Ini
tentang Prasangka
Iyyakum wa
dzanna fa inna dzanna akdzabul hadits
(Jauhilah oleh
kalian prasangka karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya
perkataan).
Dzann, prasangka,
pernah dengar istilah suudzan dan husnudzan? Atau mungkin bahkan sudah paham?
Suudzan mengarah
kepada prasangka buruk sedangkan husnudzan mengarah kepada prasangka baik.
Lantas, bagaimana
kita menanggapi prasangka yang akan selalu ada dalam diri kita? Karena manusia
tidak luput dari kesalahan bukan? Dan mungkin saja prasangka itu adalah sesuatu
yang termasuk dalam kesalahan itu sendiri.
Jadi kita perlu
mengingat 2 hal,
Pertama, hal yang
diawali dengan buruk akan berakhir dengan buruk pula. Jikalau akhirnya
prasangka buruk itu salah, maka sungguh perasaan malu dan bersalah akan
menyelimuti hati dan pikiran kita. Jikalau pun benar, yakin akan membawa
kebaikan dan ketenangan pada hati dan pikiran? See. Hindari prasangka buruk.
Kedua, hal yang
diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula. Jikalau akhirnya prasangka
baik itu salah, meskipun perasaan kesal dan kecewa akan menyelimuti hati dan
pikiran tapi sungguh itu bukti bahwa Allah menyayangi kita. Allah menunjukkan
hal tersebut agar kita tak semakin tenggelam dalam hal yang hanya berakhir pada
kekecewaan dan kesalah pahaman yang berlarut-larut. Jikalau pun benar, sudah
barang pasti membawa ketenangan pada hati dan pikiran. See, usahakanlah untuk
selalu berprasangka baik.
Meski begitu, ada
seseorang yang pernah memberi tahu saya bahwa berprasangka mengenai perasaan
seseorang adalah hal yang keliru alias ‘teu kaci’ katanya. Dan saya paham
karena bahkan seseorang yang hangat pun tak selalu mengekspresikan perasaannya
melalui keramahan sikap. Begitupun dengan seseorang yang terhitung kasar dan
egois pun tak selalu mengekspresikan perasaannya melalui keacuhan sikap. setiap
orang memiliki caranya masing-masing untuk menanggapi perasaan yang ia rasakan.
*maaf sedikit intermezzo
Salam,
Seseorang yang
penuh ‘prasangka’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar