Ada saat dimana kau melewati sahur pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama teman-teman terbaikmu di sebuah ruang yang dikenal dengan “Math’am”.
Ada saat dimana kau melakukan shaum pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama teman-teman terbaikmu di tempat yang sementara itu kau anggap rumah.
Ada saat dimana kau menghabiskan makanan “ta’jil” pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama teman-teman terbaikmu dengan turut membagikannya kepada setiap orang disana.
Ada saat dimana kau menjalani ibadah shalat tarawih pertamamu di bulan suci Ramadhan dengan diimami oleh guru-guru terbaikmu dengan suasana sangat ramai disana.
Ada saat dimana kau diajarkan melafadzkan doa seusai shalat tarawih pertamamu di bulan suci Ramadhan dengan dibimbing untuk melafadzkan doa oleh guru-guru terbaikmu supaya kau mampu untuk menghafalnya dan mengamalkannya sendiri kelak.
Namun saat ini, ada saatnya kau melewati sahur pertamamu, melakukan shaum pertamamu, menghabiskan ta’jil pertamamu, menjalani shalat tarawih pertamamu, hingga melafadzkan doa seusai shalat tarawih pertamamu di bulan suci Ramadhan bersama keluarga kecilmu, rumahmu yang sebenarnya.
Saat itulah, kau merasakan kerinduan untuk kembali pada waktu dimana kau takkan pernah bisa mengulanginya. Waktu yang takkan pernah bisa terbayarkan oleh apapun dan waktu yang takkan pernah bisa kau lupakan bagaimana kebahagiaan dalam hatimu merasakannya.
Masih saja teringat, antrian sahur ataupun berbuka yang panjang membuat kita menyela antrian orang lain.
Masih saja teringat, tumpukan makanan ta’jil yang harus dibagikan pada setiap santri membuat kita berebut untuk membagikannya dengan alasan mengharapkan pahala karena telah memberikan makanan pada orang yang sedang shaum.
Masih saja teringat, kumandang adzan isya’ yang terdengar dari mesjid diluar asrama putri yang membuat kita bersegera untuk menuju mesjid demi melakukan shalat isya’ dan shalat tarawih berjama’ah disana.
Masih saja teringat, keluhan seusai shalat tarawih saat diimami oleh ustadz yang bacaannya benar-benar sangat panjang.
Masih saja teringat, semangat untuk shalat tarawih saat diimami oleh ustadz yang suaranya merdu mengalunkan lafadz-lafadz Allah dengan indahnya.
Itulah kenangan yang takkan terlupakan disana.
Bahkan kita sempat melewati hal lain,
Kita sempat melewati saat dimana untuk sahur dan berbuka haruslah kita yang memasak sendiri dan haruslah kita yang mempersiapkan segalanya.
Kita sempat melewati saat dimana seusai shalat shubuh ataupun shalat ashar, mengisi pengajian dan beberapa kegiatan untuk anak-anak yang sedang mengaji.
Kita sempat melewati saat dimana kita bersama-sama hidup di lingkungan luar, lingkungan orang asing yang justru saat ini sudah menganggap kita sebagai bagian dari keluarga mereka.
Itulah kenangan yang takkan terlupakan bersama kalian.
Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang selalu dirindukan kedatangannya oleh setiap muslim di dunia ini. Dan bulan suci Ramadhan adalah bulan yang selalu membuatku rindu pada tempat itu, tempat dimana beberapa saat yang lalu aku menimba ilmu dan pengalaman disana. Selalu membuatku rindu pada kalian, kalian teman-teman seperjuangan terbaik Hikaru 19.
Saat aku merindukan bulan suci Ramadhan, aku pun merindukan kenangan bersama kalian.
Sapaan Kerinduan
Nisa Wiyati Ilahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar