Sabtu, 31 Oktober 2015
Lia Amalia
Alhamdulillah untuk kelahiranmu #4
Rabu, 02 September 2015
Memories of Caringin
Minggu, 31 Mei 2015
Da aku mah apa atuh?
Satu masa, kata" seperti ini pernah seringkali terucapkan maupun terdengar, tertuliskan maupun terbaca, terfikirkan maupun terbayangkan.
Ya, hakikatnya memang benar kita bukanlah siapa-siapa. Ketika (dalam fikiran saya saja) motivator berkata, karena kita bukan siapa-siapa kita perlu membentuk diri dan menjadikan diri kita ini menjadi siapa. Yang saya ingin ungkapkan adalah kita hanya hamba yang tak bisa berbuat apa" tanpa pertolongan, izin dan kuasa dari Allah.
Sesuatu yang harus terjadi, maka terjadilah. Meskipun kita tak menginginkannya dan kita berusaha keras untuk mencegahnya terjadi. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang harus tidak terjadi, maka tak akan pernah terjadi. Meskipun kita sangat menginginkannya dan berusaha keras untuk ketercapaian akan kejadian itu.
Aahh, membicarakan takdir dan ketetapan, qadha' dan qadar selalu membuatku takut. Takut dalam membedakan antara keduanya, takut dalam memahami maksud dari keduanya.
Aku belajar banyak, khususnya ketika melalui ujian di dunia dalam bentuk tes. Begitu terstruktur dan tekstual. Dan itulah yang perlu aku terapkan di kehidupan nyata, pada tes dan ujian yang tak ada struktur pasti dan jauh dari konteks tekstual.
Aku benar-benar tak akan mampu melakukan apapun kecuali Allah yang membuatku mampu. Itulah mengapa aku perlu untuk berdoa pada Allah, senantiasa berserah diri kepada-Nya. Itu membuatku belajar untuk tidak berbuat bohong. Dalam arti, aku harus bisa menyeimbangkan antara usaha dengan doa, karena doa tanpa usaha itu bohong. Lalu, ketika aku sudah berusaha dan ternyata aku bisa, apakah itu disebut ketetapan dari-Nya? Ahh aku masih takut mengatakan bahwa itu adalah ketetapan dari-Nya.
Dan ketika aku selalu mampu melakukan sesuatu, seketika semua akan lumpuh. Ingatanku takkan membantuku sedikitpun. Karena apa yang kupelajari, apa yang kuketahui, apa yang kufahami dan apa yang kukuasai bisa hilang begitu saja dalam hitungan detik. Itu membuatku belajar untuk tidak sombong. Dalam arti, aku harus bisa menyeimbangkan antara doa dengan usaha, karena usaha tanpa doa itu sombong. Lalu, ketika aku sudah berusaha dan ternyata aku tak bisa, apakah itu disebut takdir? Ahh aku masih takut mengatakan bahwa itu adalah takdir.
Aku mah apa atuh, tanpa Allah aku tak bisa melakukan apapun. Tapi, apa Allah akan memampukanku jika aku tak berusaha?
Menurutku, bukan berusaha untuk menjadi siapa, tapi berusaha untuk menyeimbangkan antara doa dan juga usaha untuk menjadi hamba.
Itu yang harus ku catat.
Aahh, betapa bahagianya hamba yang selalu mendekatkan diri pada-Mu. Menjadi hamba yang melakukan semuanya karena-Mu, untuk-Mu dan dengan-Mu.
Rabb, bisakah hamba menjadi bagian dari orang-orang seperti itu?
Da aku mah apa atuh?
Senin, 27 April 2015
Hamba lelah Ya Rabb
atau mungkin ini adalah saat dimana seorang hamba ingin segera kembali ke pangkuan Rabbnya dan menyerah dari semua tipu daya dunia.
atau juga mungkin ini adalah tanda dimana ia tergoda oleh bisikan halus tak berarti yang membuat iman seseorang semakin menurun sedang keputus asaannya meningkat dengan sempurna.
aku sungguh tak tahu akan ketiga hal itu, manakah yang paling tepat menggambarkan kondisiku saat ini. yang kutahu, aku selalu merasa bersedih tanpa tau apa penyebabnya meski hati dan fikiran meyakini bahwa ini adalah karena memikirkan dunia, dunia, dan dunia.
Haruskah mata ini merasakan bagaimana ia buta hingga dapat terasa pula ketenangan hati dan jiwa saat membaca deretan ayat suci Alquran yang menakjubkan?
Haruskah telinga ini merasakan bagaimana ia tuli hingga dapat terasa pula gema suara adzan dan iqamat yang memanggil hamba untuk segera bersujud menghadap Rabbnya?
Haruskah kaki ini merasakan bagaimana ia lumpuh hingga dapat terasa pula ringannya berjalan dalam langkah kebaikan yang bermanfaat di dunia dan akhirat?
Haruskah tangan ini merasakan bagaimana ia kaku hingga dapat terasa pula nikmatnya memberi sesuatu hal berarti pada orang lain meski itu hanya sedikit atau bahkan justru sangat sedikit?
Haruskah diri ini merasakan bagaimana ia berhenti bernafas dan jantung berhenti berdetak hingga dapat terasa pula semua nikmat Allah SWT yang selalu diberikan di setiap helaannya?
Rabb, apa hamba sedang lelah hidup di dunia? sungguh rasanya dunia ini sangat mengerikan.
apakah ini alasannya mengapa Kau memanggil orang-orang yang kau cintai di usia muda mereka?
apakah ini alasannya mengapa dunia dipersamakan dengan neraka ataupun penjara bagi orang muslin dan surga bagi orang kafir?
apakah ini alasannya aku selalu memikirkan bahwa umurku tak sepanjang yang kuharapkan dan tak sependek yang kufikirkan?
ampuni hamba ya Allah, semakin banyak saja kesalahan dalam diri ini. semakin menumpuk saja dosa yang diperbuat oleh diri ini. semakin turun saja keimanan dalam diri ini. Astaghfirullah, kuatkan hamba Ya Allah.
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
Jumat, 24 April 2015
Alhamdulillah untuk kelahiranmu #2
Alhamdulillah untuk kelahiranmu #1
Kamis, 16 April 2015
Hikmah Temu Ilmiah
Tulisan ini dibuat spesial buat seseorang yang selalu tertawa bahagia sampe bergetar seluruh badannya. Hahaha
Gak kurang kece gimana coba orang yang satu ini pertama kali ikut olimpiade tapi langsung juara 1 di tingkat regional dan juara 3 di tingkat nasional. Keren kan vroh~
Sapa dulu aja ya, Assalamu’alaikum Asma Arisman Dewi, Mahasiswa Berprestasi dari IEKI ’13 yang udah jadi penyemangat tim B di setiap tahapan olimpiade.
SCIEmics tempat kita dipertemukan, ZIEE tempat kita dipersatukan, Tim SCIEmics B tempat kita dipaksa buat bisa kerja sama barengan. Right?
Juara, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil dipanggil sebagai seorang Juara? Bahagia? Atau justru Bersedih?
Olimpiade, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil melewati tahapan-tahapan olimpiade yang terhitung sulit dan menegangkan? Hatimu masih tetap tenang?
Pengumuman pemenang, apa yang terlintas difikiranmu saat mendengar namamu disebutkan oleh MC sebagai salah satu peserta yang lolos ke tahap selanjutnya dan berpeluang menjadi pemenang? Penuh harapan atau justru pasrah?
Asma, ada beberapa pesan yang ingin disampaikan. Ini bukan pesan pribadi, ini pesan dari semua kakak guru kita di SCIEmics yang dituangkan dengan bahasa nisa pribadi.
Kemenangan, jangan pernah anggap bahwa juara sama dengan kemenangan. Itu berbeda Asma, karena menurut nisa pribadi pun kemenangan dapat tetap kita maknai meski hasil sebenarnya yang kita dapatkan adalah kekalahan. Begitupun dengan juara, yang dapat tetap kita maknai sebagai ujian yang berat disertai dengan amanah yang besar nantinya. Dan nisa yakin, Asma sudah paham tentang hal itu. Ahh bahkan kondisi hati dan fikiran Asma lebih tenang dibandingkan dengan sikap yang nisa tunjukan, niat Asma mengikuti perlombaan lebih jernih dari yang nisa rasakan dalam prediksi nisa terhadap diri sendiri sekalipun.
Mari kita sedikit mengenang bagaimana kita bisa menjadi pemenang perlombaan.
Temilreg 2015, mungkin ini akan sedikit ‘nyelekit’ tapi ini hanya untuk dijadikan pelajaran saja. Tahap pertama, kita lolos dengan penuh air mata. Tahap kedua, kita lolos dengan penuh ketegangan. Dan tahap ketiga kita lolos dengan penuh kekecewaan. Mengapa? Karena kita tahu pasti ada pihak yang juga kecewa atas lolosnya tim kita. Tapi, kau ingat? Kuasa Allah yang mengizinkan kita menjawab soal mawaris terakhir berpoin 1000 yang mampu meloloskan kita ke babak final, padahal sebelumnya kita berada di posisi terakhir, poin 150 saja. Terakhir, tahap keempat kita sukses dengan juara pertama, membawa 2 piala, dengan penuh beban bahkan tak ada sedikitpun senyuman. Kita ini seolah pemenang yang tak disambut sekaligus peserta yang tak diharapkan. Begitu bukan?
Lihat, kita adalah juara, tapi justru kita tak merasa bangga dan bahagia. Itulah mengapa kita perlu mengerti arti dari kemenangan, agar kita juga mengerti bagaimana bersikap tenang dan bahagia sebagai pemenang.
Temilnas 2015, tak ada niat untuk menjadi pemenang. Bahkan yang terlintas dipikiran adalah apakah saat aku pergi olimpiade tugas telah usai ku kerjakan? Apakah selama aku menjalani kegiatan ada tugas tambahan yang diberikan oleh dosen dikelas? Bagaimana aku bisa mempersiapkan ujian sepulang dari sini? Ahh lemah sekali persiapan mental kita ini. Tapi hasilnya, dengan fokus yang terbagi, dengan harapan yang tak pasti, kita lolos dari tahap pertama. Berada di posisi 5 diantara berpuluh KSEI lainnya.
Tahap kedua, terjadi hal serupa. Berada di posisi terakhir, menjawab soal dengan poin terbesar, dan lolos ke babak final. Hingga akhirnya, tahap terakhir mengantarkan kita menjadi juara 3. Sungguh, persiapan presentasi itu adalah titik dimana kita tak sekompak biasanya. Mungkin karena terlalu fokus dengan ketiga kasus yang dipegang oleh masing-masing namun keukeuh disampaikan oleh ketiganya. Tak fokus, tak jelas, tak sempurna. Maaf, nisa pun merasa ada keegoisan diri dalam membahas kasus tentang ayat-ayat saat itu.
Tapi, kita perlu belajar dan menarik hikmah utama dari temu ilmiah.
Jadilah pemenang yang bahagia dan bangga dengan kemenangannya, bukan juara yang tidak dapat paham dan mengerti arti dari kemenangan yang sebenarnya. Dan saat kau merasa bersedih karena kekalahan yang didapat, bersedih dengan kekecewaan diluar batas, tengok apa niatmu dan bagaimana usahamu.
Sebesar apapun rasa takut dan khawatirmu, tetaplah berusaha untuk menyeimbangkannya dengan harapan. Agar dapat tercapai apa yang diharapkan dan terhindar dari apa yang ditakutkan. Harap dan takut, keduanya tetap adalah bukti bahwa kita senantiasa berdoa kepada Allah, mengusahakan untuk senantiasa berikhtiar secara maksimal dan akhirnya tawakkal atas semua ketetapan dari-Nya.
Hal lain yang ingin disampaikan mungkin lebih pribadi, karena kita bertiga melankolis nisa merasa bahwa ada satu rasa yang sama dalam diri kita, timbulnya prasangka bahwa saya menang karena sedang bersama mereka, begitu bukan?
Terlintas bahkan di fikiran nisa, bahwa Temilreg tahun lalu nisa menang karena ada Mumuh dan Teh Irni. Tahun ini pun sama, karena ada Ipeh dan kamu, Asma. Namun saat Nisa bertanya pada hati nisa sendiri, mengapa harus selalu Nisa yang dijadikan anggota tim yang dijadikan sebagai tim unggulan? Jawabannya karena kamu tak sadar akan keunggulanmu itu. Dijadikan anggota tim unggulan saja merendah lebih bawah, terlebih jika tidak maka semakin merendah dan tidak bersyukurnyalah kamu itu.
Asma, kerjasama tim sangat diperlukan dalam perlombaan khususnya olimpiade. Jadi, seseorang takkan menang tanpa bantuan yang lain, sekecil apapun itu bantuannya. Intinya, kita menang karena kita bersama, kita kalah pun karena kita bersama, bukan karena dia atau siapapun. Dan semua sudah ditata dengan rapi dan seindah mungkin oleh sang Pencipta, Allah SWT.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca tulisan sepanjang ini. Dan, hanya ingin mengucapkan “Tetaplah tebarkan semangat dan keikhlasan yang Asma miliki, jangan lupa ajarkan pada adik-adikmu nanti bahkan rekanmu sekalipun mengenai arti dari kemenangan, lanjutkan perjuangan meski Nisa ataupun Ipeh tak lagi mampu memberikan bimbingan, diluar itu mohon maafkan jika Nisa tak bisa menjadi kakak pendamping tim yang baik dan membina, jadilah kakak yang lebih baik dari Nisa, dari Ipeh dan dari siapapun yang lainnya dengan kelebihanmu, tenang sebagai pemenang”.
Titip ZIEE ya, Juara Mutlak !!
Salam Semangat,
Nisa Wiyati Ilahi –Rekan tim-
Minggu, 29 Maret 2015
Antara cinta dan ketulusan
cinta adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, berupa rasa peduli, kasih sayang yang suci dan tak pantas jika dinodai dengan hal-hal negatif yang salah dan menimbulkan dosa. itu menurutku.
lalu, apa itu tulus? tulus adalah tanpa syarat. itu saja.
ada yang pernah memberi tahu bahwa tingkatan cinta yang paling tinggi adalah cinta yang tulus. tapi yang kutahu, itu adalah seperti cinta Allah kepada hamba-Nya yang shaleh.
namun ada hal yang kutemukan dalam pemikiranku tentang perkataan itu, bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang mana seseorang rela melepaskan orang yang begitu dicintainya bersama dengan orang lain.
kita bicara tentang jodoh? tidak, aku berbicara tentang cinta yang tulus.
mari kita lihat, siapa yang paling rela melepaskan diri kita untuk bersama orang lain? apakah kekasih kita, sahabat kita, teman kita atau bahkan mungkin mantan pacar (bagi yang sempat berpacaran)? kurasa bukan mereka. tapi orang tua kita.
bagimu para wanita, lihatlah ayahmu. beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang lelaki yang nantinya menjadi imammu, menjadi suamimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ayah berusaha untuk selalu menghidupi kebutuhanmu hingga mengalahkan egonya sendiri untuk bermain bercanda denganmu yang pada akhirnya hanya dapat dilakukannya di sela-sela waktu. betapa ayah berusaha untuk selalu menguatkanmu lewat doanya disetiap sujudnya atau disetiap shalatnya atau bahkan disetiap hembus nafasnya. betapa ayah berusaha untuk selalu merangkulmu meski terkadang itu disampaikan lewat ibumu.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang laki-laki yang akan membuat cinta anaknya menjadi terbagi, kini tak hanya ia yang dihormati tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang diperhatikan tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang dilayani tapi juga lelaki itu, dan kini tak hanya ia yang dicintai dan disayangi putrinya tapi juga lelaki itu. bahkan tanggung jawab untuk senantiasa membimbing putrinya akan berpindah pada lelaki itu, tanggung jawab dunia akhirat putrinya akan berpindah pada lelaki itu, selepas akad diucapkan dan pernikahan disahkan.
bagimu para lelaki, lihatlah ibumu, beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang wanita yang nantinya menjadi makmummu, menjadi istrimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ibu selalu memberikan yang terbaik untukmu dari mulai kau berada didalam kandungannya, kau dilahirkan dari rahimnya, menyusui selama kurang lebih 2 tahun padanya, dan melihat perkembanganmu hingga sampai saat ini. betapa ibu selalu merawatmu disetiap harinya, menitnya, bahkan detiknya. menyiapkanmu makan, merapikan pakaian, mempersiapkan segala keperluan, meski sebenarnya kau sudah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri bahkan keluarga kecilmu kelak.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang wanita yang seolah akan menggantikannya. menggantikan ibumu dalam menyiapkan makanmu, merapikan pakaianmu, merawatmu, mengurus segala keperluanmu. bahkan wanita itu kelak akan berperan seperti ibumu, ia akan merawat dan membesarkan anak-anakmu seperti yang selalu dilakukannya padamu sejak dimasa yang lalu.
hai ayah, hai ibu, terima kasih karena kalian selalu memberikan cinta pada kami anak-anakmu, cinta yang tulus, cinta tanpa syarat dan penuh dengan tanggung jawab. doakan kami agar kelak dapat memiliki cinta setulus apa yang dimiliki oleh ayah dan ibu. aamiin.