Tak terbayangkan bukan bagaimana manisnya iman? Dan jika kau belum merasakannya, mungkin ada yang salah denganmu. Entah itu karena kondisi keimananmu ataupun pola fikirmu.
Baru saja kau selesai melaksanakan salah satu ujianmu di kampus. Dan kau bisa pastikan bahwa keimanan dan pola fikirmu itu sedang jauh dari target pencapaian manisnya iman.
Kau melihat mereka, begitu mampu dan begitu pintar, begitu teliti dan begitu cerdas, begitu mampu mengkondisikan diri dengan keadaan.
Lalu, bagaimana denganmu?
Tentu saja kau asing, tidak melakukan apapun. Tertunduk, tak tau apa yang harus kau tuliskan dalam lembar kertas putih itu. Bahkan rasanya kau ingin menangis, bersedih dengan kondisi asingmu saat itu. Ingin menangisi kondisi ketidak mampuanmu saat itu.
Hey, mana semangat dan kepercayaanmu?
Mereka mampu dan mereka tetap mengingat Tuhannya. Apakah kamu tidak bisa melakukan hal yang sama? Hal yang serupa?
Ingatlah satu hal, kau boleh meragukan kemampuanmu sendiri tapi kau tak pernah diperbolehkan untuk meragukan kekuasaan Allah yang dapat memampukanmu.
Ini bukan hasil atas kerja kerasmu saja, tapi ini adalah apa yang diberikan Allah, apa yang dipercayakan Allah, hadiah dari Allah berupa kemampuan.
Termasuk apa yang sedang mereka lakukan tadi, itupun atas kuasa Allah.
Kerjakan, dan jangan lupakan bahwa semua itu atas kuasa Allah.
Entah itu untuk menghukummu yang bermalas-malasan, entah itu untuk menguji keimanan dan pola fikirmu yang tak stabil, atau apapun yang Allah inginkan dan Allah kehendaki.
Allah, Allah, Allah, tiada daya dan upaya melainkan atas kuasa-Mu.
Sapaan selepas ujian,
Nisa Wiyati Ilahi
*istigfar*
BalasHapus