Sabtu, 11 Oktober 2014

Pertemuan tak disengaja

Selama tiga hari ke belakang, kegiatan perkuliahanku cukup padat, tepatnya saat ada kegiatan yang tak bisa kutinggalkan setelah ashar. Untuk yang ketiga kalinya kulaksanakan shalat maghrib munfarid di mesjid besar lembang. Kira" seperti lokasi pertengahan antara kampus dan rumah. Saat hendak mengambil air wudhu' kulihat ada 2 anak kecil yang sedang berdiri tepat di depan pintu nya. Refelks aku tersenyum saat melihat mereka, entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Teteh.." sapaan anak kecil berkerudung biru muda padaku. Aku kembali tersenyum dan hanya membalas "eh" karena tak menyangka mereka akan menyodorkan tangannya untuk memberikan salam padaku. Temannya seorang anak kecil berkerudung hitam mengikuti, aku pun tersenyum padanya.
"Nama teteh siapa?" tanya anak berkerudung hitam. Kujawab saja "Nisa" . Tiba" adik kecil berkerudung biru muda menyaut, "Nama kita sama, namaku juga anisa teh" ternyata nama adik itu anisa, ucapku dalam hati. "Oh ya?" aku berusaha memasang wajah kaget dan mengubah raut wajahku menjadi seperti anak kecil yang sedang berbincang dengan teman seumurannya, penuh semangat. "Tapi nama teteh nisa aja, gak ada huruf a nya" jelasku padanya. "Jadi nama teteh lisa? Atau nisa? Atau memang benar lisa?" Adik kecil berkerudung hitam terlihat kebingungan. "Nisa, pake N bukan L" jelasku sambil tersenyum padanya seraya bertanya "nama adik siapa?" Ia tersenyum dan menjawab "Nur Aisyah teh". Sejenak aku teringat bahwa aku harus segera pulang, belum lagi aku harus shalat maghrib sebelum semakin mendekat ke waktu isya'. Akhirnya, "Oke, teteh inget ya namanya, nisa sama nur" mereka tersenyum. "Karena teteh belum shalat maghrib, teteh tinggal wudhu dulu ya" ucapku sambil melambaikan tangan pada mereka, masuk ke tempat wudhu akhwat.
Setelah shalat, ternyata mereka sedari tadi menungguku. Mereka menyapaku lagi saat aku sedang membereskan mukena dan bersiap" untuk pulang. Nisa terlihat semangat berlari" kecil menjumpaiku yang masih terduduk di shaf shalat bagian belakang. Ia bertanya, "teh nisa sudah bekerja?" Kujawab "teteh masih kuliah, doakan saja ya". Kemudian ia mengalihkan pembicaraan saat nur juga tiba disana, "teh, aku dan nur punya 3 teman, tapi mereka memusuhi kami" dan nur ikut menambahkan "padahal kami sudah meminta maaf pada mereka, tapi mereka tak mau menerimanya". Aku sedikit kebingungan mendengar mereka bercerita, tepatnya bingung karena aku harus segera pulang. Akhirnya ku tanggapi saja dengan singkat.
"Kalau begitu, coba tanyakan kenapa mereka menjauhi kalian?"
"Mungkin karena kami terlambat datang teh"
"Terlambat datang? Bukannya biasanya kalian mengaji seusai shalat maghrib?"
"Iya, tapi hari ini tidak. Biasanya kami mengaji disana" jawab nisa sambil menunjuk tempat mereka biasa mengaji. Aku hanya mengangguk"an kepala, tanda mengerti maksud pembicaraannya.
nisa kembali mengalihkan pembicaraan, "Kenapa teteh memakai itu?" Ia menunjuk manset ditanganku.
"Ini dipakai untuk menutup aurat" jawabku.
"Kalau tidak pakai bagaimana?"
"Auratnya terlihat" jawabku singkat.
"Baju teteh kan sudah panjang dan menutup aurat"
"Tapi bagian tangannya masih sedikit terlihat, jadi harus ditutupi lagi"
"Bagaimana denganku?" Ia menunjuk lengan bajunya.
"Itu sudah menutup aurat, baju mu panjang"
"Kalau aku?" Nisa ikut"an menunjuk lengan tangannya.
"Sudah panjang juga" jawabku tersenyum.
"Artinya teteh harus beli baju baru yang panjang"
"Kau mau membelikan? Boleh saja" balasku sambil mengajak bercanda. Mereka tersenyum.
"Teteh mau pulang sekarang?" Tanya nisa.
"Ya, teteh harus pulang. Maaf tak bisa berlama" disini berbincang dengan kalian"
"Kalau begitu biar kami antar"
"Hmm.. antar sampai rumahkah?"
"Tentu saja tidak, bagaimana kami pulang lagi kesini?" Balas nur.
"Terbang saja" jawabku nyengir. Mereka tertawa lagi.
"Mana bisa terbang, kita kan tak punya sayap" balas nisa.
"Kalau begitu sampai sini saja mengantarnya"
"Ini untuk teteh" nur memberikan sebuah permen.
"Permen apa ini?"
"Kiss"
"Hmm.. ayo kita lihat apa tulisannya, Don't Forget Me. Wah pas sekali tulisannya"
"Iya teh, jadi teteh jangan lupakan kami"
"Tentu saja tidak, terima kasih banyak permennya"
"Samasama" jawab keduanya bersamaan.
"Teteh pulang dulu, jangan pernah menjauhi orang ya. Kalian juga tak suka jika dijauhi bukan?" Mereka mengangguk mengerti.
"Assalaamu'alaikum" ucapku sambil melambaikan tangan.
"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan.
"Hati" teteh" teriak nisa saat mereka berlari kembali ke dalam mesjid.
"Daaahh" aku kembali melambaikan tangan, tersenyum.
Pertemuan singkat itu membuatku mengerti bahwa seorang guru akan selalu dicintai muridnya saat ia bisa berbuat baik dan mengajarkan hal yang baik. Seorang adik kecil seperti nisa atau seperti nur saja yang belum mengenalku sama sekali bisa bersikap seramah itu padaku. Aku yakin mereka pasti menyayangi guru mengaji nya. Andai saja kelak aku bisa menjadi seorang guru yang mempunyai murid seperti mereka, aku yakin sekuat apapun rasa lelah yg sedang kurasakan, akan hilang seketika saat bertegur sapa dengan mereka.
Anak kecil memang seperti itu, menenangkan dan membuat bahagia yg sederhana.
Terimakasih banyak, nisa, nur aisyah, :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar