Selasa, 23 September 2014

Muhasabah balasan diri

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره - و من يعمل مثقال ذرة شرا يره (الزلزلة : ٨-٧)

"Barang siapa yang mengerjakan kebajikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan) nya"

Hukum karma, aku mengenal kata itu jauh sebelum aku merangkai kata demi kata untuk mengungkapkan apa makna yang kurasakan dalam hidup ini tentang karma.
Tapi ternyata karma bukan sekedar kata, karma adalah hal yang pernah kurasakan. Begitu mendalam pengaruhnya hingga ayat ini selalu kuingat saat aku merasa sedang karma.

Dulu, aku pernah menjauhi seorang adik kecil yang penuh dengan keceriaan hanya karena alasan yang tak masuk akal. Mungkin aku memang lelah berhadapan dengannya, tapi ternyata sesaat setelah aku menjauhinya rasa sayang dan perhatian itu semakin ada. Bahkan terkadang aku tak rela melepasnya meski ia sudah dewasa. Dia yang dulu pernah sempat kuabaikan, kini mengabaikanku. Bukan karena alasan yang tak masuk akal sepertiku, tapi karena ia memang sudah dewasa. Menjadi seorang kakak yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengambil keputusan terbaik menurutnya sendiri.
Bahkan saat ini, akhir-akhir ini kulihat ia sedang bersedih. Ingin rasanya aku bisa mengukir senyuman di wajahnya dan bercanda tawa bersamanya. Memberikan pendapat dan nasihat dariku untuk kebaikannya. Namun apa daya, ia tak membutuhkan semua itu, malahan ia masih saja tak berani bercerita padaku.
Dan waktu tak kan pernah kembali, maka kini saatnya aku tersadar untuk tak pernah mengabaikan seseorang yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian dariku. Sebelum aku menjalani kondisi seperti ini, ingin memperhatikan seseorang yg tak butuh diperhatikan olehku.

Di waktu yang lain, aku terlalu terfokus pada seorang sahabat. Atau mungkin lebih tepatnya orang yang kuanggap sangat sangat dekat. Ia adalah sosok sahabat yang sangat dewasa yang bisa mengayomiku tanpa menyakiti atau menyinggung perasaanku. Apa yang dikatakan olehnya adalah sebuah peringatan, bukan ancaman. Dan saat ia mulai menjauh, kami berjarak dengan tak sengaja, aku tak bisa menerima itu semua dengan mudah, begitu saja terlepas dari setiap kata nasihatnya. Rasanya ingin sekali aku tetap bersamanya, bercanda tawa dan bercerita penuh suka cita.
Tanpa kusadari, ada seorang sahabat lain yang juga ternyata kuabaikan perhatiannya. Mungkin memang dia tak terlalu menunjukkan itu semua, tapi yang kusadari saat ini adalah, aku istimewa baginya. Aku jarang memperhatikan keadaannya, tapi ia memperhatikanku. Aku tak menganggapnya lebih istimewa dibanding dengan yang lain, tapi ia melakukan hal yang sebaliknya.
Maka kini saatnya aku tersadar, untuk tak pernah mengabaikan seseorang yang menganggapku istimewa. Sebelum aku menjadi seperti saat ini, terlalu mengistimewakan seseorang yang tak menganggapku istimewa.

Setiap orang perlu perhatian, dan setiap orang yang pandai memperhatikan selalu membutuhkan penghargaan. Maka hargailah mereka yang memperhatikanmu, mereka yang menyayangimu. Sebelum mereka sedikit melupakanmu, dan mengabaikanmu tanpa sengaja.

Dan ada hal yang harus senantiasa kita ingat bersama.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Ada mereka yang selalu membutuhkan nasihatmu, perhatianmu, rangkulan dan kekuatan darimu, dan rasa serta anggapan keistimewaan dirinya bagimu.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Ada orang tuamu yang selalu merawatmu meski saat ini kau sudah bertumbuh dewasa. Dan yang ia butuhkan hanyalah melihatmu hidup bahagia dan sejahtera bersamanya, hidup bersamanya, di depan matanya.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Ada ampunan yang selalu Allah berikan pada hamba-Nya yang memohon ampun dan bertaubat. Ada nikmat karunia yang selalu Allah berikan pada hamba-Nya yang senantiasa pandai bersyukur dan bekerja keras.

Siapa bilang tak ada orang yang menyayangimu? Sadarlah.. Jauh didalam dirimu ada rasa egois yang mementingkan perasaan dan kondisi dirimu sendiri.

Nisa Wiyati Ilahi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar