Kamis, 16 April 2015

Hikmah Temu Ilmiah

Tulisan ini dibuat spesial buat seseorang yang selalu tertawa bahagia sampe bergetar seluruh badannya. Hahaha
Gak kurang kece gimana coba orang yang satu ini pertama kali ikut olimpiade tapi langsung juara 1 di tingkat regional dan juara 3 di tingkat nasional. Keren kan vroh~
Sapa dulu aja ya, Assalamu’alaikum Asma Arisman Dewi, Mahasiswa Berprestasi dari IEKI ’13 yang udah jadi penyemangat tim B di setiap tahapan olimpiade.
SCIEmics tempat kita dipertemukan, ZIEE tempat kita dipersatukan, Tim SCIEmics B tempat kita dipaksa buat bisa kerja sama barengan. Right?
Juara, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil dipanggil sebagai seorang Juara? Bahagia? Atau justru Bersedih?
Olimpiade, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil melewati tahapan-tahapan olimpiade yang terhitung sulit dan menegangkan? Hatimu masih tetap tenang?
Pengumuman pemenang, apa yang terlintas difikiranmu saat mendengar namamu disebutkan oleh MC sebagai salah satu peserta yang lolos ke tahap selanjutnya dan berpeluang menjadi pemenang? Penuh harapan atau justru pasrah?
Asma, ada beberapa pesan yang ingin disampaikan. Ini bukan pesan pribadi, ini pesan dari semua kakak guru kita di SCIEmics yang dituangkan dengan bahasa nisa pribadi.
Kemenangan, jangan pernah anggap bahwa juara sama dengan kemenangan. Itu berbeda Asma, karena menurut nisa pribadi pun kemenangan dapat tetap kita maknai meski hasil sebenarnya yang kita dapatkan adalah kekalahan. Begitupun dengan juara, yang dapat tetap kita maknai sebagai ujian yang berat disertai dengan amanah yang besar nantinya. Dan nisa yakin, Asma sudah paham tentang hal itu. Ahh bahkan kondisi hati dan fikiran Asma lebih tenang dibandingkan dengan sikap yang nisa tunjukan, niat Asma mengikuti perlombaan lebih jernih dari yang nisa rasakan dalam prediksi nisa terhadap diri sendiri sekalipun.
Mari kita sedikit mengenang bagaimana kita bisa menjadi pemenang perlombaan.
Temilreg 2015, mungkin ini akan sedikit ‘nyelekit’ tapi ini hanya untuk dijadikan pelajaran saja. Tahap pertama, kita lolos dengan penuh air mata. Tahap kedua, kita lolos dengan penuh ketegangan. Dan tahap ketiga kita lolos dengan penuh kekecewaan. Mengapa? Karena kita tahu pasti ada pihak yang juga kecewa atas lolosnya tim kita. Tapi, kau ingat? Kuasa Allah yang mengizinkan kita menjawab soal mawaris terakhir berpoin 1000 yang mampu meloloskan kita ke babak final, padahal sebelumnya kita berada di posisi terakhir, poin 150 saja. Terakhir, tahap keempat kita sukses dengan juara pertama, membawa 2 piala, dengan penuh beban bahkan tak ada sedikitpun senyuman. Kita ini seolah pemenang yang tak disambut sekaligus peserta yang tak diharapkan. Begitu bukan?
Lihat, kita adalah juara, tapi justru kita tak merasa bangga dan bahagia. Itulah mengapa kita perlu mengerti arti dari kemenangan, agar kita juga mengerti bagaimana bersikap tenang dan bahagia sebagai pemenang.
Temilnas 2015, tak ada niat untuk menjadi pemenang. Bahkan yang terlintas dipikiran adalah apakah saat aku pergi olimpiade tugas telah usai ku kerjakan? Apakah selama aku menjalani kegiatan ada tugas tambahan yang diberikan oleh dosen dikelas? Bagaimana aku bisa mempersiapkan ujian sepulang dari sini? Ahh lemah sekali persiapan mental kita ini. Tapi hasilnya, dengan fokus yang terbagi, dengan harapan yang tak pasti, kita lolos dari tahap pertama. Berada di posisi 5 diantara berpuluh KSEI lainnya.
Tahap kedua, terjadi hal serupa. Berada di posisi terakhir, menjawab soal dengan poin terbesar, dan lolos ke babak final. Hingga akhirnya, tahap terakhir mengantarkan kita menjadi juara 3. Sungguh, persiapan presentasi itu adalah titik dimana kita tak sekompak biasanya. Mungkin karena terlalu fokus dengan ketiga kasus yang dipegang oleh masing-masing namun keukeuh disampaikan oleh ketiganya. Tak fokus, tak jelas, tak sempurna. Maaf, nisa pun merasa ada keegoisan diri dalam membahas kasus tentang ayat-ayat saat itu.
Tapi, kita perlu belajar dan menarik hikmah utama dari temu ilmiah.
Jadilah pemenang yang bahagia dan bangga dengan kemenangannya, bukan juara yang tidak dapat paham dan mengerti arti dari kemenangan yang sebenarnya. Dan saat kau merasa bersedih karena kekalahan yang didapat, bersedih dengan kekecewaan diluar batas, tengok apa niatmu dan bagaimana usahamu.
Sebesar apapun rasa takut dan khawatirmu, tetaplah berusaha untuk menyeimbangkannya dengan harapan. Agar dapat tercapai apa yang diharapkan dan terhindar dari apa yang ditakutkan. Harap dan takut, keduanya tetap adalah bukti bahwa kita senantiasa berdoa kepada Allah, mengusahakan untuk senantiasa berikhtiar secara maksimal dan akhirnya tawakkal atas semua ketetapan dari-Nya.
Hal lain yang ingin disampaikan mungkin lebih pribadi, karena kita bertiga melankolis nisa merasa bahwa ada satu rasa yang sama dalam diri kita, timbulnya prasangka bahwa saya menang karena sedang bersama mereka, begitu bukan?
Terlintas bahkan di fikiran nisa, bahwa Temilreg tahun lalu nisa menang karena ada Mumuh dan Teh Irni. Tahun ini pun sama, karena ada Ipeh dan kamu, Asma. Namun saat Nisa bertanya pada hati nisa sendiri, mengapa harus selalu Nisa yang dijadikan anggota tim yang dijadikan sebagai tim unggulan? Jawabannya karena kamu tak sadar akan keunggulanmu itu. Dijadikan anggota tim unggulan saja merendah lebih bawah, terlebih jika tidak maka semakin merendah dan tidak bersyukurnyalah kamu itu.
Asma, kerjasama tim sangat diperlukan dalam perlombaan khususnya olimpiade. Jadi, seseorang takkan menang tanpa bantuan yang lain, sekecil apapun itu bantuannya. Intinya, kita menang karena kita bersama, kita kalah pun karena kita bersama, bukan karena dia atau siapapun. Dan semua sudah ditata dengan rapi dan seindah mungkin oleh sang Pencipta, Allah SWT.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca tulisan sepanjang ini. Dan, hanya ingin mengucapkan “Tetaplah tebarkan semangat dan keikhlasan yang Asma miliki, jangan lupa ajarkan pada adik-adikmu nanti bahkan rekanmu sekalipun mengenai arti dari kemenangan, lanjutkan perjuangan meski Nisa ataupun Ipeh tak lagi mampu memberikan bimbingan, diluar itu mohon maafkan jika Nisa tak bisa menjadi kakak pendamping tim yang baik dan membina, jadilah kakak yang lebih baik dari Nisa, dari Ipeh dan dari siapapun yang lainnya dengan kelebihanmu, tenang sebagai pemenang”.
Titip ZIEE ya, Juara Mutlak !!
Salam Semangat,
Nisa Wiyati Ilahi –Rekan tim-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar