Minggu, 31 Juli 2016

Langkah pilihan



Pernahkah kau melangkah namun tak tahu alasan kenapa kau mengambil langkah tersebut?
Pernahkah kau melakukan sesuatu yang rasanya bukan keinginan dirimu sendiri juga bukan tuntutan dari lingkungan sekitarmu?
Pernahkah kau memilih dan memihak terhadap sesuatu hal namun kau tak mengerti dorongan apa yang membuatmu bersikeras untuk memilih dan memihaknya?
Jika kau pernah mengalaminya, bisakah kau ceritakan padaku hal apa yang terjadi setelahnya?

Minggu, 17 Juli 2016

Prasangka



Ini tentang Prasangka
Iyyakum wa dzanna fa inna dzanna akdzabul hadits
(Jauhilah oleh kalian prasangka karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan).
Dzann, prasangka, pernah dengar istilah suudzan dan husnudzan? Atau mungkin bahkan sudah paham?
Suudzan mengarah kepada prasangka buruk sedangkan husnudzan mengarah kepada prasangka baik.
Lantas, bagaimana kita menanggapi prasangka yang akan selalu ada dalam diri kita? Karena manusia tidak luput dari kesalahan bukan? Dan mungkin saja prasangka itu adalah sesuatu yang termasuk dalam kesalahan itu sendiri.
Jadi kita perlu mengingat 2 hal,
Pertama, hal yang diawali dengan buruk akan berakhir dengan buruk pula. Jikalau akhirnya prasangka buruk itu salah, maka sungguh perasaan malu dan bersalah akan menyelimuti hati dan pikiran kita. Jikalau pun benar, yakin akan membawa kebaikan dan ketenangan pada hati dan pikiran? See. Hindari prasangka buruk.
Kedua, hal yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula. Jikalau akhirnya prasangka baik itu salah, meskipun perasaan kesal dan kecewa akan menyelimuti hati dan pikiran tapi sungguh itu bukti bahwa Allah menyayangi kita. Allah menunjukkan hal tersebut agar kita tak semakin tenggelam dalam hal yang hanya berakhir pada kekecewaan dan kesalah pahaman yang berlarut-larut. Jikalau pun benar, sudah barang pasti membawa ketenangan pada hati dan pikiran. See, usahakanlah untuk selalu berprasangka baik.
Meski begitu, ada seseorang yang pernah memberi tahu saya bahwa berprasangka mengenai perasaan seseorang adalah hal yang keliru alias ‘teu kaci’ katanya. Dan saya paham karena bahkan seseorang yang hangat pun tak selalu mengekspresikan perasaannya melalui keramahan sikap. Begitupun dengan seseorang yang terhitung kasar dan egois pun tak selalu mengekspresikan perasaannya melalui keacuhan sikap. setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menanggapi perasaan yang ia rasakan. *maaf sedikit intermezzo
Salam,
Seseorang yang penuh ‘prasangka’.

Selasa, 05 Juli 2016

Jika Anda Bersedia Membaca



Seperti yang telah kita ketahui bahwa hari raya Idul Fitri telah datang, tanpa terasa bulan Ramadhan yang suci telah pergi. Semoga amalan kita selama bulan Ramadhan dapat di terima oleh Allah SWT. Aamiin. Karenanya saya pribadi mengucapkan.
تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم من العائدين و الفائزين كل عام و أنتم بخير آمين
Sebelumnya, perkenalkan nama saya Nisa Wiyati Ilahi.
Saya mungkin adalah salah satu dari beberapa teman dekat anda, atau salah satu orang yang hanya sekedar anda kenal dan anda tahu saja.
Tulisan ini saya buat dalam rangka permohonan maaf, yang tentunya diharapkan juga dapat menjadi pengingat bagi kita semua.
Berbicara tentang manusia yang merupakan sosok dengan berbagai macam kesalahan dan khilaf yang dilakukan, maka tentu sudah pasti saya pribadi pun memiliki kesalahan kepada setiap orang yang saya kenal baik itu disadari maupun tidak.
Jika ada yang menganggap bahwa saya adalah orang yang baik, maka mari kita ingat bahwa terkadang seseorang dipandang baik adalah karena Allah telah menutupi aibnya. Oleh karenanya sudah pasti bahwa saya pun telah tertutup aibnya ketika dipandang sebagai orang yang baik. Dan jika ada yang menganggap bahwa saya adalah orang yang tidak baik, maka saya harap akan ada pengingat dan pemberitahuan kepada saya pribadi agar saya bisa memperbaiki diri, bukan dengan tujuan agar terlihat baik, tetapi agar benar-benar belajar dan membiasakan diri untuk menjadi seorang hamba Allah yang taat.
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah bersikap sebagai seseorang yang ingin terlihat baik, menunjukkan ketulusan yang bahkan tidak terasa sedikitpun dalam hati saya. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah bersikap sebagai seseorang yang begitu perhatian, padahal nyatanya terlihat dan terkesan mengganggu, atau mungkin justru sebagai seseorang yang begitu cuek dan tidak peka. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah berucap pujian atau justru kekecewaan pada seseorang, yang bahkan tanpa terpikir sekali pun bahwa ada kekeliruan dalam diri saya sehingga terucaplah kalimat pujian dan kekecewaan itu, yang bahkan tanpa terpikir sekali pun bagaimana perasaan dari orang yang mendengarnya. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah melakukan kesalahan berulang, entah itu kesalahan yang bisa dimaklumi atau kesalahan fatal yang dilakukan pada teman yang sangat dekat dan akrab, hingga rasanya sudah merasa yakin dan percaya diri bahwa dia akan bersedia memaafkan dan memaklumi. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah berlagak seperti orang yang paling paham, orang yang paling tahu, orang yang paling benar, dalam sesuatu hal, tidak bersedia mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain yang bisa memperbaiki pemikiran saya, perilaku saya. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Siapa sangka jika nyatanya secara sadar ataupun tidak saya pernah menyebabkan orang lain membicarakan saya di belakang, merasakan emosi dan amarah berlebih yang entah tertahankan atau terlepaskan, merasakan ketidak nyamanan akan keberadaan saya di sekitarnya, merasakan ketidak terbukaan dalam bercerita tentangnya sedang saya terus menerus mengganggunya dan bercerita padanya, menyebabkan orang lain mengalami penyakit hati, menyebabkan orang lain berprasangka buruk akibat perilaku yang buruk dari saya, atau mungkin bahkan sebaliknya, saya lah yang membicarakan di belakang, memiliki penyakit hati dan berprasangka buruk. Bukankah itu termasuk dalam sebuah kesalahan?
Manusia itu tempatnya salah dan lupa bukan?
Oleh karenanya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dari hati yang sedalam-dalamnya. Jika saya pernah melakukan kesalahan dan melupakan kebaikan, semoga dapat dimaklumi dan dimaafkan serta untuk ke depannya diberikan teguran.
Terima kasih banyak untuk kesediaan dalam membaca tulisan ini. Semoga Allah memberikan ampunan-Nya kepada kita semua. Wassalam.