Jumat, 21 November 2014

Sayang umy ({})

bunda, aku tau aku sudah dewasa. meski memang aku belum bisa bertanggung jawab dengan baik pada apa yang harus menjadi tanggung jawabku saat ini. meski memang banyak hal yang masih ku gantungkan padamu, ayah atau siapapun. meski memang aku lebih sering merindukan dekapan pelukanmu, sentuhan kasih sayangmu, yang takkan pernah kudapatkan dari siapapun selain darimu bunda.
bunda, aku tahu aku sudah dewasa. harusnya aku belajar banyak darimu untuk mempersiapkan diri menjadi ibu sepertimu kelak untuk anak-anakku. tapi bunda, aku merindukan pelukan hangatmu, sapaan senyummu di setiap paginya. usapan lembut tanganmu di setiap malamnya. alunan nada yang merdu saat kau menidurkanku ketika matahari sudah terbenam sejak sore tadi.
bunda, aku memang sudah dewasa. dan karena aku sudah dewasa, rasa rindu dan keinginan itu semakin kuat. ingin rasanya menangis dipangkuanmu, menceritakan setiap langkah perjalanan hidup yang kujalani. semuanya bunda, tanpa terkecuali.
bunda, aku sudah dewasa. tapi aku akan selalu membutuhkanmu. selalu bunda, selamanya. :')
edisi sayang bunda ^^

Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 19 November 2014

Salam melankolis bahagia

lihatlah betapa egois dan tidak bersyukurnya seorang melankolis.
saat benar dan merasa bahagia ia hanya tersenyum. Tak seperti sanguinis yang memancarkan keceriaan dengan sangat jelas di setiap tingkahnya.
Tak seperti plegmatis yang terlampau ceria seolah tertawa sepuas-puasnya.
Tak seperti koleris yang bangga pada dirinya dan pada apa yang telah diraih olehnya.
Lalu, saat salah ia bersedih dan merasa sangat terpuruk.
Tak seperti sanguinis yang bisa tetap tersenyum.
Tak seperti plegmatis yang tetap ceria dan melupakannya begitu saja.
Tak seperti koleris yang tetap bangga karena dirinya dapat belajar dari suatu kesalahan.
Ini bukan tentang kenapa aku harus menjadi orang dengan kepribadian melankolis, tapi ini tentang bagaimana seorang melankolis belajar untuk bersikap tenang, bahagia, dan bangga pada dirinya sendiri, pada apa yang telah diraihnya, pada apa yang telah dipelajari olehnya.

salam melankolis bahagia. :)

Jumat, 14 November 2014

Jarak

Ada sesuatu hal yang dapat dijadikan alasan terkuat mengapa seseorang melakukan sesuatu yang pada dasarnya tak mau dilakukannya, dan tak bermaksud melakukannya, bahkan terpaksa melakukannya.
Hal itu bisa saja sebagai sesuatu yang sudah sangat jelas tingkat kesalahannya, sesuatu yang mengandung resiko yang sangat besar,  hingga sesuatu yang sangat mengecewakan dirinya dan orang-orang terdekatnya.
Semuanya adalah tentang jarak, jarak yang diinginkan dan jarak nyata yang terkadang tak sesuai keinginan.

Jarak ini tentang lingkungan, bukan tentang hubungan. Meski hubungan terjalin dan dibangun dengan sangat baik dan mendekati sempurna, jarak itu kan terasa seperti ujian atau pilihan yang terpaksa di prioritaskan.
Lagipula, dengan jarak pun menunjukkan tanggung jawab seseorang yang tak hanya berada dalam satu lingkungan.
Pengertian memang dibutuhkan, namun kesadaran pun perlu ditanamkan.

Belajar untuk hidup, dan hidup untuk belajar. Selamat berdamai dengan diri dan menerima kenyataan tentang jarak. :)

Nisa Wiyati Ilahi

Senin, 10 November 2014

Baligh :)

Baligh, kata yang diberikan pada seseorang yang sudah dewasa dalam pandangan agama. Sudah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk. Sudah mampu memiliki tuntutan, untuk menjalankan perintah, untuk menjauhi larangan, dan untuk menentukan pilihan.
Apa aku sudah baligh?
Ya, dengan kondisiku sekarang. Perempuan remaja berumur 19 tahun yang sudah melalui masa 'merah' sebagai tanda utama seorang perempuan yang baligh.
Lalu, apa yang kulakukan dengan status baligh itu?
Haruskah setiap keputusan yang ingin ku ambil ditentukan oleh kedua orang tuaku? Haruskah mereka yang berusaha keras, berjuang dalam doa yang tulus dan shalat yang panjang untuk anak perempuannya yang sudah baligh? Sedangkan aku hanya berdoa singkat sambil berleha-leha dalam menuntut ilmu dan mencapai cita-cita sederhana hingga cita-cita terbesarku. Layakkah?
Haruskah setiap hal yang kubutuhkan dipersiapkan oleh kedua orang tuaku? Haruskah mereka yang mengingatkan setiap detiknya tentang apa tugasku, apa yang harus kulakukan, apa yang harus ku kenakan, dan apa yang harus kubawa saat perjalanan. Sedangkan aku hanya tersenyum nyengir dan melihat mereka sibuk mempersiapkan semua kebutuhanku. Layakkah?

Harusnya, orang tua bisa bersikap tenang penuh haru saat melihat anaknya berjuang dalam mencapai cita-citanya. Bentuk doa pun kan berbeda nantinya. Antara harapan akan kesadaran anaknya untuk berusaha dengan harapan akan imbalan atas kerja keras anaknya dalam mencapai cita-cita. Bentuknya memang doa, tapi kalimat kebanggaannya berbeda.
Harusnya, orang tua bisa bersikap tenang penuh kepercayaan saat melihat anaknya tumbuh dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri, atau bahkan orang lain. Titahnya tak perlu terucap, karena anaknya sudah sadar sepenuhnya tentang apa yang dibutuhkannya dan apa yang orang lain butuhkan darinya.

Karena kita sudah baligh, harusnya kita bersikap seperti muslimah yang sudah baligh pula.
Maafkan kami ayah, ibu .. doakan anakmu.. :')

Nisa Wiyati Ilahi