Oleh: Salman
Al Farisi
عَنْ أَبي غَطَفَانَ بْنَ طَريْق الْمُري يَقُوْلُ سَمعْتُ عَبْدَ
الله بْنَ عَباس رَضيَ الله عَنْهُمَا يَقُوْلُ حيْنَ صَامَ رَسُوْلُ الله صَلى
الله عليه وَسَلمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ أَمَرَ بصيَامه قَالُوا يَا رَسُوْلَ
الله إنَهُ يَوْمٌ تُعَظمُهُ الْيَهُوْدُ وَ النَصَارَى فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى
الله عليه وَسَلمَ فَإ ا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبلُ إنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ
التَاسعَ قَالَ فَلَمْ يَأْت الْعَامُ الْمُقْبلُ حَتَى تُوُفيَ رَسُوْلَ الله صلى
الله عليه وسلم.
(رَوَاهُ مُسْلمٌ)
“Dari
Abu Ghatafan Bin Tharif, ia berkata: aku mendengar Ibnu Abbas RA berkata: bahwa
ketika rasulullah SAW sedang melaksanakan shaum di hari asyura dan
memerintahkan para sahabat agar melaksanakannya, para sahabat berkata: ya
Rasulullah! Hari ini adalah hari yang di agungkan oleh kaum yahudi dan
nashrani. Rasulullah SAW bersabda: nanti tahun depan insya Allah kita akan
melaksanakan shaum tanggal sembilannya. Ibnu Abbas berkata: sebelum datang
tahun itu, rasulullah SAW telah wafat”.
(H.R
Muslim)
Dalam ilmu hadits, hadits terbentuk dalam 5 bagian:
1.
Hadits qauli, ialah perkataan yang di
sampaikan oleh nabi SAW dalam berbagai kesempatan dan berkaitan dengan berbagai
hal.
2.
Hadits fi’li , ialah perbuatan yang dilakukan
nabi SAW mengenai perkara ibadah dan yang lainnya.
3.
Hadits taqriri, ialah persetujuan nabi
SAW terhadap berbagai perbuatan sebagian sahabat dengan tidak menegurnya atau
memperlihatkan keridhoan beliau bahkan terkadang memberikan pujian dan
dukungan.
4.
Hadits sifati (hadits ahwali), ialah
sifat-sifat beliau yang termasuk kandungan hadits.
5.
Hadits hammi, ialah perkara yang berupa
keinginan rasul yang belum terealisasikan.
Hadits yang termaktub di atas adalah
contoh dari hadits Hammiyah yaitu, yang berupa keinginan rasulullah yang belum
terealisasikan. Ketika rasulullah menyuruh kepada para sahabatnya agar shaum
pada tanggal sembilannya, ternyata sebelum datang tahun depan rasulullah telah
wafat dahulu.
Muharram adalah nama bulan pada awal tahun
hijriah, yang di dalamnya terdapat suatu rangkaian ibadah sunnah. Yaitu pada
tanggal 9 dan 10 muharram ada yang dinamakan dengan saum sunnah tasu’a asyura.
Ketika itu rasulullah sudah melaksanakan shaum di hari asyura, dan
memerintahkan para sahabatnya untuk melaksanakan shaum tersebut. Para sahabat
pun membantah bahwa pada hari itu lah, hari yang di agung-agungkaan oleh kaum
yahudi dan nashrani. Maka rasulullah pun bersabda nanti tahun depan insya Allah
kita akan melaksanakan shaum pada tanggal sembilannya.
Menurut penjelasan para ulama, seperti
Imam Syafi’i shaum pada tanggal 9 muharram (Tasu’a) sama sunnahnya dengan
tanggal 10 muharram (Asyura). Keduanya merupakan rangkaian ibadah shaum sunnah
yang ada pada bulan muharram. Dalam hadits rasul di jelaskan:
عَنْ أَبيْ هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنْهُ
قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَى الله عَلَيْه وسلم: أَفْضَلُ الصيَام بَعْدَ رَمَضَانَ
شَهْرُ الله الْمُحَرَمُ, وَ أَفْضَلُ الصَلَاة بَعْدَ الْفَريْضَة صَلَاةُ اللَيْل.
“Dari
Abu Hurairah R.A, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: puasa yang paling mulia
setelah ramadhan adalah puasa di bulan muharram, dan shalat yang paling utama
setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (H.R Muslim
3/169)
Sangat
dianjurkan bagi umat islam untuk melaksanakan shaum di bulan muharram (tasu’a
asyura), karena shaum tasu’a asyura lebih utama setelah shaum ramadhan. Dan
pada hari asyura pula terdapat peristiwa yang sangat agung, tatkala pada hari
itu Allah menyelamatkan musa dan kaumnya, dan menenggelamkan fir’aun beserta
kaumnya. Dalamhadits di jelaskan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ
فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ, فَقَالَ لَهُمْ رسول الله صلى
الله عليه وسلم: مَا هَذَا الْيَوْمُ اَّلذِيْ تَصُوْمُوْنَهُ, فَقَالُوْا: هَذَا
يَوْمٌ عَظِيْمٌ أَنْجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَ قَوْمَهُ, وَ غَرَّقَ فِرْعَوْنَ
وَ قَوْمَهُ, فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ, فَقَالَ رسول الله
صلى الله عليه وسلم: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَ أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ, فَصَامَهُ رَسُوْلُ
الله صلى الله عليه وسلم, وَ أَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Dari
Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW datang ke Madinah, lalu beliau mendapati
orang-orang yahudi berpuasa pada hari Asyura, kemudian Rasulullah SAW
bertanya kepada mereka, “Hari apa yang kalian berpuasa ini?” mereka menjawab,
“ini hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan Allah
menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa
syukur, dan kami pun berpuasa pada hari ini.” Kemudian Rasulullah berkata, “ Kamilah
yang lebih berhak dan lebih utama pada kalian terhadap Musa.” Maka Rasulullah berpuasa pada hari itu,
dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.{Muslim 3/150}.
Adapun pada hari apa di
lakukan shaum Asyura, di jelaskan dalam hadits rasul:
عَنِ الْحَكَمِ بْنِالْأَعْرَجِ قَالَ: انْتَهَيْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُمَا وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ رِدَاءَهُ فِى زَمْزَمَ, فَقُلْتُ لَهُ: أَخْبِرْنِي
عَنْ صَوْمِ عَاشُوْرَاءَ! فَقَالَ: إِذَا رَأَيْتَ هِلَالَ الْمَحَرَّمِ, فَاعْدُدْ
وَ أَصْبِحْ يَوْمَ التَّاسِعِ صَائِمًا, قُلْتُ: هَكَذَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ
صلى الله عليه وسلم يَصُوْمُهُ؟ قَالَ نَعَم.
“Dari
Al-Hakim, dari Al‘raj, dia berkata, “Aku pernah mendetangi Ibnu Abbas
ketika ia sedang berbantal selendangnya di dekat Zamzam, lalu aku berkata kepadanya’ ‘Beritahukanlah kepadaku tentang puasa Asyura
!’ Ia menjawab,’Jika kamu telah melihat hilal (bukan sabit) pada bulan Muharam,
maka hitunglah, lalu berpuasalah sejak Subuh pada hari kesembilan, ‘ Aku bertanya,
‘Apakah Rasulullah SAW berpuasa seperti itu?’ Ia menjawab, ‘Ya.’’’’’ {Muslim 3/151}
Dikalangan masyarakat kita masih belum
mengetahui rangkaian ibadah sunnah pada bulan muharram, padahal ibadah tersebut
adalah suatu keinginan rasul yang belum tercapai. Oleh karena itu kitalah para
pengikutnya serta umatnya yang harus menjalankan sunnah rasul yang belum
terealisasikan tersebut. Sedangkantanggal 9 dan 10 muharram (bulan ini) 1435 H
jatuh Pada hari rabu dan kamis tanggal 13 dan 14 november 2013. Wallahu a’lam bis-shawwab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar