Antara cinta dan ketulusan, atau cinta yang tulus? yang pasti disini akan kucoba ungkapkan pendapatku mengenai hal itu.
cinta adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, berupa rasa peduli, kasih sayang yang suci dan tak pantas jika dinodai dengan hal-hal negatif yang salah dan menimbulkan dosa. itu menurutku.
lalu, apa itu tulus? tulus adalah tanpa syarat. itu saja.
ada yang pernah memberi tahu bahwa tingkatan cinta yang paling tinggi adalah cinta yang tulus. tapi yang kutahu, itu adalah seperti cinta Allah kepada hamba-Nya yang shaleh.
namun ada hal yang kutemukan dalam pemikiranku tentang perkataan itu, bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang mana seseorang rela melepaskan orang yang begitu dicintainya bersama dengan orang lain.
kita bicara tentang jodoh? tidak, aku berbicara tentang cinta yang tulus.
mari kita lihat, siapa yang paling rela melepaskan diri kita untuk bersama orang lain? apakah kekasih kita, sahabat kita, teman kita atau bahkan mungkin mantan pacar (bagi yang sempat berpacaran)? kurasa bukan mereka. tapi orang tua kita.
bagimu para wanita, lihatlah ayahmu. beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang lelaki yang nantinya menjadi imammu, menjadi suamimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ayah berusaha untuk selalu menghidupi kebutuhanmu hingga mengalahkan egonya sendiri untuk bermain bercanda denganmu yang pada akhirnya hanya dapat dilakukannya di sela-sela waktu. betapa ayah berusaha untuk selalu menguatkanmu lewat doanya disetiap sujudnya atau disetiap shalatnya atau bahkan disetiap hembus nafasnya. betapa ayah berusaha untuk selalu merangkulmu meski terkadang itu disampaikan lewat ibumu.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang laki-laki yang akan membuat cinta anaknya menjadi terbagi, kini tak hanya ia yang dihormati tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang diperhatikan tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang dilayani tapi juga lelaki itu, dan kini tak hanya ia yang dicintai dan disayangi putrinya tapi juga lelaki itu. bahkan tanggung jawab untuk senantiasa membimbing putrinya akan berpindah pada lelaki itu, tanggung jawab dunia akhirat putrinya akan berpindah pada lelaki itu, selepas akad diucapkan dan pernikahan disahkan.
bagimu para lelaki, lihatlah ibumu, beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang wanita yang nantinya menjadi makmummu, menjadi istrimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ibu selalu memberikan yang terbaik untukmu dari mulai kau berada didalam kandungannya, kau dilahirkan dari rahimnya, menyusui selama kurang lebih 2 tahun padanya, dan melihat perkembanganmu hingga sampai saat ini. betapa ibu selalu merawatmu disetiap harinya, menitnya, bahkan detiknya. menyiapkanmu makan, merapikan pakaian, mempersiapkan segala keperluan, meski sebenarnya kau sudah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri bahkan keluarga kecilmu kelak.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang wanita yang seolah akan menggantikannya. menggantikan ibumu dalam menyiapkan makanmu, merapikan pakaianmu, merawatmu, mengurus segala keperluanmu. bahkan wanita itu kelak akan berperan seperti ibumu, ia akan merawat dan membesarkan anak-anakmu seperti yang selalu dilakukannya padamu sejak dimasa yang lalu.
hai ayah, hai ibu, terima kasih karena kalian selalu memberikan cinta pada kami anak-anakmu, cinta yang tulus, cinta tanpa syarat dan penuh dengan tanggung jawab. doakan kami agar kelak dapat memiliki cinta setulus apa yang dimiliki oleh ayah dan ibu. aamiin.
Minggu, 29 Maret 2015
Jumat, 27 Maret 2015
Salam Perjuangan dan Kemenangan
Temu Ilmiah Regional atau yang sering disebut
Temilreg adalah salah satu alasan mengapa saya berada di ukm SCIEmics. Saat
itu, saya merupakan salah satu anggota dari tim SCIEmics 1 yang beranggotakan
bunda Irni Inayah Rahman, putra Mumuh Muhammad dan saya sendiri, Nisa Wiyati
Ilahi. Dengan kerja keras dan usaha kami, Allah mengizinkan kami untuk menjadi
juara pertama di Temilreg 2014 yang diselenggarakan di kampus tercinta kami,
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Berlanjut ke tingkatan yang lebih luas, kami
bersama ke-2 tim lainnya mengikuti Temu Ilmiah Nasional atau yang sering
disebut Temilnas. Mengikuti olimpiade tingkat nasional merupakan hal yang
sangat memberikan banyak pengalaman, pelajaran dan juga hikmah yang dapat
diambil saat sedang berada disana. Hasil yang tim kami dapatkan adalah
peringkat 15 besar, sehingga kami belum berhasil mengikuti tahapan semifinal
saat itu.
Tahun berganti tahun, tibalah saatnya saya
mempersiapkan diri beserta anggota SCIEmics lainnya untuk mengikuti Temilreg
2015 dan Temilnas 2015. Begitu besarnya kuasa Allah yang telah mengizinkan saya
memiliki rekan tim yang sangat kece di SCIEmics B, yaitu sang penyemangat Asma
Arisman Dewi dan sang bintang Siti Latipah (Ipeh). Dengan mereka berdualah,
saya bisa meraih juara pertama Temilreg 2015. Tanggung jawab saya untuk dapat
mempertahankan apa yang telah diraih tahun lalu terbayar sudah disana.
Namun, meski begitu, jangan salah sangka. Banyak
air mata disana, saat ada yang tak senang tim saya mampu menjawab pertanyaan.
Saat ada yang tersenyum ketika poin cerdas cermat dari tim saya berkurang. Saat
amanah untuk mempersiapkan anggota SCIEmics adalah tanggung jawab besar tim
saya pribadi selaku pengurus di bagian pendidikan dan keilmuan (Science and
Academic). Dan saat hasil yang didapatkan oleh kami menimbulkan pertentangan
dan pertengkaran kecil nan samar tak terlihat di internal kami sendiri.
Tak berhenti disana, saya dan tim menempati posisi
terakhir di babak semifinal saat sedang cerdas cermat. Hal itu memicu semangat
kami untuk tidak mempermalukan nama SCIEmics dan akhirnya saya dan tim berhasil
menjawab soal terakhir senilai 1000 yang meloloskan kami ke tahap final.
Usailah perjalanan Temilreg, dan kami harus melanjutkan perjuangan kami di
tingkat nasional, saatnya menghadapi Temilnas 2015.
Saat sedang penentuan delegasi, saya menghadiri
kegiatan untuk melihat dan mengawasi bagaimana proses penentuan delegasi
dilakukan. Namun, pada akhirnya, bunda meminta saya untuk juga mengikuti tes tersebut.
Jujur, saat itu saya merasa bahwa saya tak perlu mengikuti Temilnas karena saya
pernah mengikutinya tahun lalu dan saya ingin hak ini diberikan pada adik kelas
saya nanti. Sayang, bunda bilang ia sudah mempercayai saya dan rekan-rekan
lainnya untuk mengikuti Temilnas, jadi kita lihat saja hasilnya apakah saya
termasuk kepada anggota delegasi atau tidak.
Penilaian dilakukan dengan transparan,
masing-masing anggota dapat langsung mengetahui hasilnya. Dan ternyata benar,
tak bisa dipungkiri lagi dengan izin dari orang tua saya, dukungan dari kakak
guru saya dan juga dorongan dari rekan-rekan saya, saya menjadi delegasi
Temilnas 2015 bersama kedua rekan saya yang semakin hebat, Ipeh dan Asma.
Babak penyisihan, kami lewati dengan penuh
prasangka bahwa soal yang kami anggap mudah, maka akan dianggap sangat mudah
oleh peserta lainnya. Hingga hari diumumkannya tim yang lolos semifinal pun
membuktikan bahwa saya berada di posisi 5 besar bahkan tim A yang terdiri dari
putra Mumuh Muhammad, si kalem Ani Sumiyati dan si cantik Hanifah Kania berada
di posisi pertama, yang artinya kami masuk tahapan selanjutnya yaitu Lomba
Cepat Tepat.
Beruntung, saat pengocokan batch, tim A berada di
batch pertama dan tim B berada di batch kedua. Setidaknya kami tidak akan
melawan rekan sendiri disana, meski tetap yang diloloskan adalah 2 tim dari
masing-masing batch. Sayangnya, tim A bertahan sampai disana dan tidak bisa
melanjutkan ke babak final.
Sedang saya dan tim, yang kembali mengulangi
kejadian semasa Temilreg, berada di posisi terakhir dan berhasil menggunakan
kesempatan terakhir untuk menjawab soal dengan poin 2000. Itulah yang membuat
kami berhasil lolos ke babak final.
Di babak final kami diarahkan untuk melakukan
studi kasus dari 3 kasus yang diberikan. Tim kami tampil pertama, dan timbullah
firasat bahwa setelah pertolongan Allah selalu datan di kedua babak sebelumnya,
ini adalah puncak dari kekacauan yang kami buat. Penampilan pertama, dengan
persiapan materi yang seadanya, hanya bisa membuat kami membicarakan apa yang ada
difikiran kami saat itu.
Namun, seperti yang selalu diajarkan oleh kakak
guru Kumita Ary Fhuspha mengenai sajak juara dan sikap tawakal, kami tidak
boleh menyerah dan antara rasa takut dan harap haruslah seimbang, agar Allah
mengabulkan harapan dan menghilangkan rasa takut. Alhasil, kami menjadi tim
yang berada di posisi 3 besar, menjadi juara 3 Temilnas 2015.
Ini adalah hadiah terbesar bagi tim kami, bagi
SCIEmics dan bagi FoSSEI Jabar. Sejarah pertama dimana salah satu KSEI dari
Jabar mampu lolos ke babak semifinal bahkan mendapatkan juara 3.
Namun, apalah arti juara jika tidak memberi
manfaat kepada yang lainnya?
Juara 1 dan 3, membuat saya belajar bahwa setelah
ini ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan materi. Ada tanggung jawab
besar untuk bisa mengajarkan strategi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan
kerja sama tim. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari doa,
usaha, ikhtiar dan tawakal. Dan ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan
arti dari sebuah kemenangan.
Terima kasih, untuk semua kakak guru dan
rekan-rekan semua yang telah mengajarkan saya materi Ekonomi Islam.
Terima kasih, untuk bunda Irni dan putra Mumuh
yang telah mengajarkan saya cara untuk memiliki strategi saat berjuang
sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk sang penyemangat Asma dan sang
bintang Ipeh yang telah mengajarkan saya cara untuk ikhlas dan pasrah dalam
doa, usaha, ikhtiar dan tawakal sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk kakak guru Kumita Ary yang
telah mengajarkan saya arti dari sebuah kemenangan, kompetisi, prestasi dan
kejuaraan.
Terima kasih, untuk sahabat terdekat, jombs, yang
selalu mewarnai setiap langkah perjuangan.
Uhibbukum fillaah, insya Allah.
Alhamdulillah, untuk setiap kesempatan yang telah
diberikan. Aahh Allah, semakin malu saja pada-Mu.
Salam perjuangan, keikhlasan, ketakutan, harap dan
kemenangan.
Nisa Wiyati Ilahi.
Langganan:
Komentar (Atom)