Fifi Nurshifa
Budiarti, itulah nama seorang divergent yang aku kenal sejak kami berada dalam
salah satu organisasi Himpunan Mahasiswi sebagai alumni PPI (Pesantren
Persatuan Islam). Saat itu, aku belum terlalu banyak mengenal kepribadian dan
sifatnya. Yang aku tahu, dia adalah teman dari temanku saat duduk di tingkat
mu’allimien. Yang aku tahu, dia berprestasi dan memiliki keahlian di bidang
organisasi, sejak saat itu aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki kepribadian
koleris. Pribadi yang menurutku pekerja keras dan dipercaya menduduki
jabatan-jabatan penting dalam organisasi, seperti ketua atau bahkan sekretaris.
Waktu
berlalu, jika kami bertemu maka kami hanya sekedar menyapa satu sama lain. Kami
tidak memiliki kontak satu sama lain, tidak memiliki perbincangan diluar “Apa
kabar himi? Masih suka ikut kegiatan himi?”. Bahkan mungkin kami tidak pernah
memikirkan satu sama lain atau memperhatikan satu sama lain atau memperdulikan
satu sama lain dalam setiap hari, minggu bahkan bulannya.
Qadarullah
(itu bahasa yang dia ucapkan) kami dipertemukan kembali di kelompok KKN yang
bertempatkan di Caringin, Karang tengah, Garut. Suatu kejutan dan hadiah dari
Allah agar kami bisa saling menjaga satu sama lain, mengingatkan satu sama lain
dan memperhatikan satu sama lain. Yang intinya, mengenal dengan baik satu sama
lain untuk dapat berjalan bersama dalam kebaikan dan perubahan.
Pertemuan
pertama kami dan perbincangan terpanjang kami adalah pada saat meet up pertama
kelompok KKN. Ia diajukan dan disepakati untuk menjadi sekretaris kelompok,
sisi kolerisnya sudah mulai terlihat disana. Berlanjut saat kami mulai sering
mengadakan pertemuan dan perkumpulan, aku semakin mengetahui kepribadiannya,
caranya memutuskan, arah berfikirnya, komunikasinya, dan hal lainnya yang
menunjukkan bagaimana kepribadiannya. Kurasa dia mulai terlihat memiliki
kemiripan denganku dari beberapa sisi, terkadang ia bisa menjadi orang yang
pendiam, terkadang juga sangat tidak bisa berdiam diri di tempat, terkadang
menangis tertahan, dan terkadang-terkadang lainnya. Intinya, aku sedikit
kebingungan apakah ia melankolis atau phlegmatis.
10 hari
pertama, kami seringkali bersama-sama dalam melakukan sesuatu. Memperbincangkan
sesuatu yang terkadang hanya kita berdualah yang mengerti hal itu, seperti
masa-masa di pesantren, teman-teman di pesantren, kisah cinta di pesantren,
ups. Intinya, kami semakin dekat dan senantiasa berusaha satu sama lain untuk
dapat saling memahami pribadi dan pola pikir masing-masing. Dan aku
menyimpulkan bahwa dia memiliki 3 pribadi, koleris, melankolis dan phlegmatis.
Dia orang
yang baik, dia bisa mengarahkan orang lain dengan bijak, mengerjakan sesuatu
dengan tekun dan menjadi teman bicara atau bercanda yang asik dan enerjik. Dia
anak gunung, bahkan mengikuti salah satu perkumpulan bernama Matagira. Sejujurnya
aku belum bisa memahami dia sepenuhnya, itulah mengapa aku memandangnya sebagai
seseorang yang divergent.
Poy, itu
sapaan hangatku padanya. Meski bukan hanya dia yang kupanggil dengan sapaan
‘poy’ tapi melalui sapaan itulah aku merasa bahwa aku adalah teman dekatnya,
akrab dengannya dan memahaminya.
Poy, kau tahu
bukan bahwa kau adalah orang yang kuat dan menguatkan. Buktinya, aku
membiasakan diri menjadi kuat karenamu. Kau juga orang yang perhatian dengan
batasan yang pas, dari sikapmu aku bisa belajar untuk tidak memperhatikan dan
peduli pada seseorang secara berlebihan. Kau pemimpin yang baik meski kau tak
menyadarinya, dari caramu berfikir dan memutuskan aku belajar untuk bisa lebih
bijak dalam mengambil keputusan.
Poy, terima
kasih banyak sudah memberikan waktu dan kesempatan bagiku untuk mengenalmu,
menjadi temanmu, meski sulit rasanya jika aku menjadi kakak iparmu (abaikan). Yang
pasti, kau memberikan banyak kebaikan dan kenangan padaku termasuk saat kau tak
menyadarinya. Ada saat dimana aku merasa tenang dan begitu bahagia meski hanya
melihatmu terbaring dan tertidur pulas disampingku. Mungkin ini berlebihan,
tapi di masa itulah aku bisa benar-benar tahu dan melihat keadaanmu secara
langsung. Tak tega rasanya membayangkan kau menangis, lelah, terluka dan sakit
tanpa aku berada disampingmu sebagai teman yang mendengarkan keluh kesahmu dan
membantu menghilangkannya.
Poy, aku pun
ingin minta maaf jika sikapku belum bisa memberikan yang terbaik bagimu. Jika pemikiranku
belum bisa mendukung keputusan bijakmu. Jika pribadiku belum bisa memahami
pribadimu secara jelas dan menyeluruh. Jika hadirku belum bisa menjadi bagian
kecil dari kebahagiaanmu. Jika tulisanku belum bisa memberikan rasa haru yang
berarti bagimu. Dan jika dilain waktu, aku menuliskan sesuatu untukmu atau
tentangmu, semoga itu tidak mengganggu.
Akhir kata,
ingin kuucapkan “Alhamdulillah untuk kelahiranmu, semoga umurmu berkah dan
dapat memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada disisimu”. Aamiin.
Salam hangat
(dari calon kakak iparmu *semoga jadi aamiin wkwk abaikan ini informal)
Nisa Wiyati
Ilahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar