Senin, 03 Maret 2014

jalan hijrah sapaan persahabatan

Sapaan Persahabatan
“Bukan aku yang dikirim oleh-Nya untuk membimbing kalian, tetapi kalianlah yang dikirim oleh-Nya untuk mengingatkanku dalam kebaikan”.
Sapaan dari seorang sahabat di bangku perkuliahanmu. LA_SM ^^
Naya, Faza dan Syafa adalah tiga orang sahabat yang dipertemukan dalam satu jalan hijrah dengan tujuan yang berbeda. Sayangnya, jalan hijrah Naya lah yang paling sulit dan berbeda dari kedua temannya itu.
Siang itu sepulang kuliah, Naya dan bersama teman-temannya pergi mencari makan siang sesaat setelah melaksanakan shalat dzuhur. Di tengah perjalanan, mereka sedang membicarakan fashion hijab yang sedang marak saat ini. Salah satu teman Naya yang bernama Faza sangat menyukai fashion hijab itu, selain itu Faza berasal dari sekolah umum. Penampilannya sehari-hari dalam perkuliahan selalu menggunakan style seorang “hijabers”.
Berbeda halnya dengan Naya yang ingin berpenampilan sederhana saja seperti biasanya, terlebih dia berasal dari pondok pesantren. Selama 6 tahun, Naya menghabiskan jenjang pendidikan SMP dan SMA nya dengan mondok di pesantren. Disana, ia terhitung sebagai santri yang baik dalam mengenakan jilbab dan juga pakaiannya. Begitupun dengan saat ini, ia merupakan salah satu gadis yang berpenampilan “muslimah” dibandingkan teman-teman sekelasnya. Meskipun pada dasarnya, perbedaan antara Naya dan teman-teman lainnya hanyalah karena ia selalu menggunakan rok dan menggunakan jilbab yang sekedar menutup dadanya. Naya sangat berharap bahwa suatu hari, akan ada temannya yang bisa mengenakan pakaian sepertinya, memakai rok dan menutupi dada.
“Memangnya, kenapa kau tak menyukai fashion hijab yang sedang marak saat ini?” tanya Faza pada Naya di tengah perbincangan mereka.
Naya hanya tersenyum, dalam hatinya ia hanya tak mau mengikuti fashion hijab tersebut karena ia merasa bahwa apa yang sedang dipakainya dengan sederhana ini lebih baik.
Namun, tak lama setelah itu Naya menjawab, “Bentuk mukaku bulat,” jawabnya.
“Memangnya bentuk mukaku apa? Mukaku juga bulat,” ujar Faza sambil membayangkan bentuk mukanya sendiri.
“Kau sudah terbiasa memakainya, sedangkan aku tak pernah sekalipun memakainya,” balas Naya.
“Kalau begitu cobalah,” ucap Faza sambil tersenyum.
Naya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar pada Faza. Kemudian, terlintas di fikirannya untuk bertanya “Apa menurutmu jilbabku sudah cukup panjang?”.
“Karena kau berasal dari pondok pesantren, kurasa jilbabmu pendek,” jawab Faza sekenanya.
Naya tersentak mendengar jawaban Faza, sejujurnya ia merasa malu karena dengan basic alumni pondok pesantren jilbab yang dikenakannya selama ini ternyata tidak cukup panjang.
Perbincangan akhirnya terhenti saat mereka sampai di tempat tujuan dan dengan semangat mereka segera mengambil makanan yang tersedia di warung nasi, sayangnya Naya masih saja memikirkan jawaban Faza padanya beberapa saat yang lalu.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau melamun atau sedang memikirkan sesuatu?” Faza bertanya pada Naya yang terlihat pendiam beberapa saat.
“Aku.. hanya..” ucap Naya terbata-bata.
“Kau kenapa?” tanya Faza dengan nada khawatir.
“Aku hanya.. merasa sangat lapar,” jawab Naya sambil tersenyum lebar.
Faza menepuk jidatnya, “Kau ini.. kukira ada apa, kalau begitu lekaslah mengambil makanan”.
Naya menggaruk kepalanya.
Saat sedang makan, Faza dan teman-teman Naya lainnya berbincang bersama sambil tertawa sejenak menikmati perbincangan mereka. Naya hanya ikut-ikutan tersenyum dan tertawa, meskipun kondisi hatinya memikirkan hal lain. Ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat Faza mengomentari pakaiannya.
Saat itu, Faza dan Naya sedang bersiap-siap untuk melakukan study tour bersama teman-teman sekelasnya. Karena mereka sedang berada di ruangan yang sama, tentu saja Faza bisa melihat apa yang dikenakan Naya pada saat itu. Naya mengenakan baju kurung berbahan levis yang berukuran pas di badannya, namun di bagian atas pinggang baju tersebut terdapat kerutan yang membuat Naya terlihat memakai baju dengan ukuran yang kecil.
“Kurasa, tak ada seorang wanita muslimah yang mau mengenakan pakaian seperti itu,” Faza mengomentari pakaian Naya.
“Memangnya, aku sudah bisa masuk kategori wanita muslimah yang sangat menutup auratnya? Kurasa aku masih perlu banyak perubahan untuk menjadi seorang wanita muslimah yang sempurna,” Naya membela diri.
“Maksudku, rasanya baru kali ini kulihat kau mengenakan pakaian dengan model seperti itu,” jelas Faza.
“Kau tenang saja, aku akan berusaha menutupinya dengan jilbab yang akan ku pakai nanti,” balas Naya.
Naya menundukkan wajahnya sejenak, sambil berusaha menutupi apa yang sedang difikirkannya dihadapan teman-temannya, terutama Faza. Naya bersyukur ia dipertemukan dengan Faza yang mampu membuatnya kembali memikirkan tentang ukuran jilbab yang dikenakannya selama ini dan juga pakaian yang dikenakannya sehari-hari. Harusnya sebagai alumni pondok, ia mampu merubah orang lain, namun ternyata sebaliknya orang lainlah yang telah merubahnya. Sejak saat itu, Naya sadar bahwa ia harus merubah semuanya untuk menjadikan dirinya seorang waNaya muslimah yang baik.
“Terima kasih banyak untukmu Faza. Ku anggap peringatan darimu tentang jilbab dan pakaianku adalah sapaan persahabatan darimu yang peduli padaku,” ucap Naya dalam hatinya.
*-*-*
Siang itu, Naya dan Syafa pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas perkuliahan, namun ternyata tepat didepan perpustakaan sedang diadakan bazzar buku, hal itu membuat mereka terhenti dan berkunjung sebentar.
“Lihat, ada bazzar buku !” ucap Syafa kegirangan, “bagaimana jika kita berkunjung kesana sebentar, ada buku yang sedang kucari,” ajaknya pada Naya.
“Tentu, mengapa tidak? Ayo kita kesana,” balas Naya sambil berjalan menuju bazzar buku tersebut, “Memangnya buku apa yang ingin kau beli?” tanyanya pada Syafa.
“Judul bukunya, “Udah Putusin Aja !”,” jawab Syafa, “sudah lama aku mencarinya, semoga saja buku itu ada disini”.
Hari itu, akhirnya Syafa mendapatkan buku yang diinginkannya, Naya ikut senang melihat temannya yang satu itu.
“Memangnya, buku itu membahas tentang apa?” Naya penasaran.
“Tentu saja tentang pacaran, zaman sekarang siswa siswi sekolah menengah sudah banyak yang melakukannya, padahal semua itu dilarang agama bukan?” jawab Syafa, “Hey, bagaimana pendapatmu anak pondok?” Syafa tersenyum lebar.
Muka Naya tiba-tiba memerah, ia sadar bahwa sebagai seorang santri yang mempelajari agama lebih banyak dibandingkan dengan seorang siswa di sekolah umum tak seharusnya ia berpacaran. Meskipun ia  merasa tidak terlalu salah, karena cara berpacarannya tidaklah seperti yang dilakukan kebanyakan orang pada umumnya. Naya tidak punya jadwal “berpacaran”, bahkan sekedar diajak bertemu, berjalan berdua atau mengobrol pun ia merasa takut dan enggan. Caranya berpacaran hanya sekedar berkomunikasi lewat dunia maya dan handphone saja, tak lebih dari itu.
Naya sadar sepenuhnya, bahwa ia haruslah merasa sangat malu pada Syafa yang tidak berpacaran, meskipun ia adalah seorang alumni sekolah umum, bukan pondok pesantren seperti dirinya. Naya menggaruk kepalanya, ia tak tahu harus menjawab apa karena saat itu Naya masih berpacaran dengan salah satu santri di pondok pesantrennya dulu. Awalnya Naya hanya ingin memberikan sedikit komentar saja, tapi ia rasa jujur akan lebih baik.
“Entahlah, aku tahu bahwa pacaran itu mendekati zina dan Allah secara tegas melarangnya dalam kitab suci Al-Qur’an. Namun, aku sendiri pun pacaran,” balasnya sambil tersenyum lebar.
“Kau berpacaran?,” Syafa mengernyitkan dahinya, “Kalau begitu kau harus membaca buku ini, agar kau tak pacaran lagi”.
“Sejujurnya, aku pun ingin segera mengakhiri hubunganku dengannya, namun aku butuh waktu agar tak menyakiti hatinya,” balas Naya dengan wajah yang mengisyaratkan keraguan atas perkataannya.
“Hmm.. memangnya apa alasan utamamu mempertahankan hubungan itu?” tanya Syafa.
“Pacarku masih duduk di bangku sekolah, bukan kuliah,” jawab Naya jujur, “Selain itu, ia akan menjalani Ujian Nasional dan beberapa ujian lainnya di pondok pesantren. Aku hanya tak mau membuatnya kalah dalam semua ujian itu hanya karena hubungan kami berakhir”.
Syafa tersenyum sambil tertawa sejenak, “Kau lihat, pacaran akan membuatmu memikirkan sesuatu yang tak seharusnya kau fikirkan. Kau merasa sedih dan kebingungan tak berujung jika kau masih saja berpacaran. Meskipun aku bisa mengerti itu, tapi apakah baik memperlambat apa yang dianggap salah?” ia mencoba mengingatkan.
“Maksudmu?” Naya tak mengerti apa yang diucapkan temannya itu.
“Intinya, apakah baik jika kau memperlambat putusnya hubunganmu dengannya? Padahal pacaran adalah sesuatu yang dianggap salah oleh agama,” jelas Syafa.
“Kau benar, mungkin seharusnya aku mencoba untuk membicarakan ini terlebih dahulu,” Naya benar-benar merasa malu atas apa yang telah diperbincangkannya bersama Syafa sesaat yang lalu.
“Lihatlah,” Syafa membuka buku yang baru saja dibelinya dan menunjukkan bukunya pada Naya.
Di buku itu tertulis kata-kata yang diselipkan dalam beberapa gambar, sejenak Naya bisa mengambil kesimpulan atas apa yang dilihatnya. Meskipun cara berpacarannya terhitung baik dan tidak melakukan sesuatu yang tidak wajar, atau bahkan tidak melakukan apa-apa, ia tetap berdosa atasnya. Oleh karena itu ia harus berfikir ulang untuk tetap berpacaran, karena jika tidak ia akan terus larut dalam dosa dan tipu daya sandiwara cinta akibat berpacaran tersebut. Wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik, begitupun sebaliknya, harusnya Naya sangat tak asing dengan semua itu. Mau tak mau, Naya harus mengambil langkah untuk mengakhiri hubungannya.
Harusnya, Naya yang memperingatkan teman-temannya bahwa pacaran itu tidak diperbolehkan agama, namun kenyataan yang terjadi adalah ia diberi peringatan dan dukungan dari temannya untuk tidak lagi berpacaran.
“Terima kasih banyak untukmu Syafa. Ku anggap peringatan darimu tentang hubunganku dengannya dalam ikatan “pacaran” adalah sapaan persahabatan darimu yang peduli padaku,” ucap Naya dalam hatinya.
Naya, seorang santri alumni pondok pesantren yang mempunyai tugas untuk Amr Ma’ruf dan Nahyi Munkar pada teman-temannya ternyata menemukan kedua sahabatnya yang justru menyuruhnya dalam kebaikan dengan cara merubah cara berpakaiannya dan melarangnya dalam kemungkaran dengan cara memperingatkannya akan dosa akibat berpacaran.
Meskipun Naya adalah seorang santri, ia yakin bahwa bukan ia yang dikirim untuk kedua sahabatnya, Faza dan Syafa, tapi mereka berdualah yang dikirim Allah SWT yang Maha Pengasih untuk merubahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan sadar akan statusnya sebagai seorang “santri”.
*-*-*
Sapaan persahabatan, sesuatu yang akan selalu ada dalam benak hati Naya yang terdalam atas kehadiran kedua temannya dalam jalan hijrahnya. Namun disisi lain, Naya merasa sedih, hatinya merasa terharu saat membaca tulisan kedua temannya itu. Tulisan tentang jalan hijrah mereka yang sama persis, merubah pribadi mereka dengan step by step menuju jilbab syar’i.
Faza dan Syafa memiliki latar belakang yang sama, penampilan mereka pada bulan-bulan pertama di perkuliahan pun tidak jauh berbeda. Hanya saja, Faza memang terlihat sangat feminim berbeda dengan Syafa yang terlihat lebih cuek dan tomboy dibandingkan dengannya.
Sekata demi sekata, Naya membaca tulisan Faza.
“Ingat ! Kau tak boleh terlihat centil saat mengenakan jilbabmu !” itu adalah kata-kata pertama yang tertulis disana, Naya tersenyum dan meneruskan membaca.
Aku merasa bahwa kata-kata itu berputar di dalam fikiranku dan tak henti-hentinya terdengar dengan jelas oleh telingaku. Mungkin, Allah sedang memberikanku “kode” dan petunjuk padaku. Karena memang, saat ini aku sedang berada dalam perjalanan jauh nan sulit yang tempat pemberhentiannya adalah menjadi seorang wanita shalehah yang lebih baik. Ku patrikan rasa syukurku pada Allah karena ternyata cara berpakaianku dulu yang selalu memakai celana jeans telah berganti dengan rok panjang yang menutup auratku. Perkataanku dulu tentang “begitu lucunya celana itu”, sekarang telah berganti menjadi “begitu lucunya baju kurung itu”. Aku tahu, Allah selalu menyukai proses seorang hamba menjadi lebih baik, buktinya aku butuh waktu lebih dari 6 bulan untuk menjadi sosok seorang Faza saat ini. Mungkin celana jeans memang sudah ku tinggalkan, namun kenyataannya aku masih saja mengenakan jilbab yang bisa disimpulkan “belum syar’i”.
Sampai akhirnya di hari itu, hati ini rasanya merasa takut dan khawatir, kegelisahan tiada henti yang hanya akan terhenti jika ku lampiaskan semua rasa ini dengan menangis. Dan dengan kuasa Allah, ku baca al-qur’an dan menemukan satu ayat yang membuat hati ini sangat ingin menangis.

 “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah Memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyang-mu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat,dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dia-lah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong” (Q.S. Al Hajj ayat 78)

Di hari itu, aku sedang berada di kamar kos temanku Syafa. Aku memutuskan untuk mencoba mengenakan jilbab miliknya yang sudah lebih baik dariku. Aku menghadap cermin, kulihat keadaanku lebih baik dari sebelumnya, rasanya seperti wajah ini terlihat lebih cantik dan lebih indah saat mengenakan jilbab sesuai dengan perintah dari-Nya. Tanpa sadar, aku menangis haru tak henti-hentinya disana. Terfikir, mungkin inilah cara Allah untuk memberikan peringatan padaku untuk memantapkan niat dan berusaha lebih baik lagi. Semoga kedepannya nanti, tak ada lagi sapaan lain untukku selain “wanita dengan jilbab syar’inya”. Aamiin.
Seusai membaca tulisan Faza, Naya merasa bersalah padanya, ia merasa malu pada dirinya sendiri karena ia tak mampu menemani temannya dalam perjalanan hijrahnya. Begitupun saat ia membaca tulisan Syafa tentang cara hijrahnya.
Bismillaah...
"Fa, saat kau kuliah nanti kau harus memakai rokmu, jangan terlalu sering mengenakan celana jeansmu,"
"Fa, kau tak boleh mengenakan celana jeans yang membentuk tubuhmu, karena itu sama saja dengan telanjang bagimu,"
Awal mula ketika ibuku menyuruh memakai rok saat kuliah, aku menolak. Malas sekali rasanya ribet-ribet memakai rok. Karena dulu memang aku lebih suka sesuatu yang simple. Setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu.
Mungkin karena masih awal masuk kuliah, budaya celana jeans dari SMA masih terbawa sampai semester 1. Memakai rok hanya pada waktu tertentu, pada mata kuliah tertentu yang mewajibkan mahasiswanya memakai pakaian yang rapi. Kemeja dan rok hitam span. Besoknya, di saat mata kuliah yang notabene dosennya santai, ku pakai lagi celana jeans itu.
Cerita selanjutnya, perkenalanku dengan rok pada saat kumpul pertama member of SCIEmics.  Ada hijab yang memisahkan antara ikhwan dengan akhwat. Aku dan temanku, Faza, hanya kami berdua yang memakai celana jeans ketat saat itu. Kami melihat sebagian besar anggota SCIEmics yang menutup auratnya membuat kami berdua canggung berada di sekitar mereka. 
"Fa, bagaimana jika saat ada perkumpulan SCIEmics lagi, kita pakai rok."
Setelah dari perkumpulan itu, kami berdua membuat kesepakatan kalau ada kumpul SCIEmics lagi, kita pakai rok. Deal.
Memang awalnya hanya pada saat perkumpulan SCIEmics saja, tetapi lama-kelamaan sejalan dengan waktu kami jadi sering memakai rok. Tidak hanya di saat mata kuliah tertentu saja.  Aku merasakan ada yang berbeda, seperti mendapatkan chemistry. Hahaha
Lagi-lagi 'perkataan singkat' ibuku terkabul. Aku jadi lebih sering memakai rok ke kampus. Perubahanku terasa sedikit demi sedikit. Ku kurangi keberadaan dan pemakaian celana jeans. Sekarang, saat hendak membeli baju bersama ibuku, akulah yang seolah meminta padanya, "mah, Syafa mau beli rok aja. Hehe", bukan lagi "Syafa, nanti mamah beliin rok, ya."
Terbawa juga ketika berada di lingkungan rumahku, sewaktu di ajak main oleh temanku, yang tadinya aku memakai celana jeans sekarang berubah memakai rok dan dilengkapi kaos kaki.  
"Kau terlihat lebih baik mengenakan rok, akupun ingin seperti itu. Namun, kurasa aku baru bisa memulainya dengan mengenakan kaos kaki saat pergi kuliah ke kampus"
Step-by-step. Awalnya juga aku masih suka yang simple-simple. Dari pergantian celana jeans dengan rok, lalu mulai pakai kaos kaki, dan menutup dadaku dengan jilbabku. Yang dulunya setelan kerudung-kaos-celana jeans-sepatu berubah jadi kerudung-baju panjang-rok-kaos kaki-sepatu sendal. Pelajaran: Terkadang, lingkungan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kita. Jika kita berada di lingkungan yang sebagian besar terdapat orang-orang yang baik, maka terbawa pula kita di dalamnya. :)
Faza dan Syafa memang hijrah bersama, bedanya Faza lebih dulu mengenakan rok dibandingkan dengan Syafa, dan Syafa lebih dulu mengenakan jilbab yang panjang dibandingkan dengan Faza. Mereka berdua, saling mengajak dan saling mengingatkan.
Satu hal yang mungkin tidak mereka sadari adalah, mereka telah mengajak dan mengingatkan Naya secara tidak langsung.
*-*-*
Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya..
Allah selalu memberikan jalan yang menuntun hamba-Nya..
Dan Allah selalu menjadi pembuat rencana bagi setiap alur kehidupan hamba-Nya..

Cerita ini hanyalah fiktif yang terinspirasi dari kisah Naya, Faza dan Syafa.. tiga orang wanita yang telah mendapatkan jalan hijrahnya.. Dan bagi Naya, Faza dan Syafa adalah orang yang Allah kirimkan untuk mendapatkan jalan hijrahnya..
Ini jalan hijrahku, mana jalan hijrahmu?

*-*-*

1 komentar: