Rabu, 10 September 2014

Doa, ikhtiar, dan tawakkal

Dalam doa, namamu kan kusebut dalam setiap sujud terakhir dalam shalatku.
Dalam ikhtiyar, dirimu kan menjadi seseorang yang kupertahankan dan kuperjuangkan dalam langkah persiapan dan perbaikan diriku.
Dalam tawakkal, waktu dan kondisi terbaik yang kan Allah berikan kan ku nantikan dengan penuh kesabaran karena aku yakin aku akan dipertemukan denganmu.
Hingga akhirnya kan ada kesempatan bagi kita untuk bersama dan bersatu.

Dalam doa, tanpa kita ketahui ada seseorang yang baik dan lembut perangainya senantiasa mendoakan kita di setiap sujud terakhir dalam shalatnya.
Dalam ikhtiyar, tanpa kita sadari ada seseorang yang senantiasa memperbaiki dan memantaskan dirinya agar menjadi hamba Allah yang seutuhnya dalam penantiannya berjumpa dengan kita.
Dalam tawakkal, tanpa kita sadari ada seseorang yang senantiasa mengikhlaskan kita untuk berdampingan bersama siapapun itu karena harapnya adalah mendapatkan pasangan terbaik yang diberikan Allah untuknya dan untuk kita jauh sejak ia masih menyebut kita dalam doanya.
Hingga akhirnya kan kita sadari sepenuhnya bahwa Allah selalu mempersiapkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Terlebih untuk pasangan hidup di dunia maupun di akhirat selamanya.

Hubungan yang baik akan membutuhkan koneksi hati, harap, fikiran, keyakinan dan perasaan yang dihubungkan secara langsung oleh Allah. Bukan hubungan yang diciptakan oleh diri kita sendiri yang diwarnai dengan corak godaan, ketidakjelasan status kehalalan, dan impian yang berujung pada kesalahan.
Cara berhubungan yang baik adalah berharap dan menyampaikan rasa yang disadari pada sandaran terkuat yaitu Allah. Bukan cara yang sudah jelas ketidakbenarannya namun tetap mengatas namakan Allah dengan seenaknya.
Jaga hati, jaga fikiran, dan serahkan pada Allah siapa pendamping hidup kita di dunia sekaligus perantara akhirat kita untuk mencapai syurga-Nya.

Semoga mereka adalah kita.
Aamiin

Nisa Wiyati Ilahi

2 komentar: