Rabu, 29 Oktober 2014

Bahagialah :)

Ujian memang tak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, karena dalam kehidupan pun ada begitu banyak ujian. Ujian hati, ujian fikiran, ujian beban, ujian kejadian, ujian harta, atau bahkan hingga ujian cinta, ujian keimanan, keikhlasan, keyakinan, dan berbagai macam ujian lainnya.
Wajar saja jika seseorang merasa sedih dan kebingungan saat ia sedang dihadapkan pada suatu ujian. Tapi tak usahlah rasanya jika kesedihan tersebut di umbar-umbar di muka umum. Cukup ceritakan semua keluh kesahmu pada Allah.
Berbahagialah, karena ujian adalah salah satu tanda bahwa Allah menyayangimu, menyadarkanmu, dan ingin melihatmu kembali berjuang untuk-Nya , menangis hanya karena-Nya, bukan karena keadaan atau makhluk ciptaan-Nya yang dijadikan nikmat, musibah, atau ujian untukmu.
Berbahagialah.

Nisa Wiyati Ilahi

Minggu, 26 Oktober 2014

Menikah?

Waktu menunjukkan sekitar pukul 5 pagi, tumben sekali adik kecil laki-lakiku bilal sudah terbangun. Terdengar suara tv yang dinyalakannya saat aku masih terduduk di mushala membaca al-qur'an.
Setelah selesai, kurapikan mukena yang kukenakan dan kusimpan di tempat semula. Bilal terlihat berlari ke kamar, aku yakin ia sedang mencari handphone milikku, handphone ini.
Akhirnya, aku bersegera menyusulnya ke kamar, dan kuambil handphone itu menyusulnya. Ia menundukkan wajah, menunjukkan ekspresi kesedihan karena handphone nya sedang kupegang. Akhirnya kucubit saja wajah lugu nya yang baru saja terbangun itu. Ia tersenyum, bergegas keluar kamar dan memainkan handphone di tempat tidurnya.
Tak kusangka ada perbincangan yang tak kusangka setelahnya.
"Jangan ganggu, ade lagi mainin hp ade" kata  Bilal.
"Kata siapa itu hp punya ade?" balasku.
"Kata ade". Ku kelitiki saja dia, dan dia tertawa kemudian,
"Kan teteh pernah bilang, kalo teteh udah nikah, hp nya buat ade"
"Kapan?"
"Waktu itu teteh bilang" bilal keukeuh dengan ucapannya.
Terdengar suara tertawa nyengeh umy yang sedang memasak di dapur, seraya berkata,
"Kapan de nikahnya juga, jangankan nikah calonnya aja belum ada"
"Hahaha.." aku hanya tertawa.
Umy, tenanglah, anakmu ini masih semester 5 dan berumur 19 tahun. Izinkanlah anakmu untuk menuntut ilmu, berprestasi, dan membanggakan kedua orang tuanya sebelum ia menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya, serta mengutamakan pengabdian padanya.

Love you umy,
Nisa Wiyati Ilahi

Sabtu, 25 Oktober 2014

Dia adalah dosenku

Namanya 'Pemimpin yang Terpuji'
Dia adalah seorang pendidik yang bersikap layaknya dosen pada umumnya, memberikan materi, mengevaluasi, dan menilai setiap anak didiknya.
Dia adalah seorang penasehat yang selalu mengingatkan pada setiap orang yang dikenalnya bahwa hidup harus dinikmati dengan ibadah dan kehalalan, meski kehidupan dan kenyataan terkadang tak sesuai dengan harapan.
Dia adalah seorang pembina yang dijadikan konsultan karena kepintaran dan kecerdasannya dalam berfikir, bekerja, bersosialisasi, berbisnis, bahkan aktualisasi diri.
Dia adalah dosenku, terserah kalian menyebutnya apa, terserah kalian menganggapnya apa, yang kutahu dia adalah dosenku dan dia adalah salah satu pihak yang berperan dalam kehidupanku, pemikiranku, dan sikapku.
Ia mengajarkan tentang ciri-ciri kepribadian seseorang, cara-cara berfikir seseorang, dan banyak hal lainnya.
Terima kasih pak, semoga Allah membalas jasamu dengan lebih baik dari setiap apa yang kau berikan. Aamiin. :)

Kamis, 23 Oktober 2014

Pelangi guntur #6

Bahkan saat kau sendirian pun, aku selalu melihatmu sebagai sosok yg sempurna, guntur.

Salam,
.....

Sejatinya, kau bukanlah orang yang sempurna pelangi. Karena hakikatnya kesempurnaan itu hanya milik Allah saja.
Dan saat terlintas dalam fikirku bahwa kau adalah orang yg sempurna, maka Allah lah yang telah memberikan pandangan itu padaku. Pelangi, kau sempurna bagiku atas izin-Nya.

Salam,
.....

Sabtu, 18 Oktober 2014

Terima kasih sahabat

Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk berterima kasih pada kalian, 2 orang terhebat yang menemaniku di perjalanan penemuan jati diriku, perjalanan untuk mengejar cita-citaku, dan setiap langkah pembelajaranku dalam hidup.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk mengungkapkan dan mengakui bahwa kebahagiaan itu ada, senyuman itu selalu ada, terutama saat kita bersama, entah bercanda tawa, bercerita, atau memberi nasihat antar ketiganya.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk menyadari bahwa saat ini separuh dari jati diriku, separuh dari pemikiranku, separuh dari sikap dan setiap keputusanku, terkontaminasi oleh jati diri, pemikiran, sikap dan keputusan keduanya.
Untuk kesekian kalinya, aku takkan pernah bosan untuk bersyukur pada Allah karena telah mengirimkan 2 bidadari ini dalam perjalanan hidupku, bahkan dijadikan sebagai sahabatku.

Mungkin seorang Lia Amalia akan menangis terharu, aku tak tahu.
Mungkin seorang Shelfira Meisarani akan tertawa meledek, aku tak tahu.
Tapi ini memang tentang kalian, ksepercik kebahagiaan yang kutemukan di bangku perkuliahan.

Jazaakillaah khairan katsiir :)
Hanya Allah yang bisa membalas semua ini pada kalian.

Nisa Wiyati Ilahi