di pesantren, teman-teman di pesantren, kisah cinta di pesantren, ups. Intinya, kami semakin dekat dan senantiasa berusaha satu sama lain untuk dapat saling memahami pribadi dan pola pikir masing-masing. Dan aku menyimpulkan bahwa dia memiliki 3 pribadi, koleris, melankolis dan phlegmatis.
Dia orang yang baik, dia bisa mengarahkan orang lain dengan bijak, mengerjakan sesuatu dengan tekun dan menjadi teman bicara atau bercanda yang asik dan enerjik. Dia anak gunung, bahkan mengikuti salah satu perkumpulan bernama Matagira. Sejujurnya aku belum bisa memahami dia sepenuhnya, itulah mengapa aku memandangnya sebagai seseorang yang divergent.
Poy, itu sapaan hangatku padanya. Meski bukan hanya dia yang kupanggil dengan sapaan ‘poy’ tapi melalui sapaan itulah aku merasa bahwa aku adalah teman dekatnya, akrab dengannya dan memahaminya.
Poy, kau tahu bukan bahwa kau adalah orang yang kuat dan menguatkan. Buktinya, aku membiasakan diri menjadi kuat karenamu. Kau juga orang yang perhatian dengan batasan yang pas, dari sikapmu aku bisa belajar untuk tidak memperhatikan dan peduli pada seseorang secara berlebihan. Kau pemimpin yang baik meski kau tak menyadarinya, dari caramu berfikir dan memutuskan aku belajar untuk bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Poy, terima kasih banyak sudah memberikan waktu dan kesempatan bagiku untuk mengenalmu, menjadi temanmu, meski sulit rasanya jika aku menjadi kakak iparmu (abaikan). Yang pasti, kau memberikan banyak kebaikan dan kenangan padaku termasuk saat kau tak menyadarinya. Ada saat dimana aku merasa tenang dan begitu bahagia meski hanya melihatmu terbaring dan tertidur pulas disampingku. Mungkin ini berlebihan, tapi di masa itulah aku bisa benar-benar tahu dan melihat keadaanmu secara langsung. Tak tega rasanya membayangkan kau menangis, lelah, terluka dan sakit tanpa aku berada disampingmu sebagai teman yang mendengarkan keluh kesahmu dan membantu menghilangkannya.
Poy, aku pun ingin minta maaf jika sikapku belum bisa memberikan yang terbaik bagimu. Jika pemikiranku belum bisa mendukung keputusan bijakmu. Jika pribadiku belum bisa memahami pribadimu secara jelas dan menyeluruh. Jika hadirku belum bisa menjadi bagian kecil dari kebahagiaanmu. Jika tulisanku belum bisa memberikan rasa haru yang berarti bagimu. Dan jika dilain waktu, aku menuliskan sesuatu untukmu atau tentangmu, semoga itu tidak mengganggu.
Akhir kata, ingin kuucapkan “Alhamdulillah untuk kelahiranmu, semoga umurmu berkah dan dapat memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada disisimu”. Aamiin.
Salam hangat (dari calon kakak iparmu *semoga jadi aamiin wkwk abaikan ini informal)
Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 02 September 2015

Memories of Caringin

Kalo dibahas tentang pribadi, semua punya pandangan masing-masing tapi yang pasti kita sekumpulan orang yang mayoritas phlegmatis. Alhamdulillahnya cinta damai, kangen satu sama lain karena gak ada lo gak rame, dan senengnya dibawa santai. Haha.
Memori pertama tentang cara perkenalan,
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu bapak sadayana abi teh mahasiswa kkn UPI Bandung. Jumlah sadayana aya 11 jalmi, istri na 7 teras pameget na 4, ari linggih na mah di bumi na pak Apip di cikulahan”, dan seterusnya.
Memori kedua tentang posko,
Posko caringin itu luas meskipun satu-satunya kamar dipake dempet-dempetan sama 7 orang cewe. Posko kita itu nyaman, meskipun cuman dari bilik dan anyaman tapi tetep aman. Terus posko kita itu juga deketan sama kandang ayam, pagi-pagi pasti udara segernya udah kecampur sama bau ayam dan pasti dengen suara “ooeo” nya ayam. Pintu depan suka bunyi kalo dibuka atau ditutup, pintu kamar besinya kayak yang udah mau copot, pintu belakang gampang banget buat dibuka tinggal dorong aja dan pintu wc selalu bikin waswas kalo lagi di kamar mandi, takut keliatannya itu loh.
Pagi-pagi (biasanya jam 5) Fatria pasti udah pergi ke mesjid atau bahkan udah pulang dari mesjid, ada bunyi alarm dari hp nya Rita yang kenceng banget dan jadi alarm andalan buat bangunin anak cewe. Kalo buat bangunin anak cowo sih jagonya ya siapa lagi kalo bukan Darma. Lagu yang sering didengerin waktu KKN sesi pertama itu dari medina, “Orang kaya mati, orang miskin mati..” dan seterusnya, kadang Dani suka ganti lirik jadi “Orang ganteng dani” sayangnya dilanjut lagi ke “Dani ganteng mati”. *Duh piiss mang :D
Memori ketiga tentang jalan-jalan
Tempat maen kita yang pertama itu waktu sesi pertama di sawah buat ciwi-ciwi nya, terus lanjut ke daerah deket sindanggalih (nisa lupa namanya). Gunung piramid belum sampe puncak dan baru sampe saung nya a irfan. Cipanas, dadakan banget padahal baru pulang dari jalan-jalan dan ambu sama mamake gak ikut, so sorry and sangat disayangkan *ckckck.Talaga bodas jalannya juara banget, untung ada mobil patroli yang bisa ditebengin sama ciwi-ciwi. Berakhir di Santolo, pantai yang udah ditargetin sama Fifi dari jauh-jauh hari. And so thanks buat kalian semua udah mau nganterin nisa buat bisa kecapai makan ramen di Garut. Hihi, thanks a lot guys.
Memori keempat tentang makanan
Ini candaan, tapi terkadang cuwu-cuwu ataupun ciwi-ciwi nanggepinnya serius. Sayuran, apapun warnanya, gimanapun bentuknya, khususnya yang berwarna hijau sudah pasti diistilahkan ‘jukut’. Apa itu jukut? Rita sama Darma belum terlalu paham, jukut itu dalam bahasa indonesia artinya rumput. Jadi, makanan pun diistilahkan dengan ‘parab’, biar cocok sama istilah jukut tadi. Apa itu parab? Parab itu dalam bahasa indonesia artinya makanan untuk hewan. Istilah yang berasal dari amarah serta memancing amarah, berangsur menjadi canda tawa dan kenangan.

Istilah lainnya, ada hubungannya sama salah satu nama kampung di desa caringin, yaitu jumbre. Awalnya ciwi-ciwi gak paham, dan cuman ikutin istilah itu, tapi akhirnya yaa kami paham arahnya kemana. Intinya, Fatria sempet mencetuskan kalimat ‘Jumre lah pokokna mah’ kalo dia abis nyobain makanan yang enak dan mantap. Jadilah tertular dengan kalimat itu, jumre adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makanan yang enak, padahal aslinya itu nama kampung *sopannya kita.
Memori kelima tentang perang dan perpisahan
Semua orang stres dan cape, tapi pengungkapan dan penunjukkan sikap yang beda. Ada yang ngambek sambil ngeyel, ada yang diem nahan nangis, ada yang lampiasin sama maen dan gak diem di posko, ada juga yang berusaha ngalem dan diem aja di posko. Yah, yang penting kita saling memahami dan memaafkan yah, toh semua punya salah satu sama lain, semua juga punya rasa simpati satu sama lain. Alhamdulillah perpisahan kita nangis bukan karena berantem, tapi karena kita keluarga dan mau rantau lagi di jurusan masing-masing semuanya.
Perpisahan diawali sama Darma yang pulang duluan karena mau ketemu saudara nya, kehilangan banget mamake yang satu ini karena posko jadi lebih rentan berantakannya, makan lebih jarang siap di dapurnya. Lanjut sama Fatria yang terus bilang kalo jam 1 dia harus udah sampe sukabumi, pergi jam 7 pagi, dia nangis dan bikin yang lain nangis juga. Siangnya pas mau pamitan, kita kumpul duduk-duduk di kursi, Rita udah siapin hp nya buat bikin video. Dani sibuk sama hp nya meskipun tetep bareng-bareng, Kamil ngider gatau kemana dan tiba-tiba pulangnya udah bawa batu sekeresek aja. Ujungnya salah satu dari 4 cowo di posko kita, neng yang satu ini, Ian dijailin sama ciwi-ciwi.
Sebelum pulang, kita pamitan ke warga sekitar sekaligus foto-foto terakhir dan penyerahan kenang-kenangan buat posdaya, SD, Desa, dan lainnya. Akhirnya, Nisa dijemput sama Aa Alief dan pulang duluan bareng Fifi sama Rita. Disusul sama Dea sore harinya, dan Tata, Cahya, Dani, Ian sama Kamil pun menyusul. Bye, kita pisah dulu yaahh.
Lanjut ke memori baper yang dibuat-buat,
Ketua, sekretaris, bendahara, gak aneh lah yah kalo baper atau disirikin sama anggota-anggota nya. Ya begitulah yang terjadi, ada Kamil, Fifi sama Dea. Kadang Kamil ditambah lagi baperannya sama Darma, hmm meski sebenernya itu lebih ke “Pawangnya Kamil itu ya Darma”. Hoho
Ada juga si kuku yang entah dari mana asalnya itu nama panggilan, kuku itu Cahya yang baperannya sama Dani. Soalnya mang Dani yang manggil dia kuku, semua anggota manggil dia cing ajah.
Yang paling kocak itu Rita sama Fatria, si Dede yang suka centilin Tata tapi gak berani centilin Rita balik. Soalnya, Tata udah serem duluan sama centilnya Fatria dan dia no respon ujung-ujungnya. Dede iya, aku padamu. Gitu lah kata mamita.
Terakhir, si couple Tata dan Ian. Beberapa hari terakhir di kkn sesi ke 2 di posko berantem mulu, tapi kalo jalan-jalan dan foto-foto bareng mulu dengan style yang kadang sama.
Kalo nisa, baperannya bener-bener parah dibuat becanda sama anak-anak. Dan yang memperparahnya sih nisa juga ikutan acting dan baper-baperan wae omongannya *deuh. Kita punya 4 desa di kecamatan karang tengah, alhasil karena gaada baperan didalem posko, posko lain lah yang dijadiin target. Haha. Ada Arif dari sindang galih yang ngajinya bagus banget, tenang gitu kalo denger dia ngaji, pernah diimamin sekali dan waktu shalat rasanya damai banget. Ada Irwan dari cinta yang suka salting kalo ketemu, padahal itu cuman acting doang yang artinya acting kamu berhasil uta haha, tapi dimana-mana bilangnya dia mh blacklist aja. Dan ada Muldan dari cintamanik yang suka dipanggil Aa kalo di posko, gak berani centil langsung dan paling seneng denger suara renyahnya dia kalo lagi ngomong, style nya dia yang suka masukin tangan ke celana dan pake sepatu warna abu, so cool. Haha padahal cuma liat sekali *sorrylebay
Diluar baperan posko, Rita kode-kode buat baper sama Aa Alief. Dan alhasil sempet becanda bareng pas mau perjalanan pulang ke Bandung. Udah sampe Bandung, dianterin pula lah dia ke kosan. Haha katanya dia liar dan buas, serem juga kan jadinya.
Beribu kata, berlembar kertas gaakan pernah cukup buat nulisin semua kenangan caringin family. Memori yang ditulis diatas cuman sekedar ingatan selintas tentang kita, tapi setiap detik yang dilalui bersama akan tersimpan dalam memori pribadi masing-masing, dalam hati, harap, cinta dan doa.
Siapa sangka saat memilih KKN bertemakan Posdaya, kabupaten Garut, kecamatan Karang Tengah dan desa Caringin membuat kita bertemu keluarga baru, membentuk rasa peduli dan simpati satu sama lain tanpa paksaan dan justru bahkan murni terasa sendiri. Kita memilih sendiri, kita mengklik desa itu sendiri, dan tanpa disadari kita memilih keluarga baru kita sendiri. Dan inilah jadinya kita, keluarga caringin ceria. Alhamdulillah.
Akhir kata, makasih banyak buat kalian yang udah jadi salah satu bagian dari perjalanan hidup nisa. Keluarga baru yang gaakan dilupain, sahabat baru yang ngasih banyak pelajaran dan kenangan, teman hidup 40 hari yang nerima semua sikap baik buruknya nisa.
Semoga Allah senantiasa melindungi dan membersamai langkah kalian semua. Aamiin.
Absen dulu yah.
Kang Emil/Pak Kamil (Kamil Mubarok) sebagai Ketua tim
Mpot (Fifi Nurshifa Budiarti) sebagai Sekretaris
Bude (Dea Santika Rahayu) sebagai Bendahara
Ambu (Nisa Wiyati Ilahi) sebagai Acara
Tecing (Cahya Metalia Pratiwi) sebagai Acara
Mamita (Rita Sugiarti) sebagai Dekdok
Tata (Nurachmadita Ayunia) sebagai Konsumsi
Mang Dani (Ramdhani Rahman) sebagai Logistik
A Udin (Supianudin) sebagai Humas (Internal)
Dede Iya (Fatria Cahya Ramadhan) sebagai Transportasi dan spesialis Cihanja
Mamake (Darmawati BR Tinambun) sebagai medis dan mamake kita semua ^^

Salam caringin,

Aku baper padamu.

Minggu, 31 Mei 2015

Da aku mah apa atuh?

Satu masa, kata" seperti ini pernah seringkali terucapkan maupun terdengar, tertuliskan maupun terbaca, terfikirkan maupun terbayangkan.
Ya, hakikatnya memang benar kita bukanlah siapa-siapa. Ketika (dalam fikiran saya saja) motivator berkata, karena kita bukan siapa-siapa kita perlu membentuk diri dan menjadikan diri kita ini menjadi siapa. Yang saya ingin ungkapkan adalah kita hanya hamba yang tak bisa berbuat apa" tanpa pertolongan, izin dan kuasa dari Allah.
Sesuatu yang harus terjadi, maka terjadilah. Meskipun kita tak menginginkannya dan kita berusaha keras untuk mencegahnya terjadi. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang harus tidak terjadi, maka tak akan pernah terjadi. Meskipun kita sangat menginginkannya dan berusaha keras untuk ketercapaian akan kejadian itu.
Aahh, membicarakan takdir dan ketetapan, qadha' dan qadar selalu membuatku takut. Takut dalam membedakan antara keduanya, takut dalam memahami maksud dari keduanya.
Aku belajar banyak, khususnya ketika melalui ujian di dunia dalam bentuk tes. Begitu terstruktur dan tekstual. Dan itulah yang perlu aku terapkan di kehidupan nyata, pada tes dan ujian yang tak ada struktur pasti dan jauh dari konteks tekstual.
Aku benar-benar tak akan mampu melakukan apapun kecuali Allah yang membuatku mampu. Itulah mengapa aku perlu untuk berdoa pada Allah, senantiasa berserah diri kepada-Nya. Itu membuatku belajar untuk tidak berbuat bohong. Dalam arti, aku harus bisa menyeimbangkan antara usaha dengan doa, karena doa tanpa usaha itu bohong. Lalu, ketika aku sudah berusaha dan ternyata aku bisa, apakah itu disebut ketetapan dari-Nya? Ahh aku masih takut mengatakan bahwa itu adalah ketetapan dari-Nya.
Dan ketika aku selalu mampu melakukan sesuatu, seketika semua akan lumpuh. Ingatanku takkan membantuku sedikitpun. Karena apa yang kupelajari, apa yang kuketahui, apa yang kufahami dan apa yang kukuasai bisa hilang begitu saja dalam hitungan detik. Itu membuatku belajar untuk tidak sombong. Dalam arti, aku harus bisa menyeimbangkan antara doa dengan usaha, karena usaha tanpa doa itu sombong. Lalu, ketika aku sudah berusaha dan ternyata aku tak bisa, apakah itu disebut takdir? Ahh aku masih takut mengatakan bahwa itu adalah takdir.
Aku mah apa atuh, tanpa Allah aku tak bisa melakukan apapun. Tapi, apa Allah akan memampukanku jika aku tak berusaha?
Menurutku, bukan berusaha untuk menjadi siapa, tapi berusaha untuk menyeimbangkan antara doa dan juga usaha untuk menjadi hamba.
Itu yang harus ku catat.
Aahh, betapa bahagianya hamba yang selalu mendekatkan diri pada-Mu. Menjadi hamba yang melakukan semuanya karena-Mu, untuk-Mu dan dengan-Mu.
Rabb, bisakah hamba menjadi bagian dari orang-orang seperti itu?
Da aku mah apa atuh?

Senin, 27 April 2015

Hamba lelah Ya Rabb

Rabb,  mungkin ini adalah puncak kelelahan dari seorang manusia yang terus menerus mengejar prestasi duniawi.
atau mungkin ini adalah saat dimana seorang hamba ingin segera kembali ke pangkuan Rabbnya dan menyerah dari semua tipu daya dunia.
atau juga mungkin ini adalah tanda dimana ia tergoda oleh bisikan halus tak berarti yang membuat iman seseorang semakin menurun sedang keputus asaannya meningkat dengan sempurna.
aku sungguh tak tahu akan ketiga hal itu, manakah yang paling tepat menggambarkan kondisiku saat ini. yang kutahu, aku selalu merasa bersedih tanpa tau apa penyebabnya meski hati dan fikiran meyakini bahwa ini adalah karena memikirkan dunia, dunia, dan dunia.
Haruskah mata ini merasakan bagaimana ia buta hingga dapat terasa pula ketenangan hati dan jiwa saat membaca deretan ayat suci Alquran yang menakjubkan?
Haruskah telinga ini merasakan bagaimana ia tuli hingga dapat terasa pula gema suara adzan dan iqamat yang memanggil hamba untuk segera bersujud menghadap Rabbnya?
Haruskah kaki ini merasakan bagaimana ia lumpuh hingga dapat terasa pula ringannya berjalan dalam langkah kebaikan yang bermanfaat di dunia dan akhirat?
Haruskah tangan ini merasakan bagaimana ia kaku hingga dapat terasa pula nikmatnya memberi sesuatu hal berarti pada orang lain meski itu hanya sedikit atau bahkan justru sangat sedikit?
Haruskah diri ini merasakan bagaimana ia berhenti bernafas dan jantung berhenti berdetak hingga dapat terasa pula semua nikmat Allah SWT yang selalu diberikan di setiap helaannya?
Rabb, apa hamba sedang lelah hidup di dunia? sungguh rasanya dunia ini sangat mengerikan.
apakah ini alasannya mengapa Kau memanggil orang-orang yang kau cintai di usia muda mereka?
apakah ini alasannya mengapa dunia dipersamakan dengan neraka ataupun penjara bagi orang muslin dan surga bagi orang kafir?
apakah ini alasannya aku selalu memikirkan bahwa umurku tak sepanjang yang kuharapkan dan tak sependek yang kufikirkan?
ampuni hamba ya Allah, semakin banyak saja kesalahan dalam diri ini. semakin menumpuk saja dosa yang diperbuat oleh diri ini. semakin turun saja keimanan dalam diri ini. Astaghfirullah, kuatkan hamba Ya Allah.
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Jumat, 24 April 2015

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #2

Entah ini hanya perasaanku, atau mungkin memang seorang sanguinis tercipta dengan ketenarannya, dengan keakrabannya dalam berteman, dengan keistimewaan didalam dirinya. Iri, itulah yang bisa dirasakan ketika melihat seseorang yang berhasil baik di bidang prestasi, sosial maupun hal lainnya diluar akademik. Seperti dirimu yang memiliki banyak relasi dan berbagai macam peluang prestasi, mungkin kelak kau akan jadi sekretaris desa atau istri yang menjabat di kedinasan *haha.
Dimata melankolis, sanguinis adalah orang yang spesial, orang yang diinginkan, orang yang dikagumi dan orang yang disayangi bahkan dibanggakan. Bagaimana tidak? Ia benar-benar senang memberikan penghargaan pada orang lain, menyalurkan energi positif, bahkan yang paling fatal adalah merasa telah menyakiti dirinya sendiri saat tak sengaja menyakiti orang lain. Mungkin tak banyak yang ingin dikatakan, bahkan mungkin kau bosan dengan semua untaian kata yang kurangkai ini. Namun aku tetap ingin menulis, karena aku ingin berterima kasih.
Karena sanguinis telah membuatku mengerti bahwa melankolis itu berarti, bahwa melankolis itu dibutuhkan bahkan oleh seorang sanguinis yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan sekalipun. Bahwa melankolis itu mampu memberikan warna kehidupan layaknya sanguinis dengan caranya sendiri yang mampu membuat orang lain tenang dan nyaman berada disisinya. Meminta bantuannya dalam hal opini, pendapat, dan berbagai solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Kemampuan intrapersonal, itu yang sering kau ungkapkan, tentangku si melankolis. Kemampuan dalam memahami kondisi seseorang, kemampuan dalam mengendalikan seseorang, kemampuan dalam membaca keinginan seseorang, dengan menggunakan kekuatan hati dan firasat dalam diri.
Sekali lagi terima kasih, untuk semua penghargaan yang kau tunjukkan padaku. Atas semua respon dari setiap kata yang kau baca.
Meski kita memiliki perbedaan keyakinan dalam beberapa hal, namun kau perlu tahu bahwa pencapaianmu dalam pendekatan selaku hamba membuatku ingin juga seperti itu. Terbangun di sepertiga malam dengan sendirinya tanpa alarm paksaan, selalu meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an dan meneteskan air mata karena unsur penghambaan.
Semoga Allah menyayangimu dan kelak akan mempertemukan kita kembali di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya dengan izin Allah menyayangimu.
Salam melankolis,

Nisa Wiyati Ilahi

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #1

Hai bep, entah sejak kapan kita menjadi wanita kesepian sampai-sampai sahabat sendiri pun kita sapa dengan panggilan beb ataupun bep. Tapi yang pasti, hanya kata itu yang bisa membuktikan kedekatan antara kita *haha. Sepertinya membuat tulisan untukmu akan sedikit santai saja, tidak terlalu kaku meski tetap menggunakan kata-kata baku.
Oke bep, kita mulai dengan beberapa kalimat yang ingin  kusampaikan namun tak bisa kuucapkan secara langsung didepanmu. Kamu, dengan kondisi seorang wanita  yang tidak sempat mengalami menjadi santri namun sangat penasaran bagaimana rasanya menjadi santri. Kamu, aku sempat iri padamu, kau tahu kenapa?
Aku merasa dan tentu saja sangat berharap Allah menyayangimu. Itu sebabnya kau selalu berhasil menemukan jalan hijrah yang sesuai untukmu menurut versi-Nya dan sesuai untukmu menurut keinginanmu sendiri. Itu sebabnya kau selalu berhasil menjaga lisanmu agar tak menyebarkan aib orang lain yang kau ketahui, agar tak membuat orang yang mendengar ucapanmu hatinya tersakiti. Itu sebabnya kau selalu berhasil mengontrol hatimu untuk tidak berharap macam-macam dan mengontrol pikiranmu untuk tidak melakukan kesalahan fatal. Itu sebabnya, perlahan tapi pasti aku melihat bahwa kita akan selalu berada dalam satu paham dan keyakinan.
Kau tahu, mungkin dunia santri memang terlihat menarik dan menuntut tapi aku yakin dengan kehidupan dan cara yang kau jalani saat ini pun dapat menunjukkan bahwa kau adalah santri. Seorang santri yang sudah lulus dari pondok pesantrennya memang disebut sebagai alumni, tapi label santri tetap ada dalam dirinya sampai kapanpun. Dan yang kulihat adalah, kau memiliki label santri meskipun kau bukan lulusan pondok pesantren.
Sahabat (sebenernya lebih geli nyapa ini daripada ‘bep’), karena aku merasa bahwa Allah begitu menyayangimu, tetaplah berada dalam jalan hijrah yang memperkuat keyakinan-Mu pada-Nya, tetaplah menjadi pribadi yang membuat orang lain yang melihatmu iri karena sikap dan tingkah laku islami yang kau tunjukkan, tetaplah menjadi dirimu yang menjaga diri dan senantiasa mempertajam kemampuan diri. Akhir kata, semoga kita kelak akan kembali dipertemukan di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya dengan izin Allah menyayangimu.
Salam (alumni) santri,

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 16 April 2015

Hikmah Temu Ilmiah

Tulisan ini dibuat spesial buat seseorang yang selalu tertawa bahagia sampe bergetar seluruh badannya. Hahaha
Gak kurang kece gimana coba orang yang satu ini pertama kali ikut olimpiade tapi langsung juara 1 di tingkat regional dan juara 3 di tingkat nasional. Keren kan vroh~
Sapa dulu aja ya, Assalamu’alaikum Asma Arisman Dewi, Mahasiswa Berprestasi dari IEKI ’13 yang udah jadi penyemangat tim B di setiap tahapan olimpiade.
SCIEmics tempat kita dipertemukan, ZIEE tempat kita dipersatukan, Tim SCIEmics B tempat kita dipaksa buat bisa kerja sama barengan. Right?
Juara, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil dipanggil sebagai seorang Juara? Bahagia? Atau justru Bersedih?
Olimpiade, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil melewati tahapan-tahapan olimpiade yang terhitung sulit dan menegangkan? Hatimu masih tetap tenang?
Pengumuman pemenang, apa yang terlintas difikiranmu saat mendengar namamu disebutkan oleh MC sebagai salah satu peserta yang lolos ke tahap selanjutnya dan berpeluang menjadi pemenang? Penuh harapan atau justru pasrah?
Asma, ada beberapa pesan yang ingin disampaikan. Ini bukan pesan pribadi, ini pesan dari semua kakak guru kita di SCIEmics yang dituangkan dengan bahasa nisa pribadi.
Kemenangan, jangan pernah anggap bahwa juara sama dengan kemenangan. Itu berbeda Asma, karena menurut nisa pribadi pun kemenangan dapat tetap kita maknai meski hasil sebenarnya yang kita dapatkan adalah kekalahan. Begitupun dengan juara, yang dapat tetap kita maknai sebagai ujian yang berat disertai dengan amanah yang besar nantinya. Dan nisa yakin, Asma sudah paham tentang hal itu. Ahh bahkan kondisi hati dan fikiran Asma lebih tenang dibandingkan dengan sikap yang nisa tunjukan, niat Asma mengikuti perlombaan lebih jernih dari yang nisa rasakan dalam prediksi nisa terhadap diri sendiri sekalipun.
Mari kita sedikit mengenang bagaimana kita bisa menjadi pemenang perlombaan.
Temilreg 2015, mungkin ini akan sedikit ‘nyelekit’ tapi ini hanya untuk dijadikan pelajaran saja. Tahap pertama, kita lolos dengan penuh air mata. Tahap kedua, kita lolos dengan penuh ketegangan. Dan tahap ketiga kita lolos dengan penuh kekecewaan. Mengapa? Karena kita tahu pasti ada pihak yang juga kecewa atas lolosnya tim kita. Tapi, kau ingat? Kuasa Allah yang mengizinkan kita menjawab soal mawaris terakhir berpoin 1000 yang mampu meloloskan kita ke babak final, padahal sebelumnya kita berada di posisi terakhir, poin 150 saja. Terakhir, tahap keempat kita sukses dengan juara pertama, membawa 2 piala, dengan penuh beban bahkan tak ada sedikitpun senyuman. Kita ini seolah pemenang yang tak disambut sekaligus peserta yang tak diharapkan. Begitu bukan?
Lihat, kita adalah juara, tapi justru kita tak merasa bangga dan bahagia. Itulah mengapa kita perlu mengerti arti dari kemenangan, agar kita juga mengerti bagaimana bersikap tenang dan bahagia sebagai pemenang.
Temilnas 2015, tak ada niat untuk menjadi pemenang. Bahkan yang terlintas dipikiran adalah apakah saat aku pergi olimpiade tugas telah usai ku kerjakan? Apakah selama aku menjalani kegiatan ada tugas tambahan yang diberikan oleh dosen dikelas? Bagaimana aku bisa mempersiapkan ujian sepulang dari sini? Ahh lemah sekali persiapan mental kita ini. Tapi hasilnya, dengan fokus yang terbagi, dengan harapan yang tak pasti, kita lolos dari tahap pertama. Berada di posisi 5 diantara berpuluh KSEI lainnya.
Tahap kedua, terjadi hal serupa. Berada di posisi terakhir, menjawab soal dengan poin terbesar, dan lolos ke babak final. Hingga akhirnya, tahap terakhir mengantarkan kita menjadi juara 3. Sungguh, persiapan presentasi itu adalah titik dimana kita tak sekompak biasanya. Mungkin karena terlalu fokus dengan ketiga kasus yang dipegang oleh masing-masing namun keukeuh disampaikan oleh ketiganya. Tak fokus, tak jelas, tak sempurna. Maaf, nisa pun merasa ada keegoisan diri dalam membahas kasus tentang ayat-ayat saat itu.
Tapi, kita perlu belajar dan menarik hikmah utama dari temu ilmiah.
Jadilah pemenang yang bahagia dan bangga dengan kemenangannya, bukan juara yang tidak dapat paham dan mengerti arti dari kemenangan yang sebenarnya. Dan saat kau merasa bersedih karena kekalahan yang didapat, bersedih dengan kekecewaan diluar batas, tengok apa niatmu dan bagaimana usahamu.
Sebesar apapun rasa takut dan khawatirmu, tetaplah berusaha untuk menyeimbangkannya dengan harapan. Agar dapat tercapai apa yang diharapkan dan terhindar dari apa yang ditakutkan. Harap dan takut, keduanya tetap adalah bukti bahwa kita senantiasa berdoa kepada Allah, mengusahakan untuk senantiasa berikhtiar secara maksimal dan akhirnya tawakkal atas semua ketetapan dari-Nya.
Hal lain yang ingin disampaikan mungkin lebih pribadi, karena kita bertiga melankolis nisa merasa bahwa ada satu rasa yang sama dalam diri kita, timbulnya prasangka bahwa saya menang karena sedang bersama mereka, begitu bukan?
Terlintas bahkan di fikiran nisa, bahwa Temilreg tahun lalu nisa menang karena ada Mumuh dan Teh Irni. Tahun ini pun sama, karena ada Ipeh dan kamu, Asma. Namun saat Nisa bertanya pada hati nisa sendiri, mengapa harus selalu Nisa yang dijadikan anggota tim yang dijadikan sebagai tim unggulan? Jawabannya karena kamu tak sadar akan keunggulanmu itu. Dijadikan anggota tim unggulan saja merendah lebih bawah, terlebih jika tidak maka semakin merendah dan tidak bersyukurnyalah kamu itu.
Asma, kerjasama tim sangat diperlukan dalam perlombaan khususnya olimpiade. Jadi, seseorang takkan menang tanpa bantuan yang lain, sekecil apapun itu bantuannya. Intinya, kita menang karena kita bersama, kita kalah pun karena kita bersama, bukan karena dia atau siapapun. Dan semua sudah ditata dengan rapi dan seindah mungkin oleh sang Pencipta, Allah SWT.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca tulisan sepanjang ini. Dan, hanya ingin mengucapkan “Tetaplah tebarkan semangat dan keikhlasan yang Asma miliki, jangan lupa ajarkan pada adik-adikmu nanti bahkan rekanmu sekalipun mengenai arti dari kemenangan, lanjutkan perjuangan meski Nisa ataupun Ipeh tak lagi mampu memberikan bimbingan, diluar itu mohon maafkan jika Nisa tak bisa menjadi kakak pendamping tim yang baik dan membina, jadilah kakak yang lebih baik dari Nisa, dari Ipeh dan dari siapapun yang lainnya dengan kelebihanmu, tenang sebagai pemenang”.
Titip ZIEE ya, Juara Mutlak !!
Salam Semangat,
Nisa Wiyati Ilahi –Rekan tim-

Minggu, 29 Maret 2015

Antara cinta dan ketulusan

Antara cinta dan ketulusan, atau cinta yang tulus? yang pasti disini akan kucoba ungkapkan pendapatku mengenai hal itu.
cinta adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, berupa rasa peduli, kasih sayang yang suci dan tak pantas jika dinodai dengan hal-hal negatif yang salah dan menimbulkan dosa. itu menurutku.
lalu, apa itu tulus? tulus adalah tanpa syarat. itu saja.
ada yang pernah memberi tahu bahwa tingkatan cinta yang paling tinggi adalah cinta yang tulus. tapi yang kutahu, itu adalah seperti cinta Allah kepada hamba-Nya yang shaleh.
namun ada hal yang kutemukan dalam pemikiranku tentang perkataan itu, bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang mana seseorang rela melepaskan orang yang begitu dicintainya bersama dengan orang lain.
kita bicara tentang jodoh? tidak, aku berbicara tentang cinta yang tulus.
mari kita lihat, siapa yang paling rela melepaskan diri kita untuk bersama orang lain? apakah kekasih kita, sahabat kita, teman kita atau bahkan mungkin mantan pacar (bagi yang sempat berpacaran)? kurasa bukan mereka. tapi orang tua kita.
bagimu para wanita, lihatlah ayahmu. beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang lelaki yang nantinya menjadi imammu, menjadi suamimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ayah berusaha untuk selalu menghidupi kebutuhanmu hingga mengalahkan egonya sendiri untuk bermain bercanda denganmu yang pada akhirnya hanya dapat dilakukannya di sela-sela waktu. betapa ayah berusaha untuk selalu menguatkanmu lewat doanya disetiap sujudnya atau disetiap shalatnya atau bahkan disetiap hembus nafasnya. betapa ayah berusaha untuk selalu merangkulmu meski terkadang itu disampaikan lewat ibumu.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang laki-laki yang akan membuat cinta anaknya menjadi terbagi, kini tak hanya ia yang dihormati tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang diperhatikan tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang dilayani tapi juga lelaki itu, dan kini tak hanya ia yang dicintai dan disayangi putrinya tapi juga lelaki itu. bahkan tanggung jawab untuk senantiasa membimbing putrinya akan berpindah pada lelaki itu, tanggung jawab dunia akhirat putrinya akan berpindah pada lelaki itu, selepas akad diucapkan dan pernikahan disahkan.
bagimu para lelaki, lihatlah ibumu, beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang wanita yang nantinya menjadi makmummu, menjadi istrimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ibu selalu memberikan yang terbaik untukmu dari mulai kau berada didalam kandungannya, kau dilahirkan dari rahimnya, menyusui selama kurang lebih 2 tahun padanya, dan melihat perkembanganmu hingga sampai saat ini. betapa ibu selalu merawatmu disetiap harinya, menitnya, bahkan detiknya. menyiapkanmu makan, merapikan pakaian, mempersiapkan segala keperluan, meski sebenarnya kau sudah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri bahkan keluarga kecilmu kelak.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang wanita yang seolah akan menggantikannya. menggantikan ibumu dalam menyiapkan makanmu, merapikan pakaianmu, merawatmu, mengurus segala keperluanmu. bahkan wanita itu kelak akan berperan seperti ibumu, ia akan merawat dan membesarkan anak-anakmu seperti yang selalu dilakukannya padamu sejak dimasa yang lalu.
hai ayah, hai ibu, terima kasih karena kalian selalu memberikan cinta pada kami anak-anakmu, cinta yang tulus, cinta tanpa syarat dan penuh dengan tanggung jawab. doakan kami agar kelak dapat memiliki cinta setulus apa yang dimiliki oleh ayah dan ibu. aamiin.

Jumat, 27 Maret 2015

Salam Perjuangan dan Kemenangan

Temu Ilmiah Regional atau yang sering disebut Temilreg adalah salah satu alasan mengapa saya berada di ukm SCIEmics. Saat itu, saya merupakan salah satu anggota dari tim SCIEmics 1 yang beranggotakan bunda Irni Inayah Rahman, putra Mumuh Muhammad dan saya sendiri, Nisa Wiyati Ilahi. Dengan kerja keras dan usaha kami, Allah mengizinkan kami untuk menjadi juara pertama di Temilreg 2014 yang diselenggarakan di kampus tercinta kami, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Berlanjut ke tingkatan yang lebih luas, kami bersama ke-2 tim lainnya mengikuti Temu Ilmiah Nasional atau yang sering disebut Temilnas. Mengikuti olimpiade tingkat nasional merupakan hal yang sangat memberikan banyak pengalaman, pelajaran dan juga hikmah yang dapat diambil saat sedang berada disana. Hasil yang tim kami dapatkan adalah peringkat 15 besar, sehingga kami belum berhasil mengikuti tahapan semifinal saat itu.
Tahun berganti tahun, tibalah saatnya saya mempersiapkan diri beserta anggota SCIEmics lainnya untuk mengikuti Temilreg 2015 dan Temilnas 2015. Begitu besarnya kuasa Allah yang telah mengizinkan saya memiliki rekan tim yang sangat kece di SCIEmics B, yaitu sang penyemangat Asma Arisman Dewi dan sang bintang Siti Latipah (Ipeh). Dengan mereka berdualah, saya bisa meraih juara pertama Temilreg 2015. Tanggung jawab saya untuk dapat mempertahankan apa yang telah diraih tahun lalu terbayar sudah disana.
Namun, meski begitu, jangan salah sangka. Banyak air mata disana, saat ada yang tak senang tim saya mampu menjawab pertanyaan. Saat ada yang tersenyum ketika poin cerdas cermat dari tim saya berkurang. Saat amanah untuk mempersiapkan anggota SCIEmics adalah tanggung jawab besar tim saya pribadi selaku pengurus di bagian pendidikan dan keilmuan (Science and Academic). Dan saat hasil yang didapatkan oleh kami menimbulkan pertentangan dan pertengkaran kecil nan samar tak terlihat di internal kami sendiri.
Tak berhenti disana, saya dan tim menempati posisi terakhir di babak semifinal saat sedang cerdas cermat. Hal itu memicu semangat kami untuk tidak mempermalukan nama SCIEmics dan akhirnya saya dan tim berhasil menjawab soal terakhir senilai 1000 yang meloloskan kami ke tahap final. Usailah perjalanan Temilreg, dan kami harus melanjutkan perjuangan kami di tingkat nasional, saatnya menghadapi Temilnas 2015.
Saat sedang penentuan delegasi, saya menghadiri kegiatan untuk melihat dan mengawasi bagaimana proses penentuan delegasi dilakukan. Namun, pada akhirnya, bunda meminta saya untuk juga mengikuti tes tersebut. Jujur, saat itu saya merasa bahwa saya tak perlu mengikuti Temilnas karena saya pernah mengikutinya tahun lalu dan saya ingin hak ini diberikan pada adik kelas saya nanti. Sayang, bunda bilang ia sudah mempercayai saya dan rekan-rekan lainnya untuk mengikuti Temilnas, jadi kita lihat saja hasilnya apakah saya termasuk kepada anggota delegasi atau tidak.
Penilaian dilakukan dengan transparan, masing-masing anggota dapat langsung mengetahui hasilnya. Dan ternyata benar, tak bisa dipungkiri lagi dengan izin dari orang tua saya, dukungan dari kakak guru saya dan juga dorongan dari rekan-rekan saya, saya menjadi delegasi Temilnas 2015 bersama kedua rekan saya yang semakin hebat, Ipeh dan Asma.
Babak penyisihan, kami lewati dengan penuh prasangka bahwa soal yang kami anggap mudah, maka akan dianggap sangat mudah oleh peserta lainnya. Hingga hari diumumkannya tim yang lolos semifinal pun membuktikan bahwa saya berada di posisi 5 besar bahkan tim A yang terdiri dari putra Mumuh Muhammad, si kalem Ani Sumiyati dan si cantik Hanifah Kania berada di posisi pertama, yang artinya kami masuk tahapan selanjutnya yaitu Lomba Cepat Tepat.
Beruntung, saat pengocokan batch, tim A berada di batch pertama dan tim B berada di batch kedua. Setidaknya kami tidak akan melawan rekan sendiri disana, meski tetap yang diloloskan adalah 2 tim dari masing-masing batch. Sayangnya, tim A bertahan sampai disana dan tidak bisa melanjutkan ke babak final.
Sedang saya dan tim, yang kembali mengulangi kejadian semasa Temilreg, berada di posisi terakhir dan berhasil menggunakan kesempatan terakhir untuk menjawab soal dengan poin 2000. Itulah yang membuat kami berhasil lolos ke babak final.
Di babak final kami diarahkan untuk melakukan studi kasus dari 3 kasus yang diberikan. Tim kami tampil pertama, dan timbullah firasat bahwa setelah pertolongan Allah selalu datan di kedua babak sebelumnya, ini adalah puncak dari kekacauan yang kami buat. Penampilan pertama, dengan persiapan materi yang seadanya, hanya bisa membuat kami membicarakan apa yang ada difikiran kami saat itu.
Namun, seperti yang selalu diajarkan oleh kakak guru Kumita Ary Fhuspha mengenai sajak juara dan sikap tawakal, kami tidak boleh menyerah dan antara rasa takut dan harap haruslah seimbang, agar Allah mengabulkan harapan dan menghilangkan rasa takut. Alhasil, kami menjadi tim yang berada di posisi 3 besar, menjadi juara 3 Temilnas 2015.
Ini adalah hadiah terbesar bagi tim kami, bagi SCIEmics dan bagi FoSSEI Jabar. Sejarah pertama dimana salah satu KSEI dari Jabar mampu lolos ke babak semifinal bahkan mendapatkan juara 3.
Namun, apalah arti juara jika tidak memberi manfaat kepada yang lainnya?
Juara 1 dan 3, membuat saya belajar bahwa setelah ini ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan materi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan strategi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan kerja sama tim. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari doa, usaha, ikhtiar dan tawakal. Dan ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari sebuah kemenangan.
Terima kasih, untuk semua kakak guru dan rekan-rekan semua yang telah mengajarkan saya materi Ekonomi Islam.
Terima kasih, untuk bunda Irni dan putra Mumuh yang telah mengajarkan saya cara untuk memiliki strategi saat berjuang sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk sang penyemangat Asma dan sang bintang Ipeh yang telah mengajarkan saya cara untuk ikhlas dan pasrah dalam doa, usaha, ikhtiar dan tawakal sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk kakak guru Kumita Ary yang telah mengajarkan saya arti dari sebuah kemenangan, kompetisi, prestasi dan kejuaraan.
Terima kasih, untuk sahabat terdekat, jombs, yang selalu mewarnai setiap langkah perjuangan.
Uhibbukum fillaah, insya Allah.

Alhamdulillah, untuk setiap kesempatan yang telah diberikan. Aahh Allah, semakin malu saja pada-Mu.

Salam perjuangan, keikhlasan, ketakutan, harap dan kemenangan.

Nisa Wiyati Ilahi.