Satu masa, kata" seperti ini pernah seringkali terucapkan maupun terdengar, tertuliskan maupun terbaca, terfikirkan maupun terbayangkan.
Ya, hakikatnya memang benar kita bukanlah siapa-siapa. Ketika (dalam fikiran saya saja) motivator berkata, karena kita bukan siapa-siapa kita perlu membentuk diri dan menjadikan diri kita ini menjadi siapa. Yang saya ingin ungkapkan adalah kita hanya hamba yang tak bisa berbuat apa" tanpa pertolongan, izin dan kuasa dari Allah.
Sesuatu yang harus terjadi, maka terjadilah. Meskipun kita tak menginginkannya dan kita berusaha keras untuk mencegahnya terjadi. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang harus tidak terjadi, maka tak akan pernah terjadi. Meskipun kita sangat menginginkannya dan berusaha keras untuk ketercapaian akan kejadian itu.
Aahh, membicarakan takdir dan ketetapan, qadha' dan qadar selalu membuatku takut. Takut dalam membedakan antara keduanya, takut dalam memahami maksud dari keduanya.
Aku belajar banyak, khususnya ketika melalui ujian di dunia dalam bentuk tes. Begitu terstruktur dan tekstual. Dan itulah yang perlu aku terapkan di kehidupan nyata, pada tes dan ujian yang tak ada struktur pasti dan jauh dari konteks tekstual.
Aku benar-benar tak akan mampu melakukan apapun kecuali Allah yang membuatku mampu. Itulah mengapa aku perlu untuk berdoa pada Allah, senantiasa berserah diri kepada-Nya. Itu membuatku belajar untuk tidak berbuat bohong. Dalam arti, aku harus bisa menyeimbangkan antara usaha dengan doa, karena doa tanpa usaha itu bohong. Lalu, ketika aku sudah berusaha dan ternyata aku bisa, apakah itu disebut ketetapan dari-Nya? Ahh aku masih takut mengatakan bahwa itu adalah ketetapan dari-Nya.
Dan ketika aku selalu mampu melakukan sesuatu, seketika semua akan lumpuh. Ingatanku takkan membantuku sedikitpun. Karena apa yang kupelajari, apa yang kuketahui, apa yang kufahami dan apa yang kukuasai bisa hilang begitu saja dalam hitungan detik. Itu membuatku belajar untuk tidak sombong. Dalam arti, aku harus bisa menyeimbangkan antara doa dengan usaha, karena usaha tanpa doa itu sombong. Lalu, ketika aku sudah berusaha dan ternyata aku tak bisa, apakah itu disebut takdir? Ahh aku masih takut mengatakan bahwa itu adalah takdir.
Aku mah apa atuh, tanpa Allah aku tak bisa melakukan apapun. Tapi, apa Allah akan memampukanku jika aku tak berusaha?
Menurutku, bukan berusaha untuk menjadi siapa, tapi berusaha untuk menyeimbangkan antara doa dan juga usaha untuk menjadi hamba.
Itu yang harus ku catat.
Aahh, betapa bahagianya hamba yang selalu mendekatkan diri pada-Mu. Menjadi hamba yang melakukan semuanya karena-Mu, untuk-Mu dan dengan-Mu.
Rabb, bisakah hamba menjadi bagian dari orang-orang seperti itu?
Da aku mah apa atuh?
Minggu, 31 Mei 2015
Da aku mah apa atuh?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar