Kerinduan ku pada seorang adik kecil perempuan masih saja belum hilang. Jujur saja, aku sangat ingin memiliki seorang adik perempuan. Namun saat aku memiliki peluang dan kesempatan untuk memilikinya, ternyata ia telah kembali kepada Sang Pencipta. Tapi Allah itu Maha Baik, dan selalu mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, termasuk diriku.
Mungkin aku tidak mempunyai seorang adik perempuan kandung, tapi saat aku duduk di sekolah menengah, kudapatkan beberapa adik kelas yang sangat kusayangi, bahkan mereka sudah menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri. Meski sebenarnya beberapa dari mereka pun mempunyai kakak kandung perempuan masing-masing.
Allah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan mereka.
Asti Nurjannah. Dia adalah adikku yang sangat ceria, jika tersenyum mata nya akan tertutup. Dia tidak manja, dia dewasa, tapi dia selalu menganggapku kakaknya. Dia selalu jujur dan terbuka saat membutuhkan bantuanku, sekecil apapun itu, jika dia merasa kesulitan, dia akan memintaku untuk membantunya. Tentu aku senang membantunya, karena dia adikku. Terima kasih untukmu Aty.
Hanifah Fauziyah. Dia adalah adikku yang sangat dewasa, bahkan terkadang aku merasa bahwa dia adalah sahabatku, bukan adikku. Dia pernah di anggap tidak baik oleh teman sekelasku, tapi aku tak mau menjauhinya. Jika memang ada kesalahan padanya, aku berharap bisa menemani setiap langkah perubahannya, bukan malah menjauhinya. Terima kasih untukmu Honey.
Gita Tiara Putri. Pertemuan kami terhitung sangat singkat, karena dia masuk pesantren saat aku duduk di kelas 3. Meski begitu, kami sering bercanda, atau mungkin lebih tepatnya aku yang mengerjainya. Itu adalah hal sederhana dalam waktu yang sangat singkat, tapi dia sudah menganggapnya sebagai adikku, begitupun sebaliknya. Terima kasih untukmu Gita.
Fiky Nurlatifah. Kedekatan antara kami berdua berawal dari sebuah kekecewaan dan tangisan. Masih teringat saja saat ia menangis karena kau merazia salah satu baju putihnya. Tapi justru karena hal itu, kami menjadi dekat. Meski awalnya ia menangis dan merasa sakit hati, tapi saat ia kembali memberanikan diri untuk menyapaku, hal itu sangat membuatku bahagia. Tak kusangka, tangisan itu telah menjadikannya sebagai adikku yang bersedia untuk mendengarkan keluh kesahku dan menjaga rahasiaku. Terima kasih untukmu Fiky.
Rahayu Ulfah Rasyidah. Kedekatan kami berawal dari sebuah rasa tak suka. Ia pernah berkata pada temanku, bahwa ia tak menyukaiku. Bahkan, saat kami berada dalam ruangan yang sama pun ia tak mau menjadikanku sebagai ketua ruangannya. Tentu secara otomatis akupun tak suka padanya. Tapi karena beberapa hal, ternyata kami menjadi lebih dekat, dan ia adalah adik yang sangat manja pada kakaknya. Ia sangat jahil namun juga ceria, dan ia selalu banyak bercerita tentang semua hal padaku. Terima kasih untukmu Ayu.
Nida Nudia Silmi. Bisa kubilang bahwa dia adalah adik virtual. Bukan karena tidak nyata, tapi karena memang kami tak pernah saling jumpa. Meski begitu, pribadinya adalah yang paling mirip denganku. Apa yang terjadi padaku dulu, biasanya terjadi juga padanya. Dan apa yang menjadi nasihatku untuknya, biasanya sempat terlintas dalam fikirannya. Aku dan dirinya benar-benar mirip, baik itu kepribadiannya, pola fikirnya, bahkan bentuk wajahnya. Terima kasih untukmu Nida.
Dan rasa syukur terbesar ku ungkapkan pada-Mu yang sudah mengatur semuanya. Alhamdulillaah untuk ke-6 adik perempuan yang telah Kau berikan padaku.
Sapaan Rasa Syukur
Nisa Wiyati Ilahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar