Skripsi itu kadang berkaitan sama hati, mood ngerjain skripsi, segala macam tahapan uji yang bikin baper. hadeuh -,- -,-
Kadang berkaitan juga sama diri sendiri, dosen pembimbing skripsi, sama sekolah yang mau diteliti yang bikin emosi. hadeuh -,- -,-
-Senin, 22 Maret 2016-
Skripsi itu bukan hanya tentang ngerjain bab per bab nya, tapi skripsi itu adalah suatu karya, karya tulis ilmiah, penentuan syarat kelulusan, yang kelak harus dipertanggung jawabkan saat sidang.
dan berbicara tentang sidang, bukan hanya tentang acc dan tanda tangan dari dosen pembimbing skripsi, tapi juga tentang usaha yang dilakukan, waktu yang dihabiskan, tenaga yang dikorbankan.
setelah itu semua, yang terpenting adalah keyakinan, kapan pengerjaan skripsi ini akan selesai, kapan karya ilmiah ini dipertanggung jawabkan, kapan waktunya sidang, itu sangat berhubungan erat dengan keyakinan.
keyakinan pada kemampuan diri sendiri, setelah keyakinan pada Allah SWT untuk memampukan dan menghendaki acc, tanda tangan, dan sidang itu terjadi.
-Senin, 18 April 2016-
Pengerjaan skripsi itu tidak membutuhkan waktu yang lama, begitupun dengan pengerjaan revisian. Komentar dan perbaikan oleh dosen pembimbing di setiap bab nya, entah itu dicoret, entah itu dilipat, entah itu dibicarakan saja, sebenarnya tak butuh waktu berhari-hari untuk mengerjakannya. Jika dihitung-hitung maka mungkin hanya dibutuhkan waktu maksimal sekitar 5 hingga 9 jam lamanya. Terkecuali ada hal yang harus kau lakukan dibalik itu semua demi kelancaran skripsi, kita tandai pembahasan ini dengan pengolahan data yang mana setiap peneliti akan membutuhkan waktu yang berbeda untuk mengolah data yang menghasilkan jawaban atau pernyataan yang sesuai harapan. Kembali lagi pada waktu, sungguh hanya butuh beberapa jam saja untuk melakukan revisi bahkan tidak sampai satu hari satu malam, cukup dengan satu hari saja atau satu malam saja. Itulah mengapa ada yang mampu mengerjakan skripsi dalam rentang waktu 1 sampai 3 bulan, namun ada juga yang justru menghabiskan waktu selama 4 sampai 6 bulan atau lebih. Terlepas dari bagaimana tanggapan dosen pembimbing, jika kita membahas waktu sungguh hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk revisi. Lantas, apa yang membuatnya menjadi berhari-hari? Sepertinya, harus ada semangat dalam mengerjakan skripsi, semangat yang terkadang terkumpul hanya dalam beberapa menit atau justru membutuhkan waktu berhari-hari untuk mendapatkannya. Fokus yang terkadang tak bisa terganggu oleh hal apapun, namun juga terkadang sangat terganggu oleh hal se-sepele apapun. Detail, ideal, sikap yang terkadang membuat pengerjaan menjadi terlihat sempurna namun terkadang juga seolah terlihat masih saja terdapat kesalahan didalamnya.
Tapi, yang paling penting dalam pengerjaan skripsi adalah menyeimbangkan waktu dimana tugas duniawi ini dengan kebutuhan ukhrawi. Jika waktunya shalat, maka shalatlah sesegera mungkin di awal waktu. Jika ada kesempatan mengerjakan yang sunnah, maka kerjakanlah dengan tanpa ada perasaan terbebani dengan belum selesainya pengerjaan skripsi dan revisi. Jika buku panduan skripsi senantiasa kau jadikan buku landasan, maka buku panduan kehidupan pun tak pernah boleh kau abaikan.
Menurutku, dengan menyeimbangkan dan mengerjakan setiap hal sesuai porsinya, sesuai kebutuhan dalam diri kita, maka itulah pengerjaan skripsi dan revisi yang paling efektif dan efisien. Percayalah.
-Sabtu, 23 April 2016-
Kamis, 24 Maret 2016
Jumat, 11 Maret 2016
Kota Istimewa
Sempat ku lakukan usaha secara langsung untuk mewujudkan setiap
keinginan tadi. Namun Allah berkehendak lain, karena ternyata statusku saat ini
adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi untuk
mendapatkan gelar sarjana di bidang Pendidikan. Ya, aku adalah mahasiswa dari
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Kota istimewa ini ku singgahi ketika kakak laki-laki ku menjadi
seorang mahasiswa di Yogyakarta. Ia sempat membantuku saat menjalani ujian
masuk universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda. Dan saat aku
memutuskan untuk memilih menetap Bandung dibandingkan merantau ke Yogyakarta,
banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga beberapa waktu lalu.
Meski aku sangat ingin menjalani studi di kota istimewa, lantas
kenapa rasanya setiap langkah yang ku ambil untuk menetap di Bandung terasa
lebih mudah dan seolah terlihat lebih membanggakan dengan dukungan dari
orang-orang terdekat.
Hingga suatu hari, terpilihlah seseorang untuk menjadi pendamping
dan pembimbing dalam kegiatan Temu Ilmiah Nasional FoSSEI ke XV di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Orang itu adalah aku.
Dengan kondisi yang sama, rasanya meski begitu sulit bagiku untuk memutuskan
dan hampir kuambil keputusan untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut, langkah
dan jalan yang harus ku ambil seolah dipermudah dan diperlancar segala
sesuatunya. Pendaftaran sudah ditutup, namun aku masih diberikan waktu lebih
untuk mendaftar. Orang yang mampu menggantikanku menjadi official memiliki
acara yang lebih penting yang tidak bisa ditinggalkan. Tugas skripsi yang
terhenti selama 2-3 minggu karena kesibukan dosen pembimbing dapat terlaksana
tepat pada waktu sebelum keberangkatan menuju kota istimewa.
Sejenak aku berpikir, apa mungkin ada sesuatu yang kelak akan aku
dapatkan hanya jika aku mengikuti rangkaian acara Temilnas ini? Nyatanya, ada.
Bertahun-tahun menjadi penduduk daerah Lembang, membuatku tidak
terbiasa untuk berada di lingkungan dengan suhu yang berbeda dengan daerah
Lembang. Begitupun dengan kota istimewa ini. Masih untung jika aku tidak
mengeluh dalam keadaan seperti ini, lalu jika aku mengeluh maka mungkin dalam
jarak studi 4 tahun aku tak bisa terfokus untuk memahami pembelajaran. Mungkin saja
ini hal sepele, tapi aku rasa ini akan patut ku pertimbangkan sebagai alasan
kenapa aku memutuskan untuk menetap di Bandung.
Tapi, meski begitu poin utamanya adalah, aku menganggap bahwa ini
adalah kota istimewa. Kota yang setiap kali aku singgah disana aku merasa
bahagia dan bangga. Siapa sangka jika aku memutuskan untuk merantau aku akan
tetap menganggap bahwa jogja se-istimewa-itu.
Lagipula, menurut salah satu pembicara dalam rangkaian acara ini,
bahkan untuk daun kering yang jatuh pun tidak akan mungkin dan tidak akan
pernah luput dari kekuasaan Allah. Oleh karenanya, aku disini, saat ini, berada
di kota istimewa, adalah ketetapan Allah. Dan aku disana, menjalani studi
selama 4 tahun, di kota idaman, adalah ketetapan Allah juga. Aku percaya itu. Semoga
aku akan lebih memahami makna mendalam tentang hal itu.
Saat salah satu pertanyaan ku terjawab, tetiba saja muncul
pertanyaan lainnya.
Ada seorang lelaki baik yang ku kenal di kota istimewa ini, apakah
Allah akan mengizinkan aku melihatnya? Pertanyaan ini kuajukan dalam ruang
lingkup melihat, bukan bertemu terlebih bertegur sapa. Itu diluar kuasa dan
kendaliku sendiri.
Minggu, 06 Maret 2016
Harapan, Perjuangan, Kemenangan
Harusnya ketika seseorang memiliki harapan yang besar maka ia
pun akan memberikan usaha yang besar. Karena hasil tidak akan mengkhianati
usaha, itu terbukti secara pasti. Usaha dalam mewujudkan harapan akan bisa
tergambarkan dalam kata perjuangan.
Karena hasil akan selalu bergantung pada usaha, maka
kemenangan yang ingin diraih perlu didukung dengan adanya perjuangan.
Apa kau pernah melihat seseorang atau mungkin beberapa orang
yang selalu menang?
Apa kau pernah melihat sejauh apa orang tersebut berjuang?
Apa kau tahu sedalam apa harapan yang ia tanamkan?
Aku pernah, bahkan aku mengenalnya dengan cukup baik sebagai
rekan kerja. Kami tidak terlalu akrab dan dekat satu sama lain, kami hanya
bekerja bersama, itu saja.
Yang ku tahu, setiap apa yang ia harapkan hasilnya selalu
berakhir dengan label kemenangan.
Yang ku tahu, setiap apa yang ia perjuangkan selalu dilakukan
dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang disertai dengan perjuangan bersama
penduduk bumi maupun langit.
Lantas, ketika perjuangan bersama penduduk bumi tak
ditampakkan secara terang-terangan olehnya bagaimana mungkin perjuangan bersama
penduduk langit mampu terlihat jejaknya?
Aku sungguh malu padanya, ia senantiasa menang karena ia
menggantungkan harapan dengan penuh kebaikan didalamnya dan ia mengusahakan
perjuangan secara totalitas dalam dirinya. Namun yang terpenting adalah ia
senantiasa merasa belum cukup sehingga ia terus belajar hingga menemukan
harapan baru lagi.
Tak dapat rasanya ia disetarakan denganku. Jika dibandingkan,
harapan yang kumiliki tak pernah ku besar-besarkan dalam benak diri. Perjuangan
yang kulakukan tak pernah menjadi sebuah totalitas dalam gerak diri. Hingga
akhirnya kemenangan yang kudapatkan tak pernah membuatku ingin belajar kembali
terlebih menumbuhkan harapan baru lagi.
Lantas, ketika suatu hari aku mendapatkan kemenangan, apakah
itu tamparan untuk diri?
Yang pasti, saat ini aku sungguh malu namun sangat berterima
kasih padanya. Telah mampu membuatku tersadar bahwa seringkali aku mengabaikan
kemenangan yang kudapatkan. Aku tak mensyukurinya dengan kembali belajar, aku
terlalu membanggakannya dengan tak lagi menumbuhkan sebuah harapan.
Kini aku tahu mengapa aku selalu berada di posisi terbawah
sedang ia berada di posisi teratas. Itu karena aku tak pernah memberikan totalitas
dalam diri untuk berjuang, sedang ia bahkan melampaui batas diri agar mampu
berkembang dan menang.
Ketika aku dan dia menang di waktu bersamaan, apa artinya
semua ini?
Langganan:
Komentar (Atom)