Sabtu, 31 Oktober 2015

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #4



Fifi Nurshifa Budiarti, itulah nama seorang divergent yang aku kenal sejak kami berada dalam salah satu organisasi Himpunan Mahasiswi sebagai alumni PPI (Pesantren Persatuan Islam). Saat itu, aku belum terlalu banyak mengenal kepribadian dan sifatnya. Yang aku tahu, dia adalah teman dari temanku saat duduk di tingkat mu’allimien. Yang aku tahu, dia berprestasi dan memiliki keahlian di bidang organisasi, sejak saat itu aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki kepribadian koleris. Pribadi yang menurutku pekerja keras dan dipercaya menduduki jabatan-jabatan penting dalam organisasi, seperti ketua atau bahkan sekretaris.
Waktu berlalu, jika kami bertemu maka kami hanya sekedar menyapa satu sama lain. Kami tidak memiliki kontak satu sama lain, tidak memiliki perbincangan diluar “Apa kabar himi? Masih suka ikut kegiatan himi?”. Bahkan mungkin kami tidak pernah memikirkan satu sama lain atau memperhatikan satu sama lain atau memperdulikan satu sama lain dalam setiap hari, minggu bahkan bulannya.
Qadarullah (itu bahasa yang dia ucapkan) kami dipertemukan kembali di kelompok KKN yang bertempatkan di Caringin, Karang tengah, Garut. Suatu kejutan dan hadiah dari Allah agar kami bisa saling menjaga satu sama lain, mengingatkan satu sama lain dan memperhatikan satu sama lain. Yang intinya, mengenal dengan baik satu sama lain untuk dapat berjalan bersama dalam kebaikan dan perubahan.
Pertemuan pertama kami dan perbincangan terpanjang kami adalah pada saat meet up pertama kelompok KKN. Ia diajukan dan disepakati untuk menjadi sekretaris kelompok, sisi kolerisnya sudah mulai terlihat disana. Berlanjut saat kami mulai sering mengadakan pertemuan dan perkumpulan, aku semakin mengetahui kepribadiannya, caranya memutuskan, arah berfikirnya, komunikasinya, dan hal lainnya yang menunjukkan bagaimana kepribadiannya. Kurasa dia mulai terlihat memiliki kemiripan denganku dari beberapa sisi, terkadang ia bisa menjadi orang yang pendiam, terkadang juga sangat tidak bisa berdiam diri di tempat, terkadang menangis tertahan, dan terkadang-terkadang lainnya. Intinya, aku sedikit kebingungan apakah ia melankolis atau phlegmatis.
10 hari pertama, kami seringkali bersama-sama dalam melakukan sesuatu. Memperbincangkan sesuatu yang terkadang hanya kita berdualah yang mengerti hal itu, seperti masa-masa di pesantren, teman-teman di pesantren, kisah cinta di pesantren, ups. Intinya, kami semakin dekat dan senantiasa berusaha satu sama lain untuk dapat saling memahami pribadi dan pola pikir masing-masing. Dan aku menyimpulkan bahwa dia memiliki 3 pribadi, koleris, melankolis dan phlegmatis.
Dia orang yang baik, dia bisa mengarahkan orang lain dengan bijak, mengerjakan sesuatu dengan tekun dan menjadi teman bicara atau bercanda yang asik dan enerjik. Dia anak gunung, bahkan mengikuti salah satu perkumpulan bernama Matagira. Sejujurnya aku belum bisa memahami dia sepenuhnya, itulah mengapa aku memandangnya sebagai seseorang yang divergent.
Poy, itu sapaan hangatku padanya. Meski bukan hanya dia yang kupanggil dengan sapaan ‘poy’ tapi melalui sapaan itulah aku merasa bahwa aku adalah teman dekatnya, akrab dengannya dan memahaminya.
Poy, kau tahu bukan bahwa kau adalah orang yang kuat dan menguatkan. Buktinya, aku membiasakan diri menjadi kuat karenamu. Kau juga orang yang perhatian dengan batasan yang pas, dari sikapmu aku bisa belajar untuk tidak memperhatikan dan peduli pada seseorang secara berlebihan. Kau pemimpin yang baik meski kau tak menyadarinya, dari caramu berfikir dan memutuskan aku belajar untuk bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Poy, terima kasih banyak sudah memberikan waktu dan kesempatan bagiku untuk mengenalmu, menjadi temanmu, meski sulit rasanya jika aku menjadi kakak iparmu (abaikan). Yang pasti, kau memberikan banyak kebaikan dan kenangan padaku termasuk saat kau tak menyadarinya. Ada saat dimana aku merasa tenang dan begitu bahagia meski hanya melihatmu terbaring dan tertidur pulas disampingku. Mungkin ini berlebihan, tapi di masa itulah aku bisa benar-benar tahu dan melihat keadaanmu secara langsung. Tak tega rasanya membayangkan kau menangis, lelah, terluka dan sakit tanpa aku berada disampingmu sebagai teman yang mendengarkan keluh kesahmu dan membantu menghilangkannya.
Poy, aku pun ingin minta maaf jika sikapku belum bisa memberikan yang terbaik bagimu. Jika pemikiranku belum bisa mendukung keputusan bijakmu. Jika pribadiku belum bisa memahami pribadimu secara jelas dan menyeluruh. Jika hadirku belum bisa menjadi bagian kecil dari kebahagiaanmu. Jika tulisanku belum bisa memberikan rasa haru yang berarti bagimu. Dan jika dilain waktu, aku menuliskan sesuatu untukmu atau tentangmu, semoga itu tidak mengganggu.
Akhir kata, ingin kuucapkan “Alhamdulillah untuk kelahiranmu, semoga umurmu berkah dan dapat memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada disisimu”. Aamiin.
Salam hangat (dari calon kakak iparmu *semoga jadi aamiin wkwk abaikan ini informal)
Nisa Wiyati Ilahi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar