Senin, 27 April 2015

Hamba lelah Ya Rabb

Rabb,  mungkin ini adalah puncak kelelahan dari seorang manusia yang terus menerus mengejar prestasi duniawi.
atau mungkin ini adalah saat dimana seorang hamba ingin segera kembali ke pangkuan Rabbnya dan menyerah dari semua tipu daya dunia.
atau juga mungkin ini adalah tanda dimana ia tergoda oleh bisikan halus tak berarti yang membuat iman seseorang semakin menurun sedang keputus asaannya meningkat dengan sempurna.
aku sungguh tak tahu akan ketiga hal itu, manakah yang paling tepat menggambarkan kondisiku saat ini. yang kutahu, aku selalu merasa bersedih tanpa tau apa penyebabnya meski hati dan fikiran meyakini bahwa ini adalah karena memikirkan dunia, dunia, dan dunia.
Haruskah mata ini merasakan bagaimana ia buta hingga dapat terasa pula ketenangan hati dan jiwa saat membaca deretan ayat suci Alquran yang menakjubkan?
Haruskah telinga ini merasakan bagaimana ia tuli hingga dapat terasa pula gema suara adzan dan iqamat yang memanggil hamba untuk segera bersujud menghadap Rabbnya?
Haruskah kaki ini merasakan bagaimana ia lumpuh hingga dapat terasa pula ringannya berjalan dalam langkah kebaikan yang bermanfaat di dunia dan akhirat?
Haruskah tangan ini merasakan bagaimana ia kaku hingga dapat terasa pula nikmatnya memberi sesuatu hal berarti pada orang lain meski itu hanya sedikit atau bahkan justru sangat sedikit?
Haruskah diri ini merasakan bagaimana ia berhenti bernafas dan jantung berhenti berdetak hingga dapat terasa pula semua nikmat Allah SWT yang selalu diberikan di setiap helaannya?
Rabb, apa hamba sedang lelah hidup di dunia? sungguh rasanya dunia ini sangat mengerikan.
apakah ini alasannya mengapa Kau memanggil orang-orang yang kau cintai di usia muda mereka?
apakah ini alasannya mengapa dunia dipersamakan dengan neraka ataupun penjara bagi orang muslin dan surga bagi orang kafir?
apakah ini alasannya aku selalu memikirkan bahwa umurku tak sepanjang yang kuharapkan dan tak sependek yang kufikirkan?
ampuni hamba ya Allah, semakin banyak saja kesalahan dalam diri ini. semakin menumpuk saja dosa yang diperbuat oleh diri ini. semakin turun saja keimanan dalam diri ini. Astaghfirullah, kuatkan hamba Ya Allah.
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Jumat, 24 April 2015

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #2

Entah ini hanya perasaanku, atau mungkin memang seorang sanguinis tercipta dengan ketenarannya, dengan keakrabannya dalam berteman, dengan keistimewaan didalam dirinya. Iri, itulah yang bisa dirasakan ketika melihat seseorang yang berhasil baik di bidang prestasi, sosial maupun hal lainnya diluar akademik. Seperti dirimu yang memiliki banyak relasi dan berbagai macam peluang prestasi, mungkin kelak kau akan jadi sekretaris desa atau istri yang menjabat di kedinasan *haha.
Dimata melankolis, sanguinis adalah orang yang spesial, orang yang diinginkan, orang yang dikagumi dan orang yang disayangi bahkan dibanggakan. Bagaimana tidak? Ia benar-benar senang memberikan penghargaan pada orang lain, menyalurkan energi positif, bahkan yang paling fatal adalah merasa telah menyakiti dirinya sendiri saat tak sengaja menyakiti orang lain. Mungkin tak banyak yang ingin dikatakan, bahkan mungkin kau bosan dengan semua untaian kata yang kurangkai ini. Namun aku tetap ingin menulis, karena aku ingin berterima kasih.
Karena sanguinis telah membuatku mengerti bahwa melankolis itu berarti, bahwa melankolis itu dibutuhkan bahkan oleh seorang sanguinis yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan sekalipun. Bahwa melankolis itu mampu memberikan warna kehidupan layaknya sanguinis dengan caranya sendiri yang mampu membuat orang lain tenang dan nyaman berada disisinya. Meminta bantuannya dalam hal opini, pendapat, dan berbagai solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Kemampuan intrapersonal, itu yang sering kau ungkapkan, tentangku si melankolis. Kemampuan dalam memahami kondisi seseorang, kemampuan dalam mengendalikan seseorang, kemampuan dalam membaca keinginan seseorang, dengan menggunakan kekuatan hati dan firasat dalam diri.
Sekali lagi terima kasih, untuk semua penghargaan yang kau tunjukkan padaku. Atas semua respon dari setiap kata yang kau baca.
Meski kita memiliki perbedaan keyakinan dalam beberapa hal, namun kau perlu tahu bahwa pencapaianmu dalam pendekatan selaku hamba membuatku ingin juga seperti itu. Terbangun di sepertiga malam dengan sendirinya tanpa alarm paksaan, selalu meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an dan meneteskan air mata karena unsur penghambaan.
Semoga Allah menyayangimu dan kelak akan mempertemukan kita kembali di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya dengan izin Allah menyayangimu.
Salam melankolis,

Nisa Wiyati Ilahi

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #1

Hai bep, entah sejak kapan kita menjadi wanita kesepian sampai-sampai sahabat sendiri pun kita sapa dengan panggilan beb ataupun bep. Tapi yang pasti, hanya kata itu yang bisa membuktikan kedekatan antara kita *haha. Sepertinya membuat tulisan untukmu akan sedikit santai saja, tidak terlalu kaku meski tetap menggunakan kata-kata baku.
Oke bep, kita mulai dengan beberapa kalimat yang ingin  kusampaikan namun tak bisa kuucapkan secara langsung didepanmu. Kamu, dengan kondisi seorang wanita  yang tidak sempat mengalami menjadi santri namun sangat penasaran bagaimana rasanya menjadi santri. Kamu, aku sempat iri padamu, kau tahu kenapa?
Aku merasa dan tentu saja sangat berharap Allah menyayangimu. Itu sebabnya kau selalu berhasil menemukan jalan hijrah yang sesuai untukmu menurut versi-Nya dan sesuai untukmu menurut keinginanmu sendiri. Itu sebabnya kau selalu berhasil menjaga lisanmu agar tak menyebarkan aib orang lain yang kau ketahui, agar tak membuat orang yang mendengar ucapanmu hatinya tersakiti. Itu sebabnya kau selalu berhasil mengontrol hatimu untuk tidak berharap macam-macam dan mengontrol pikiranmu untuk tidak melakukan kesalahan fatal. Itu sebabnya, perlahan tapi pasti aku melihat bahwa kita akan selalu berada dalam satu paham dan keyakinan.
Kau tahu, mungkin dunia santri memang terlihat menarik dan menuntut tapi aku yakin dengan kehidupan dan cara yang kau jalani saat ini pun dapat menunjukkan bahwa kau adalah santri. Seorang santri yang sudah lulus dari pondok pesantrennya memang disebut sebagai alumni, tapi label santri tetap ada dalam dirinya sampai kapanpun. Dan yang kulihat adalah, kau memiliki label santri meskipun kau bukan lulusan pondok pesantren.
Sahabat (sebenernya lebih geli nyapa ini daripada ‘bep’), karena aku merasa bahwa Allah begitu menyayangimu, tetaplah berada dalam jalan hijrah yang memperkuat keyakinan-Mu pada-Nya, tetaplah menjadi pribadi yang membuat orang lain yang melihatmu iri karena sikap dan tingkah laku islami yang kau tunjukkan, tetaplah menjadi dirimu yang menjaga diri dan senantiasa mempertajam kemampuan diri. Akhir kata, semoga kita kelak akan kembali dipertemukan di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya dengan izin Allah menyayangimu.
Salam (alumni) santri,

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 16 April 2015

Hikmah Temu Ilmiah

Tulisan ini dibuat spesial buat seseorang yang selalu tertawa bahagia sampe bergetar seluruh badannya. Hahaha
Gak kurang kece gimana coba orang yang satu ini pertama kali ikut olimpiade tapi langsung juara 1 di tingkat regional dan juara 3 di tingkat nasional. Keren kan vroh~
Sapa dulu aja ya, Assalamu’alaikum Asma Arisman Dewi, Mahasiswa Berprestasi dari IEKI ’13 yang udah jadi penyemangat tim B di setiap tahapan olimpiade.
SCIEmics tempat kita dipertemukan, ZIEE tempat kita dipersatukan, Tim SCIEmics B tempat kita dipaksa buat bisa kerja sama barengan. Right?
Juara, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil dipanggil sebagai seorang Juara? Bahagia? Atau justru Bersedih?
Olimpiade, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil melewati tahapan-tahapan olimpiade yang terhitung sulit dan menegangkan? Hatimu masih tetap tenang?
Pengumuman pemenang, apa yang terlintas difikiranmu saat mendengar namamu disebutkan oleh MC sebagai salah satu peserta yang lolos ke tahap selanjutnya dan berpeluang menjadi pemenang? Penuh harapan atau justru pasrah?
Asma, ada beberapa pesan yang ingin disampaikan. Ini bukan pesan pribadi, ini pesan dari semua kakak guru kita di SCIEmics yang dituangkan dengan bahasa nisa pribadi.
Kemenangan, jangan pernah anggap bahwa juara sama dengan kemenangan. Itu berbeda Asma, karena menurut nisa pribadi pun kemenangan dapat tetap kita maknai meski hasil sebenarnya yang kita dapatkan adalah kekalahan. Begitupun dengan juara, yang dapat tetap kita maknai sebagai ujian yang berat disertai dengan amanah yang besar nantinya. Dan nisa yakin, Asma sudah paham tentang hal itu. Ahh bahkan kondisi hati dan fikiran Asma lebih tenang dibandingkan dengan sikap yang nisa tunjukan, niat Asma mengikuti perlombaan lebih jernih dari yang nisa rasakan dalam prediksi nisa terhadap diri sendiri sekalipun.
Mari kita sedikit mengenang bagaimana kita bisa menjadi pemenang perlombaan.
Temilreg 2015, mungkin ini akan sedikit ‘nyelekit’ tapi ini hanya untuk dijadikan pelajaran saja. Tahap pertama, kita lolos dengan penuh air mata. Tahap kedua, kita lolos dengan penuh ketegangan. Dan tahap ketiga kita lolos dengan penuh kekecewaan. Mengapa? Karena kita tahu pasti ada pihak yang juga kecewa atas lolosnya tim kita. Tapi, kau ingat? Kuasa Allah yang mengizinkan kita menjawab soal mawaris terakhir berpoin 1000 yang mampu meloloskan kita ke babak final, padahal sebelumnya kita berada di posisi terakhir, poin 150 saja. Terakhir, tahap keempat kita sukses dengan juara pertama, membawa 2 piala, dengan penuh beban bahkan tak ada sedikitpun senyuman. Kita ini seolah pemenang yang tak disambut sekaligus peserta yang tak diharapkan. Begitu bukan?
Lihat, kita adalah juara, tapi justru kita tak merasa bangga dan bahagia. Itulah mengapa kita perlu mengerti arti dari kemenangan, agar kita juga mengerti bagaimana bersikap tenang dan bahagia sebagai pemenang.
Temilnas 2015, tak ada niat untuk menjadi pemenang. Bahkan yang terlintas dipikiran adalah apakah saat aku pergi olimpiade tugas telah usai ku kerjakan? Apakah selama aku menjalani kegiatan ada tugas tambahan yang diberikan oleh dosen dikelas? Bagaimana aku bisa mempersiapkan ujian sepulang dari sini? Ahh lemah sekali persiapan mental kita ini. Tapi hasilnya, dengan fokus yang terbagi, dengan harapan yang tak pasti, kita lolos dari tahap pertama. Berada di posisi 5 diantara berpuluh KSEI lainnya.
Tahap kedua, terjadi hal serupa. Berada di posisi terakhir, menjawab soal dengan poin terbesar, dan lolos ke babak final. Hingga akhirnya, tahap terakhir mengantarkan kita menjadi juara 3. Sungguh, persiapan presentasi itu adalah titik dimana kita tak sekompak biasanya. Mungkin karena terlalu fokus dengan ketiga kasus yang dipegang oleh masing-masing namun keukeuh disampaikan oleh ketiganya. Tak fokus, tak jelas, tak sempurna. Maaf, nisa pun merasa ada keegoisan diri dalam membahas kasus tentang ayat-ayat saat itu.
Tapi, kita perlu belajar dan menarik hikmah utama dari temu ilmiah.
Jadilah pemenang yang bahagia dan bangga dengan kemenangannya, bukan juara yang tidak dapat paham dan mengerti arti dari kemenangan yang sebenarnya. Dan saat kau merasa bersedih karena kekalahan yang didapat, bersedih dengan kekecewaan diluar batas, tengok apa niatmu dan bagaimana usahamu.
Sebesar apapun rasa takut dan khawatirmu, tetaplah berusaha untuk menyeimbangkannya dengan harapan. Agar dapat tercapai apa yang diharapkan dan terhindar dari apa yang ditakutkan. Harap dan takut, keduanya tetap adalah bukti bahwa kita senantiasa berdoa kepada Allah, mengusahakan untuk senantiasa berikhtiar secara maksimal dan akhirnya tawakkal atas semua ketetapan dari-Nya.
Hal lain yang ingin disampaikan mungkin lebih pribadi, karena kita bertiga melankolis nisa merasa bahwa ada satu rasa yang sama dalam diri kita, timbulnya prasangka bahwa saya menang karena sedang bersama mereka, begitu bukan?
Terlintas bahkan di fikiran nisa, bahwa Temilreg tahun lalu nisa menang karena ada Mumuh dan Teh Irni. Tahun ini pun sama, karena ada Ipeh dan kamu, Asma. Namun saat Nisa bertanya pada hati nisa sendiri, mengapa harus selalu Nisa yang dijadikan anggota tim yang dijadikan sebagai tim unggulan? Jawabannya karena kamu tak sadar akan keunggulanmu itu. Dijadikan anggota tim unggulan saja merendah lebih bawah, terlebih jika tidak maka semakin merendah dan tidak bersyukurnyalah kamu itu.
Asma, kerjasama tim sangat diperlukan dalam perlombaan khususnya olimpiade. Jadi, seseorang takkan menang tanpa bantuan yang lain, sekecil apapun itu bantuannya. Intinya, kita menang karena kita bersama, kita kalah pun karena kita bersama, bukan karena dia atau siapapun. Dan semua sudah ditata dengan rapi dan seindah mungkin oleh sang Pencipta, Allah SWT.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca tulisan sepanjang ini. Dan, hanya ingin mengucapkan “Tetaplah tebarkan semangat dan keikhlasan yang Asma miliki, jangan lupa ajarkan pada adik-adikmu nanti bahkan rekanmu sekalipun mengenai arti dari kemenangan, lanjutkan perjuangan meski Nisa ataupun Ipeh tak lagi mampu memberikan bimbingan, diluar itu mohon maafkan jika Nisa tak bisa menjadi kakak pendamping tim yang baik dan membina, jadilah kakak yang lebih baik dari Nisa, dari Ipeh dan dari siapapun yang lainnya dengan kelebihanmu, tenang sebagai pemenang”.
Titip ZIEE ya, Juara Mutlak !!
Salam Semangat,
Nisa Wiyati Ilahi –Rekan tim-