Baligh, kata yang diberikan pada seseorang yang sudah dewasa dalam pandangan agama. Sudah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk. Sudah mampu memiliki tuntutan, untuk menjalankan perintah, untuk menjauhi larangan, dan untuk menentukan pilihan.
Apa aku sudah baligh?
Ya, dengan kondisiku sekarang. Perempuan remaja berumur 19 tahun yang sudah melalui masa 'merah' sebagai tanda utama seorang perempuan yang baligh.
Lalu, apa yang kulakukan dengan status baligh itu?
Haruskah setiap keputusan yang ingin ku ambil ditentukan oleh kedua orang tuaku? Haruskah mereka yang berusaha keras, berjuang dalam doa yang tulus dan shalat yang panjang untuk anak perempuannya yang sudah baligh? Sedangkan aku hanya berdoa singkat sambil berleha-leha dalam menuntut ilmu dan mencapai cita-cita sederhana hingga cita-cita terbesarku. Layakkah?
Haruskah setiap hal yang kubutuhkan dipersiapkan oleh kedua orang tuaku? Haruskah mereka yang mengingatkan setiap detiknya tentang apa tugasku, apa yang harus kulakukan, apa yang harus ku kenakan, dan apa yang harus kubawa saat perjalanan. Sedangkan aku hanya tersenyum nyengir dan melihat mereka sibuk mempersiapkan semua kebutuhanku. Layakkah?
Harusnya, orang tua bisa bersikap tenang penuh haru saat melihat anaknya berjuang dalam mencapai cita-citanya. Bentuk doa pun kan berbeda nantinya. Antara harapan akan kesadaran anaknya untuk berusaha dengan harapan akan imbalan atas kerja keras anaknya dalam mencapai cita-cita. Bentuknya memang doa, tapi kalimat kebanggaannya berbeda.
Harusnya, orang tua bisa bersikap tenang penuh kepercayaan saat melihat anaknya tumbuh dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri, atau bahkan orang lain. Titahnya tak perlu terucap, karena anaknya sudah sadar sepenuhnya tentang apa yang dibutuhkannya dan apa yang orang lain butuhkan darinya.
Karena kita sudah baligh, harusnya kita bersikap seperti muslimah yang sudah baligh pula.
Maafkan kami ayah, ibu .. doakan anakmu.. :')
Nisa Wiyati Ilahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar