Sempat ku lakukan usaha secara langsung untuk mewujudkan setiap
keinginan tadi. Namun Allah berkehendak lain, karena ternyata statusku saat ini
adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi untuk
mendapatkan gelar sarjana di bidang Pendidikan. Ya, aku adalah mahasiswa dari
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Kota istimewa ini ku singgahi ketika kakak laki-laki ku menjadi
seorang mahasiswa di Yogyakarta. Ia sempat membantuku saat menjalani ujian
masuk universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda. Dan saat aku
memutuskan untuk memilih menetap Bandung dibandingkan merantau ke Yogyakarta,
banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga beberapa waktu lalu.
Meski aku sangat ingin menjalani studi di kota istimewa, lantas
kenapa rasanya setiap langkah yang ku ambil untuk menetap di Bandung terasa
lebih mudah dan seolah terlihat lebih membanggakan dengan dukungan dari
orang-orang terdekat.
Hingga suatu hari, terpilihlah seseorang untuk menjadi pendamping
dan pembimbing dalam kegiatan Temu Ilmiah Nasional FoSSEI ke XV di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Orang itu adalah aku.
Dengan kondisi yang sama, rasanya meski begitu sulit bagiku untuk memutuskan
dan hampir kuambil keputusan untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut, langkah
dan jalan yang harus ku ambil seolah dipermudah dan diperlancar segala
sesuatunya. Pendaftaran sudah ditutup, namun aku masih diberikan waktu lebih
untuk mendaftar. Orang yang mampu menggantikanku menjadi official memiliki
acara yang lebih penting yang tidak bisa ditinggalkan. Tugas skripsi yang
terhenti selama 2-3 minggu karena kesibukan dosen pembimbing dapat terlaksana
tepat pada waktu sebelum keberangkatan menuju kota istimewa.
Sejenak aku berpikir, apa mungkin ada sesuatu yang kelak akan aku
dapatkan hanya jika aku mengikuti rangkaian acara Temilnas ini? Nyatanya, ada.
Bertahun-tahun menjadi penduduk daerah Lembang, membuatku tidak
terbiasa untuk berada di lingkungan dengan suhu yang berbeda dengan daerah
Lembang. Begitupun dengan kota istimewa ini. Masih untung jika aku tidak
mengeluh dalam keadaan seperti ini, lalu jika aku mengeluh maka mungkin dalam
jarak studi 4 tahun aku tak bisa terfokus untuk memahami pembelajaran. Mungkin saja
ini hal sepele, tapi aku rasa ini akan patut ku pertimbangkan sebagai alasan
kenapa aku memutuskan untuk menetap di Bandung.
Tapi, meski begitu poin utamanya adalah, aku menganggap bahwa ini
adalah kota istimewa. Kota yang setiap kali aku singgah disana aku merasa
bahagia dan bangga. Siapa sangka jika aku memutuskan untuk merantau aku akan
tetap menganggap bahwa jogja se-istimewa-itu.
Lagipula, menurut salah satu pembicara dalam rangkaian acara ini,
bahkan untuk daun kering yang jatuh pun tidak akan mungkin dan tidak akan
pernah luput dari kekuasaan Allah. Oleh karenanya, aku disini, saat ini, berada
di kota istimewa, adalah ketetapan Allah. Dan aku disana, menjalani studi
selama 4 tahun, di kota idaman, adalah ketetapan Allah juga. Aku percaya itu. Semoga
aku akan lebih memahami makna mendalam tentang hal itu.
Saat salah satu pertanyaan ku terjawab, tetiba saja muncul
pertanyaan lainnya.
Ada seorang lelaki baik yang ku kenal di kota istimewa ini, apakah
Allah akan mengizinkan aku melihatnya? Pertanyaan ini kuajukan dalam ruang
lingkup melihat, bukan bertemu terlebih bertegur sapa. Itu diluar kuasa dan
kendaliku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar