Minggu, 29 Maret 2015

Antara cinta dan ketulusan

Antara cinta dan ketulusan, atau cinta yang tulus? yang pasti disini akan kucoba ungkapkan pendapatku mengenai hal itu.
cinta adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, berupa rasa peduli, kasih sayang yang suci dan tak pantas jika dinodai dengan hal-hal negatif yang salah dan menimbulkan dosa. itu menurutku.
lalu, apa itu tulus? tulus adalah tanpa syarat. itu saja.
ada yang pernah memberi tahu bahwa tingkatan cinta yang paling tinggi adalah cinta yang tulus. tapi yang kutahu, itu adalah seperti cinta Allah kepada hamba-Nya yang shaleh.
namun ada hal yang kutemukan dalam pemikiranku tentang perkataan itu, bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang mana seseorang rela melepaskan orang yang begitu dicintainya bersama dengan orang lain.
kita bicara tentang jodoh? tidak, aku berbicara tentang cinta yang tulus.
mari kita lihat, siapa yang paling rela melepaskan diri kita untuk bersama orang lain? apakah kekasih kita, sahabat kita, teman kita atau bahkan mungkin mantan pacar (bagi yang sempat berpacaran)? kurasa bukan mereka. tapi orang tua kita.
bagimu para wanita, lihatlah ayahmu. beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang lelaki yang nantinya menjadi imammu, menjadi suamimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ayah berusaha untuk selalu menghidupi kebutuhanmu hingga mengalahkan egonya sendiri untuk bermain bercanda denganmu yang pada akhirnya hanya dapat dilakukannya di sela-sela waktu. betapa ayah berusaha untuk selalu menguatkanmu lewat doanya disetiap sujudnya atau disetiap shalatnya atau bahkan disetiap hembus nafasnya. betapa ayah berusaha untuk selalu merangkulmu meski terkadang itu disampaikan lewat ibumu.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang laki-laki yang akan membuat cinta anaknya menjadi terbagi, kini tak hanya ia yang dihormati tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang diperhatikan tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang dilayani tapi juga lelaki itu, dan kini tak hanya ia yang dicintai dan disayangi putrinya tapi juga lelaki itu. bahkan tanggung jawab untuk senantiasa membimbing putrinya akan berpindah pada lelaki itu, tanggung jawab dunia akhirat putrinya akan berpindah pada lelaki itu, selepas akad diucapkan dan pernikahan disahkan.
bagimu para lelaki, lihatlah ibumu, beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang wanita yang nantinya menjadi makmummu, menjadi istrimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ibu selalu memberikan yang terbaik untukmu dari mulai kau berada didalam kandungannya, kau dilahirkan dari rahimnya, menyusui selama kurang lebih 2 tahun padanya, dan melihat perkembanganmu hingga sampai saat ini. betapa ibu selalu merawatmu disetiap harinya, menitnya, bahkan detiknya. menyiapkanmu makan, merapikan pakaian, mempersiapkan segala keperluan, meski sebenarnya kau sudah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri bahkan keluarga kecilmu kelak.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang wanita yang seolah akan menggantikannya. menggantikan ibumu dalam menyiapkan makanmu, merapikan pakaianmu, merawatmu, mengurus segala keperluanmu. bahkan wanita itu kelak akan berperan seperti ibumu, ia akan merawat dan membesarkan anak-anakmu seperti yang selalu dilakukannya padamu sejak dimasa yang lalu.
hai ayah, hai ibu, terima kasih karena kalian selalu memberikan cinta pada kami anak-anakmu, cinta yang tulus, cinta tanpa syarat dan penuh dengan tanggung jawab. doakan kami agar kelak dapat memiliki cinta setulus apa yang dimiliki oleh ayah dan ibu. aamiin.

Jumat, 27 Maret 2015

Salam Perjuangan dan Kemenangan

Temu Ilmiah Regional atau yang sering disebut Temilreg adalah salah satu alasan mengapa saya berada di ukm SCIEmics. Saat itu, saya merupakan salah satu anggota dari tim SCIEmics 1 yang beranggotakan bunda Irni Inayah Rahman, putra Mumuh Muhammad dan saya sendiri, Nisa Wiyati Ilahi. Dengan kerja keras dan usaha kami, Allah mengizinkan kami untuk menjadi juara pertama di Temilreg 2014 yang diselenggarakan di kampus tercinta kami, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Berlanjut ke tingkatan yang lebih luas, kami bersama ke-2 tim lainnya mengikuti Temu Ilmiah Nasional atau yang sering disebut Temilnas. Mengikuti olimpiade tingkat nasional merupakan hal yang sangat memberikan banyak pengalaman, pelajaran dan juga hikmah yang dapat diambil saat sedang berada disana. Hasil yang tim kami dapatkan adalah peringkat 15 besar, sehingga kami belum berhasil mengikuti tahapan semifinal saat itu.
Tahun berganti tahun, tibalah saatnya saya mempersiapkan diri beserta anggota SCIEmics lainnya untuk mengikuti Temilreg 2015 dan Temilnas 2015. Begitu besarnya kuasa Allah yang telah mengizinkan saya memiliki rekan tim yang sangat kece di SCIEmics B, yaitu sang penyemangat Asma Arisman Dewi dan sang bintang Siti Latipah (Ipeh). Dengan mereka berdualah, saya bisa meraih juara pertama Temilreg 2015. Tanggung jawab saya untuk dapat mempertahankan apa yang telah diraih tahun lalu terbayar sudah disana.
Namun, meski begitu, jangan salah sangka. Banyak air mata disana, saat ada yang tak senang tim saya mampu menjawab pertanyaan. Saat ada yang tersenyum ketika poin cerdas cermat dari tim saya berkurang. Saat amanah untuk mempersiapkan anggota SCIEmics adalah tanggung jawab besar tim saya pribadi selaku pengurus di bagian pendidikan dan keilmuan (Science and Academic). Dan saat hasil yang didapatkan oleh kami menimbulkan pertentangan dan pertengkaran kecil nan samar tak terlihat di internal kami sendiri.
Tak berhenti disana, saya dan tim menempati posisi terakhir di babak semifinal saat sedang cerdas cermat. Hal itu memicu semangat kami untuk tidak mempermalukan nama SCIEmics dan akhirnya saya dan tim berhasil menjawab soal terakhir senilai 1000 yang meloloskan kami ke tahap final. Usailah perjalanan Temilreg, dan kami harus melanjutkan perjuangan kami di tingkat nasional, saatnya menghadapi Temilnas 2015.
Saat sedang penentuan delegasi, saya menghadiri kegiatan untuk melihat dan mengawasi bagaimana proses penentuan delegasi dilakukan. Namun, pada akhirnya, bunda meminta saya untuk juga mengikuti tes tersebut. Jujur, saat itu saya merasa bahwa saya tak perlu mengikuti Temilnas karena saya pernah mengikutinya tahun lalu dan saya ingin hak ini diberikan pada adik kelas saya nanti. Sayang, bunda bilang ia sudah mempercayai saya dan rekan-rekan lainnya untuk mengikuti Temilnas, jadi kita lihat saja hasilnya apakah saya termasuk kepada anggota delegasi atau tidak.
Penilaian dilakukan dengan transparan, masing-masing anggota dapat langsung mengetahui hasilnya. Dan ternyata benar, tak bisa dipungkiri lagi dengan izin dari orang tua saya, dukungan dari kakak guru saya dan juga dorongan dari rekan-rekan saya, saya menjadi delegasi Temilnas 2015 bersama kedua rekan saya yang semakin hebat, Ipeh dan Asma.
Babak penyisihan, kami lewati dengan penuh prasangka bahwa soal yang kami anggap mudah, maka akan dianggap sangat mudah oleh peserta lainnya. Hingga hari diumumkannya tim yang lolos semifinal pun membuktikan bahwa saya berada di posisi 5 besar bahkan tim A yang terdiri dari putra Mumuh Muhammad, si kalem Ani Sumiyati dan si cantik Hanifah Kania berada di posisi pertama, yang artinya kami masuk tahapan selanjutnya yaitu Lomba Cepat Tepat.
Beruntung, saat pengocokan batch, tim A berada di batch pertama dan tim B berada di batch kedua. Setidaknya kami tidak akan melawan rekan sendiri disana, meski tetap yang diloloskan adalah 2 tim dari masing-masing batch. Sayangnya, tim A bertahan sampai disana dan tidak bisa melanjutkan ke babak final.
Sedang saya dan tim, yang kembali mengulangi kejadian semasa Temilreg, berada di posisi terakhir dan berhasil menggunakan kesempatan terakhir untuk menjawab soal dengan poin 2000. Itulah yang membuat kami berhasil lolos ke babak final.
Di babak final kami diarahkan untuk melakukan studi kasus dari 3 kasus yang diberikan. Tim kami tampil pertama, dan timbullah firasat bahwa setelah pertolongan Allah selalu datan di kedua babak sebelumnya, ini adalah puncak dari kekacauan yang kami buat. Penampilan pertama, dengan persiapan materi yang seadanya, hanya bisa membuat kami membicarakan apa yang ada difikiran kami saat itu.
Namun, seperti yang selalu diajarkan oleh kakak guru Kumita Ary Fhuspha mengenai sajak juara dan sikap tawakal, kami tidak boleh menyerah dan antara rasa takut dan harap haruslah seimbang, agar Allah mengabulkan harapan dan menghilangkan rasa takut. Alhasil, kami menjadi tim yang berada di posisi 3 besar, menjadi juara 3 Temilnas 2015.
Ini adalah hadiah terbesar bagi tim kami, bagi SCIEmics dan bagi FoSSEI Jabar. Sejarah pertama dimana salah satu KSEI dari Jabar mampu lolos ke babak semifinal bahkan mendapatkan juara 3.
Namun, apalah arti juara jika tidak memberi manfaat kepada yang lainnya?
Juara 1 dan 3, membuat saya belajar bahwa setelah ini ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan materi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan strategi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan kerja sama tim. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari doa, usaha, ikhtiar dan tawakal. Dan ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari sebuah kemenangan.
Terima kasih, untuk semua kakak guru dan rekan-rekan semua yang telah mengajarkan saya materi Ekonomi Islam.
Terima kasih, untuk bunda Irni dan putra Mumuh yang telah mengajarkan saya cara untuk memiliki strategi saat berjuang sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk sang penyemangat Asma dan sang bintang Ipeh yang telah mengajarkan saya cara untuk ikhlas dan pasrah dalam doa, usaha, ikhtiar dan tawakal sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk kakak guru Kumita Ary yang telah mengajarkan saya arti dari sebuah kemenangan, kompetisi, prestasi dan kejuaraan.
Terima kasih, untuk sahabat terdekat, jombs, yang selalu mewarnai setiap langkah perjuangan.
Uhibbukum fillaah, insya Allah.

Alhamdulillah, untuk setiap kesempatan yang telah diberikan. Aahh Allah, semakin malu saja pada-Mu.

Salam perjuangan, keikhlasan, ketakutan, harap dan kemenangan.

Nisa Wiyati Ilahi.

Kamis, 15 Januari 2015

Pelajaran besar pada kejadian kecil

Maa Syaa Allah, hari ini belajar banyak dari hal-hal kecil..
Sore tadi, saya melihat pasangan muda yang sedang membeli makanan. Kebetulan kami hendak membeli makanan yang sama. Secara tak sengaja saya melihat sang istri senantiasa memegang jari tangan suaminya. Sang suami sengaja, ia menghindar dan mengibaskan tangannya dengan senyuman lembut. Sang istri memukul tangan suaminya, lalu memegangnya dengan lebih erat dari sebelumnya. Tak hanya jari tangan yang dipegangnya, tapi juga tangannya. Akhirnya mereka bergandengan dan kulihat ada cincin yang terpasang tepat di jari manis sebelah kanan sang istri. Aku semakin yakin, mereka pasangan muda yang baru menikah. Bukan pasangan yang belum jelas kapan akan menghalalkan hubungannya. **
Dengan melihat kejadian tersebut saya mengerti bahwa pernikahan bukan hanya untuk hidup berdampingan dengan pasangan, tapi juga menjaga diri dari setiap hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan dengan yang bukan muhrimnya, cukup dengan pasangan kita berbicara dan saling berbagi. Seperti sang istri yang senantiasa menjaga dirinya agar tetap berada disamping suaminya. Dan sang suami yang senantiasa memberikan kebahagiaan sederhana yang dijanjikannya bahkan sebelum akad nikah terucap. Rabb, semoga mereka bisa menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah warahmah. Aamiin
Malam harinya saya merasa sangat letih, bahkan seusai shalat isya' saya niatkan untuk langsung beristirahat. Tanpa sadar saya melihat makanan yang tersaji di dekat meja makan. Tak tahan rasanya ingin menghangatkan makanan tersebut dan memakannya. Akhirnya saya mengalah dari jadwal tidur yang ingin dimajukan pada awalnya dan saya pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan tersebut. Sesaat mata saya tersorot pada tempat pencucian piring. Aahh kenapa begitu menumpuk piring kotor disana? Bahkan alat" yang kubutuhkan untuk menghangatkan makanan pun kotor semuanya. Saya kembali mengalah dan akhirnya mencuci semua piring, sendok dan gelas kotor yang tertumpuk disana. Seusai itu, akhirnya saya bisa menghangatkan makanan dengan disajikan teh lemon hangat di meja depan. Rasanya sangat bersyukur untuk kenikmatan makanan dan minuman yang aaya santap malam ini.
Dengan kejadian tadi, saya mengerti bahwa tugas seorang istri sekaligus ibu nantinya bukan hanya sekedar mengurus rumah tangga saja, tetapi juga membuat orang didalamnya merasa nyaman berada didalam rumah, tak peduli bangun paling pagi dan tidur paling malam sekalipun. Karena mengurus rumah beserta setiap orang yang didalamnya adalah kewajiban. Itulah mengapa ketika anak tertidur, ibu masih sibuk dengan rumahnya. Itulah mengapa ketika anak terbangun, ibu sudah tak ada disampingnya saat ia membuka mata. Itulah mengapa ketika siang hari, ibu sering tertidur pulas saat menemani anaknya yang sedang bermain secara tanpa sadar.
Ibu lelah, ibu butuh istirahat, karena jika ia sakit, maka siapa yang akan mengurus rumah beserta penghuninya?
Rabb, saya sangat menyayangi beliau, seorang ibu yang senantiasa rela mengorbankan setiap hal yang ia miliki dan ia butuhkan untuk anak dan keluarganya. Semoga rasa sayang-Mu padanya akan lebih besar daripadaku. Aamiin
Terakhir, hari ini ada seorang kakak baik hati yang menghubungi dan menanyakan kabar mengenai kegiatan yang sedang menjadi tanggung jawab saya untuk saat ini dan beberapa bulan kedepan. Ia memberikan waktu luangnya untuk berbagi cerita tentang semangat dan beban yang saya hadapi dalam menjalankan amanah. Ia pun mengingatkan bahwa setiap apa yang membuat kita lelah, tak boleh membuat kita menyerah. Karena ada Allah yang senantiasa mampu memberikan kekuatan yang tak terkira bagi hamba-Nya.
Dengan kejadian tadi, saya juga mengerti bahwa sesulit apapun keadaan, seberat apapun masalah yang datang, dan sesepi apapun diri ini merasa sendirian, akan selalu ada Allah. Allah yang senantiasa memberikan kekuatan tak terkira bagi hamba-Nya, Allah yang senantiasa memberikan keringanan dan kemudahan tak tersadarkan bagi hamba-Nya, dan Allah yang senantiasa berada didekat hamba-Nya, mendampingi hamba-Nya yang selalu ingat kepada-Nya.
Rabbii, semoga ia bisa selalu menjadi penguat hati bagi siapapun yang ada didekatnya. Penenang hati bagi siapapun yang meminta nasihatnya. Atas kuasa dan izin dari-Mu tentunya. Aamiin ��
Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruulii wa laa takfuruun.
Alhamdulillah 'alaa kulli haal, Rabbii ��
Semoga hamba bisa semakin memahami makna hidup, ibadah, khalifah, dan hamba. Aamiin ��

Rabu, 17 Desember 2014

Pertengkaran kecil

Sedih bila kuingat pertengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu
Hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini
Tak ingin begini
Sobat rangkaian masa yang telah terlewat
Membuat batin ini menangis
Mungkin karena egoku
Mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini
Maaf aku begini
Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Takkan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin
Cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu

Kau tahu lagu ini, sahabat?
Ini lagu permintaan maaf untuk seorang sahabat, lagu dari Edcoustic. Kau bisa mendengarnya sendiri jika kau mau.

Aku hanya ingin meminta maaf, untuk setiap kata yang melukai perasaanmu. Mungkin aku tak sengaja, tapi bagimu itu bukan hanya sekedar canda tawa. Untuk setiap sikap yang membuatmu merasa berbeda. Mungkin aku merasa itu ajakan, tapi bagimu itu merupakan sindiran. Dan tugas seorang sahabat itu adalah mengingatkan dan mengajak dalam hal kebaikan dengan cara yang menyenangkan, tanpa ada unsur menyakitkan ataupun pemaksaan. Dan shock teraphy bukan hal yang disukai oleh setiap orang, begitupun denganmu, aku atau dia. Terlebih jika hal itu mengakibatkan timbulnya amarah tak tertahankan.

Kau tahu? Hariku berwarna dengan keceriaanmu, ini bukan guyonan ini memang kenyataan. Tapi apa yang kulakukan sebaliknya untukmu? Hanya membuat harimu mengesalkan, kelabu.

Dan maaf, karena aku belum faham betul bagaimana pribadimu. Dan aku tak tahu apakah aku masih punya kesempatan dan waktu yang lebih lama untuk memahamimu. Dengan kejadian itu, mungkin saja ya dengan catatan adanya kekakuan antara kita, tapi itu kebih baik dibandingkan dengan tidak sama sekali. Terlebih jika ada anggapan mungkin tak layak jika kau menganggapku sahabatmu. Bagaimana mungkin ada sahabat yang tega menyakiti hati sahabatnya sendiri? Apakah ada sahabat yang bersikap dan berkata bahwa sahabatnya itu tidak lebih baik darinya dan seolah merendahkannya?
Ahh aku sungguh tak layak kau sapa sebagai seorang sahabat.

Kita bukan anak kecil yang bertengkar karena aku mengambil permen dan mainan milikmu atau sebaliknya. Kita sudah dewasa dan ini masalah kepercayaan dan kekecewaan. Seolah ku cabut kepercayaanmu padaku bahwa aku mampu untuk mengerti tentangmu dan kuganti dengan kekecewaan dan rasa sakit yang mendalam.

Kau begitu marah, sakit rasanya melihatmu penuh dengan emosi dan kekecewaan. Dan aku tak bisa membayangkan lebih jika kelak aku kehilangan keceriaanmu, canda tawamu, kau berjarak dariku dan kau benar" tak lagi menyapaku sahabatmu.
Maaf, sekali lagi aku meminta maaf.
Akhir kata, kan kuucap. Apa kau masih mau menjadi sahabatku?
Meaki mungkin kau akan menjawab "Jika kau saja berfikir seperti itu, apalagi aku?"

Salam permohonan maaf,
Nisa Wiyati Ilahi

Jumat, 12 Desember 2014

Ujian hari ini

Tak terbayangkan bukan bagaimana manisnya iman? Dan jika kau belum merasakannya, mungkin ada yang salah denganmu. Entah itu karena kondisi keimananmu ataupun pola fikirmu.
Baru saja kau selesai melaksanakan salah satu ujianmu di kampus. Dan kau bisa pastikan bahwa keimanan dan pola fikirmu itu sedang jauh dari target pencapaian manisnya iman.
Kau melihat mereka, begitu mampu dan begitu pintar, begitu teliti dan begitu cerdas, begitu mampu mengkondisikan diri dengan keadaan.
Lalu, bagaimana denganmu?
Tentu saja kau asing, tidak melakukan apapun. Tertunduk, tak tau apa yang harus kau tuliskan dalam lembar kertas putih itu. Bahkan rasanya kau ingin menangis, bersedih dengan kondisi asingmu saat itu. Ingin menangisi kondisi ketidak mampuanmu saat itu.
Hey, mana semangat dan kepercayaanmu?
Mereka mampu dan mereka tetap mengingat Tuhannya. Apakah kamu tidak bisa melakukan hal yang sama? Hal yang serupa?
Ingatlah satu hal, kau boleh meragukan kemampuanmu sendiri tapi kau tak pernah diperbolehkan untuk meragukan kekuasaan Allah yang dapat memampukanmu.
Ini bukan hasil atas kerja kerasmu saja, tapi ini adalah apa yang diberikan Allah, apa yang dipercayakan Allah, hadiah dari Allah berupa kemampuan.
Termasuk apa yang sedang mereka lakukan tadi, itupun atas kuasa Allah.
Kerjakan, dan jangan lupakan bahwa semua itu atas kuasa Allah.
Entah itu untuk menghukummu yang bermalas-malasan, entah itu untuk menguji keimanan dan pola fikirmu yang tak stabil, atau apapun yang Allah inginkan dan Allah kehendaki.
Allah, Allah, Allah, tiada daya dan upaya melainkan atas kuasa-Mu.

Sapaan selepas ujian,
Nisa Wiyati Ilahi