Rabu, 29 Oktober 2014

Bahagialah :)

Ujian memang tak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, karena dalam kehidupan pun ada begitu banyak ujian. Ujian hati, ujian fikiran, ujian beban, ujian kejadian, ujian harta, atau bahkan hingga ujian cinta, ujian keimanan, keikhlasan, keyakinan, dan berbagai macam ujian lainnya.
Wajar saja jika seseorang merasa sedih dan kebingungan saat ia sedang dihadapkan pada suatu ujian. Tapi tak usahlah rasanya jika kesedihan tersebut di umbar-umbar di muka umum. Cukup ceritakan semua keluh kesahmu pada Allah.
Berbahagialah, karena ujian adalah salah satu tanda bahwa Allah menyayangimu, menyadarkanmu, dan ingin melihatmu kembali berjuang untuk-Nya , menangis hanya karena-Nya, bukan karena keadaan atau makhluk ciptaan-Nya yang dijadikan nikmat, musibah, atau ujian untukmu.
Berbahagialah.

Nisa Wiyati Ilahi

Minggu, 26 Oktober 2014

Menikah?

Waktu menunjukkan sekitar pukul 5 pagi, tumben sekali adik kecil laki-lakiku bilal sudah terbangun. Terdengar suara tv yang dinyalakannya saat aku masih terduduk di mushala membaca al-qur'an.
Setelah selesai, kurapikan mukena yang kukenakan dan kusimpan di tempat semula. Bilal terlihat berlari ke kamar, aku yakin ia sedang mencari handphone milikku, handphone ini.
Akhirnya, aku bersegera menyusulnya ke kamar, dan kuambil handphone itu menyusulnya. Ia menundukkan wajah, menunjukkan ekspresi kesedihan karena handphone nya sedang kupegang. Akhirnya kucubit saja wajah lugu nya yang baru saja terbangun itu. Ia tersenyum, bergegas keluar kamar dan memainkan handphone di tempat tidurnya.
Tak kusangka ada perbincangan yang tak kusangka setelahnya.
"Jangan ganggu, ade lagi mainin hp ade" kata  Bilal.
"Kata siapa itu hp punya ade?" balasku.
"Kata ade". Ku kelitiki saja dia, dan dia tertawa kemudian,
"Kan teteh pernah bilang, kalo teteh udah nikah, hp nya buat ade"
"Kapan?"
"Waktu itu teteh bilang" bilal keukeuh dengan ucapannya.
Terdengar suara tertawa nyengeh umy yang sedang memasak di dapur, seraya berkata,
"Kapan de nikahnya juga, jangankan nikah calonnya aja belum ada"
"Hahaha.." aku hanya tertawa.
Umy, tenanglah, anakmu ini masih semester 5 dan berumur 19 tahun. Izinkanlah anakmu untuk menuntut ilmu, berprestasi, dan membanggakan kedua orang tuanya sebelum ia menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya, serta mengutamakan pengabdian padanya.

Love you umy,
Nisa Wiyati Ilahi

Sabtu, 25 Oktober 2014

Dia adalah dosenku

Namanya 'Pemimpin yang Terpuji'
Dia adalah seorang pendidik yang bersikap layaknya dosen pada umumnya, memberikan materi, mengevaluasi, dan menilai setiap anak didiknya.
Dia adalah seorang penasehat yang selalu mengingatkan pada setiap orang yang dikenalnya bahwa hidup harus dinikmati dengan ibadah dan kehalalan, meski kehidupan dan kenyataan terkadang tak sesuai dengan harapan.
Dia adalah seorang pembina yang dijadikan konsultan karena kepintaran dan kecerdasannya dalam berfikir, bekerja, bersosialisasi, berbisnis, bahkan aktualisasi diri.
Dia adalah dosenku, terserah kalian menyebutnya apa, terserah kalian menganggapnya apa, yang kutahu dia adalah dosenku dan dia adalah salah satu pihak yang berperan dalam kehidupanku, pemikiranku, dan sikapku.
Ia mengajarkan tentang ciri-ciri kepribadian seseorang, cara-cara berfikir seseorang, dan banyak hal lainnya.
Terima kasih pak, semoga Allah membalas jasamu dengan lebih baik dari setiap apa yang kau berikan. Aamiin. :)

Kamis, 23 Oktober 2014

Pelangi guntur #6

Bahkan saat kau sendirian pun, aku selalu melihatmu sebagai sosok yg sempurna, guntur.

Salam,
.....

Sejatinya, kau bukanlah orang yang sempurna pelangi. Karena hakikatnya kesempurnaan itu hanya milik Allah saja.
Dan saat terlintas dalam fikirku bahwa kau adalah orang yg sempurna, maka Allah lah yang telah memberikan pandangan itu padaku. Pelangi, kau sempurna bagiku atas izin-Nya.

Salam,
.....

Sabtu, 18 Oktober 2014

Terima kasih sahabat

Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk berterima kasih pada kalian, 2 orang terhebat yang menemaniku di perjalanan penemuan jati diriku, perjalanan untuk mengejar cita-citaku, dan setiap langkah pembelajaranku dalam hidup.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk mengungkapkan dan mengakui bahwa kebahagiaan itu ada, senyuman itu selalu ada, terutama saat kita bersama, entah bercanda tawa, bercerita, atau memberi nasihat antar ketiganya.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk menyadari bahwa saat ini separuh dari jati diriku, separuh dari pemikiranku, separuh dari sikap dan setiap keputusanku, terkontaminasi oleh jati diri, pemikiran, sikap dan keputusan keduanya.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk bersyukur pada Allah karena telah mengirimkan 2 bidadari ini dalam perjalanan hidupku, bahkan dijadikan sebagai sahabatku.

Mungkin seorang Lia Amalia akan menangis terharu, aku tak tahu.
Mungkin seorang Shelfira Meisarani akan tertawa meledek, aku tak tahu.
Tapi ini memang tentang kalian, ksepercik kebahagiaan yang kutemukan di bangku perkuliahan.

Jazaakillaah khairan katsiir :)
Hanya Allah yang bisa membalas semua ini pada kalian.

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 16 Oktober 2014

Pelangi guntur #5

pagi ini penuh kabut, hujan deras masih belum berhenti sejak kemarin malam. dingin sekali udara yang kurasakan, tapi tetap mengingatkanku pada seseorang, ya dialah guntur.
kugunakan jas hujan milikku, tak mungkin mengendarai motor tanpanya dengan kondisi hujan seperti ini. ayah bilang ia khawatir jika aku mengendarainya sendiri, jadi aku akan diantar ayah ke kampus.
diperjalanan, saat lampu merah, diseberang jalan kulihat guntur menghentikan sepeda motornya, apa yang akan dilakukannya?
oohh, ternyata ia bersegera  membantu seorang kakek yang sudah tua renta turun dari angkutan umum.
si kakek terlihat kesulitan, kakinya gemetar, mungkin lemas, kedinginan, dan sudah tak sekuat dulu lagi.
guntur mengulurkan tangannya, menjadikan pundaknya pegangan bagi si kakek untuk turun dari angkutan umum. setelah itu, ia papah si kakek ke tempat duduk terdekat. ia berbincang sebentar dengannya, sedikit mengerutkan dahi lalu pergi. aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan  tapi sepertinya ia berpamitan pada kakek itu, karena seperti biasanya hari ini  jadwalnya bekerja di pagi hari. tunggu dulu, dari mana aku tahu? aahh kau terlalu menunjukkan perhatianmu padanya.
guntur, kau orang yang tegas, bahkan bisa kubilang keras. tapi jauh didalam hatimu ada kelembutan yang membuatmu menolong siapapun yang kesulitan, bahkan saat kau sendiri pun sedang terburu-buru untuk bepergian. dan kau punya keperluan, tapi kau luangkan waktumu untuk memberikan bantuan.
guntur, aku yakin kau lelaki yang baik.

Selasa, 14 Oktober 2014

Pelangi guntur #4

sore itu teduh , warna awan selaras dengan sorot mata pelangi. dan di waktu yang bersamaan kulihat ia sedang duduk di bangku taman, membaca buku ditemani adik perempuannya. kudekati mereka dan berhati", jangan sampai pelangi tau aku ada disini, menguping pembicaraan mereka.
"kak, boleh aku bertanya sesuatu?" adik kecilnya mulai berbicara.
"kenapa? tanyakan saja" jawab pelangi sambil tetap memperhatikan buku, membuka halaman selanjutnya dan tak menoleh sedikitpun. tapi nada suaranya selalu ramah, merangkul.
"perasaan itu kan anugerah, lalu kenapa justru aku merasa lelah?"
pelangi menoleh pada adiknya, menutup buku bacaannya kemudian tersenyum.
"kau bilang perasaan itu anugerah bukan?" adiknya menganggukkan kepala, "kalau begitu, saat kau lelah cobalah kau tengok imanmu, jangan" kondisi imanmu sedang lemah" lanjutnya sambil tersenyum lagi. ahh pelangi memang murah senyum.
"lalu kak, apa yang harus ku lakukan?"
"jika memang kau menganggapnya anugerah, maka jangan sampai kau menempatkannya pada sesuatu yang salah. Allah menciptakan rasa dengan segala kebaikan didalamnya, meskipun itu terlihat seperti ujian. tapi kau percaya bukan dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, dibalik kesedihan selalu ada kebahagiaan, dan setiap kejadian baik itu berupa ujian atau cobaan selalu ada hikmahnya"
"bahkan jika saat hujan ada guntur, sesudahnya akan Allah suguhkan pelangi kan kak?"
aku menelan ludah, kenapa kata" itu diucapkan dengan mudahnya oleh adik kecil ini?
pelangi tersenyum mendengar komentar adiknya.
"kau mengerti sekarang dik?"
"iya kak" adik kecilnya tersenyum.
"memangnya kenapa kau bisa bertanya seperti itu?"
"aku hanya merasa lelah karena terus menunggu seorang lelaki yang kuharapkan mengungkapkan perasaannya padaku"
pelangi mencubit pipi adiknya, "kau ini masih kecil tapi sudah memikirkan cinta, dasar"
"justru itu kak, aku merasa lelah dengan semua rasa ini, kadang aku sering berfikir apa mungkin aku minta saja pada Allah agar untuk sekarang ini aku tak mau dikaruniai rasa cinta"
"Allah memberikan anugerah pada seseorang yang pantas menerimanya, begitupun dengan ujian yang disesuaikan dengan kadar kemampuannya"
"tapi aku merasa belum pantas merasakan ini semua kak, aku masih harus mengejar impian dan cita"ku, tapi kegiatan yang kujalani tak bisa kulakukan dengan baik karena perasaan ini"
"kalau begitu tempatkanlah hatimu dan rasa cintamu itu pada Allah dan pada setiap apa yang kau kerjakan, Allah adalah Maha pembolak balik hati hamba-Nya, perbanyaklah berdoa dan meminta pada Allah agar kau mendapatkan izin dari-Nya untuk menempatkan rasa cinta yang telah dianugerahkan kepadamu pada hal yang membuat imanmu bertambah, seperti mencapai cita" dan impianmu itu, bukan pada seseorang yang tak layak"
"apa kakak pernah merasakan hal yang sama, seperti yang saat ini aku rasakan?"
pelangi mengangguk dan tersenyum, ia memeluk adiknya dengan hangat.
"ya, kakak pernah merasakannya dan kakak ingin kau mempunyai seseorang yang dapat menguatkanmu, tidak seperti kakak yang selalu mencari" sendiri tanpa tau apa kah yang sedang kakak rasakan dan kakak jalani itu benar atau salah. tapi ini pembelajaran untuk kakak, agar kakak senantiasa menyerahkan segala urusan hanya pada Allah, meminta bantuan hanya pada Allah, dan bahagia atas izin Allah. pesan kakak, jangan biarkan anugerah membuatmu lelah karena kau menempatkannya pada sesuatu yang salah. dan saat kau lelah, jangan biarkan imanmu melemah"
nasihat dari pelangi membuat adiknya terharu dan memeluknya. aahh aku semakin yakin saja, bahwa kau adalah seorang bidadari, pelangi.

Minggu, 12 Oktober 2014

Pelangi guntur #3

waktu menunjukkan pukul 3.30 pagi, tak biasanya aku terbangun di waktu sekarang ini. mungkin ada yg sedang bersujud meminta kebaikan untukku saat ini. dan aku harus membalasnya dengan lebih baik lagi. ahh sorot mata teduh itu, selalu saja memberikan semangat, selalu saja seperti pelangi.

aku terbangun dari tidurku, kenapa aku memimpikannya sedang terluka cukup parah dan penuh dengan amarah? guntur, mungkin kau memang orang yg kasar. tapi ini saatnya aku berdoa dengan penuh keyakinan agar hatimu dapat seimbang dengan adanya kelembutan.

Pelangi guntur #2

sore itu aku terduduk di balkon depan rumah, membaca buku dan menikmati hirup udara segar disana. udara itu sejenak berubah, sepertinya akan hujan. suara petir perlahan terdengar, pelan, pertanda akan turun hujan. kudongakkan kepala ku melihat awan, serasi dengan warna langit yang juga mendung. jika ini hujan, kan kutunggu suara itu datang. raut mukaku berubah cerah, hey, apa yang sedang kau lakukan sekarang? guntur?

suasana jalan raya memang tak pernah bisa menyajikan udara segar, bahkan yang ada hanyalah asap yang keluar dari setiap kendaraan yang berada disana, belum lagi ada bekas hujan di jalanan. sepertinya tadi hujan rintik". tapi kendaraan tetap diam, bersedia menunggu lampu lalu lintas berganti warna. kubuka kaca helm ku sambil menunggu warna lampu hijau muncul. ternyata keindahan itu terlihat, reflex senyumku mengembang. teringat akan sorot mata wanita itu, teduh dan tetap seindah pelangi.

Pelangi guntur #1

sosok itu, aku selalu melihatnya sore hari, dalam keadaan mendung menuju tibanya hujan, atau bahkan saat gerimis, hujan rintik rintik, sebaiknya kusapa saja dia pelangi.

lelaki itu, seolah memperhatikan tingkahku, ingin sekali aku menoleh padanya, tapi itu sangat memalukan bagiku, sikapnya yang keras mengingatkanku pada sesuatu, terlebih hanya saat hujan gerimis kita bertemu, kan kusapa dia guntur.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Pertemuan tak disengaja

Selama tiga hari ke belakang, kegiatan perkuliahanku cukup padat, tepatnya saat ada kegiatan yang tak bisa kutinggalkan setelah ashar. Untuk yang ketiga kalinya kulaksanakan shalat maghrib munfarid di mesjid besar lembang. Kira" seperti lokasi pertengahan antara kampus dan rumah. Saat hendak mengambil air wudhu' kulihat ada 2 anak kecil yang sedang berdiri tepat di depan pintu nya. Refelks aku tersenyum saat melihat mereka, entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Teteh.." sapaan anak kecil berkerudung biru muda padaku. Aku kembali tersenyum dan hanya membalas "eh" karena tak menyangka mereka akan menyodorkan tangannya untuk memberikan salam padaku. Temannya seorang anak kecil berkerudung hitam mengikuti, aku pun tersenyum padanya.
"Nama teteh siapa?" tanya anak berkerudung hitam. Kujawab saja "Nisa" . Tiba" adik kecil berkerudung biru muda menyaut, "Nama kita sama, namaku juga anisa teh" ternyata nama adik itu anisa, ucapku dalam hati. "Oh ya?" aku berusaha memasang wajah kaget dan mengubah raut wajahku menjadi seperti anak kecil yang sedang berbincang dengan teman seumurannya, penuh semangat. "Tapi nama teteh nisa aja, gak ada huruf a nya" jelasku padanya. "Jadi nama teteh lisa? Atau nisa? Atau memang benar lisa?" Adik kecil berkerudung hitam terlihat kebingungan. "Nisa, pake N bukan L" jelasku sambil tersenyum padanya seraya bertanya "nama adik siapa?" Ia tersenyum dan menjawab "Nur Aisyah teh". Sejenak aku teringat bahwa aku harus segera pulang, belum lagi aku harus shalat maghrib sebelum semakin mendekat ke waktu isya'. Akhirnya, "Oke, teteh inget ya namanya, nisa sama nur" mereka tersenyum. "Karena teteh belum shalat maghrib, teteh tinggal wudhu dulu ya" ucapku sambil melambaikan tangan pada mereka, masuk ke tempat wudhu akhwat.
Setelah shalat, ternyata mereka sedari tadi menungguku. Mereka menyapaku lagi saat aku sedang membereskan mukena dan bersiap" untuk pulang. Nisa terlihat semangat berlari" kecil menjumpaiku yang masih terduduk di shaf shalat bagian belakang. Ia bertanya, "teh nisa sudah bekerja?" Kujawab "teteh masih kuliah, doakan saja ya". Kemudian ia mengalihkan pembicaraan saat nur juga tiba disana, "teh, aku dan nur punya 3 teman, tapi mereka memusuhi kami" dan nur ikut menambahkan "padahal kami sudah meminta maaf pada mereka, tapi mereka tak mau menerimanya". Aku sedikit kebingungan mendengar mereka bercerita, tepatnya bingung karena aku harus segera pulang. Akhirnya ku tanggapi saja dengan singkat.
"Kalau begitu, coba tanyakan kenapa mereka menjauhi kalian?"
"Mungkin karena kami terlambat datang teh"
"Terlambat datang? Bukannya biasanya kalian mengaji seusai shalat maghrib?"
"Iya, tapi hari ini tidak. Biasanya kami mengaji disana" jawab nisa sambil menunjuk tempat mereka biasa mengaji. Aku hanya mengangguk"an kepala, tanda mengerti maksud pembicaraannya.
nisa kembali mengalihkan pembicaraan, "Kenapa teteh memakai itu?" Ia menunjuk manset ditanganku.
"Ini dipakai untuk menutup aurat" jawabku.
"Kalau tidak pakai bagaimana?"
"Auratnya terlihat" jawabku singkat.
"Baju teteh kan sudah panjang dan menutup aurat"
"Tapi bagian tangannya masih sedikit terlihat, jadi harus ditutupi lagi"
"Bagaimana denganku?" Ia menunjuk lengan bajunya.
"Itu sudah menutup aurat, baju mu panjang"
"Kalau aku?" Nisa ikut"an menunjuk lengan tangannya.
"Sudah panjang juga" jawabku tersenyum.
"Artinya teteh harus beli baju baru yang panjang"
"Kau mau membelikan? Boleh saja" balasku sambil mengajak bercanda. Mereka tersenyum.
"Teteh mau pulang sekarang?" Tanya nisa.
"Ya, teteh harus pulang. Maaf tak bisa berlama" disini berbincang dengan kalian"
"Kalau begitu biar kami antar"
"Hmm.. antar sampai rumahkah?"
"Tentu saja tidak, bagaimana kami pulang lagi kesini?" Balas nur.
"Terbang saja" jawabku nyengir. Mereka tertawa lagi.
"Mana bisa terbang, kita kan tak punya sayap" balas nisa.
"Kalau begitu sampai sini saja mengantarnya"
"Ini untuk teteh" nur memberikan sebuah permen.
"Permen apa ini?"
"Kiss"
"Hmm.. ayo kita lihat apa tulisannya, Don't Forget Me. Wah pas sekali tulisannya"
"Iya teh, jadi teteh jangan lupakan kami"
"Tentu saja tidak, terima kasih banyak permennya"
"Samasama" jawab keduanya bersamaan.
"Teteh pulang dulu, jangan pernah menjauhi orang ya. Kalian juga tak suka jika dijauhi bukan?" Mereka mengangguk mengerti.
"Assalaamu'alaikum" ucapku sambil melambaikan tangan.
"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan.
"Hati" teteh" teriak nisa saat mereka berlari kembali ke dalam mesjid.
"Daaahh" aku kembali melambaikan tangan, tersenyum.
Pertemuan singkat itu membuatku mengerti bahwa seorang guru akan selalu dicintai muridnya saat ia bisa berbuat baik dan mengajarkan hal yang baik. Seorang adik kecil seperti nisa atau seperti nur saja yang belum mengenalku sama sekali bisa bersikap seramah itu padaku. Aku yakin mereka pasti menyayangi guru mengaji nya. Andai saja kelak aku bisa menjadi seorang guru yang mempunyai murid seperti mereka, aku yakin sekuat apapun rasa lelah yg sedang kurasakan, akan hilang seketika saat bertegur sapa dengan mereka.
Anak kecil memang seperti itu, menenangkan dan membuat bahagia yg sederhana.
Terimakasih banyak, nisa, nur aisyah, :)

Minggu, 05 Oktober 2014

Keegoisan dalam Mengalah

Sikap mengalah, sikap yang selalu menempel pada diri seorang wanita, melankolis khususnya. Awalnya kata mengalah itu identik dengan mengorbankan diri sendiri untuk orang lain. Pribadi yang mulia, selalu mengutamakan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri. Selalu mengorbankan kondisi hati, fisik, waktu, dan perasaannya hanya untuk kebahagiaan orang lain.
Lama kelamaan, sikap yang hanya muncul sekali dua kali itu hanya akan menimbulkan rasa kecewa pada diri sendiri. Hanya akan menimbulkan rasa sakit pada dirinya sendiri, yang mana kelak rasa sakit itu akan terobati begitu saja saat melihat orang lain tersenyum bahagia dengan tulus karena kebaikan 'mengalah' nya.
Tapi ternyata tidak, sikap mengalah itu bisa jadi menimbulkan rasa sakit pada sekian banyak orang hanya demi kebahagiaan satu orang yang kau pandang tersakiti jika kau tak mengalah padanya.
Bayangkan jika seandainya rasa ingin mengalah itu adalah ujian, bukan petunjuk akan hal baik yg harus dilakukan. Apa kau tak kan menyesal karena telah mengabaikan ujian dari Tuhan? Apa kau tak malu saat kau tak menyadari bahwa kau seolah tak mampu lulus dari ujian yang telah diberikan?
Bayangkan jika seandainya harapan dari orang tuamu adalah kau menjadi seorang pemenang yang berjuang? Saat kau ingin mengejar prestasi mu, mengejar impian mu, dan kau melewatkan semua kesempatan itu hanya karena 1 alasan, mengalah untuk orang lain yang belum tentu lebih hebat darimu.
Bayangkan jika seandainya satu teman yang kau perjuangkan membuat 10 temanmu kecewa atas sikap dan keputusanmu? Kau pikir itu bisa disebut setimpal? Saat kau ingin membahagiakan temanmu, maka bahagiakanlah semuanya, bukan sebagian kecilnya.

Mengalah memang bukan berarti kalah
Tapi Mengalah juga bukan berarti salah
Tapi mengalah haruslah membuat hilang setiap resah
Kekecewaan yang berlipat, akan menimbulkan penyesalan yang juga hebat
Berfikirlah sebelum kau mengalah, jangan sampai itu kelak menjadi keputusan terbesarmu yang salah

Ada satu hal yang perlu kau pelajari dari kata mengalah.
Saat kau mengalah, kau egois.
Kau tau kenapa? Karena terkadang mengalah adalah salah satu tanda keegoisan seseorang.
Keegoisan untuk selalu mengikuti fikiran dan logika yang mempengaruhi hati tanpa melihat lebih dalam disana.
Keegoisan untuk selalu menyakiti diri sendiri secara tak sadar akan sikap yang tak seharusnya dilakukan, dengan alasan memperjuangkan salah satu kebahagiaan.
Keegoisan untuk selalu menganggap benar apa yang terlintas dalam fikiran, setiap pendapat yang terucapkan, padahal tak sepatutnya merasa benar akan sesuatu yang masih belum dapat dipastikan.
Keegoisan untuk selalu mendahulukan orang lain yang justru belum tentu ia adalah orang yang lebih baik untuk menggantikanmu, untuk kau perjuangkan, dimata Allah, dimata kedua orang tuamu, dimata sahabatmu, bahkan jauh dilubuk hatimu.

Mengalahlah, tanpa adanya keegoisan. :)

Nisa Wiyati Ilahi

Jumat, 03 Oktober 2014

Hokus Fokus Trulala~

Tak sedikit orang yang terfokus pada satu hal, dan saat fokusnya terbagi, maka itu tak bisa tetap dinamakan 'fokus' baginya.
Mungkin memang dalam menjalani kehidupan, fokus untuk mencapai sesuatu itu perlu dilakukan, terlebih dalam menempuh studi yang baik. Fokus akan selalu diperlukan.
Fokus tak perlu dianggap sulit, karena fokus itu tak selamanya sempit.

Tak sedikit orang yang mempunyai kerabat atau sahabat, entah berapa jumlahnya, sedikit atau banyak, selalu saja ada pihak yang difokuskan dengan berlebih. Sadar tak sadar, fokus itu pasti ada. Reflex, nama pertama yang disebutkan adalah dia yang difokuskan.

Namun ada sedikit kekeliruan disana, terfokus pada 1 orang dan pada 1 hal kelak akan menghambat tercapainya 1 tujuan.
Saat ada rasa ingin terfokus pada 1 pihak, percayalah akan ada lebih banyak pihak yang terabaikan meski apa yang dia fokuskan adalah diri kita.
Saat ada rasa ingin fokus pada 1 prestasi, percayalah akan ada banyak kesempatan dan peluang yang tersedia, dengan mudahnya akan begitu saja terlewati.
Tapi saat ada rasa fokus pada 1 tujuan, setiap hal yang berhubungan dengan tujuan tersebut tetap berada dalam ruang lingkup fokus.

Tujuan utama adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain, menjadi orang yang dapat membantu yang lain, menjadi orang yang menyayangi dengan tulus yang lain.
Artinya kita tak perlu memfokuskan perhatian dan bantuan pada seorang saja, kita tak perlu memfokuskan keakraban dan kedekatan pada seorang saja, karena bermanfaat adalah untuk umat, bukan untuk dirinya yang hanya sebagian kecil dari masyarakat.
Artinya kita tak perlu memfokuskan prestasi pada 1 peluang saja, pada 1 kesempatan saja, patut rasanya bagi kita untuk memanfaatkan peluang dan kesempatan yang sesuai dengan tujuan dan fokus utama kita diatas tadi.

Maka dengan jalan yang luas, fokus itu tetap ada, pada 1 tujuan.

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 02 Oktober 2014

Cita cita

Cita cita terbesarku adalah sekolah di universitas ternama yang terkenal
Namun cita cita sederhanaku adalah mempelajari sesuatu yang sangat kusukai

Cita cita terbesarku adalah menjadi seorang sarjana yang kaya akan karya, prestasi, ilmu dan pemahaman
Namun cita cita sederhanaku adalah menjadi seseorang yang memiliki dan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain

Cita cita terbesarku adalah menghafalkan bermacam-macam teori dan mengajarkannya kepada yang membutuhkan, siapapun itu, kapanpun itu dan dimanapun itu
Cita cita sederhanaku adalah menghafalkan alquran untuk kemudian memahami maknanya dan mengajak semua orang untuk belajar dan menghafal bersama

Cita cita terbesarku adalah menjejaki negara-negara terindah penuh sejarah sambil mengambil studi dengan beasiswa disana
Cita cita sederhanaku adalah berkunjung kerumah-Mu yang suci, meluruskan niat hanya untuk beribadah kepada-Mu dengan penuh rasa syukur dan permohonan ampunan disana

Cita cita terbesarku yang sederhana adalah mewujudkan cita cita terbesarku dengan landasan cita cita sederhanaku.
Bagaimana dengan cita citamu?

Ahh sungguh, rasanya aku malu jika dibandingkan dengan orang-orang sekitarku saat ini. Jadikan kami sebagai hamba-Mu yang selalu mencintai ilmu karena-Mu Ya Rabb. Aamiin.

Nisa Wiyati Ilahi