Jumat, 27 Maret 2015

Salam Perjuangan dan Kemenangan

Temu Ilmiah Regional atau yang sering disebut Temilreg adalah salah satu alasan mengapa saya berada di ukm SCIEmics. Saat itu, saya merupakan salah satu anggota dari tim SCIEmics 1 yang beranggotakan bunda Irni Inayah Rahman, putra Mumuh Muhammad dan saya sendiri, Nisa Wiyati Ilahi. Dengan kerja keras dan usaha kami, Allah mengizinkan kami untuk menjadi juara pertama di Temilreg 2014 yang diselenggarakan di kampus tercinta kami, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Berlanjut ke tingkatan yang lebih luas, kami bersama ke-2 tim lainnya mengikuti Temu Ilmiah Nasional atau yang sering disebut Temilnas. Mengikuti olimpiade tingkat nasional merupakan hal yang sangat memberikan banyak pengalaman, pelajaran dan juga hikmah yang dapat diambil saat sedang berada disana. Hasil yang tim kami dapatkan adalah peringkat 15 besar, sehingga kami belum berhasil mengikuti tahapan semifinal saat itu.
Tahun berganti tahun, tibalah saatnya saya mempersiapkan diri beserta anggota SCIEmics lainnya untuk mengikuti Temilreg 2015 dan Temilnas 2015. Begitu besarnya kuasa Allah yang telah mengizinkan saya memiliki rekan tim yang sangat kece di SCIEmics B, yaitu sang penyemangat Asma Arisman Dewi dan sang bintang Siti Latipah (Ipeh). Dengan mereka berdualah, saya bisa meraih juara pertama Temilreg 2015. Tanggung jawab saya untuk dapat mempertahankan apa yang telah diraih tahun lalu terbayar sudah disana.
Namun, meski begitu, jangan salah sangka. Banyak air mata disana, saat ada yang tak senang tim saya mampu menjawab pertanyaan. Saat ada yang tersenyum ketika poin cerdas cermat dari tim saya berkurang. Saat amanah untuk mempersiapkan anggota SCIEmics adalah tanggung jawab besar tim saya pribadi selaku pengurus di bagian pendidikan dan keilmuan (Science and Academic). Dan saat hasil yang didapatkan oleh kami menimbulkan pertentangan dan pertengkaran kecil nan samar tak terlihat di internal kami sendiri.
Tak berhenti disana, saya dan tim menempati posisi terakhir di babak semifinal saat sedang cerdas cermat. Hal itu memicu semangat kami untuk tidak mempermalukan nama SCIEmics dan akhirnya saya dan tim berhasil menjawab soal terakhir senilai 1000 yang meloloskan kami ke tahap final. Usailah perjalanan Temilreg, dan kami harus melanjutkan perjuangan kami di tingkat nasional, saatnya menghadapi Temilnas 2015.
Saat sedang penentuan delegasi, saya menghadiri kegiatan untuk melihat dan mengawasi bagaimana proses penentuan delegasi dilakukan. Namun, pada akhirnya, bunda meminta saya untuk juga mengikuti tes tersebut. Jujur, saat itu saya merasa bahwa saya tak perlu mengikuti Temilnas karena saya pernah mengikutinya tahun lalu dan saya ingin hak ini diberikan pada adik kelas saya nanti. Sayang, bunda bilang ia sudah mempercayai saya dan rekan-rekan lainnya untuk mengikuti Temilnas, jadi kita lihat saja hasilnya apakah saya termasuk kepada anggota delegasi atau tidak.
Penilaian dilakukan dengan transparan, masing-masing anggota dapat langsung mengetahui hasilnya. Dan ternyata benar, tak bisa dipungkiri lagi dengan izin dari orang tua saya, dukungan dari kakak guru saya dan juga dorongan dari rekan-rekan saya, saya menjadi delegasi Temilnas 2015 bersama kedua rekan saya yang semakin hebat, Ipeh dan Asma.
Babak penyisihan, kami lewati dengan penuh prasangka bahwa soal yang kami anggap mudah, maka akan dianggap sangat mudah oleh peserta lainnya. Hingga hari diumumkannya tim yang lolos semifinal pun membuktikan bahwa saya berada di posisi 5 besar bahkan tim A yang terdiri dari putra Mumuh Muhammad, si kalem Ani Sumiyati dan si cantik Hanifah Kania berada di posisi pertama, yang artinya kami masuk tahapan selanjutnya yaitu Lomba Cepat Tepat.
Beruntung, saat pengocokan batch, tim A berada di batch pertama dan tim B berada di batch kedua. Setidaknya kami tidak akan melawan rekan sendiri disana, meski tetap yang diloloskan adalah 2 tim dari masing-masing batch. Sayangnya, tim A bertahan sampai disana dan tidak bisa melanjutkan ke babak final.
Sedang saya dan tim, yang kembali mengulangi kejadian semasa Temilreg, berada di posisi terakhir dan berhasil menggunakan kesempatan terakhir untuk menjawab soal dengan poin 2000. Itulah yang membuat kami berhasil lolos ke babak final.
Di babak final kami diarahkan untuk melakukan studi kasus dari 3 kasus yang diberikan. Tim kami tampil pertama, dan timbullah firasat bahwa setelah pertolongan Allah selalu datan di kedua babak sebelumnya, ini adalah puncak dari kekacauan yang kami buat. Penampilan pertama, dengan persiapan materi yang seadanya, hanya bisa membuat kami membicarakan apa yang ada difikiran kami saat itu.
Namun, seperti yang selalu diajarkan oleh kakak guru Kumita Ary Fhuspha mengenai sajak juara dan sikap tawakal, kami tidak boleh menyerah dan antara rasa takut dan harap haruslah seimbang, agar Allah mengabulkan harapan dan menghilangkan rasa takut. Alhasil, kami menjadi tim yang berada di posisi 3 besar, menjadi juara 3 Temilnas 2015.
Ini adalah hadiah terbesar bagi tim kami, bagi SCIEmics dan bagi FoSSEI Jabar. Sejarah pertama dimana salah satu KSEI dari Jabar mampu lolos ke babak semifinal bahkan mendapatkan juara 3.
Namun, apalah arti juara jika tidak memberi manfaat kepada yang lainnya?
Juara 1 dan 3, membuat saya belajar bahwa setelah ini ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan materi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan strategi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan kerja sama tim. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari doa, usaha, ikhtiar dan tawakal. Dan ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari sebuah kemenangan.
Terima kasih, untuk semua kakak guru dan rekan-rekan semua yang telah mengajarkan saya materi Ekonomi Islam.
Terima kasih, untuk bunda Irni dan putra Mumuh yang telah mengajarkan saya cara untuk memiliki strategi saat berjuang sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk sang penyemangat Asma dan sang bintang Ipeh yang telah mengajarkan saya cara untuk ikhlas dan pasrah dalam doa, usaha, ikhtiar dan tawakal sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk kakak guru Kumita Ary yang telah mengajarkan saya arti dari sebuah kemenangan, kompetisi, prestasi dan kejuaraan.
Terima kasih, untuk sahabat terdekat, jombs, yang selalu mewarnai setiap langkah perjuangan.
Uhibbukum fillaah, insya Allah.

Alhamdulillah, untuk setiap kesempatan yang telah diberikan. Aahh Allah, semakin malu saja pada-Mu.

Salam perjuangan, keikhlasan, ketakutan, harap dan kemenangan.

Nisa Wiyati Ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar