Senin, 24 Februari 2014

Bahagia itu sederhana

Allah SWT selalu menciptakan sesuatu yang baik..
Jika saja hal itu terhitung buruk, maka Allah telah menyediakan kebaikan didalamnya ataupun setelahnya..
Hingga pada akhirnya tumbuh rasa sadar bahwa hal baik tidak selamanya bersanding dengan hal buruk..
Namun hal buruk, membutuhkan hal yang baik untuk mengimbanginya..
Allah telah menjanjikan,  pelangi di setiap hujan, kebahagiaan di setiap kesedihan, kemudahan di setiap kesulitan, hikmah di setiap peristiwa, pengampunan di setiap dosa, bahkan jawaban di setiap doa..

Kebahagiaan.. Apa itu suatu teori yang bisa di definisikan?
Adakah syarat untuk merasakannya?
Apa perlu melewati ujian dan menjawab pertanyaan untuk mengerti atasnya?
Hanya ada satu jawaban untuk ketiga pertanyaan di atas “TIDAK”

Karena bahagia itu sederhana..
Meskipun kau hanya mendapatkan sebagian kecil dari sekian banyak hal yang kau inginkan dan kau impikan..
Karena bahagia itu sederhana..
Meskipun kau hanya mempunyai satu rekan yang menemanimu dalam perjuangan yang sangat sulit sekalipun..
Karena bahagia itu sederhana..
Meskipun kau hanya sekedar menertawakan sesaat, tingkah konyol teman-temanmu yang selalu hadir menghiasi dan mewarnai hari-harimu..
Karena bahagia itu sederhana..
Meskipun kau hanya mampu memberikan sedikit saja perhatian, cinta dan kasih sayangmu lewat senyuman pada orang yang sangat membutuhkannya..
Karena bahagia itu sederhana..

Bersyukurlah, karena Allah yang telah menjadikannya sebagai suatu kesederhanaan..

Kamis, 30 Januari 2014

sapaan kasih sayang

Jika kau berharap bahwa aku mempunyai solusi akan semua masalah yang menimpamu, maka aku meminta maaf karena aku tidak mempunyainya..
Jika kau berharap bahwa aku bisa merubah tangisanmu menjadi sebuah senyuman kebahagiaan, maka aku meminta maaf karena aku tak mampu untuk itu..
Jika kau berharap bahwa aku selalu ada saat kau membutuhkan, menemanimu melewati semua ujian dan cobaan dalam hatimu, serta memberikanmu senyuman dengan harapan kebahagiaanmu kan kembali, aku yakin aku bisa dan aku akan selalu berusaha untuk itu..
Kau tahu, ujian adalah salah satu jalan bagaimana Allah mengangkat derajat seorang hamba-Nya.. meskipun itu sakit, suatu hari kau akan merasakan manisnya manfaat dari apa yang telah Allah ujikan padamu.. Dan karena ujian yang datang itu dari Allah, serta hati kita adalah milik Allah, kusarankan kau bersabar.. karena Allah bersama orang-orang yang sabar.. jangan lupa berdoa agar diberi kekuatan untuk melewati semuanya, karena Allah adalah yang Maha Kuat.. dan berusahalah untuk mencari solusi dalam permasalahan yang sedang kau hadapi bersama rekan yang mampu membantumu dan mempercayaimu.. insya Allah, semua permasalahan akan berangsur menghilang tanpa kau sadari..
Banyak orang yang menyayangimu, percayalah..
Meskipun mungkin mereka bukan keluarga ataupun kerabat dekatmu..
Karena kasih sayang tidak hanya disebabkan oleh adanya ikatan kekeluargaan saja..

Dan aku adalah salah satu dari mereka.. tersenyumlah adikku.. =)

malam tahun baru

Malam ini, bertepatan dengan tanggal 31 Desember 2013, tinggal beberapa menit lagi menuju malam pergantian tahun Masehi 2014. Ditemani suara-suara terompet dan langit malam yang dipenuhi dengan hiasan kembang api yang diluncurkan hampir setiap menitnya diseluruh penjuru kota, bahkan desa. Begitupun dengan para tetangga di lingkungan rumahku, anak-anak kecil pun ikut turut serta merayakan malam pergantian tahun ini. Beruntung, adik kecilku dapat tertidur dengan lelap dan tidak terbangunkan oleh bisingnya suara-suara di lingkungan sekitar rumah.

Kebanyakan orang, tentu sedang sibuk mempersiapkan penyambutan malam pergantian tahun dengan cara yang berbeda-beda. Untuk golongan yang membunyikan terompet ataupun menyalakan kembang api tentu sudah tak dapat dihitung jumlahnya, contohnya tetanggaku ini tentunya. Atau mungkin golongan yang mengikuti acara muhasabah akhir tahun yang dilaksanakan di majlis-majlis tertentu, contohnya salah satu teman baikku yang berkesempatan untuk melakukannya.

Lalu, apa yang dilakukan oleh keluarga kecilku? Setiap tahunnya kami tak pernah merayakan malam pergantian tahun baru. Bahkan ketika umurku masih kecil sekalipun, masih sangat kecil. Hingga saat ini pun, keluarga kami tidak melakukan perayaan malam tahun baru seperti yang dilakukan para tetangga di lingkungan sekitar rumah kami.

Namun, hal yang menjengkelkan adalah kebisingan yang membuatku tak bisa tidur nyenyak malam ini. Meskipun setiap tahunnya aku tak pernah merayakan malam tahun baru, tak bisa kupungkiri bahwa saat tengah malam di malam pergantian tahun aku selalu terbangun akibat kebisingan yang memekakkan telinga. Begitupun saat ini, percuma saja rasanya jika aku mencoba untuk tidur dan sejenak merebahkan tubuhku untuk beristirahat dari semua kegiatan yang dilakukan hari ini.

Kulihat ibuku sedang menyaksikan program Tabligh Akbar dalam salah satu channel TV. Pada awalnya aku berniat untuk menonton film di channel lain, namun kuurungkan niatku hingga akhirnya aku pun dengan tak sadar menyaksikan program tersebut. Ada beberapa hal yang disampaikan didalamnya, hal yang terdengar olehku adalah cara terbaik bagaimana kita menyambut tahun baru ini.

Dimana kita harus bisa menyadari akan semua kesalahan dan kekurangan kita namun menutup diri dari mengingat kesalahan orang lain. Selain itu, kita harus senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT atas semua hal yang kita lakukan di setiap harinya. Tak lupa pula untuk senantiasa melihat ke bawah pada hal yang bersifat duniawi dan melihat ke atas pada hal yang bersifat ukhrawi.

Sontak, aku merasa tersindir akan semua itu. Seringkali aku menjalani hidup dengan tidak menyadari bahwa pengawasan Allah SWT akan selalu bersamaku. Lalu apa aku sudah bisa memaafkan semua kesalahan orang lain padaku dan meminta maaf atas semua kesalahanku pada orang lain, atau sekedar beristighfar memohon ampun pada Allah SWT atas semua dosa yang telah kuperbuat. Terlebih, saat aku tak berusaha untuk melihat ke arah yang tepat pada posisi dan tujuan yang seharusnya.


Ya Rabb.. terima kasih atas peringatan dan kasih sayang yang telah Engkau berikan di malam ini. Syukurku pada-Mu yang masih memberikan kesempatan kepadaku untuk terus berusaha memperbaiki diri dan memenuhi semua kewajibanku selaku hamba-Mu. Ucap doaku semoga aku bisa menjadi hamba yang produktif. Hamba yang selalu membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin dan merencanakan hari esok lebih baik dari hari ini. Aamiin.

doa milad

Ya Rabb..jagalah ia..
Jadikanlah ia wanita yang kuat, yang mampu menghadapi segala cobaan yang sedang dihadapinya..
Jadikanlah ia wanita yang baik hati, yang bisa memaafkan segala kesalahan orang lain terhadapnya..
Jadikanlah ia wanita yang sabar, yang mampu menahan segala emosi dan amarah yang dirasakannya..
Namun yang terpenting,
Jadikanlah ia wanita shalihah yang mampu menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, menjadi calon istri yang berbakti pada suaminya, dan menjadi ibu yang penyayang serta penuh kelembutan terhadap anak-anaknya..
Sampaikanlah pula rasa sayang dan bangga ini padanya..
Karena atas karunia dan kuasa-Mu, hamba bisa mengenalnya..

Baarakallaah sista ^^

Kamis, 17 Oktober 2013

Adik Kecil


Keluarga adalah sebuah organisasi terkecil di dunia ini. Diperankan oleh seorang Ayah yang bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seorang ibu yang bertugas untuk memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya dan merawatnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Seorang kakak yang bertugas untuk membimbing adik kecilnya yang memerlukan perhatian dan arahan darinya. Dan seorang adik yang selalu di manja oleh semua anggota keluarganya, kehadirannya sering kali membawa kebahagiaan dan keceriaan keluarga setiap harinya. Namun berbeda halnya denganku, seorang kakak yang tidak memperdulikan adiknya.
Namaku Naya, aku mempunyai adik perempuan bernama Ara. Umurnya 2 tahun dibawahku, meskipun tingkat pendidikan kami berbeda 3 tahun. Kami sangat dekat beberapa bulan terkahir ini, namun sikapnya yang sangat manja padaku membuatku lelah menghadapinya.
Pagi itu, Ara menderita demam, kurasa ia sedang sakit. Teman-temannya menjenguk secara bergantian ke ruangannya. Namun aku sebagai kakaknya, tidak memperdulikannya sama sekali, meskipun kami berada dalam satu ruangan.
“Kak Naya, sejak kapan Ara demam? Apa dia sudah makan?” tanya salah seorang teman Ara padaku.
“Entahlah, aku tak tahu. Tapi, bukankah sudah ada yang bertugas untuk mengurusi orang yang sakit di asrama ini?” jawabku yang masih tak peduli dengan keadaan Ara.
“Tapi kau kan kakaknya, apa kau tak mau mengurusinya?” tanya salah seorang teman Ara lainnya.
“Aku harus bergegas pergi ke kelas, lagipula mungkin temanku yang sedang bertugas di bagian kesehatan akan segera datang untuk mengurusnya,” jawabku dengan malas, “Aku pergi, kau jangan lupa makan obatmu Ara,” hanya itu yang kuucapkan pada Ara saat hendak pergi ke kelas.
Ku tinggalkan Ara bersama teman-temannya tanpa melihat keadaannya atau sekedar mengusap kepalanya saat berpamitan. Aku tahu Ara adalah adikku, meskipun dia bukan adik kandungku tapi dia sudah menganggapku sebagai kakak kandungnya sendiri. Namun aku selalu bersikap dingin pada Ara, bagaimana pun keadaannya. Termasuk saat ia sedang sakit, aku tidak mengurusnya sama sekali. Karena aku sering berfikir, bahwa jika Ara terus bersikap manja kepadaku, Ara takkan pernah bisa dewasa. Lagipula, aku sudah merasa lelah menghadapi sikap kekanak-kanakkan Ara.
“Ku dengar, adikmu sakit,” ucap temanku.
“Maksudmu Ara? Ya, dia demam sejak pagi tadi,” jawabku.
“Apa kau tak mengkhawatirkannya?” tanyanya lagi.
“Dia hanya demam, aku yakin sore ini pun dia akan lekas sembuh,” sebenarnya aku sedang tak mau membahas Ara.
“Memangnya kenapa dia bisa sakit?” tanya temanku yang lain.
“Entahlah, aku tak peduli,” jawabku.
“Kau tak boleh bersikap seperti itu padanya, dalam kondisi seperti ini dia pasti sangat membutuhkan perhatian seorang kakak,” balasnya.
Aku terdiam. Terlintas di fikiranku Ara yang selalu tersenyum di setiap harinya. Saat ini, dia hanya terdiam dan terbaring di ranjangnya untuk memulihkan keadaannya. Apa aku merindukan itu semua? Tapi sudahlah, aku tak mau terlalu memperhatikan keadaannya.
Sepulang sekolah aku berdiam diri di ruanganku untuk menghafal. Dan saat itu Ara kembali menggangguku.
“Kak Naya, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Ara.
“Ada apa? Aku sedang menghafal untuk ujian besok dan aku tak suka jika ada yang menggangguku menghafal,” jawabku dengan  jengkel.
“Sebenarnya Ara merasa bosan karena seharian ini Ara berada di ruangan dan Ara ingin mengobrol dengan kakak. Tapi, jika kakak sedang menghafal Ara takkan mengganggu,” balasnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Sebaiknya kau mempercepat ceritamu,” entah kenapa saat itu aku memenuhi permintaan Ara untuk berbicara dengannya.
“Kata temanku tadi, Ara mendapatkan nilai rata-rata 8 di UTS minggu ini kak,” Ara terlihat sangat senang.
“Lalu?” aku tak tahu, kenapa Ara harus menceritakan hal yang tak penting padaku.
“Apa kakak tak bangga padaku?” tanya Ara.
“Kau beristirahatlah kembali, supaya lekas sembuh,” aku malas mendengarkan pembicaraannya.
“Tapi kak, Ara belum selesai bercerita. Sesudah itu, Ara ingin memberitahu kakak bahwa saat ini Ara sedang menjalin sebuah hubungan dengan seseorang. Sayangnya, dia mantan kekasih temanku. Tapi Ara tidak memperdulikannya, karena Ara menyukainya sejak dulu,” dia tersenyum.
“Kau ini terlalu kecil untuk menjalin sebuah hubungan, lagipula kau sedang sakit Ara. Bisa-bisanya kau memikirkan hal itu di saat seperti ini. Dan harusnya kau menghargai temanmu itu dengan cara tidak menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya,” balasku.
“Tapi kak, Ara sudah 15 tahun,” Ara merengek, merasa bahwa aku tak memperbolehkannya pacaran, “lagipula bukan salahku jika memang dia menyukaiku bukan? Ara menyukainya sejak dulu kak dan Ara selalu menantikan saat-saat dimana Ara berkesempatan untuk menjalin hubungan dengannya”.
“Kalau hanya ini yang akan kau bicarakan, aku akan kembali menghafal,” waktuku terasa habis percuma mendengarkan cerita Ara.
“Kenapa kak Naya selalu bersikap seperti itu padaku?” pertanyaan Ara mengagetkanku.
“Apa maksudmu? Sudah sana beristirahatlah kembali,” aku berusaha menghentikan pembicaraan.
“Apa kakak membenciku?” Aku tak tahu kenapa Ara berbicara seperti itu padaku.
“Beristirahatlah, tak seharusnya kau membahas itu semua saat kau sedang sakit seperti ini,” balasku sambil berjalan keluar dari ruangan dan meninggalkan Ara sendirian.
Sebenarnya, Ara adalah adik yang baik, dia sangat memperhatikanku. Jika aku sakit, dia akan senantiasa memberikanku makan dan merapikan selimutku sebelum dia berangkat ke sekolah. Dia selalu membelikanku makanan sepulang pergi keluar asrama bersama teman-temannya. Selain itu, dia selalu menceritakan semua hal yang dilakukannya hari ini padaku meskipun aku tak pernah memperhatikan apa yang sedang ia bicarakan. Apa yang sedang dia rasakan dan apa yang sedang dia fikirkan selalu dia ungkapkan padaku saat itu juga. Dia benar-benar bersikap seperti aku adalah kakak perempuannya, kakak kandung perempuannya.
Layaknya adik dan kakak, kami sering bertengkaar. Entah itu karena ulah Ara yang membuatku  jengkel atau ulahku yang membuatnya  jengkel. Namun seringkali, Ara tak suka melihat kedekatanku dengan orang lain. Meskipun itu adalah temannya sendiri, Ara tak pernah rela jika aku mempunyai keakraban dengan orang lain selain dirinya. Dan seringkali, Ara sendirilah yang mendatangiku terlebih dahulu untuk meminta maaf padaku atas perilakunya yang membuatku  jengkel padanya.
Aku tahu, sebagai kakak yang baik harusnya aku bisa membalas kebaikannya dan memperhatikannya serta memberikannya kasih sayang selayaknya kakak kepada adiknya. Namun sayang rasa  jengkelku lebih besar dibandingkan rasa sayangku padanya. Atau bahkan mungkin, aku hanya bersikap ramah padanya jika aku sudah mulai mengasihaninya. Sekalipun aku memperhatikannya, tetap saja sikap dinginku tak pernah lepas dari kepribadianku. Karena yang kau tak suka adalah, dia tak pernah mendengarkan nasihatku.
Sejak dulu, Ara adalah seorang perempuan yang baik hati, terlebih dia cantik dan merupakan anak dari salah seorang ustadz yang tekenal baik di kalangan pesantren dan diluar pesantren. Tak heran jika banyak lelaki yang menyukainya dan menginginkannya untuk menjadikan dirinya sebagai kekasihnya. Ara selalu menceritakan setiap lelaki yang mendekatinya padaku,  jengkelahan terbesarku adalah tak pernah melarangnya secara tegas untuk menolak beberapa lelaki yang menurutku tak pantas untuknya. Pada akhirnya, aku selalu berkata “Terserah padamu Ara, ikutilah kata hatimu”.
Aku tahu, aku sangat berbeda jauh dengannya. Dia cantik, menarik, mudah bergaul, dan baik hati, bahkan sangat baik hati. Terkadang terlintas di fikiranku rasa malu dan tak pantas jika harus menjadi kakaknya, meskipun hanya sekedar kakak kelas yang dekat dengannya. Aku hanya bisa memberikan sesuatu yang kurasa takkan pernah diberikan oleh orang lain. Sejak saat itulah sifatku seolah tak memperdulikannya dan jika aku memperhatikannya, maka sikap dinginku tak pernah hilang.
Sore menjelang maghrib, aku kembali ke ruanganku untuk bersiap-siap mengambil mukena dan Al-Qur’an. Saat itu, kulihat Ara sudah sembuh seperti biasanya.
“Kau sudah sembuh?” tanyaku pada Ara.
Ara hanya mengangguk sambil tersenyum ceria.
“Baguslah," ucapku padanya.
“Kak Naya, terima kasih karena kakak sudah menemaniku mengobrol tadi dan menyuruhku untuk beristirahat sepanjang hari,” balasnya.
“Aku tak melakukan apapun untukmu, jadi kau tak perlu berterima kasih padaku,” ucapku sambil berjalan keluar ruangan.
“Kak Naya selalu bersikap aneh,” ucapan Ara menghentikan langkahku.
“Apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Ara selalu berusaha untuk bersikap ramah pada kakak, tapi rasanya kakak tak pernah mau bersikap ramah padaku. Selalu saja bersikap dingin saat berhadapan denganku. Berbeda dengan teman-teman Ara, teman-teman kak Naya, kakak selalu bersikap ramah pada mereka, tapi kenapa kakak selalu bersikap dingin pada Ara? Ara merindukan kakak yang dulu, kak Naya yang selalu memperhatikan Ara dengan penuh kelembutan dan kasih sayang seorang kakak,” jelasnya panjang lebar.
Aku hanya diam, tak menjawab pertanyaan Ara dan beranjak pergi ke mesjid karena adzan berkumandang.
Seusai shalat maghrib, terlihat Ara sedikit memperhatikanku namun aku mengacuhkannya. Tanpa sadar aku melamun dengan sendirinya, pandanganku kosong dan aku sedang tak memikirkan apapun, benar-benar tak memikirkan apapun.
“Ada apa dengan Ara? Sejak tadi dia memperhatikanmu dengan pandangan yang menunjukkan ke jengkelannya padamu,”
Ucapannya menyadarkanku dari lamunanku, “Dia memang sedang  jengkel padaku, karena sikapku berubah padanya”.
“Berubah? Apa maksud pembicaraanmu?” tanyanya.
“Mungkin kau tahu, dulu aku sangat memanjakan Ara dengan penuh perhatian dan selalu membiarkan Ara mengambil keputusannya sendiri. Sedangkan sekarang, aku selalu bersikap dingin padanya dan tak pernah peduli pada apa yang terjadi padanya, lagipula dia tak pernah mendengarkan nasihatku,” jawabku.
“Aku tahu, kau mungkin  jengkel dengan sikap manjanya. Tapi apakah sikap seperti itu akan membuatnya menjadi lebih baik?” tanyanya lagi.
“Apa kau bisa kuat jika kau mempunyai seorang adik yang sangat manja padamu, tak pernah mau kau berdekatan dengan orang lain selain denganmu, tetapi tak pernah mendengarkan nasihatmu?” aku mulai  jengkel.
“Tentu saja tidak,” jawabnya.
“Kalau begitu, harusnya kau tahu apa alasanku bersikap seperti ini padanya,” balasku.
“Maaf Naya, tapi kurasa dia takkan lebih baik jika kau menjauhinya seperti itu. Harusnya, kau memanfaatkan sikap manjanya padamu untuk terus membimbingnya menjadi seseorang yang lebih baik. Kurasa, dia tak berniat untuk mengacuhkan nasihatmu, dia hanya ingin perhatian lebih darimu. Dia benar-benar ingin dibimbing olehmu, tidak hanya sekedar diberikan nasihat” temanku mengutarakan pendapatnya.
Dia benar, harusnya aku tak bersikap seperti ini pada Ara. Harusnya aku bisa memanfaatkan keadaan untuk membimbingnya, bukan malah menjauhinya dan tidak mempedulikannya.
“Tapi, untuk sikapnya yang tak pernah mau kau dekat dengan orang lain, kurasa dia jatuh cinta padamu,” canda temanku.
“Kau ini, membuatku merasa takut dan khawatir saja,” tak sadar aku tertawa bersamanya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya, kuharap kau selalu mengingat ayat itu. Jika kau menganggap bahwa sikap Ara adalah sebuah ujian bagimu, maka hadapilah karena Allah tahu kau bisa menghadapinya. Berbuat baiklah padanya sebelum secara tidak sadar kau melukai hatinya dan hal itu dianggap sebagai sebuah kejahatan,” pesannya padaku sambil menepuk pundakku dan pergi meninggalkanku.
Aku termenung, memikirkan perkataannya tadi. Tapi sudahlah, kurasa 1 atau 2 hari cukup bagi Ara untuk menyadari kejengkelanku pada sikapnya yang terlalu manja padaku.
*-*-*
Ini adalah hari ke-2 dimana Ara mulai menjauhiku, aku tak mencoba untuk mendekatinya ataupun sekedar bertegur sapa dengannya. Namun yang kulihat, Ara tak pernah berhenti memalingkan wajahnya saat tak sengaja bertemu denganku. Bahkan, dia sering memandangku dengan sinis dan penuh kejengkelan.
“Apa hubungan kalian sudah membaik?” tanya temanku.
“Sejauh ini, kami masih saling menjauhkan diri,” ucapku sambil tersenyum.
“Kurasa kau tahu apa yang akan dilakukan seorang muslim jika ia sedang bermusuhan, lagipula kau lebih dewasa darinya bukan,” dia mengingatkanku.
“Ya, aku sadar akan hal itu. Tenanglah, aku takkan melebihi batas waktuku. Kita lihat apa yang akan terjadi di esok hari,” ucapku dengan yakin.
Aku tahu, muslim yang baik harusnya tak bertengkar melebihi 3 hari. Namun, aku yakin tak lama lagi Ara pasti mendatangiku untuk meminta maaf dan mencoba untuk mendekatkan kembali hubungan kami berdua. Entah kenapa, aku sangat yakin akan hal itu.
Pagi itu, saat sedang membaca buku, tiba-tiba “Kak Naya,” Ara menyapaku.
Aku tersenyum dalam hati, “Ada apa?”.
“Ara ingin mengembalikan buku Nahwiyah ini,” ucapnya.
“Taruh saja di atas lemariku,” balasku tanpa melihat ke arahnya.
“Baiklah,” nada bicara Ara mengisyaratkan kejengkelan.
Aku tak tahu, kenapa saat Ara mulai berbicara padaku, aku masih saja tak mau bersikap ramah padanya seperti dulu. Sikap dingin ini sudah terlalu lama ku terapkan dalam kepribadianku. Aku yakin, dengan Ara mengembalikan buku itu tadi, Ara ingin hubungan kami membaik dan kembali seperti biasanya. Namun  jengkelahan besar telah kulakukan dan aku yakin Ara sudah tak mau menyapaku lagi sebelum aku menyapanya.
Saat adzan dzuhur berkumandang, aku berpapasan dengan Ara di tempat wudhu’. Ara tak menyapaku, bahkan Ara hanya melewatiku seolah benar-benar tak melihatku berada di dekatnya. Saat pulang sekolah pun, kami kembali berpapasan di gerbang asrama. Namun Ara mengalihkan pandangannya yang memang melihatku dan memalingkan wajahnya sambil berlari menjauhiku. Dan saat aku memasuki ruangan, secara tiba-tiba Ara memakai kerudungnya sambil berjalan keluar ruangan.
Saat itulah aku merasa sadar sepenuhnya bahwa aku memang menyayangi Ara. Meskipun hatiku selalu membuat sikapku dingin padanya, aku tetap bersedia meluangkan waktuku untuk memperhatikannya sekilas saja. Dan aku mulai merasa bahwa hatiku terasa merindukan keceriaannya dalam hari-hariku, cerita tak penting darinya yang memekakkan telingaku karena dia terlalu bersemangat saat bercerita. Aku baru sadar, sikap Ara adalah hal-hal kecil yang membuatku  jengkel, sekaligus hal-hal penting yang selalu ingin ku rasakan setiap harinya.
Saat adzan ashar berkumandang, aku bergegas pergi menuju mesjid dan saat itu hujan turun dengan deras membuat hampir seluruh badanku kebasahan. Beruntung sejadahku cukup tebal sehingga dapat menutupi sebagian tubuhku. Sayang, seusai shalat ashar tubuhku tetap saja menggigil kedinginan dan kepalaku terasa sangat pusing. Tanpa sadar, di perjalanan menuju ruangan, aku terjatuh pingsan tak sadarkan diri.
“Kumohon, cepat sadarlah kak Naya,” suara Ara terdengar samar-samar di telingaku.
“Tenanglah Ara, kau ini selalu saja tak bisa bersikap tenang,” terdengar suara lainnya.
“Bagaimana Ara bisa tenang kalau kak Naya belum tersadar dari pingsannya,” sepertinya nada bicara Ara sedikit membentak.
“Sebaiknya kau keluar, biar aku yang menyadarkan Naya dari pingsannya,” itu suara temanku.
Mataku perlahan terbuka, namun kepalaku masih terasa sakit. Badanku sudah tak menggigil, berganti dengan rasa dingin yang terbalut oleh kehangatan.
“Akhirnya kau sadar, seharusnya kau tak memaksakan diri untuk shaum kalau memang kau tak kuat,” ucap temanku.
“Dari mana kau tahu aku sedang shaum?” tanyaku.
“Ara tadi bercerita, 4 hari terakhir ini kau sedang melaksanakan shaum qadha’, namun kau tak pernah terlihat sahur karena kau selalu mendahulukan mandi sebelum shubuh dibandingkan dengan sahur. Terlebih, 2 hari yang lalu dapur selalu terbuka jika sudah pukul 05.30,” jelasnya.
“Ara?” aku merasa heran, ternyata dia masih memperhatikanku meski dia terlihat sangat  jengkel padaku.
Pintu ruangan terbuka, tiba-tiba kulihat Ara sedang memasuki ruangan.
“Kakak sudah sadar,” ucapnya setengah berteriak, “Ara sangat mengkhawatirkan keadaan kakak,” Ara memelukku.
Astaghfirullahal’azhim.. Aku tersentak, seberapa besar rasa  jengkel Ara pada sikapku yang dingin padanya, dikalahkan oleh kebaikan hatinya yang memperhatikanku saat sedang sakit seperti ini. Meskipun saat dia sakit tempo hari aku tak mengurusnya sama sekali. Aku benar-benar merasa malu padamu Ara. Sesaat, aku tersadar bahwa aku sedang terbaring di atas ranjang Ara, menggunakan jaket milik Ara dan dibalut dengan selimut tebal milik Ara.
Terlintas di benakku, pesan dan nasihat dari temanku kemarin.
“Ara, maafkan aku yang tak bisa membalas kebaikanmu. Aku benar-benar malu padamu dan kurasa aku sudah tak berhak menjadi kakakmu,” kata-kata itu keluar begitu saja.
“Sejujurnya, Ara sangat  jengkel pada kakak,” balas Ara.
“Aku tahu, siapa yang tak  jengkel jika perbuatan baik kita dibalas dengan sikap dingin. Terlebih, aku terlalu sering tak mempedulikan keadaanmu. Mungkin, jika aku merasa bahwa kau tidak mengikuti nasihatku, hal itu karena nasihatku tak baik bagimu dan tak sesuai dengan kata hatimu,” ucapku.
“Ara meminta maaf pada kakak, jika kakak merasa bahwa Ara tak mengikuti nasihat kakak. Kakak akan selalu menjadi penasihat jiwa bagi Ara, karena Ara sudah menyayangi kakak seperti kakak kandung Ara sendiri, tempat curahan hati dan meminta nasihat bagi Ara,” balasnya.
Rasa bersalah itu semakin kuat, “Kenapa kau menganggapku sebagai seorang kakak? Dan kenapa kau selalu memperhatikanku meskipun aku sering membuatmu  jengkel dan menangis?” tanyaku pada Ara.
“Meskipun kakak sering membuatku  jengkel, Ara tetap menyayangimu kak,” Ara tersenyum.
“Lalu, bagaimana dengan sikap dinginku padamu?” aku benar-benar malu pada Ara.
“Meskipun kemarin Ara sempat  jengkel, tapi Ara sadar bahwa itu memang kepribadian kakak. Jadi, itu sudah tak aneh untuk Ara kak,” jawabnya.
“Aku sadar, sikapku memang seperti itu. Ara, sungguh aku benar-benar malu padamu, kau begitu memperhatikanku,” ucapku.
“Kak Naya baru sadar, Ara senantiasa memperhatikan kakak?” Ara kembali tersenyum, “Kakak tak perlu malu, lagipula Ara sadar bahwa Ara selalu bersikap manja pada kakak dan selalu bercerita panjang lebar pada kakak,” balasnya.
“Kau memang sangat baik Ara, aku beruntung menjadi orang yang bisa kau anggap sebagai kakak kandungmu sendiri,” aku membalas senyuman Ara.
Terkadang, begitu banyak anugerah dan keistimewaan di dunia ini. Namun yang tak pernah kusadari adalah anugerah dan keistimewaan itu berada disekitarku, berada disekelilingku, bahkan berada sangat dekat denganku, hingga aku tak mampu menyadarinya.
Jika aku pernah lelah menghadapi semua sikap Ara yang selalu manja padaku, bahkan hingga tak rela melihat kedekatan orang lain denganku, harusnya aku bersyukur akan hal itu. Karena itu artinya, ada orang yang benar-benar menyayangiku dan membutuhkanku. Dengan sedikit sikap sabar dan kedewasaanku, harusnya aku bisa membimbing Ara. Terima kasih Ara, kau menyadarkanku bahwa hal-hal kecil yang menjengkelkan adalah hal-hal penting yang suatu hari akan ku rindukan.
*-*-*