Jumat, 26 Oktober 2018

Tentang Marah

Marah itu butuh energi yang banyak. Bahkan lebih banyak dari energi sabar. 
Kalo sabar, energi yang dibutuhkan hanya untuk menahan diri.
Kalo marah, energi yang dibutuhkan tidak hanya untuk melampiaskan emosi namun juga menenangkan diri agar bisa berhenti merasakan marah.
Tapi kadang seringnya malah marah daripada sabar.
Seringnya buang2 energi buat melampiaskan emosi daripada buat menahan diri.
Seringnya nyesel dulu udah ngomel2 panjang lebar daripada mengendalikan diri supaya nggak bicara meski hanya satu kata.
Belum lagi, seringkali diawali dengan astaghfirullaah.
Padahal nyatanya kalimat astaghfirullaah itu lebih banyak diucap ketika gak enak hati karena abis ngerasa emosi, ngomel2 karena marah tadi.
Benarlah adanya bahwa yang kuat bukanlah pegulat, bukanlah orang yang tak terkalahkan dalam sebuah pertarungan adu kuat. Namun yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya, mampu mengendalikan dirinya ketika sedang marah.

- ليس الشديد بالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب - متفق عليه  
Dan benarlah adanya bahwa kata2 yang keluar saat marah seringkali berlebihan, karena didominasi oleh perasaan dibandingkan pikiran. Berbeda dengan nasihat yang berupa penyampaian pikiran yang disampaikan dengan penuh perasaan.

Akhir kata, bukankah pada kenyataannya nasihat lebih mudah diterima oleh pikiran dan perasaan dibandingkan dengan omelan dan kemarahan?

...teriring doa,

اللهم اغفرلي ذنبي و اذهب غيظ قلبي و اجرني من مضلات الفتن آمين

Sabtu, 20 Oktober 2018

Restu dari Semesta part 1

Saat rasa selalu memaksa,
juga seringkali tak bisa dipaksa,
aku terpikir tentang pentingnya restu dari semesta.

Semesta, selalu punya cara.

Minggu, 07 Oktober 2018

Memaknai Kehidupan: Lomba

Bicara tentang lomba, rasanya tak ada yang asing dengan istilah ini.
Dalam berbagai tingkat pendidikan, senantiasa ada lomba.
Di berbagai tempat di belahan dunia, pun ada lomba.
Entah yang berhubungan dengan pengetahuan ataupun olahraga.