Rabu, 17 Desember 2014

Pertengkaran kecil

Sedih bila kuingat pertengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu
Hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini
Tak ingin begini
Sobat rangkaian masa yang telah terlewat
Membuat batin ini menangis
Mungkin karena egoku
Mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini
Maaf aku begini
Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Takkan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin
Cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu

Kau tahu lagu ini, sahabat?
Ini lagu permintaan maaf untuk seorang sahabat, lagu dari Edcoustic. Kau bisa mendengarnya sendiri jika kau mau.

Aku hanya ingin meminta maaf, untuk setiap kata yang melukai perasaanmu. Mungkin aku tak sengaja, tapi bagimu itu bukan hanya sekedar canda tawa. Untuk setiap sikap yang membuatmu merasa berbeda. Mungkin aku merasa itu ajakan, tapi bagimu itu merupakan sindiran. Dan tugas seorang sahabat itu adalah mengingatkan dan mengajak dalam hal kebaikan dengan cara yang menyenangkan, tanpa ada unsur menyakitkan ataupun pemaksaan. Dan shock teraphy bukan hal yang disukai oleh setiap orang, begitupun denganmu, aku atau dia. Terlebih jika hal itu mengakibatkan timbulnya amarah tak tertahankan.

Kau tahu? Hariku berwarna dengan keceriaanmu, ini bukan guyonan ini memang kenyataan. Tapi apa yang kulakukan sebaliknya untukmu? Hanya membuat harimu mengesalkan, kelabu.

Dan maaf, karena aku belum faham betul bagaimana pribadimu. Dan aku tak tahu apakah aku masih punya kesempatan dan waktu yang lebih lama untuk memahamimu. Dengan kejadian itu, mungkin saja ya dengan catatan adanya kekakuan antara kita, tapi itu kebih baik dibandingkan dengan tidak sama sekali. Terlebih jika ada anggapan mungkin tak layak jika kau menganggapku sahabatmu. Bagaimana mungkin ada sahabat yang tega menyakiti hati sahabatnya sendiri? Apakah ada sahabat yang bersikap dan berkata bahwa sahabatnya itu tidak lebih baik darinya dan seolah merendahkannya?
Ahh aku sungguh tak layak kau sapa sebagai seorang sahabat.

Kita bukan anak kecil yang bertengkar karena aku mengambil permen dan mainan milikmu atau sebaliknya. Kita sudah dewasa dan ini masalah kepercayaan dan kekecewaan. Seolah ku cabut kepercayaanmu padaku bahwa aku mampu untuk mengerti tentangmu dan kuganti dengan kekecewaan dan rasa sakit yang mendalam.

Kau begitu marah, sakit rasanya melihatmu penuh dengan emosi dan kekecewaan. Dan aku tak bisa membayangkan lebih jika kelak aku kehilangan keceriaanmu, canda tawamu, kau berjarak dariku dan kau benar" tak lagi menyapaku sahabatmu.
Maaf, sekali lagi aku meminta maaf.
Akhir kata, kan kuucap. Apa kau masih mau menjadi sahabatku?
Meaki mungkin kau akan menjawab "Jika kau saja berfikir seperti itu, apalagi aku?"

Salam permohonan maaf,
Nisa Wiyati Ilahi

Jumat, 12 Desember 2014

Ujian hari ini

Tak terbayangkan bukan bagaimana manisnya iman? Dan jika kau belum merasakannya, mungkin ada yang salah denganmu. Entah itu karena kondisi keimananmu ataupun pola fikirmu.
Baru saja kau selesai melaksanakan salah satu ujianmu di kampus. Dan kau bisa pastikan bahwa keimanan dan pola fikirmu itu sedang jauh dari target pencapaian manisnya iman.
Kau melihat mereka, begitu mampu dan begitu pintar, begitu teliti dan begitu cerdas, begitu mampu mengkondisikan diri dengan keadaan.
Lalu, bagaimana denganmu?
Tentu saja kau asing, tidak melakukan apapun. Tertunduk, tak tau apa yang harus kau tuliskan dalam lembar kertas putih itu. Bahkan rasanya kau ingin menangis, bersedih dengan kondisi asingmu saat itu. Ingin menangisi kondisi ketidak mampuanmu saat itu.
Hey, mana semangat dan kepercayaanmu?
Mereka mampu dan mereka tetap mengingat Tuhannya. Apakah kamu tidak bisa melakukan hal yang sama? Hal yang serupa?
Ingatlah satu hal, kau boleh meragukan kemampuanmu sendiri tapi kau tak pernah diperbolehkan untuk meragukan kekuasaan Allah yang dapat memampukanmu.
Ini bukan hasil atas kerja kerasmu saja, tapi ini adalah apa yang diberikan Allah, apa yang dipercayakan Allah, hadiah dari Allah berupa kemampuan.
Termasuk apa yang sedang mereka lakukan tadi, itupun atas kuasa Allah.
Kerjakan, dan jangan lupakan bahwa semua itu atas kuasa Allah.
Entah itu untuk menghukummu yang bermalas-malasan, entah itu untuk menguji keimanan dan pola fikirmu yang tak stabil, atau apapun yang Allah inginkan dan Allah kehendaki.
Allah, Allah, Allah, tiada daya dan upaya melainkan atas kuasa-Mu.

Sapaan selepas ujian,
Nisa Wiyati Ilahi

Jumat, 21 November 2014

Sayang umy ({})

bunda, aku tau aku sudah dewasa. meski memang aku belum bisa bertanggung jawab dengan baik pada apa yang harus menjadi tanggung jawabku saat ini. meski memang banyak hal yang masih ku gantungkan padamu, ayah atau siapapun. meski memang aku lebih sering merindukan dekapan pelukanmu, sentuhan kasih sayangmu, yang takkan pernah kudapatkan dari siapapun selain darimu bunda.
bunda, aku tahu aku sudah dewasa. harusnya aku belajar banyak darimu untuk mempersiapkan diri menjadi ibu sepertimu kelak untuk anak-anakku. tapi bunda, aku merindukan pelukan hangatmu, sapaan senyummu di setiap paginya. usapan lembut tanganmu di setiap malamnya. alunan nada yang merdu saat kau menidurkanku ketika matahari sudah terbenam sejak sore tadi.
bunda, aku memang sudah dewasa. dan karena aku sudah dewasa, rasa rindu dan keinginan itu semakin kuat. ingin rasanya menangis dipangkuanmu, menceritakan setiap langkah perjalanan hidup yang kujalani. semuanya bunda, tanpa terkecuali.
bunda, aku sudah dewasa. tapi aku akan selalu membutuhkanmu. selalu bunda, selamanya. :')
edisi sayang bunda ^^

Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 19 November 2014

Salam melankolis bahagia

lihatlah betapa egois dan tidak bersyukurnya seorang melankolis.
saat benar dan merasa bahagia ia hanya tersenyum. Tak seperti sanguinis yang memancarkan keceriaan dengan sangat jelas di setiap tingkahnya.
Tak seperti plegmatis yang terlampau ceria seolah tertawa sepuas-puasnya.
Tak seperti koleris yang bangga pada dirinya dan pada apa yang telah diraih olehnya.
Lalu, saat salah ia bersedih dan merasa sangat terpuruk.
Tak seperti sanguinis yang bisa tetap tersenyum.
Tak seperti plegmatis yang tetap ceria dan melupakannya begitu saja.
Tak seperti koleris yang tetap bangga karena dirinya dapat belajar dari suatu kesalahan.
Ini bukan tentang kenapa aku harus menjadi orang dengan kepribadian melankolis, tapi ini tentang bagaimana seorang melankolis belajar untuk bersikap tenang, bahagia, dan bangga pada dirinya sendiri, pada apa yang telah diraihnya, pada apa yang telah dipelajari olehnya.

salam melankolis bahagia. :)

Jumat, 14 November 2014

Jarak

Ada sesuatu hal yang dapat dijadikan alasan terkuat mengapa seseorang melakukan sesuatu yang pada dasarnya tak mau dilakukannya, dan tak bermaksud melakukannya, bahkan terpaksa melakukannya.
Hal itu bisa saja sebagai sesuatu yang sudah sangat jelas tingkat kesalahannya, sesuatu yang mengandung resiko yang sangat besar,  hingga sesuatu yang sangat mengecewakan dirinya dan orang-orang terdekatnya.
Semuanya adalah tentang jarak, jarak yang diinginkan dan jarak nyata yang terkadang tak sesuai keinginan.

Jarak ini tentang lingkungan, bukan tentang hubungan. Meski hubungan terjalin dan dibangun dengan sangat baik dan mendekati sempurna, jarak itu kan terasa seperti ujian atau pilihan yang terpaksa di prioritaskan.
Lagipula, dengan jarak pun menunjukkan tanggung jawab seseorang yang tak hanya berada dalam satu lingkungan.
Pengertian memang dibutuhkan, namun kesadaran pun perlu ditanamkan.

Belajar untuk hidup, dan hidup untuk belajar. Selamat berdamai dengan diri dan menerima kenyataan tentang jarak. :)

Nisa Wiyati Ilahi

Senin, 10 November 2014

Baligh :)

Baligh, kata yang diberikan pada seseorang yang sudah dewasa dalam pandangan agama. Sudah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk. Sudah mampu memiliki tuntutan, untuk menjalankan perintah, untuk menjauhi larangan, dan untuk menentukan pilihan.
Apa aku sudah baligh?
Ya, dengan kondisiku sekarang. Perempuan remaja berumur 19 tahun yang sudah melalui masa 'merah' sebagai tanda utama seorang perempuan yang baligh.
Lalu, apa yang kulakukan dengan status baligh itu?
Haruskah setiap keputusan yang ingin ku ambil ditentukan oleh kedua orang tuaku? Haruskah mereka yang berusaha keras, berjuang dalam doa yang tulus dan shalat yang panjang untuk anak perempuannya yang sudah baligh? Sedangkan aku hanya berdoa singkat sambil berleha-leha dalam menuntut ilmu dan mencapai cita-cita sederhana hingga cita-cita terbesarku. Layakkah?
Haruskah setiap hal yang kubutuhkan dipersiapkan oleh kedua orang tuaku? Haruskah mereka yang mengingatkan setiap detiknya tentang apa tugasku, apa yang harus kulakukan, apa yang harus ku kenakan, dan apa yang harus kubawa saat perjalanan. Sedangkan aku hanya tersenyum nyengir dan melihat mereka sibuk mempersiapkan semua kebutuhanku. Layakkah?

Harusnya, orang tua bisa bersikap tenang penuh haru saat melihat anaknya berjuang dalam mencapai cita-citanya. Bentuk doa pun kan berbeda nantinya. Antara harapan akan kesadaran anaknya untuk berusaha dengan harapan akan imbalan atas kerja keras anaknya dalam mencapai cita-cita. Bentuknya memang doa, tapi kalimat kebanggaannya berbeda.
Harusnya, orang tua bisa bersikap tenang penuh kepercayaan saat melihat anaknya tumbuh dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri, atau bahkan orang lain. Titahnya tak perlu terucap, karena anaknya sudah sadar sepenuhnya tentang apa yang dibutuhkannya dan apa yang orang lain butuhkan darinya.

Karena kita sudah baligh, harusnya kita bersikap seperti muslimah yang sudah baligh pula.
Maafkan kami ayah, ibu .. doakan anakmu.. :')

Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 29 Oktober 2014

Bahagialah :)

Ujian memang tak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, karena dalam kehidupan pun ada begitu banyak ujian. Ujian hati, ujian fikiran, ujian beban, ujian kejadian, ujian harta, atau bahkan hingga ujian cinta, ujian keimanan, keikhlasan, keyakinan, dan berbagai macam ujian lainnya.
Wajar saja jika seseorang merasa sedih dan kebingungan saat ia sedang dihadapkan pada suatu ujian. Tapi tak usahlah rasanya jika kesedihan tersebut di umbar-umbar di muka umum. Cukup ceritakan semua keluh kesahmu pada Allah.
Berbahagialah, karena ujian adalah salah satu tanda bahwa Allah menyayangimu, menyadarkanmu, dan ingin melihatmu kembali berjuang untuk-Nya , menangis hanya karena-Nya, bukan karena keadaan atau makhluk ciptaan-Nya yang dijadikan nikmat, musibah, atau ujian untukmu.
Berbahagialah.

Nisa Wiyati Ilahi

Minggu, 26 Oktober 2014

Menikah?

Waktu menunjukkan sekitar pukul 5 pagi, tumben sekali adik kecil laki-lakiku bilal sudah terbangun. Terdengar suara tv yang dinyalakannya saat aku masih terduduk di mushala membaca al-qur'an.
Setelah selesai, kurapikan mukena yang kukenakan dan kusimpan di tempat semula. Bilal terlihat berlari ke kamar, aku yakin ia sedang mencari handphone milikku, handphone ini.
Akhirnya, aku bersegera menyusulnya ke kamar, dan kuambil handphone itu menyusulnya. Ia menundukkan wajah, menunjukkan ekspresi kesedihan karena handphone nya sedang kupegang. Akhirnya kucubit saja wajah lugu nya yang baru saja terbangun itu. Ia tersenyum, bergegas keluar kamar dan memainkan handphone di tempat tidurnya.
Tak kusangka ada perbincangan yang tak kusangka setelahnya.
"Jangan ganggu, ade lagi mainin hp ade" kata  Bilal.
"Kata siapa itu hp punya ade?" balasku.
"Kata ade". Ku kelitiki saja dia, dan dia tertawa kemudian,
"Kan teteh pernah bilang, kalo teteh udah nikah, hp nya buat ade"
"Kapan?"
"Waktu itu teteh bilang" bilal keukeuh dengan ucapannya.
Terdengar suara tertawa nyengeh umy yang sedang memasak di dapur, seraya berkata,
"Kapan de nikahnya juga, jangankan nikah calonnya aja belum ada"
"Hahaha.." aku hanya tertawa.
Umy, tenanglah, anakmu ini masih semester 5 dan berumur 19 tahun. Izinkanlah anakmu untuk menuntut ilmu, berprestasi, dan membanggakan kedua orang tuanya sebelum ia menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya, serta mengutamakan pengabdian padanya.

Love you umy,
Nisa Wiyati Ilahi

Sabtu, 25 Oktober 2014

Dia adalah dosenku

Namanya 'Pemimpin yang Terpuji'
Dia adalah seorang pendidik yang bersikap layaknya dosen pada umumnya, memberikan materi, mengevaluasi, dan menilai setiap anak didiknya.
Dia adalah seorang penasehat yang selalu mengingatkan pada setiap orang yang dikenalnya bahwa hidup harus dinikmati dengan ibadah dan kehalalan, meski kehidupan dan kenyataan terkadang tak sesuai dengan harapan.
Dia adalah seorang pembina yang dijadikan konsultan karena kepintaran dan kecerdasannya dalam berfikir, bekerja, bersosialisasi, berbisnis, bahkan aktualisasi diri.
Dia adalah dosenku, terserah kalian menyebutnya apa, terserah kalian menganggapnya apa, yang kutahu dia adalah dosenku dan dia adalah salah satu pihak yang berperan dalam kehidupanku, pemikiranku, dan sikapku.
Ia mengajarkan tentang ciri-ciri kepribadian seseorang, cara-cara berfikir seseorang, dan banyak hal lainnya.
Terima kasih pak, semoga Allah membalas jasamu dengan lebih baik dari setiap apa yang kau berikan. Aamiin. :)

Kamis, 23 Oktober 2014

Pelangi guntur #6

Bahkan saat kau sendirian pun, aku selalu melihatmu sebagai sosok yg sempurna, guntur.

Salam,
.....

Sejatinya, kau bukanlah orang yang sempurna pelangi. Karena hakikatnya kesempurnaan itu hanya milik Allah saja.
Dan saat terlintas dalam fikirku bahwa kau adalah orang yg sempurna, maka Allah lah yang telah memberikan pandangan itu padaku. Pelangi, kau sempurna bagiku atas izin-Nya.

Salam,
.....

Sabtu, 18 Oktober 2014

Terima kasih sahabat

Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk berterima kasih pada kalian, 2 orang terhebat yang menemaniku di perjalanan penemuan jati diriku, perjalanan untuk mengejar cita-citaku, dan setiap langkah pembelajaranku dalam hidup.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk mengungkapkan dan mengakui bahwa kebahagiaan itu ada, senyuman itu selalu ada, terutama saat kita bersama, entah bercanda tawa, bercerita, atau memberi nasihat antar ketiganya.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk menyadari bahwa saat ini separuh dari jati diriku, separuh dari pemikiranku, separuh dari sikap dan setiap keputusanku, terkontaminasi oleh jati diri, pemikiran, sikap dan keputusan keduanya.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk bersyukur pada Allah karena telah mengirimkan 2 bidadari ini dalam perjalanan hidupku, bahkan dijadikan sebagai sahabatku.

Mungkin seorang Lia Amalia akan menangis terharu, aku tak tahu.
Mungkin seorang Shelfira Meisarani akan tertawa meledek, aku tak tahu.
Tapi ini memang tentang kalian, ksepercik kebahagiaan yang kutemukan di bangku perkuliahan.

Jazaakillaah khairan katsiir :)
Hanya Allah yang bisa membalas semua ini pada kalian.

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 16 Oktober 2014

Pelangi guntur #5

pagi ini penuh kabut, hujan deras masih belum berhenti sejak kemarin malam. dingin sekali udara yang kurasakan, tapi tetap mengingatkanku pada seseorang, ya dialah guntur.
kugunakan jas hujan milikku, tak mungkin mengendarai motor tanpanya dengan kondisi hujan seperti ini. ayah bilang ia khawatir jika aku mengendarainya sendiri, jadi aku akan diantar ayah ke kampus.
diperjalanan, saat lampu merah, diseberang jalan kulihat guntur menghentikan sepeda motornya, apa yang akan dilakukannya?
oohh, ternyata ia bersegera  membantu seorang kakek yang sudah tua renta turun dari angkutan umum.
si kakek terlihat kesulitan, kakinya gemetar, mungkin lemas, kedinginan, dan sudah tak sekuat dulu lagi.
guntur mengulurkan tangannya, menjadikan pundaknya pegangan bagi si kakek untuk turun dari angkutan umum. setelah itu, ia papah si kakek ke tempat duduk terdekat. ia berbincang sebentar dengannya, sedikit mengerutkan dahi lalu pergi. aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan  tapi sepertinya ia berpamitan pada kakek itu, karena seperti biasanya hari ini  jadwalnya bekerja di pagi hari. tunggu dulu, dari mana aku tahu? aahh kau terlalu menunjukkan perhatianmu padanya.
guntur, kau orang yang tegas, bahkan bisa kubilang keras. tapi jauh didalam hatimu ada kelembutan yang membuatmu menolong siapapun yang kesulitan, bahkan saat kau sendiri pun sedang terburu-buru untuk bepergian. dan kau punya keperluan, tapi kau luangkan waktumu untuk memberikan bantuan.
guntur, aku yakin kau lelaki yang baik.

Selasa, 14 Oktober 2014

Pelangi guntur #4

sore itu teduh , warna awan selaras dengan sorot mata pelangi. dan di waktu yang bersamaan kulihat ia sedang duduk di bangku taman, membaca buku ditemani adik perempuannya. kudekati mereka dan berhati", jangan sampai pelangi tau aku ada disini, menguping pembicaraan mereka.
"kak, boleh aku bertanya sesuatu?" adik kecilnya mulai berbicara.
"kenapa? tanyakan saja" jawab pelangi sambil tetap memperhatikan buku, membuka halaman selanjutnya dan tak menoleh sedikitpun. tapi nada suaranya selalu ramah, merangkul.
"perasaan itu kan anugerah, lalu kenapa justru aku merasa lelah?"
pelangi menoleh pada adiknya, menutup buku bacaannya kemudian tersenyum.
"kau bilang perasaan itu anugerah bukan?" adiknya menganggukkan kepala, "kalau begitu, saat kau lelah cobalah kau tengok imanmu, jangan" kondisi imanmu sedang lemah" lanjutnya sambil tersenyum lagi. ahh pelangi memang murah senyum.
"lalu kak, apa yang harus ku lakukan?"
"jika memang kau menganggapnya anugerah, maka jangan sampai kau menempatkannya pada sesuatu yang salah. Allah menciptakan rasa dengan segala kebaikan didalamnya, meskipun itu terlihat seperti ujian. tapi kau percaya bukan dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, dibalik kesedihan selalu ada kebahagiaan, dan setiap kejadian baik itu berupa ujian atau cobaan selalu ada hikmahnya"
"bahkan jika saat hujan ada guntur, sesudahnya akan Allah suguhkan pelangi kan kak?"
aku menelan ludah, kenapa kata" itu diucapkan dengan mudahnya oleh adik kecil ini?
pelangi tersenyum mendengar komentar adiknya.
"kau mengerti sekarang dik?"
"iya kak" adik kecilnya tersenyum.
"memangnya kenapa kau bisa bertanya seperti itu?"
"aku hanya merasa lelah karena terus menunggu seorang lelaki yang kuharapkan mengungkapkan perasaannya padaku"
pelangi mencubit pipi adiknya, "kau ini masih kecil tapi sudah memikirkan cinta, dasar"
"justru itu kak, aku merasa lelah dengan semua rasa ini, kadang aku sering berfikir apa mungkin aku minta saja pada Allah agar untuk sekarang ini aku tak mau dikaruniai rasa cinta"
"Allah memberikan anugerah pada seseorang yang pantas menerimanya, begitupun dengan ujian yang disesuaikan dengan kadar kemampuannya"
"tapi aku merasa belum pantas merasakan ini semua kak, aku masih harus mengejar impian dan cita"ku, tapi kegiatan yang kujalani tak bisa kulakukan dengan baik karena perasaan ini"
"kalau begitu tempatkanlah hatimu dan rasa cintamu itu pada Allah dan pada setiap apa yang kau kerjakan, Allah adalah Maha pembolak balik hati hamba-Nya, perbanyaklah berdoa dan meminta pada Allah agar kau mendapatkan izin dari-Nya untuk menempatkan rasa cinta yang telah dianugerahkan kepadamu pada hal yang membuat imanmu bertambah, seperti mencapai cita" dan impianmu itu, bukan pada seseorang yang tak layak"
"apa kakak pernah merasakan hal yang sama, seperti yang saat ini aku rasakan?"
pelangi mengangguk dan tersenyum, ia memeluk adiknya dengan hangat.
"ya, kakak pernah merasakannya dan kakak ingin kau mempunyai seseorang yang dapat menguatkanmu, tidak seperti kakak yang selalu mencari" sendiri tanpa tau apa kah yang sedang kakak rasakan dan kakak jalani itu benar atau salah. tapi ini pembelajaran untuk kakak, agar kakak senantiasa menyerahkan segala urusan hanya pada Allah, meminta bantuan hanya pada Allah, dan bahagia atas izin Allah. pesan kakak, jangan biarkan anugerah membuatmu lelah karena kau menempatkannya pada sesuatu yang salah. dan saat kau lelah, jangan biarkan imanmu melemah"
nasihat dari pelangi membuat adiknya terharu dan memeluknya. aahh aku semakin yakin saja, bahwa kau adalah seorang bidadari, pelangi.

Minggu, 12 Oktober 2014

Pelangi guntur #3

waktu menunjukkan pukul 3.30 pagi, tak biasanya aku terbangun di waktu sekarang ini. mungkin ada yg sedang bersujud meminta kebaikan untukku saat ini. dan aku harus membalasnya dengan lebih baik lagi. ahh sorot mata teduh itu, selalu saja memberikan semangat, selalu saja seperti pelangi.

aku terbangun dari tidurku, kenapa aku memimpikannya sedang terluka cukup parah dan penuh dengan amarah? guntur, mungkin kau memang orang yg kasar. tapi ini saatnya aku berdoa dengan penuh keyakinan agar hatimu dapat seimbang dengan adanya kelembutan.

Pelangi guntur #2

sore itu aku terduduk di balkon depan rumah, membaca buku dan menikmati hirup udara segar disana. udara itu sejenak berubah, sepertinya akan hujan. suara petir perlahan terdengar, pelan, pertanda akan turun hujan. kudongakkan kepala ku melihat awan, serasi dengan warna langit yang juga mendung. jika ini hujan, kan kutunggu suara itu datang. raut mukaku berubah cerah, hey, apa yang sedang kau lakukan sekarang? guntur?

suasana jalan raya memang tak pernah bisa menyajikan udara segar, bahkan yang ada hanyalah asap yang keluar dari setiap kendaraan yang berada disana, belum lagi ada bekas hujan di jalanan. sepertinya tadi hujan rintik". tapi kendaraan tetap diam, bersedia menunggu lampu lalu lintas berganti warna. kubuka kaca helm ku sambil menunggu warna lampu hijau muncul. ternyata keindahan itu terlihat, reflex senyumku mengembang. teringat akan sorot mata wanita itu, teduh dan tetap seindah pelangi.

Pelangi guntur #1

sosok itu, aku selalu melihatnya sore hari, dalam keadaan mendung menuju tibanya hujan, atau bahkan saat gerimis, hujan rintik rintik, sebaiknya kusapa saja dia pelangi.

lelaki itu, seolah memperhatikan tingkahku, ingin sekali aku menoleh padanya, tapi itu sangat memalukan bagiku, sikapnya yang keras mengingatkanku pada sesuatu, terlebih hanya saat hujan gerimis kita bertemu, kan kusapa dia guntur.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Pertemuan tak disengaja

Selama tiga hari ke belakang, kegiatan perkuliahanku cukup padat, tepatnya saat ada kegiatan yang tak bisa kutinggalkan setelah ashar. Untuk yang ketiga kalinya kulaksanakan shalat maghrib munfarid di mesjid besar lembang. Kira" seperti lokasi pertengahan antara kampus dan rumah. Saat hendak mengambil air wudhu' kulihat ada 2 anak kecil yang sedang berdiri tepat di depan pintu nya. Refelks aku tersenyum saat melihat mereka, entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Teteh.." sapaan anak kecil berkerudung biru muda padaku. Aku kembali tersenyum dan hanya membalas "eh" karena tak menyangka mereka akan menyodorkan tangannya untuk memberikan salam padaku. Temannya seorang anak kecil berkerudung hitam mengikuti, aku pun tersenyum padanya.
"Nama teteh siapa?" tanya anak berkerudung hitam. Kujawab saja "Nisa" . Tiba" adik kecil berkerudung biru muda menyaut, "Nama kita sama, namaku juga anisa teh" ternyata nama adik itu anisa, ucapku dalam hati. "Oh ya?" aku berusaha memasang wajah kaget dan mengubah raut wajahku menjadi seperti anak kecil yang sedang berbincang dengan teman seumurannya, penuh semangat. "Tapi nama teteh nisa aja, gak ada huruf a nya" jelasku padanya. "Jadi nama teteh lisa? Atau nisa? Atau memang benar lisa?" Adik kecil berkerudung hitam terlihat kebingungan. "Nisa, pake N bukan L" jelasku sambil tersenyum padanya seraya bertanya "nama adik siapa?" Ia tersenyum dan menjawab "Nur Aisyah teh". Sejenak aku teringat bahwa aku harus segera pulang, belum lagi aku harus shalat maghrib sebelum semakin mendekat ke waktu isya'. Akhirnya, "Oke, teteh inget ya namanya, nisa sama nur" mereka tersenyum. "Karena teteh belum shalat maghrib, teteh tinggal wudhu dulu ya" ucapku sambil melambaikan tangan pada mereka, masuk ke tempat wudhu akhwat.
Setelah shalat, ternyata mereka sedari tadi menungguku. Mereka menyapaku lagi saat aku sedang membereskan mukena dan bersiap" untuk pulang. Nisa terlihat semangat berlari" kecil menjumpaiku yang masih terduduk di shaf shalat bagian belakang. Ia bertanya, "teh nisa sudah bekerja?" Kujawab "teteh masih kuliah, doakan saja ya". Kemudian ia mengalihkan pembicaraan saat nur juga tiba disana, "teh, aku dan nur punya 3 teman, tapi mereka memusuhi kami" dan nur ikut menambahkan "padahal kami sudah meminta maaf pada mereka, tapi mereka tak mau menerimanya". Aku sedikit kebingungan mendengar mereka bercerita, tepatnya bingung karena aku harus segera pulang. Akhirnya ku tanggapi saja dengan singkat.
"Kalau begitu, coba tanyakan kenapa mereka menjauhi kalian?"
"Mungkin karena kami terlambat datang teh"
"Terlambat datang? Bukannya biasanya kalian mengaji seusai shalat maghrib?"
"Iya, tapi hari ini tidak. Biasanya kami mengaji disana" jawab nisa sambil menunjuk tempat mereka biasa mengaji. Aku hanya mengangguk"an kepala, tanda mengerti maksud pembicaraannya.
nisa kembali mengalihkan pembicaraan, "Kenapa teteh memakai itu?" Ia menunjuk manset ditanganku.
"Ini dipakai untuk menutup aurat" jawabku.
"Kalau tidak pakai bagaimana?"
"Auratnya terlihat" jawabku singkat.
"Baju teteh kan sudah panjang dan menutup aurat"
"Tapi bagian tangannya masih sedikit terlihat, jadi harus ditutupi lagi"
"Bagaimana denganku?" Ia menunjuk lengan bajunya.
"Itu sudah menutup aurat, baju mu panjang"
"Kalau aku?" Nisa ikut"an menunjuk lengan tangannya.
"Sudah panjang juga" jawabku tersenyum.
"Artinya teteh harus beli baju baru yang panjang"
"Kau mau membelikan? Boleh saja" balasku sambil mengajak bercanda. Mereka tersenyum.
"Teteh mau pulang sekarang?" Tanya nisa.
"Ya, teteh harus pulang. Maaf tak bisa berlama" disini berbincang dengan kalian"
"Kalau begitu biar kami antar"
"Hmm.. antar sampai rumahkah?"
"Tentu saja tidak, bagaimana kami pulang lagi kesini?" Balas nur.
"Terbang saja" jawabku nyengir. Mereka tertawa lagi.
"Mana bisa terbang, kita kan tak punya sayap" balas nisa.
"Kalau begitu sampai sini saja mengantarnya"
"Ini untuk teteh" nur memberikan sebuah permen.
"Permen apa ini?"
"Kiss"
"Hmm.. ayo kita lihat apa tulisannya, Don't Forget Me. Wah pas sekali tulisannya"
"Iya teh, jadi teteh jangan lupakan kami"
"Tentu saja tidak, terima kasih banyak permennya"
"Samasama" jawab keduanya bersamaan.
"Teteh pulang dulu, jangan pernah menjauhi orang ya. Kalian juga tak suka jika dijauhi bukan?" Mereka mengangguk mengerti.
"Assalaamu'alaikum" ucapku sambil melambaikan tangan.
"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan.
"Hati" teteh" teriak nisa saat mereka berlari kembali ke dalam mesjid.
"Daaahh" aku kembali melambaikan tangan, tersenyum.
Pertemuan singkat itu membuatku mengerti bahwa seorang guru akan selalu dicintai muridnya saat ia bisa berbuat baik dan mengajarkan hal yang baik. Seorang adik kecil seperti nisa atau seperti nur saja yang belum mengenalku sama sekali bisa bersikap seramah itu padaku. Aku yakin mereka pasti menyayangi guru mengaji nya. Andai saja kelak aku bisa menjadi seorang guru yang mempunyai murid seperti mereka, aku yakin sekuat apapun rasa lelah yg sedang kurasakan, akan hilang seketika saat bertegur sapa dengan mereka.
Anak kecil memang seperti itu, menenangkan dan membuat bahagia yg sederhana.
Terimakasih banyak, nisa, nur aisyah, :)

Minggu, 05 Oktober 2014

Keegoisan dalam Mengalah

Sikap mengalah, sikap yang selalu menempel pada diri seorang wanita, melankolis khususnya. Awalnya kata mengalah itu identik dengan mengorbankan diri sendiri untuk orang lain. Pribadi yang mulia, selalu mengutamakan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri. Selalu mengorbankan kondisi hati, fisik, waktu, dan perasaannya hanya untuk kebahagiaan orang lain.
Lama kelamaan, sikap yang hanya muncul sekali dua kali itu hanya akan menimbulkan rasa kecewa pada diri sendiri. Hanya akan menimbulkan rasa sakit pada dirinya sendiri, yang mana kelak rasa sakit itu akan terobati begitu saja saat melihat orang lain tersenyum bahagia dengan tulus karena kebaikan 'mengalah' nya.
Tapi ternyata tidak, sikap mengalah itu bisa jadi menimbulkan rasa sakit pada sekian banyak orang hanya demi kebahagiaan satu orang yang kau pandang tersakiti jika kau tak mengalah padanya.
Bayangkan jika seandainya rasa ingin mengalah itu adalah ujian, bukan petunjuk akan hal baik yg harus dilakukan. Apa kau tak kan menyesal karena telah mengabaikan ujian dari Tuhan? Apa kau tak malu saat kau tak menyadari bahwa kau seolah tak mampu lulus dari ujian yang telah diberikan?
Bayangkan jika seandainya harapan dari orang tuamu adalah kau menjadi seorang pemenang yang berjuang? Saat kau ingin mengejar prestasi mu, mengejar impian mu, dan kau melewatkan semua kesempatan itu hanya karena 1 alasan, mengalah untuk orang lain yang belum tentu lebih hebat darimu.
Bayangkan jika seandainya satu teman yang kau perjuangkan membuat 10 temanmu kecewa atas sikap dan keputusanmu? Kau pikir itu bisa disebut setimpal? Saat kau ingin membahagiakan temanmu, maka bahagiakanlah semuanya, bukan sebagian kecilnya.

Mengalah memang bukan berarti kalah
Tapi Mengalah juga bukan berarti salah
Tapi mengalah haruslah membuat hilang setiap resah
Kekecewaan yang berlipat, akan menimbulkan penyesalan yang juga hebat
Berfikirlah sebelum kau mengalah, jangan sampai itu kelak menjadi keputusan terbesarmu yang salah

Ada satu hal yang perlu kau pelajari dari kata mengalah.
Saat kau mengalah, kau egois.
Kau tau kenapa? Karena terkadang mengalah adalah salah satu tanda keegoisan seseorang.
Keegoisan untuk selalu mengikuti fikiran dan logika yang mempengaruhi hati tanpa melihat lebih dalam disana.
Keegoisan untuk selalu menyakiti diri sendiri secara tak sadar akan sikap yang tak seharusnya dilakukan, dengan alasan memperjuangkan salah satu kebahagiaan.
Keegoisan untuk selalu menganggap benar apa yang terlintas dalam fikiran, setiap pendapat yang terucapkan, padahal tak sepatutnya merasa benar akan sesuatu yang masih belum dapat dipastikan.
Keegoisan untuk selalu mendahulukan orang lain yang justru belum tentu ia adalah orang yang lebih baik untuk menggantikanmu, untuk kau perjuangkan, dimata Allah, dimata kedua orang tuamu, dimata sahabatmu, bahkan jauh dilubuk hatimu.

Mengalahlah, tanpa adanya keegoisan. :)

Nisa Wiyati Ilahi

Jumat, 03 Oktober 2014

Hokus Fokus Trulala~

Tak sedikit orang yang terfokus pada satu hal, dan saat fokusnya terbagi, maka itu tak bisa tetap dinamakan 'fokus' baginya.
Mungkin memang dalam menjalani kehidupan, fokus untuk mencapai sesuatu itu perlu dilakukan, terlebih dalam menempuh studi yang baik. Fokus akan selalu diperlukan.
Fokus tak perlu dianggap sulit, karena fokus itu tak selamanya sempit.

Tak sedikit orang yang mempunyai kerabat atau sahabat, entah berapa jumlahnya, sedikit atau banyak, selalu saja ada pihak yang difokuskan dengan berlebih. Sadar tak sadar, fokus itu pasti ada. Reflex, nama pertama yang disebutkan adalah dia yang difokuskan.

Namun ada sedikit kekeliruan disana, terfokus pada 1 orang dan pada 1 hal kelak akan menghambat tercapainya 1 tujuan.
Saat ada rasa ingin terfokus pada 1 pihak, percayalah akan ada lebih banyak pihak yang terabaikan meski apa yang dia fokuskan adalah diri kita.
Saat ada rasa ingin fokus pada 1 prestasi, percayalah akan ada banyak kesempatan dan peluang yang tersedia, dengan mudahnya akan begitu saja terlewati.
Tapi saat ada rasa fokus pada 1 tujuan, setiap hal yang berhubungan dengan tujuan tersebut tetap berada dalam ruang lingkup fokus.

Tujuan utama adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain, menjadi orang yang dapat membantu yang lain, menjadi orang yang menyayangi dengan tulus yang lain.
Artinya kita tak perlu memfokuskan perhatian dan bantuan pada seorang saja, kita tak perlu memfokuskan keakraban dan kedekatan pada seorang saja, karena bermanfaat adalah untuk umat, bukan untuk dirinya yang hanya sebagian kecil dari masyarakat.
Artinya kita tak perlu memfokuskan prestasi pada 1 peluang saja, pada 1 kesempatan saja, patut rasanya bagi kita untuk memanfaatkan peluang dan kesempatan yang sesuai dengan tujuan dan fokus utama kita diatas tadi.

Maka dengan jalan yang luas, fokus itu tetap ada, pada 1 tujuan.

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 02 Oktober 2014

Cita cita

Cita cita terbesarku adalah sekolah di universitas ternama yang terkenal
Namun cita cita sederhanaku adalah mempelajari sesuatu yang sangat kusukai

Cita cita terbesarku adalah menjadi seorang sarjana yang kaya akan karya, prestasi, ilmu dan pemahaman
Namun cita cita sederhanaku adalah menjadi seseorang yang memiliki dan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain

Cita cita terbesarku adalah menghafalkan bermacam-macam teori dan mengajarkannya kepada yang membutuhkan, siapapun itu, kapanpun itu dan dimanapun itu
Cita cita sederhanaku adalah menghafalkan alquran untuk kemudian memahami maknanya dan mengajak semua orang untuk belajar dan menghafal bersama

Cita cita terbesarku adalah menjejaki negara-negara terindah penuh sejarah sambil mengambil studi dengan beasiswa disana
Cita cita sederhanaku adalah berkunjung kerumah-Mu yang suci, meluruskan niat hanya untuk beribadah kepada-Mu dengan penuh rasa syukur dan permohonan ampunan disana

Cita cita terbesarku yang sederhana adalah mewujudkan cita cita terbesarku dengan landasan cita cita sederhanaku.
Bagaimana dengan cita citamu?

Ahh sungguh, rasanya aku malu jika dibandingkan dengan orang-orang sekitarku saat ini. Jadikan kami sebagai hamba-Mu yang selalu mencintai ilmu karena-Mu Ya Rabb. Aamiin.

Nisa Wiyati Ilahi

Selasa, 23 September 2014

Muhasabah balasan diri

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره - و من يعمل مثقال ذرة شرا يره (الزلزلة : ٨-٧)

"Barang siapa yang mengerjakan kebajikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan) nya"

Hukum karma, aku mengenal kata itu jauh sebelum aku merangkai kata demi kata untuk mengungkapkan apa makna yang kurasakan dalam hidup ini tentang karma.
Tapi ternyata karma bukan sekedar kata, karma adalah hal yang pernah kurasakan. Begitu mendalam pengaruhnya hingga ayat ini selalu kuingat saat aku merasa sedang karma.

Dulu, aku pernah menjauhi seorang adik kecil yang penuh dengan keceriaan hanya karena alasan yang tak masuk akal. Mungkin aku memang lelah berhadapan dengannya, tapi ternyata sesaat setelah aku menjauhinya rasa sayang dan perhatian itu semakin ada. Bahkan terkadang aku tak rela melepasnya meski ia sudah dewasa. Dia yang dulu pernah sempat kuabaikan, kini mengabaikanku. Bukan karena alasan yang tak masuk akal sepertiku, tapi karena ia memang sudah dewasa. Menjadi seorang kakak yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengambil keputusan terbaik menurutnya sendiri.
Bahkan saat ini, akhir-akhir ini kulihat ia sedang bersedih. Ingin rasanya aku bisa mengukir senyuman di wajahnya dan bercanda tawa bersamanya. Memberikan pendapat dan nasihat dariku untuk kebaikannya. Namun apa daya, ia tak membutuhkan semua itu, malahan ia masih saja tak berani bercerita padaku.
Dan waktu tak kan pernah kembali, maka kini saatnya aku tersadar untuk tak pernah mengabaikan seseorang yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian dariku. Sebelum aku menjalani kondisi seperti ini, ingin memperhatikan seseorang yg tak butuh diperhatikan olehku.

Di waktu yang lain, aku terlalu terfokus pada seorang sahabat. Atau mungkin lebih tepatnya orang yang kuanggap sangat sangat dekat. Ia adalah sosok sahabat yang sangat dewasa yang bisa mengayomiku tanpa menyakiti atau menyinggung perasaanku. Apa yang dikatakan olehnya adalah sebuah peringatan, bukan ancaman. Dan saat ia mulai menjauh, kami berjarak dengan tak sengaja, aku tak bisa menerima itu semua dengan mudah, begitu saja terlepas dari setiap kata nasihatnya. Rasanya ingin sekali aku tetap bersamanya, bercanda tawa dan bercerita penuh suka cita.
Tanpa kusadari, ada seorang sahabat lain yang juga ternyata kuabaikan perhatiannya. Mungkin memang dia tak terlalu menunjukkan itu semua, tapi yang kusadari saat ini adalah, aku istimewa baginya. Aku jarang memperhatikan keadaannya, tapi ia memperhatikanku. Aku tak menganggapnya lebih istimewa dibanding dengan yang lain, tapi ia melakukan hal yang sebaliknya.
Maka kini saatnya aku tersadar, untuk tak pernah mengabaikan seseorang yang menganggapku istimewa. Sebelum aku menjadi seperti saat ini, terlalu mengistimewakan seseorang yang tak menganggapku istimewa.

Setiap orang perlu perhatian, dan setiap orang yang pandai memperhatikan selalu membutuhkan penghargaan. Maka hargailah mereka yang memperhatikanmu, mereka yang menyayangimu. Sebelum mereka sedikit melupakanmu, dan mengabaikanmu tanpa sengaja.

Dan ada hal yang harus senantiasa kita ingat bersama.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Ada mereka yang selalu membutuhkan nasihatmu, perhatianmu, rangkulan dan kekuatan darimu, dan rasa serta anggapan keistimewaan dirinya bagimu.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Ada orang tuamu yang selalu merawatmu meski saat ini kau sudah bertumbuh dewasa. Dan yang ia butuhkan hanyalah melihatmu hidup bahagia dan sejahtera bersamanya, hidup bersamanya, di depan matanya.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Ada ampunan yang selalu Allah berikan pada hamba-Nya yang memohon ampun dan bertaubat. Ada nikmat karunia yang selalu Allah berikan pada hamba-Nya yang senantiasa pandai bersyukur dan bekerja keras.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Jauh didalam dirimu ada rasa egois yang mementingkan perasaan dan kondisi dirimu sendiri.

Nisa Wiyati Ilahi

Senin, 22 September 2014

Sikap yang hilang

Proses pendewasaan, selalu bisa mengantarkan seseorang pada tahap yang cukup sulit dalam kehidupan yang dijalani. Menjadi pribadi analitis yang selalu saja menerka-nerka kemungkinan apa yang akan terjadi, hal apa yang harus dilakukan, dan bagaimana cara bersikap dalam mengatasi setiap permasalahan.
Terkadang seseorang bisa bersikap dewasa sesuai dengan lingkungannya, saat ia merasa menjadi adik yang diperhatikan kakaknya disana tentu ia akan lebih bersikap manja. Tapi berbeda saat ia berada dilingkungan sahabat dan rekan kerjanya, ia akan bersikap dewasa sambil tetap menyesuaikan dengan tuntutan lingkungannya.
Atau bahkan seseorang bisa terlalu cepat dewasa diumur remajanya. Selalu bisa bersikap tenang menghadapi setiap permasalahan, bersikap sopan saat berhadapan dengan lawan ataupun kawan, dan tentu selalu berfikir hal positif pada setiap kejadian, hingga akhirnya setiap permasalahan dirinya ataupun lingkungan dan rekan yang membutuhkannya mampu terselesaikan.
Sosok dewasa itu, sosok bijaksana itu, bisa terbentuk oleh lingkungan bukan? Lalu apakah ia juga bisa hilang ditelan lingkungan juga?
Jika memang jauh didalam hatinya ia menerima, jika memang dasar dari kepribadiannya adalah bijaksana, dan memang sikap yang selalu bisa terlihat darinya adalah dewasa, semoga itu semua bisa terlihat kembali.
Dan semoga kau bisa menemukan lingkungan yang membuatmu tersadar akan setiap hal yang perlahan pudar dan menghilang dalam dirimu. Sekaligus mengembalikan secara utuh kepadamu.
Aku disini hanya bisa mendoakanmu, teman.

Nisa Wiyati Ilahi

Minggu, 21 September 2014

Wanita biasa

Layaknya seorang wanita biasa yang hanya bisa terdiam dan memendam segala apa yang dirasakannya. Entah itu berarti kebahagiaan tak terkira untuknya, atau justru kesedihan yang mendalam didalam hatinya.
Layaknya seorang wanita biasa yang hanya bisa berkata-kata lewat tulisan yang takkan terbaca. Terhiraukan oleh insan-insan yang tak menyadari apa maksud dari semua tatanan kata yang terangkai disana. Pembicaraan hanya dengan hati, kata, tulisan, dan tentu tak lupa Tuhan.
Layaknya seorang wanita biasa yang hanya bisa tersenyum atas setitik kebahagiaan akan peluang yang mungkin ada sebagai balasan atas kesabaran dan penantian panjangnya. Atau meneteskan air mata tak terlihat didalam hati yang hanya bisa terbaca dalam sorot sendu dan sesal di matanya.
Layaknya seorang wanita biasa yang hanya bisa berdoa memohon petunjuk dan kesempatan terbaik yang kelak ia dapatkan dengan cara terbaik diwaktu yang terbaik pula dari Sang Maha Baik.

Dan aku, layaknya seorang wanita biasa.

Nisa Wiyati Ilahi

Jumat, 19 September 2014

Kembali ke Masa Itu

Saat ini aku merasa kembali seperti dulu, aku yang sangat mudah terserang sakit. Aku yang selalu menangis setengah berteriak menahan sakit. Aku yang bersikap seperti anak kecil karena tak kuat menahan air mata dan kekesalan pada rasa sakit.
Saat ini aku merasa kembali seperti dulu, aku yang hanya bisa memendam setiap perasaan, aku yang hanya bisa bersikap diam melawan setiap perasaan, aku yang hanya bisa tersenyum dan tak lama kemudian berfikir keras dengan kebingungan atas setiap perasaan.
Saat ini aku merasa kembali seperti dulu, aku yang punya begitu banyak teman dekat yang memperhatikan. Aku yang tak bergantung pada seseorang yang hanya padanyalah setiap kisah kan kuceritakan. Aku yang bisa tertawa lepas setiap detiknya bersama-sama rekan seperjuangan yang membimbingku dalam jalan kebaikan dan kedewasaan.
Saat ini aku merasa kembali seperti dulu, kembali ke masa itu. Masa dimana hatiku rapuh karena sesuatu, dan yang tersedia tak bisa mengobati secara sempurna setiap kerapuhan di sudut-sudut hatiku.
Saat ini aku merasa kembali seperti dulu, kembali ke masa itu. Masa dimana kepribadianku ingin kurubah jauh dari apa yang ada dalam diriku saat ini.
Saat ini aku merasa kembali seperti dulu, kembali ke masa itu. Masa dimana aku harus belajar keras dalam memahami arti bersyukur dan memohon ampun.

Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 17 September 2014

Hal berarti

Hari yang penting dan hari yang berarti untuk seseorang, terkadang diidentikkan dengan hari ulang tahun, hari kelulusan, hari bahagia, dan lain sebagainya.
Hari itu membuat seseorang merasa senang dan menjadi sosok yang baru. Dan ya, itu semua memang benar. Hari itu adalah tanda akan adanya status baru, kehidupan baru dalam diri seseorang.
Hari itu adalah salah satu bukti bahwa hanya orang-orang yang menyayangimu akan mengingatnya, akan ikut merayakannya bersamamu. Berada disampingmu untuk ikut bahagia atas apa yang terjadi padamu.
Tapi ternyata, ada sedikit kekeliruan disana.
Terkadang mereka hanya ada saat kau merasa senang, tapi tidak saat kau merasa sedih. Terkadang mereka hanya ada saat kau merasa kuat, tapi tidak saat kau merasa lemah.
Terkadang mereka tak ada, diwaktu yang membuatmu benar-benar membutuhkan mereka.
Hari ini aku belajar, belajar mengingat dan menyadari bahwa ada saat yang lebih berharga dan menunjukkan kasih sayang dan perhatian orang-orang yang menyayangimu jika dibandingkan dengan hari-hari diatas.
Saat kau sakit dan saat kau terjatuh, percayalah bahwa mereka yang tulus dan benar-benar menyayangimu akan ada untuk menemanimu kembali pada kesehatan dan membantumu untuk bangkit dan bangun meski kau terjatuh begitu dalam disana.
Saat kau sakit dan saat kau terjatuh, percayalah bahwa ada orang yang rela mengorbankan fikiran dan hatinya untukmu. Mendoakanmu dengan ikhlas tanpa kau minta sekalipun padanya.
Saat kau sakit dan saat kau terjatuh, ingatlah siapa mereka dan hargailah mereka.
Tak usah berharap pada seseorang yang hanya bisa bersamamu saat kau merasa senang dan saat dia merasakan kesedihan.
Dan tak usah memaksakan diri dan bersikeras untuk memperhatikan dia yang memang tidak mau kau perhatikan.
Mungkin terdengar jahat, tapi yang pasti kasih sayang dan perhatianmu lebih dibutuhkan oleh mereka yang menyayangimu.

Semoga kita adalah mereka, bukan dirinya.

Nisa Wiyati Ilahi

Senin, 15 September 2014

Belajar

Semua ini tentang belajar, belajar menerima kenyataan dan ketetapan dari Allah yang memang merupakan hal terbaik untuk dijalankan.
Semua ini tentang belajar, belajar mengikhlaskan seseorang yang sangat berarti meski sebenarnya hati tak pernah tahu apakah rasa yang tumbuh dalam dirinya juga berarti?
Semua ini tentang belajar, belajar memaafkan diri sendiri beserta masa lalu yang penuh dengan khilaf, keegoisan, dan mengutamakan perasaan sendiri tanpa memperdulikan dampak apa yang akan terjadi.
Semua ini tentang belajar, belajar mendoakan orang lain dengan hati yang penuh keikhlasan tanpa ada rasa ingin dibalas budi dengan berharap agar orang lain mendoakan.
Semua ini tentang belajar, belajar menyayangi orang lain sebagai saudara sesama muslim seperti halnya menyayangi diri sendiri.
Semua ini tentang belajar, belajar mengalah dan mengutamakan orang lain dengan syarat tulusnya sikap dan tak ada satupun pihak yang merasa tersakiti dan terabaikan.
Semua ini tentang belajar, belajar menjadi pribadi yg lebih baik dari sebelumnya.
Semua ini tentang belajar, kata yang tak kan pernah ada habisnya saat dijelaskan dan diperbincangkan, layaknya pendidikan.

Sapaan Pembelajaran
Nisa Wiyati Ilahi

Masa Depan

Rancangan masa depan adalah hal yang harus dipersiapkan oleh setiap orang. Dan bagi seorang muslim, masa depan terindahnya hanyalah ada dalam ketetapan dan ketentuan Allah. Ditambah lagi, semua rancangan kan berdasar pada niat dan usaha untuk mencapai keridhaan Allah.
Rancangan masa depan adalah hal yang harus dipersiapkan dari sekarang. Karena apa yang akan terjadi di masa depan adalah akibat dari apa yang terjadi saat ini. Karena apa yang diniatkan akan menjadi alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu dengan tekun dan hati-hati.
Rancangan masa depan, kalimatnya pun sudah mengungkapkan masa depan. Tentu sangatlah menuntut persiapan dari sekarang menuju kesiapan dimasa yang akan datang.
Rancangan masa depan, tak hanya tentang penambahan ilmu pengetahuan dan pendidikan, pencarian pengalaman, berbagai pemahaman akan setiap kejadian yang dapat dijadikan pelajaran, dan juga pasangan yang akan menjadi rekan hidup sampai waktu yang telah ditentukan.
Rancangan masa depan, semoga rancangan terbaik adalah rancangan untuk berhadapan dan menjemput kematian. Cara yang bisa mempertemukan hamba dengan Tuhannya, cara yang bisa membuat setiap hamba berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhannya, cara yang bisa menunjukkan hasil akan setiap langkah dan sikap di dunianya, cara yang bisa membuktikan sebanyak apakah amal yang dilakukan dengan hati penuh keikhlasan serta harapan dan doa yang digantungkan pada Tuhannya.
Rancangan masa depan, izinkan hamba merancang hal-hal yang bisa membuat hamba layak untuk bertemu dengan-Mu dan menempati syurga-Mu Rabbii.. Aamiin

Nisa Wiyati Ilahi

Sabtu, 13 September 2014

Keluarga

Kau tidak bisa memilih keluargamu, tapi kau bisa memilih teman terdekatmu atau orang-orang dilingkungan sekelilingmu untuk kau anggap sebagai keluargamu bahkan kau jadikan keluargamu.
Sayangnya ternyata lingkungan pun tak hanya satu yang akan kau masuki. Ada beberapa lingkungan yang menarikmu, atau membuatmu tertarik untuk bertahan dilingkungan tersebut. Ada beberapa lingkungan yang membutuhkanmu, atau kau butuhkan karena kau sudah merasa nyaman disana.
Lalu, saat kau jadikan kesemua lingkungan itu adalah keluarga barumu, keluarga yang kau bentuk, keluarga yang kau anggap membuatmu nyaman, keluarga yang tercipta karena suatu perhatian dan kasih sayang tanpa paksaan, maka kau harus sadar bahwa kau memiliki keluarga yang tak sedikit diluar sana.
Hingga akhirnya, saat kau sadar bahwa keluarga itu tak hanya satu, kau harus memilih keluarga yang menjadi prioritasmu.
Tapi ada yang mengganggu hati dan perasaanmu disana. Haruskah keluarga berlabel prioritas, tuntutan dan paksaan?
Keluarga yang berhubungan baik rasanya takkan ada itu semua, yang ada hanyalah kasih sayang yang bisa menumbuhkan sikap mengutamakan dengan hati dan sesuai kondisi.
Sekali lagi, haruskah keluarga berlabel prioritas?

Sapaan Kekeluargaan
Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 10 September 2014

Doa, ikhtiar, dan tawakkal

Dalam doa, namamu kan kusebut dalam setiap sujud terakhir dalam shalatku.
Dalam ikhtiyar, dirimu kan menjadi seseorang yang kupertahankan dan kuperjuangkan dalam langkah persiapan dan perbaikan diriku.
Dalam tawakkal, waktu dan kondisi terbaik yang kan Allah berikan kan ku nantikan dengan penuh kesabaran karena aku yakin aku akan dipertemukan denganmu.
Hingga akhirnya kan ada kesempatan bagi kita untuk bersama dan bersatu.

Dalam doa, tanpa kita ketahui ada seseorang yang baik dan lembut perangainya senantiasa mendoakan kita di setiap sujud terakhir dalam shalatnya.
Dalam ikhtiyar, tanpa kita sadari ada seseorang yang senantiasa memperbaiki dan memantaskan dirinya agar menjadi hamba Allah yang seutuhnya dalam penantiannya berjumpa dengan kita.
Dalam tawakkal, tanpa kita sadari ada seseorang yang senantiasa mengikhlaskan kita untuk berdampingan bersama siapapun itu karena harapnya adalah mendapatkan pasangan terbaik yang diberikan Allah untuknya dan untuk kita jauh sejak ia masih menyebut kita dalam doanya.
Hingga akhirnya kan kita sadari sepenuhnya bahwa Allah selalu mempersiapkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Terlebih untuk pasangan hidup di dunia maupun di akhirat selamanya.

Hubungan yang baik akan membutuhkan koneksi hati, harap, fikiran, keyakinan dan perasaan yang dihubungkan secara langsung oleh Allah. Bukan hubungan yang diciptakan oleh diri kita sendiri yang diwarnai dengan corak godaan, ketidakjelasan status kehalalan, dan impian yang berujung pada kesalahan.
Cara berhubungan yang baik adalah berharap dan menyampaikan rasa yang disadari pada sandaran terkuat yaitu Allah. Bukan cara yang sudah jelas ketidakbenarannya namun tetap mengatas namakan Allah dengan seenaknya.
Jaga hati, jaga fikiran, dan serahkan pada Allah siapa pendamping hidup kita di dunia sekaligus perantara akhirat kita untuk mencapai syurga-Nya.

Semoga mereka adalah kita.
Aamiin

Nisa Wiyati Ilahi

Selasa, 09 September 2014

Masalah

Permasalahan, setiap orang punya permasalahan masing-masing. Entah itu berupa konflik dalam keluarga, lingkungan berteman, atau bahkan diri sendiri.
Permasalahan, setiap permasalahan punya tingkat kerumitan yang berbeda beda. Entah itu dikategorikan sebagai permasalahan yang mudah untuk diselesaikan, cukup sulit, atau sangat sulit untuk dicari solusinya.
Permasalahan, setiap kerumitannya akan membutuhkan pemikiran dan energi yang sama meski penekanannya berbeda. Entah itu menggunakan pemikiran saja, energi untuk bersabar saja, atau keduanya secara seimbang sekaligus.
Meski begitu, setiap permasalahan ada solusi terbaiknya.
Oleh karenanya, saat kau merasa punya masalah sekecil apapun itu, semudah apapun itu, hingga sesulit apapun itu atau serumit apapun itu, selesaikanlah karena semua akan berakhir dengan hadirnya solusi.
Solusi terbaik akan kau dapatkan hanya dari satu sumber, yaitu Allah. Entah itu dengan jalan adanya fikiran secara tiba-tiba, keyakinan yang tertanam begitu saja dalam dirimu atau melalui orang lain yang memberikan logika dan keyakinan dihatinya.
Saat permasalahanmu selesai, janganlah kau merasa mampu untuk menyelesaikannya dengan cara yang datang darimu sendiri, cara yang kau dapatkan karena kau mampu.
Saat permasalahanmu selesai, janganlah kau merasa sombong dengan semua itu. Karena kau mampu saat Allah yang membuatmu mampu, memampukanmu untuk menyelesaikan masalah itu.
Intinya semua terjadi karena kehendak Allah, bukan karena kemampuanmu apalagi kesombonganmu.

Memohon ampunlah dengan hati yang penuh syukur akan segala nikmat, karunia, kehendak dan ketetapan dari Allah.

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 04 September 2014

Episode Kehilangan #2

Ada saat dimana semua yang kau miliki akan tiada, karena memang hakikatnya tak ada yang layak kita miliki seutuhnya, dan semua itu adalah milik Allah dan atas izin Allah.
Ada saat dimana semua yang kau rasakan hilang akan kembali, karena memang hakikatnya setiap yang pergi artinya adalah kembali, dan semua itu berupa kasih sayang Allah yang selalu memberikan apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Tapi kehilangan bukan berarti tak terganti, terlebih itu terlihat seperti sangat tidak baik. Kehilangan adalah salah satu tanda pergantian. Kehilangan lingkungan lama, akan ada lingkungan baru, kehilangan sosok lama, akan ada sosok baru, kehilangan benda pun akan ada benda baru. Semuanya hanya berpola hilang dan terganti.
Tapi pastikan, saat ini adalah saat dimana kau akan menjaga sesuatu yang sangat penting yang kau anggap tak terganti. Tanpa lupa mensyukuri setiap pola kehidupan yang ditetapkan Allah untuk semua hamba-Nya.
Episode kehilangan, hal menyakitkan yang berbuah pelajaran.
Bersyukurlah :)

Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 03 September 2014

Maaf, aku sedang lelah

Maaf, meski kesabaran seseorang ada batasnya ternyata energi dan kekuatan yg aku punya tak bisa lebih besar dari harapan yang selama ini tertanam jauh di lubuk hatiku yg terdalam padamu..
Akhir akhir ini aku merasa lemah tak berdaya, tak ada satupun tanda bahwa harapan yang sangat kujaga ini kelak akan menjadi kenyataan..
Dan ternyata saat ini aku sedang berada di puncaknya, aku lelah menunggu kepastian yang tak kunjung kau berikan..
Aku sangat menyadari bahwa aku bukanlah siapa-siapa melainkan hanya hamba Allah, aku tak bisa menolak apa yang diberikan Allah kepadaku, termasuk perasaan dan harapan yang berkali kali ku coba untuk menghilangkannya. Dan tanpa izin Allah, rasanya sangat sulit aku bisa melupakan dan menghilangkan rasa itu begitu saja.
Aku pun tak bisa menyangkal akan semua rencana yang telah Allah tetapkan jauh sebelum aku terlahir ke dunia ini sekalipun. Dan hanya atas izin Allah sajalah semua hal yang diinginkan dan diharapkan bisa terjadi, tanpa doa, ikhtiar dan tawakkal semua hal akan terasa sangat sulit untuk dapat terwujudkan.
Sekali lagi maaf, karena aku sedang lelah.

Ungkapan seorang perempuan yang sedang berada dalam masa penantian. Masa yang terlalu cepat terjadi secara versinya. Tapi ia tak bisa memungkiri itu semua, yang ia tahu adalah Allah sedang memberikan pelajaran yang tak henti hentinya dengan cara terbaik yang bisa dilalui olehnya.
Perempuan itu selalu mengingat perkataan temannya, bahwa penantian seorang perempuan akan hadirnya kepastian bukanlah mengenai kesuksesan. Melainkan rasa aman meski hatinya dititipkan pada orang lain, lelaki yang diharapkannya.
Tegarlah hai kau perempuan.

Sapaan Penantian
Nisa Wiyati Ilahi

Senin, 01 September 2014

Karena Kesedihan Mudah Dihilangkan

Saat kau merasa sendiri, jangan biarkan kau larut disana, karena kesedihan dan kesepian akan mudah datang disaat seperti itu.
Saat kau merasa sedih, jangan biarkan kau larut disana, karena kondisi hatimu bisa saja menguasai pola fikirmu.
Saat kau merasa kesepian, jangan biarkan kau larut disana, karena begitu banyak orang yang menyayangimu tanpa kau sadari sekalipun.

Setiap orang pasti punya masalah, atau sekedar hal hal kecil yang bisa membuatnya sedih dan kesepian. Begitupun dengan diri kita, karena itu adalah hal yang sangat wajar bagi setiap manusia.
Namun, Allah selalu mempersiapkan kemudahan dalam kesulitan, yang artinya juga mempersiapkan kebahagiaan dalam kesedihan. Kau bisa menemukan kebahagiaan itu saat kau berusaha untuk mencarinya. Jika kau tak mencarinya, maka tentu akan terasa sulit kebahagiaan itu kau dapatkan.

Setiap orang juga punya cara sendiri dalam menghadapi masalah, entah itu mencari solusi terbaik atau selalu menjauhkan diri dan menghindar dari permasalahannya. Tapi yang terbaik adalah menghadapi dengan mencari solusi dan jalan keluar.
Oleh karenanya, kita harus senantiasa sadar bahwa setiap masalah pasti akan ada solusinya. Dan caraku menghilangkan kesedihan adalah berkumpul bersama teman teman terdekat. Meski hanya sekedar berbincang dan bercanda tawa bersama sesaat saja, rasanya tak ada beban yang sedang dipikul, tak ada masalah yang harus dicari solusinya, yang ada hanya kebahagiaan bersama mereka.

Berkumpul bersama teman, entah itu meminta solusi dari permasalahan, atau berbincang sederhana selayaknya kawan, selalu saja berakhir dengan canda tawa dan senyuman.

Karena kesedihan itu mudah dihilangkan, saat kau tahu bagaimana caramu menghilangkannya. Terima kasih banyak sahabat.

Sapaan Persahabatan
Nisa Wiyati Ilahi

Minggu, 24 Agustus 2014

Melepaskan dalam Kedewasaan

Sosok itu hilang, sosok penuh tangisan manja yang setiap harinya selalu ditunjukkan.
Sosok itu hilang, sosok penuh keceriaan dan canda tawa yang tak peduli meski teracuhkan.
Sosok itu hilang, sosok penuh kisah tanpa rahasia yang senantiasa diceritakan.
Sosok itu hilang, dan aku tak pernah menyangka hilangnya sosok yang sangat aku rindukan.

Sosok itu hilang, sosok yang penuh dengan kedewasaan dan kasih sayang.
Sosok itu hilanh, sosok yang penuh perhatian dan kepercayaan.
Sosok itu hilang, sosok yang bijak akan setiap pengambilan sikap dan keputusan.
Sosok itu hilang, dan aku tak pernah menyadari hilangnya sosok yang sangat aku butuhkan.

Semakin dewasa seseorang, maka semakin besar pula tuntutan dan tanggung jawab yang ada di pundaknya.
Bukan hanya tentang pola fikir yang tidak boleh menuntut untuk bersikap egois, tetapi juga keikhlasan hati akan perasaan yang merasa sangat berat untuk melepaskan seseorang.
Seorang kakak penyayang, akan selalu merindukan pelukan hangat yang selalu diberikannya pada adik yang sangat disayanginya.
Seorang sahabat sejati, akan selalu siap memberikan pundaknya demi membagi beban ataupun sekedar dijadikan sandaran saat salah satunya merasa perlu bantuan dan saran.
Tapi ada saat dimana semua itu akan menghilang, dan hanya kedewasaanlah yang akan membuat seseorang merasa rela dengan semua itu.
Karena manusia hanya bisa melakukan sesuatu yang sifatnya sementara, selalu saja ada waktu dimana semuanya berhenti ataupun berganti. Kenangan akan menjadikan semuanya seolah abadi.
Kau sudah dewasa, begitupun dengan mereka. Lepaskanlah mereka dengan kedewasaanmu dan kedewasaannya.
Bersikaplah dewasa dalam melepaskan seseorang yang sudah dewasa.

Sapaan Kedewasaan
Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 21 Agustus 2014

Sapaan Kebahagiaan

setiap tempat punya kebahagiaan, jika satu tempat tak memberikan kebahagiaan maka percayalah bahwa tempat lain memiliki kebahagiaan yang telah disediakan.
meski begitu, hanya diri sendiri lah yang bisa membuat seluruh tempat yang didatanginya memberikan kebahagiaan.

setiap orang punya kebahagiaan, jika seseorang tak dapat memberikan kebahagiaan maka percayalah bahwa orang lain bersedia untuk memberikan kebahagiaan dengan suka hati.
meski begitu, hanya diri sendiri lah yang bisa membuat setiap orang yang berada dilingkungannya membuatnya bahagia.

yang terpenting adalah berbahagialah, karena ternyata yang terbaik adalah memberikan kebahagiaan di setiap tempat dimana diri ini berada dan juga memberikan kebahagiaan pada setiap orang di lingkungan sekitarnya.
meski begitu, hanya diri sendiri lah yang menentukan apakah ia akan memilih untuk memberikan kebahagiaan atau diberikan kebahagiaan.

tenanglah, saat tak ada tempat atau orang yang memberikan kebahagiaan, ada Allah yang senantiasa mempersiapkan kebahagiaan tiada tara untuk hamba-Nya yang percaya akan kuasa-Nya.
berikanlah kebahagiaan pada setiap tempat dan setiap orang, dan biarlah Allah yang memberikan kebahagiaan sebagai balasannya.

Sapaan Kebahagiaan
Nisa Wiyati Ilahi

Selasa, 19 Agustus 2014

Berhentilah Mengalah

Malam itu aku belajar, meski sedikit namun sangat penting untuk prinsip yang kutentukan sendiri.
Seorang pribadi melankolis cenderung rela berkorban dan mengalah, begitupun denganku. Apa yang menjadi kebiasaanku adalah mengalah pada orang lain.
Namun, kesalahan yang ada pada sikap mengalah itu terjadi saat apa yang kuharapkan dan apa yang menjadi alasanku untuk mengalah tidak sesuai dengan realitanya.
Alasanku hanya 1, tidak mau menyakiti hati pihak lain, khususnya 1 pihak tertentu. Hal itu terlihat baik dan positif, meski sering berakhir dengan efek negatif.
Karena ternyata dibalik itu semua, pihak yang tersakiti melebihi dari apa yang ku bayangkan, termasuk diriku sendiri.
Apa mungkin aku telah dzalim pada diriku sendiri? Menahan diri untuk menggapai dan menjalankan apa yang sebenarnya kusukai.
Astaghfirullaahal'adzhiim, aku tahu aku salah jika merasa bahwa aku adalah orang yang paling baik. Namun aku harus dan perlu untuk menganggap bahwa aku adalah orang yang baik. Agar aku bisa belajar untuk tidak menyalahkan diriku sendiri.

Kawanku berpesan, kau punya potensi yang luar biasa diluar perkiraanmu. Allah selalu menciptakan makhluk-Nya dengan potensi beragam yang dimiliki masing-masing. Manfaatkanlah itu semua, jika kau suka maka lakukanlah. Kau pantas memilih untuk tidak mengalah pada sesuatu yang salah.

Sapaan Pesan Kawan
Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 14 Agustus 2014

SHAUM SUNNAH DI BULAN MUHARRAM

Oleh: Salman Al Farisi
عَنْ أَبي غَطَفَانَ بْنَ طَريْق الْمُري يَقُوْلُ سَمعْتُ عَبْدَ الله بْنَ عَباس رَضيَ الله عَنْهُمَا يَقُوْلُ حيْنَ صَامَ رَسُوْلُ الله صَلى الله عليه وَسَلمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ أَمَرَ بصيَامه قَالُوا يَا رَسُوْلَ الله إنَهُ يَوْمٌ تُعَظمُهُ الْيَهُوْدُ وَ النَصَارَى فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وَسَلمَ فَإ ا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبلُ إنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَاسعَ قَالَ فَلَمْ يَأْت الْعَامُ الْمُقْبلُ حَتَى تُوُفيَ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم.
(رَوَاهُ مُسْلمٌ)
“Dari Abu Ghatafan Bin Tharif, ia berkata: aku mendengar Ibnu Abbas RA berkata: bahwa ketika rasulullah SAW sedang melaksanakan shaum di hari asyura dan memerintahkan para sahabat agar melaksanakannya, para sahabat berkata: ya Rasulullah! Hari ini adalah hari yang di agungkan oleh kaum yahudi dan nashrani. Rasulullah SAW bersabda: nanti tahun depan insya Allah kita akan melaksanakan shaum tanggal sembilannya. Ibnu Abbas berkata: sebelum datang tahun itu, rasulullah SAW telah wafat”.
(H.R Muslim)
Dalam ilmu hadits, hadits terbentuk dalam 5 bagian:
1.       Hadits qauli, ialah perkataan yang di sampaikan oleh nabi SAW dalam berbagai kesempatan dan berkaitan dengan berbagai hal.
2.       Hadits fi’li , ialah perbuatan yang dilakukan nabi SAW mengenai perkara ibadah dan yang lainnya.
3.       Hadits taqriri, ialah persetujuan nabi SAW terhadap berbagai perbuatan sebagian sahabat dengan tidak menegurnya atau memperlihatkan keridhoan beliau bahkan terkadang memberikan pujian dan dukungan.
4.       Hadits sifati (hadits ahwali), ialah sifat-sifat beliau yang termasuk kandungan hadits.
5.       Hadits hammi, ialah perkara yang berupa keinginan rasul yang belum terealisasikan.

Hadits yang termaktub di atas adalah contoh dari hadits Hammiyah yaitu, yang berupa keinginan rasulullah yang belum terealisasikan. Ketika rasulullah menyuruh kepada para sahabatnya agar shaum pada tanggal sembilannya, ternyata sebelum datang tahun depan rasulullah telah wafat dahulu.
Muharram adalah nama bulan pada awal tahun hijriah, yang di dalamnya terdapat suatu rangkaian ibadah sunnah. Yaitu pada tanggal 9 dan 10 muharram ada yang dinamakan dengan saum sunnah tasu’a asyura. Ketika itu rasulullah sudah melaksanakan shaum di hari asyura, dan memerintahkan para sahabatnya untuk melaksanakan shaum tersebut. Para sahabat pun membantah bahwa pada hari itu lah, hari yang di agung-agungkaan oleh kaum yahudi dan nashrani. Maka rasulullah pun bersabda nanti tahun depan insya Allah kita akan melaksanakan shaum pada tanggal sembilannya.
Menurut penjelasan para ulama, seperti Imam Syafi’i shaum pada tanggal 9 muharram (Tasu’a) sama sunnahnya dengan tanggal 10 muharram (Asyura). Keduanya merupakan rangkaian ibadah shaum sunnah yang ada pada bulan muharram. Dalam hadits rasul di jelaskan:
عَنْ أَبيْ هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْه وسلم: أَفْضَلُ الصيَام بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله الْمُحَرَمُ, وَ أَفْضَلُ الصَلَاة بَعْدَ الْفَريْضَة صَلَاةُ اللَيْل.
“Dari Abu Hurairah R.A, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: puasa yang paling mulia setelah ramadhan adalah puasa di bulan muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (H.R Muslim 3/169)
Sangat dianjurkan bagi umat islam untuk melaksanakan shaum di bulan muharram (tasu’a asyura), karena shaum tasu’a asyura lebih utama setelah shaum ramadhan. Dan pada hari asyura pula terdapat peristiwa yang sangat agung, tatkala pada hari itu Allah menyelamatkan musa dan kaumnya, dan menenggelamkan fir’aun beserta kaumnya. Dalamhadits di jelaskan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ, فَقَالَ لَهُمْ رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا هَذَا الْيَوْمُ اَّلذِيْ تَصُوْمُوْنَهُ, فَقَالُوْا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ أَنْجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَ قَوْمَهُ, وَ غَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَ قَوْمَهُ, فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ, فَقَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَ أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ, فَصَامَهُ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم, وَ أَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW datang ke Madinah, lalu beliau mendapati orang-orang yahudi berpuasa pada hari Asyura, kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, “Hari apa yang kalian berpuasa ini?” mereka menjawab, “ini hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan Allah menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur, dan kami pun berpuasa pada hari ini.” Kemudian Rasulullah berkata, “ Kamilah yang lebih berhak dan lebih utama pada kalian terhadap Musa.” Maka Rasulullah berpuasa pada hari itu, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.{Muslim 3/150}.
Adapun pada hari apa di lakukan shaum Asyura, di jelaskan dalam hadits rasul:
عَنِ الْحَكَمِ بْنِالْأَعْرَجِ قَالَ: انْتَهَيْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ رِدَاءَهُ فِى زَمْزَمَ, فَقُلْتُ لَهُ: أَخْبِرْنِي عَنْ صَوْمِ عَاشُوْرَاءَ! فَقَالَ: إِذَا رَأَيْتَ هِلَالَ الْمَحَرَّمِ, فَاعْدُدْ وَ أَصْبِحْ يَوْمَ التَّاسِعِ صَائِمًا, قُلْتُ: هَكَذَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُوْمُهُ؟ قَالَ نَعَم.
Dari Al-Hakim, dari Al‘raj, dia berkata, “Aku pernah mendetangi Ibnu Abbas ketika ia sedang berbantal selendangnya di dekat Zamzam, lalu aku berkata kepadanya’ ‘Beritahukanlah kepadaku tentang puasa Asyura !’ Ia menjawab,’Jika kamu telah melihat hilal (bukan sabit) pada bulan Muharam, maka hitunglah, lalu berpuasalah sejak Subuh pada hari kesembilan, ‘ Aku bertanya, ‘Apakah Rasulullah SAW berpuasa seperti itu?’ Ia menjawab, ‘Ya.’’’’’ {Muslim 3/151}
Dikalangan masyarakat kita masih belum mengetahui rangkaian ibadah sunnah pada bulan muharram, padahal ibadah tersebut adalah suatu keinginan rasul yang belum tercapai. Oleh karena itu kitalah para pengikutnya serta umatnya yang harus menjalankan sunnah rasul yang belum terealisasikan tersebut. Sedangkantanggal 9 dan 10 muharram (bulan ini) 1435 H jatuh Pada hari rabu dan kamis tanggal 13 dan 14 november 2013. Wallahu a’lam bis-shawwab


Al-Haya Salah Satu Barometer Keimanan

Oleh : Salman Al Farisi
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاَسِ مِنْ كَلَامٍ النُبُوَّةَ الأَوْلَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya diantara apa yang ia dapati oleh manusia dari ucapan para nabi terdahulu,(ialah) apabila engkau tidak punya rasa malu, maka lakukanlah sekehendakmu”.(H.R. Bukhari)
Takhrijhadits.
1.       Shahihbukhari, kitabahadits al- anbiya, bab.Hadits al-ghaar, no.3484, kitab al-adab, bab.Idza lam tastahyiyfasna ma syi’ta.
2.       Sunanibnumajah, kitabaz-zuhdi, bab. Al-haya’ no.4183
3.       Musnadahmad, no.16641,22742.
4.       Shahihibnuhibban, kitabar-raqaaiq, bab al-haya
Syarahmufrodat
اَلْحَيَاءُ: menahandiri (hilangnyasemangat) dariberbuatsesuatudanmeninggalkannyakarenawaspadaatautakutdaricelaanpadanya (karenaperbuatantersebut) (at-ta’rifat, hal.99 no.796:4)
Syarahijmali
Sesungguhnya al-hayamerupakansinyal yang dapatmenerangkantabiatdalamdiriseseorang, jugadapatmenjadiukurankadarkeimanan .
Para ulamamengistinbatkanduahaltentang al-haya, yaitu: pertama, rasa maludapatmenahanseseorangdariberbuatjahatdanma’siat. Kedua, memberiartibahwajikahendakbertindakfikirkanterlebihdahulu, bilamemalukantinggalkanlah.
Makatakheran, bilaada yang menyebutzamansekarangzamanjahilliyahmoderen.Karenamanusiapadazamansekarangsemakinharisemakinmenurunkadarkeimanannya, hilang pula rasa malunya, sampaihancurlahakhlaqnya. Jikainidibiarkan, akhlaqmanusiaakansepertibinatang, takkenaltemanlawansalinghantam, tertekandanmenjatuhkan. Bahkanbisalebih (hina) daribinatang.
Sebagaimanafirman Allah SWT:
“Merekaitubagaikanbinatangternak, bahkanmerekalebihsesatlagi”. (Al-A’raf:179).
Rasulullahbersabda:
وَ فِيْاْلحَدِيْثِ, لَوْلَاأَنَّاللهَسَتَرَالْمَرْأَةُبِاالْحَيَاءِلَكَانَتْلاَتُسَاوِىْكَفّاًمِنْتُرَابٍ. (عُقُوْدُاللُّجَيْنِص: ٦)
Dan padasatuhadits (diterangkan): Seandainya Allah tidakmenutupiperempuandengan rasa malu, tentuialebihrendahdaripadasekepaltanah”.(uqudu al-lujain, hal: 6, Tarbiyah an-nisa, hal: 10)
Dari hadits di atasjelasbahwajikadalamdirimanusiasudahhilang rasa malumakaderajatmanusiaakanlebihrendahdaripadasekepaltanah. Samahalnyaketikaseseorangsudahkehilanganakhlaqnyamakaseseorangituakanlebihhinadaripadabinatang.
اَلْخُلُقْ: Satuungkapantentangsuatubentuk yang menancappadajiwa, bersumberdarinyaperbuatan-perbuatan yang reflex danspontanterjaditanpapemikirandanpertimbangansebelumnya. (At-Ta’rifat, hal 105 no.835)
Dan akhlaqitumerupakangambaranjiwaseseorang, yang kemudiantimbuldan di aplikasikanoleh raga.Secara global akhlaqmenurut Imam Al-Ghazali :adakhuluqhasan ( AkhlaqTerpuji), yang timbuldarinyaperbuatanterpujibaiksecaraakalmaupunsyara’, dankhuluqsayyi’ (AkhlaqTercela) yang timbuldariperbuatantercela. Hal tersebutakanterusberkembangdanterusmeningkatapabilatelahhilang rasa maludalamdiriseseorang, sabdaRasul SAW sebagaimana yang tertulispadamuqaddimah.
Dan dalamhaditslainRasul SAW bersabda:
عَنْ أَبِيْ دَرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : مَا مِنْ شَيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ. (أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِي وَ صَحَّحَهُ)                              
“Dari Abu DardaRA, iaberkata: telahbersabdaRasulullah SAW: Tidakadasesuatupundaripertimbanganamal yang lebihberatdariakhlaq yang baik”.
Olehkarenaitu, jagalahdirikita di area abu-abu.Ada udang di balikbatu.Ada orang dibalikkelabu.Ada misitersembunyi yang merekamau.Bisikansyaithan yang merayu.Tarikannafsu yang mendayu.Makasyurgakanpesanmu, jaga rasa malumu! Olehkarenaitu Al-Hayadiartikanmalu, yang ma’nanyasangatdekatdengan Al-Hayah yang berartikehidupan.Kita haruskembalipadakekuataniman.Dan jagalahsupaya virus-virus itutidakmenyerbudanmenghinakandirikita.Wallahu ‘alambish-shawwab

Menyikapi Perintah Agama

Oleh : Salman Al Farisi
دَعُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْا وَ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Takhrij Hadits
1.       Shahih Al-Bukhari kitab al-I’tisham bil-kitab was-sunnah bab al-iqtida bi sunani Rasulillah no. 6744.
2.       Shahih Muslim kitab al-fadla’il bab tauqiruhu saw wa tarku iktsari su’alihi no. 4348
3.       Musnad Ahmad musnad Abi Hurairah no. 7063, 8310, 9865.
Mufradat
‘Allamah ar-raghib al-asfahani menjelaskan bahwa asal kata istitha’ah adalah Thau’an (tunduk dengan pasrah), kebalikan dari Karhan (tunduk dengan terpaksa). Pengertiannya:
وُجُوْدُ مَا يَصِيْرُبِهِ الْفِعْلُ مُتَأَتِّيًا
Terdapat faktor-faktor yang membuat sebuah pekerjaan terlaksana. (Mu’jam Mufradat Alfazh Al-Quran, hlm. 319).
‘Allamah ar-raghib menjelaskan lebih lanjut, para ulama menyebutkan adanya empat faktor yang dapat mengukur istitha’ah ini, yaitu: (1) Keahlian dari pelaku, (2) pemahaman terhadap jenis pekerjaan, (3) materi pekerjaan, (4) alat, jika pekerjaan membutuhkan alat. Contohnya menulis, seseorang disebut mampu menulis jika ia punya keahlian menulis, tahu itu apa yang dinamakan penulis, ada materi yang akan ditulis, dan ada alat tulisnya. Jika salah satunya saja tidak ada, maka seseorang bisa dikatakan tidak istitha’ah (mampu) menulis. Contoh lainnya, ibadah haji, seseorang dikatakan mampu ibadah haji jika ia punya keahlian untuk melakukan serangkaian ibadahnya, paham apa itu ibadah haji, bagaimana materinya, dan mempunyai alat (bekal) untuk melaksanakannya.
Syarah Hadits
Hadits di atas memberikan arahan kepada umat islam, bahwa dalam menghadapi perintah agama yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana agar bisa melaksanakannya sebagaimana mestinya, bukan malah mempertanyakannya. Hal seperti itu harus dijadikan pegangan agar umat islam tidak seperti umat-umat sebelum islam, yang saking terlalu fokus pada “mempertanyakan”, akibatnya terjebak pada sikap membangkang. Pada awalnya memang sebatas bertanya, tapi karena pertanyaan mendatangkan jawaban, dan semakin terus mereka bertanya semakin banyak pula jawaban yang didapat, mereka kemudian jadi enggan melaksanakannya karena ternyata jawaban-jawaban tersebut memperberat perkara yang pada awalnya sederhana.
Para ulama sepakat bahwa “sikap bertanya” yang dipersoalkan Nabi SAW diatas bukan artinya melarang bertanya, melainkan mengingatkan agar umat islam tidak latah dengan banyak bertanya. Karena sikap seperti itu lekat dengan protes, membangkang, dan pertanyaan lebih terlihat sebagai dalih semata. Banyak sekali tanya jawab dalam Al-quran dan Hadits yang semuanya itu menunjukan bahwa bertanya diperkenankan. Hanya tentu jika pertanyaan diungkapkan dengan sikap yang cenderung protes dan mengelak, itulah yang dilarang Nabi SAW dalam hadits di atas.
Perhatikan misalnya sikap Bani Israil ketika mereka mempertanyakan sapi yang harus mereka sembelih seperti diceritakan QS. Al-baqarah [2] : 67-71. Padahal kalau saja mereka langsung melaksanakannya semampu mereka, masalahnya tidak akan menjadi berat. Tapi karena mereka terus-menerus mempertanyakannya, dan itu sebagai bentuk mengelak dari perintah asal, akibatnya hampir-hampir saja mereka tidak bisa melaksanakannya. Wa ma kadu yaf’alun, demikian ditegaskan Al-quran.
Maka dari itu Rasulullah SAW pun tegas menyatakan, pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan semampu kalian, jangan banyak bertanya. Yang mampu lakukan, yang tidak mampu, sementara jangan dilakukan.
فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
                Apa yang aku perintah, kerjakanlah semampu kalian”.
Jika terus-terusan bertanya,tidak mustahil efek sampingnya akan kembali kepada si penanya. Sesuatu hal yang tentu tidak ada maslahatnya.
“Sesungguhnya orang islam yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lalu jadi diharamkan karena pertanyaan itu”.(Shahih Bukhari kitab al-iltisham bil-kitab was-sunnah bab ma yukrahu min katsratis-su’al wa takallufi ma la ya’nihi no. 6745)
            “Manusia tidak akan berhenti bertanya sampai ia mengatakan: “Allah adalah pencipta segala sesuatu, lalu siapakah yang menciptakan Allah?” (Shahih Bukhari –ibid-no. 6752)
Walau hadits-hadits di atas konteksnya untuk masa ketika turun wahyu, bukan berarti sudah tidak berlaku lagi pada zaman sekarang. Fiqhul-hadits yang bisa kita ambil dari hadits-hadits di atas adalah, dalam menyikapi perintah agama yang qath’i dan ijma’ di kalangan para ulama tentunya diperlihatkan sami’na wa atha’na (sikap patuh dan ta’at), bukan mempersoalkannya seperti yang cenderung marak akhir-akhir ini; mempersoalkan jilbab, waris, larangan menikah dengan non muslim, haji pada tanggal 8-13 dzulhijjah, shalat jum’at yang khusus laki-laki, larangan homoseks, dan lain sebagainya. Dari kesemua ketentuan agama itu, sudah terima saja, yang mampunya laksanakan, yang tidaknya sementara jangan dilaksanakan.
            Dipakai kalimat “sementara”, karena perintah terkait istitha’ah ini ada dua bentuk:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadanya” (QS. Ali ‘Imran : 102).
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun : 16).
Kedua ayat di atas tidak saling me-nasakh (menggugurkan), kedua-duanya tetap berlaku. Yang pertama, perintah untuk bertaqwa dengan sepenuhnya adalah yang pokok. Sementara yang kedua, perintah untuk bertaqwa semampunya, ditujukan bagi mereka yang tidak mampu. Artinya, bagi yang tidak mampu perintah agama itu harus. Terus diusahakan agar mampu dilaksanakan, karena itulah yang pokok. Kalau masih juga tidak mampu, maka itulah yang dimaksud dengan fa-ttaqul-‘llaha ma-statha’tum. Jadi jangan karena alasan tidak mampu, usaha tidak pernah dimaksimalkan, karena itu melanggar perintah Allah, ittaqul-‘llaha haqqa tuqatihi.
Akan tetapi ingat, hal ini hanya berlaku dalam perintah, tidak berlaku dalam larangan. Maka dari itu Nabi SAW tidak menyebutkan ma-statha’tum ketika menyinggung larangan.
فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوْهُ
Maka apa yang aku larang, tinggalkanlah (tidak disebutkan “semampu kalian”).
Menurut para ulama, alasannya jelas, karena larangan menuntut kita “tidak bekerja” atau diam, jadi tidak bisa diterima kalau ada alasan “tidak mampu”. Sementara perintah, menuntut “bekerja”, dan itu artinya harus mewujudkan sesuatu yang akan sangat tergantung pada kemampuan.

Jadi jelasnya, ayat-ayat tentang taklif (tugas) kepada hamba yang disesuaikan dengan kemampuan (seperti la yukallifu-‘llaha nafsan illa wus’aha), mutlak dipahami dengan memperhatikan penjelasan Nabi SAW dalam hadits di atas. Karena al-quran dan hadits saling menjelaskan, tidak bisa dipisahkan. Wallahu a’lam bis-shawab