Pelangi terdiri dari 7 warna, meski aku tak memahami makna semua
warna disana tapi aku ingin mengenang kalian sebagai pelangi yang ada setelah
turunnya hujan, setelah turunnya salah satu keberkahan dari Allah, setelah turunnya
sumber harapan bahwa bunga akan segera bermekaran. Merah, Jingga, Kuning,
Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Aku seolah melihat 7 warna itu dalam setiap diri
kalian masing-masing.
Bagaimana jika kalian anggap saja itu sesuai dan bukan
keterpaksaan? Lagipula ini dalam pandanganku, mungkin dalam pandangan kalian
warna yang aku tentukan tidak pas dan akan sangat jauh berbeda. Kita anggap ini
ungkapan tentang bagaimana caranya aku menggambarkan kalian dalam warna seindah
7 pelangi, yang bersamaan dan berdampingan.
Merah, siapa dia?
Warna merah akan mengingatkanku pada seorang bernama Dian
Kirana Pitaloka yang mengajarkanku tentang keberanian. Ia adalah sosok yang
sangat pemberani, saat temannya melakukan kesalahan, ia akan berbicara secara
langsung bahwa temannya itu telah melakukan kesalahan. Saat temannya terlihat
mulai menjauh, ia akan berbicara secara jelas bahwa hubungan mereka perlu
diperbaiki kondisinya. Saat temannya bersedih, ia tak pernah ragu untuk
bertingkah konyol agar temannya bisa kembali tersenyum. Dan saat temannya
bahagia, ia akan mulai membagi keceriaan untuk merasakannya bersama.
Dian itu orangnya berani berbicara, berani bersikap, berani
mengambil keputusan, tanpa keraguan dan rasa malu atau canggung, toh itu semua
memang pantas dilakukan. Aku belajar berani darinya.
Jingga, siapa dia?
Warna jingga akan mengingatkanku pada seorang bernama Tenzani
Dentiyana yang mengajarkanku tentang kekuatan. Ia adalah sosok yang terkadang
terkesan masa bodo dengan tanggapan orang lain tentangnya. Saat temannya
bersikap merendahkannya atau meremehkannya ia akan memberikan 2 tanggapan, yang
pertama adalah tidak fokus pada perkataan temannya itu dengan bersikap masa
bodo dan yang kedua adalah bangkit tanpa disadari oleh temannya dan menunjukkan
sesuatu yang bisa dilakukan olehnya sendiri tanpa saran dan bantuan siapapun.
Saat temannya tidak setuju dengan pendapatnya, terkadang ia bisa bersikap tidak
mengikuti kesepakatan dan mengangguk mendengarkan tanpa berkomitmen untuk
melakukan hal itu. Meyakini bahwa pendapatnya adalah yang terbaik untuk dirinya
sendiri.
Tenzani itu orangnya kuat secara fisik dan pikiran. Aku
belajar kuat darinya.
Kuning, siapa dia?
Warna kuning akan mengingatkanku pada seorang bernama Lia
Amalia yang mengajarkanku tentang keceriaan. Ia adalah sosok yang ceria dan
hangat, cepat akrab dengan siapapun yang baru mengenalnya. Sikapnya dalam
berteman mudah diterima oleh siapapun, pemikirannya dalam mengambil keputusan
mudah dikomunikasikan dengan siapapun meski kadang agak sulit dimengerti tapi
ia sukses dalam mengkomunikasikannya. Ia menjalani hidupnya dengan senantiasa
mengawali hari di pagi yang cerah, dengan penuh semangat mengerjakan
rutinitasnya. Menebar energi positif adalah kata kuncinya dalam memberikan
semangat pada teman-temannya.
Lia itu orangnya ceria dalam menjalani rutinitasnya dan hangat
dalam menjalani kehidupan bersama temannya. Aku belajar ceria darinya.
Hijau, siapa dia?
Warna hijau akan mengingatkanku pada seorang bernama Devi
Andriani yang mengajarkanku tentang ketulusan. Ia adalah sosok yang cukup
pendiam namun menakutkan, pemalu namun blak-blakan dan lemot namun emosian.
Seorang divergent yang terlalu banyak sikap yang tak kupahami ada dalam
dirinya. Namun layaknya pohon yang meski banyak macamnya namun tetap rindang dan
indah, ia dengan sikap berbeda tetap konsisten dengan ketulusan dalam membantu
temannya. Tak jarang ia terlihat mengorbankan dirinya sendiri meski ia tak
pernah menyadarinya sendiri terlebih bersedia mengakuinya. Ia memiliki sisi
positif yang belum ingin ia lihat sendiri.
Devi itu orangnya tulus dalam membantu tanpa memandang teman
mana yang membutuhkannya. Aku belajar tulus darinya.
Biru, siapa dia?
Warna biru akan mengingatkanku pada seorang bernama Shelfira
Meisarani yang mengajarkanku tentang kedamaian. Ia adalah sosok yang menghadapi
setiap urusan dan perkataan dengan senyuman. Saat ia bersama dengan orang yang
penuh dengan emosi, ia bisa saja ikut dalam emosi itu secara berlarut namun ia
seringkali memilih diam dan tersenyum masam. Mungkin terkesan masa bodo, itu
yang selalu ia ungkapkan namun aku tahu itu rasa memaafkan karena ia cinta
kedamaian. Ia hanya belum bisa konsisten dalam memutuskan caranya dalam menebar
kedamaian pada orang-orang disekitarnya. Hingga hanya orang-orang tertentu saja
yang paham bahwa ia adalah seseorang yang mencintai kedamaian.
Shelfira itu orangnya cinta damai, pemaafdan penuh senyuman.
Aku belajar menemukan kedamaian dalam diriku darinya.
Nila, siapa dia?
Warna nila akan mengingatkanku pada seorang bernama Fani
Setiani yang mengajarkanku tentang kesederhanaan. Ia adalah sosok yang tenang
dalam menghadapi situasi menegangkan, menghargai pendapat dan perkataan orang
lain meski terkadang ada sedikit banyak perbedaan dengan pendapatnya sendiri.
Saat temannya berada dalam kesulitan, ia akan menawarkan bantuan dengan
mengulurkan tangannya, saat temannya berada dalam kesedihan, ia akan
menguatkan, berbicara dengan penuh kelembutan.
Fani itu orangnya sederhana dalam bersikap, tak terkesan
bertele-tele. Aku belajar bersikap sederhana darinya.
Ungu, siapa dia?
Warna ungu akan mengingatkanku pada seorang bernama Tita
Sobariah yang mengajarkanku tentang kekayaan. Ia adalah sosok pekerja keras
yang rajin dalam menekuni bidang yang disukai olehnya. Saat ada tuntutan yang
mengharuskannya melakukan sesuatu yang tidak terlalu disukainya, ia akan
bekerja keras utnuk melewatinya dan mendapatkan hasil terbaik atas usaha dan
jerih payahnya. Jika ada suatu tantangan, ia akan sangat menyukainya dan
melewatinya dengan penuh semangat dan pembelajaran. Seorang individualis yang
memberikan banyak dorongan dan motivasi pada teman-temannya dan orang-orang
disekitarnya. Ia begitu kaya akan pengalaman, perjuangan, pengetahuan,
keterampilan dan keinginan.
Tita itu orangnya kaya akan impian dan itu membuatnya selalu
belajar dan berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik. Aku belajar untuk kaya
darinya.
Pelangiku. Terima kasih selalu hadir setelah hujan datang. =’)
Salam pecinta hujan,
Nisa Wiyati Ilahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar