1 Mei 2014
Malam itu, ada yang sedang kucari. sesuatu hal yg sebenarnya sudah jelas ku ketahui hukumnya namun (jujur) aku ingin sedikit memungkirinya.
ulang tahun, itulah permasalahan yg sedang kucari tahu. bolehkah kita selaku muslim merayakan ulang tahun? dengan penuh kecemasan kucari hukum itu di berbagai sumber yg berhasil kutemukan.
Sejujurnya aku berharap, ada pertentangan pendapat disana. namun sayang ternyata tak ada yg bertentangan secara jelas dan hanya ada beberapa komentar yang tidak mau menerima pendapat itu saja karena sejarah pun telah membuktikan perayaan dari ulang tahun bukanlah hal yg dimulai oleh umat islam. huft.. aku tahu harusnya aku melakukan apa yg memang ada perintahnya. karena itu akan lebih baik bagiku dan lebih menjaga amalanku.
tapi, ini adalah awal Mei dan 2 hari ke depan salah seorang kawanku berulang tahun. ia akan menginjak usia 20 tahun dan tentunya ia akan bertambah dewasa. bisakah aku menahan diri untuk tidak mengucapkan kalimat "selamat ulang tahun" padanya? Ya Allah, jika keputusanku benar maka kuatkanlah lidah dan tanganku ini untuk tidak mengucapkan hal itu padanya.
2 Mei 2014
Sore ini, aku akan berangkat ke Solo dan itu artinya esok adalah hari ualng tahun nya yang ke 20. hati ini rasanya masih bingung. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? di satu sisi aku pun tak mau melakukan sesuatu yg memang sudah jelas tak ada perintah dari-Mu. namun di sisi lain, aku punya kawan yg ingin sekali rasanya kuucapkan padanya kalimat "selamat ulang tahun". Lalu, apakah aku berdosa jika hanya sekedar mendoakannya saja? Aku tahu pasti muncul pertanyaan “mengapa harus mendoakan ia disaat ulang tahunnya?”. -_-”
Oh My... Aku tahu harusnya aku bisa menahan semua kehendak dalam hal ulang tahun ini.
3 Mei 2014
Hari itu tiba, hari dimana aku mengikuti olimpiade. Hari dimana kawanku memang sedang berulang tahun. Kulihat di obrolan bbm antara aku, dirinya dan kawanku yang lain. Ia bahkan sudah memberi kode bahwa salah satu kawan terbaik kami sedang berualng tahun. Ohh My... Apa yang harus kulakukan Ya Allah? Haruskah aku mengucapkan “selamat” padanya? Ahh.. Sudahlah.. Mungkin lebih baik aku fokus untuk lomba saja dulu.
Seusai lomba, kulihat PM kawanku yang lain mengucapkan selamat dan sukses padaku yang sedang olimpiade dan padanya yang sedang berulang tahun. Dan aku hanya bisa terdiam menanggapi semua itu, tersenyum dengan sirat di wajah namun kegelisahan tentang ulang tahun masih saja terfikirkan.
Hari beranjak sore hingga malam, ia membuat PM, mengucapkan terima kasih pada semua yang telah mendoakannya dan meyakinkan mereka bahwa doa itupun adalah untuk mereka sendiri.
Ahh.. Sudahlah, lagipula jika aku mengatakan selamat atau mendoakannya saat inipun sudah terhitung “terlambat”.
Rasanya aku ingin menulis sesuatu untuknya..
Hay kawan, hari ini tentu banyak orang yang mendoakanmu bukan?
Mungkin, jika kau tanya apa alasan mereka mendoakanmu dihari itu mereka akan menjawab dengan mudah, karena kau sedang berulang tahun.
Aku tahu mendoakan seseorang tak pernah menjadi dosa. Tapi sayangnya aku tak tahu apa doa yang didasarkan pada hari ulang tahun bisa menjadi dosa?
Hay kawan, hari ini adalah hari yang berarti untukmu kah?
Mungkin, jika kau tanya kepada orang lain pun kebanyakan mereka kan menjawab hari ulang tahun adalah hari yang “cukup” istimewa. Dan terkadang aku pun merasa begitu, terkadang, hanya terkadang.
Hay kawan, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Bagaimana perasaanmu saat kawanmu yang satu ini tak mengucapkan sepatah kata pun di hari ulang tahunmu?
Aku sempat berfikir, mungkin kau kecewa, entahlah aku tak dapat memastikannya.
Aku pun sempat berfikir, mungkin kau tak peduli, entahlah aku tak tahu bagaimana kondisi hatimu.
Tapi, ku harap kau mengerti mengapa aku tak melakukannya kawan.
Ku harap kau mengerti bahwa doa yang terucap dan berasal dari hati tak membutuhkan hari ulang tahunmu, tak membutuhkan waktu tertentu, tapi di setiap sujud pun kurasa tak ada salahnya jika aku mendoakan kebaikan untukmu.
Hay kawan, teruslah menjadi dirimu yang membuat orang lain bahagia, tertawa lepas bersama semua canda tawamu.
Teruslah menjadi dirimu yang selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuanmu di bidang yang memang kau minati.
Teruslah menjadi dirimu yang selalu berjuang di jalan hijrahmu demi menggapai keridhaan Allah dan mendapat kebaikan dari-Nya.
Teruslah menjadi dirimu yang selalu menasihati kawan sekitarmu dengan caramu yang berbeda.
Teruslah menjadi dirimu yang tak menyukai hal-hal berlebihan meski tetap tersenyum dan tertawa karenanya.
Dan akhir kata kuucapkan, teruslah menjadi dirimu yang selalu menjadi “sahabat”ku.
Semoga Allah senantiasa menyertakan keridhaan-Nya dalam persahabatan kita bertiga khususnya. Aamiin.
Hay kawan, apa kau tak menyukai ini semua, yang mungkin terlalu “lebay” dan berlebihan. Ahh entahlah, aku hanya ingin memberitahumu tentang apa yang terfikir olehku sejak beberapa hari yang lalu.
Kuharap kau bisa mengerti akan semua sikapku padamu.
بارك الله في كل حال. يا صاحبتي. عفوا إذ أنا لمّا أكن خير الصاحب لك. سعدت بتكون صاحبك.
Shelfira Meisarani ^^
*Sapaan Persahabatan
Nisa Wiyati Ilahi =)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar