Kamis, 28 Januari 2016

Cumlaude



Cumlaude, suatu pencapaian hasil perkuliahan mahasiswa dengan rating IPK diatas 3,8 atau disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
Cumlaude, suatu impian dari setiap mahasiswa semenjak awal perkuliahan berlangsung.
Cumlaude, suatu tujuan atas adanya usaha setiap mahasiswa untuk mengusahakan nilai terbaik.
Cumlaude, suatu kebanggaan bagi orang yang mendapatkannya.
Cumlaude, aku tak tahu apakah aku akan mampu mendapatkannya dan layak mendapatkannya?
Di lingkungan sekitarku aku bertemu dengan orang-orang yang kemungkinan besar akan mendapatkan Cumlaude di akhir perkuliahannya. Tapi ada sesuatu hal yang menurutku cukup istimewa yang kudapatkan dari mereka.
Cumlaude bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan nilai A di setiap mata kuliah, tapi juga tentang bagaimana belajar dan berusaha keras, memanfaatkan waktu untuk menjadi seseorang dengan kualitas nilai A. Sehingga nilai A dalam mata kuliahnya akan sesuai dengan nilai A yang tercermin dalam dirinya.
Cumlaude, bukan hanya tentang ahli dan mampu dalam membahas setiap mata kuliah bersangkutan, tapi juga tentang menjelaskan secara singkat dan mudah dipahami oleh rekan-rekan yang meminta bantuannya dalam memberikan penjelasan disetiap mata kuliah.
Cumlaude, bukan hanya tentang memiliki hubungan dan etika yang baik terhadap dosen, tapi juga memiliki hubungan yang baik dengan setiap teman yang dikenalnya, dan terutama dengan Allah yang telah menciptakannya.
Cumlaude, ingin sekali rasanya aku belajar untuk menjadi layak mendapatkannya.
Ini bukan hanya tentang nilai, tapi juga tentang memberi manfaat pada sekitar.
Ini bukan hanya tentang kebanggaan pribadi, tapi juga tentang membantu teman secara tulus dari hati.
Untuk setiap pihak yang sudah memberikan inspirasi dan pandangan baru tentang Cumlaude meski tidak secara langsung, kuucapkan terima kasih. Selamat untuk tercapainya Cumlaude yang membanggakan dalam diri anda.
Salam pembelajar Cumlaude,
Nisa Wiyati Ilahi

Minggu, 03 Januari 2016

Pelangiku



Pelangi terdiri dari 7 warna, meski aku tak memahami makna semua warna disana tapi aku ingin mengenang kalian sebagai pelangi yang ada setelah turunnya hujan, setelah turunnya salah satu keberkahan dari Allah, setelah turunnya sumber harapan bahwa bunga akan segera bermekaran. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Aku seolah melihat 7 warna itu dalam setiap diri kalian masing-masing.
Bagaimana jika kalian anggap saja itu sesuai dan bukan keterpaksaan? Lagipula ini dalam pandanganku, mungkin dalam pandangan kalian warna yang aku tentukan tidak pas dan akan sangat jauh berbeda. Kita anggap ini ungkapan tentang bagaimana caranya aku menggambarkan kalian dalam warna seindah 7 pelangi, yang bersamaan dan berdampingan.
Merah, siapa dia?
Warna merah akan mengingatkanku pada seorang bernama Dian Kirana Pitaloka yang mengajarkanku tentang keberanian. Ia adalah sosok yang sangat pemberani, saat temannya melakukan kesalahan, ia akan berbicara secara langsung bahwa temannya itu telah melakukan kesalahan. Saat temannya terlihat mulai menjauh, ia akan berbicara secara jelas bahwa hubungan mereka perlu diperbaiki kondisinya. Saat temannya bersedih, ia tak pernah ragu untuk bertingkah konyol agar temannya bisa kembali tersenyum. Dan saat temannya bahagia, ia akan mulai membagi keceriaan untuk merasakannya bersama.
Dian itu orangnya berani berbicara, berani bersikap, berani mengambil keputusan, tanpa keraguan dan rasa malu atau canggung, toh itu semua memang pantas dilakukan. Aku belajar berani darinya.
Jingga, siapa dia?
Warna jingga akan mengingatkanku pada seorang bernama Tenzani Dentiyana yang mengajarkanku tentang kekuatan. Ia adalah sosok yang terkadang terkesan masa bodo dengan tanggapan orang lain tentangnya. Saat temannya bersikap merendahkannya atau meremehkannya ia akan memberikan 2 tanggapan, yang pertama adalah tidak fokus pada perkataan temannya itu dengan bersikap masa bodo dan yang kedua adalah bangkit tanpa disadari oleh temannya dan menunjukkan sesuatu yang bisa dilakukan olehnya sendiri tanpa saran dan bantuan siapapun. Saat temannya tidak setuju dengan pendapatnya, terkadang ia bisa bersikap tidak mengikuti kesepakatan dan mengangguk mendengarkan tanpa berkomitmen untuk melakukan hal itu. Meyakini bahwa pendapatnya adalah yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Tenzani itu orangnya kuat secara fisik dan pikiran. Aku belajar kuat darinya.
Kuning, siapa dia?
Warna kuning akan mengingatkanku pada seorang bernama Lia Amalia yang mengajarkanku tentang keceriaan. Ia adalah sosok yang ceria dan hangat, cepat akrab dengan siapapun yang baru mengenalnya. Sikapnya dalam berteman mudah diterima oleh siapapun, pemikirannya dalam mengambil keputusan mudah dikomunikasikan dengan siapapun meski kadang agak sulit dimengerti tapi ia sukses dalam mengkomunikasikannya. Ia menjalani hidupnya dengan senantiasa mengawali hari di pagi yang cerah, dengan penuh semangat mengerjakan rutinitasnya. Menebar energi positif adalah kata kuncinya dalam memberikan semangat pada teman-temannya.
Lia itu orangnya ceria dalam menjalani rutinitasnya dan hangat dalam menjalani kehidupan bersama temannya. Aku belajar ceria darinya.
Hijau, siapa dia?
Warna hijau akan mengingatkanku pada seorang bernama Devi Andriani yang mengajarkanku tentang ketulusan. Ia adalah sosok yang cukup pendiam namun menakutkan, pemalu namun blak-blakan dan lemot namun emosian. Seorang divergent yang terlalu banyak sikap yang tak kupahami ada dalam dirinya. Namun layaknya pohon yang meski banyak macamnya namun tetap rindang dan indah, ia dengan sikap berbeda tetap konsisten dengan ketulusan dalam membantu temannya. Tak jarang ia terlihat mengorbankan dirinya sendiri meski ia tak pernah menyadarinya sendiri terlebih bersedia mengakuinya. Ia memiliki sisi positif yang belum ingin ia lihat sendiri.
Devi itu orangnya tulus dalam membantu tanpa memandang teman mana yang membutuhkannya. Aku belajar tulus darinya.
Biru, siapa dia?
Warna biru akan mengingatkanku pada seorang bernama Shelfira Meisarani yang mengajarkanku tentang kedamaian. Ia adalah sosok yang menghadapi setiap urusan dan perkataan dengan senyuman. Saat ia bersama dengan orang yang penuh dengan emosi, ia bisa saja ikut dalam emosi itu secara berlarut namun ia seringkali memilih diam dan tersenyum masam. Mungkin terkesan masa bodo, itu yang selalu ia ungkapkan namun aku tahu itu rasa memaafkan karena ia cinta kedamaian. Ia hanya belum bisa konsisten dalam memutuskan caranya dalam menebar kedamaian pada orang-orang disekitarnya. Hingga hanya orang-orang tertentu saja yang paham bahwa ia adalah seseorang yang mencintai kedamaian.
Shelfira itu orangnya cinta damai, pemaafdan penuh senyuman. Aku belajar menemukan kedamaian dalam diriku darinya.
Nila, siapa dia?
Warna nila akan mengingatkanku pada seorang bernama Fani Setiani yang mengajarkanku tentang kesederhanaan. Ia adalah sosok yang tenang dalam menghadapi situasi menegangkan, menghargai pendapat dan perkataan orang lain meski terkadang ada sedikit banyak perbedaan dengan pendapatnya sendiri. Saat temannya berada dalam kesulitan, ia akan menawarkan bantuan dengan mengulurkan tangannya, saat temannya berada dalam kesedihan, ia akan menguatkan, berbicara dengan penuh kelembutan.
Fani itu orangnya sederhana dalam bersikap, tak terkesan bertele-tele. Aku belajar bersikap sederhana darinya.
Ungu, siapa dia?
Warna ungu akan mengingatkanku pada seorang bernama Tita Sobariah yang mengajarkanku tentang kekayaan. Ia adalah sosok pekerja keras yang rajin dalam menekuni bidang yang disukai olehnya. Saat ada tuntutan yang mengharuskannya melakukan sesuatu yang tidak terlalu disukainya, ia akan bekerja keras utnuk melewatinya dan mendapatkan hasil terbaik atas usaha dan jerih payahnya. Jika ada suatu tantangan, ia akan sangat menyukainya dan melewatinya dengan penuh semangat dan pembelajaran. Seorang individualis yang memberikan banyak dorongan dan motivasi pada teman-temannya dan orang-orang disekitarnya. Ia begitu kaya akan pengalaman, perjuangan, pengetahuan, keterampilan dan keinginan.
Tita itu orangnya kaya akan impian dan itu membuatnya selalu belajar dan berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik. Aku belajar untuk kaya darinya.


Pelangiku. Terima kasih selalu hadir setelah hujan datang. =’)

Salam pecinta hujan,
Nisa Wiyati Ilahi