Jumat, 24 April 2015

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #1

Hai bep, entah sejak kapan kita menjadi wanita kesepian sampai-sampai sahabat sendiri pun kita sapa dengan panggilan beb ataupun bep. Tapi yang pasti, hanya kata itu yang bisa membuktikan kedekatan antara kita *haha. Sepertinya membuat tulisan untukmu akan sedikit santai saja, tidak terlalu kaku meski tetap menggunakan kata-kata baku.
Oke bep, kita mulai dengan beberapa kalimat yang ingin  kusampaikan namun tak bisa kuucapkan secara langsung didepanmu. Kamu, dengan kondisi seorang wanita  yang tidak sempat mengalami menjadi santri namun sangat penasaran bagaimana rasanya menjadi santri. Kamu, aku sempat iri padamu, kau tahu kenapa?
Aku merasa dan tentu saja sangat berharap Allah menyayangimu. Itu sebabnya kau selalu berhasil menemukan jalan hijrah yang sesuai untukmu menurut versi-Nya dan sesuai untukmu menurut keinginanmu sendiri. Itu sebabnya kau selalu berhasil menjaga lisanmu agar tak menyebarkan aib orang lain yang kau ketahui, agar tak membuat orang yang mendengar ucapanmu hatinya tersakiti. Itu sebabnya kau selalu berhasil mengontrol hatimu untuk tidak berharap macam-macam dan mengontrol pikiranmu untuk tidak melakukan kesalahan fatal. Itu sebabnya, perlahan tapi pasti aku melihat bahwa kita akan selalu berada dalam satu paham dan keyakinan.
Kau tahu, mungkin dunia santri memang terlihat menarik dan menuntut tapi aku yakin dengan kehidupan dan cara yang kau jalani saat ini pun dapat menunjukkan bahwa kau adalah santri. Seorang santri yang sudah lulus dari pondok pesantrennya memang disebut sebagai alumni, tapi label santri tetap ada dalam dirinya sampai kapanpun. Dan yang kulihat adalah, kau memiliki label santri meskipun kau bukan lulusan pondok pesantren.
Sahabat (sebenernya lebih geli nyapa ini daripada ‘bep’), karena aku merasa bahwa Allah begitu menyayangimu, tetaplah berada dalam jalan hijrah yang memperkuat keyakinan-Mu pada-Nya, tetaplah menjadi pribadi yang membuat orang lain yang melihatmu iri karena sikap dan tingkah laku islami yang kau tunjukkan, tetaplah menjadi dirimu yang menjaga diri dan senantiasa mempertajam kemampuan diri. Akhir kata, semoga kita kelak akan kembali dipertemukan di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya dengan izin Allah menyayangimu.
Salam (alumni) santri,

Nisa Wiyati Ilahi

Kamis, 16 April 2015

Hikmah Temu Ilmiah

Tulisan ini dibuat spesial buat seseorang yang selalu tertawa bahagia sampe bergetar seluruh badannya. Hahaha
Gak kurang kece gimana coba orang yang satu ini pertama kali ikut olimpiade tapi langsung juara 1 di tingkat regional dan juara 3 di tingkat nasional. Keren kan vroh~
Sapa dulu aja ya, Assalamu’alaikum Asma Arisman Dewi, Mahasiswa Berprestasi dari IEKI ’13 yang udah jadi penyemangat tim B di setiap tahapan olimpiade.
SCIEmics tempat kita dipertemukan, ZIEE tempat kita dipersatukan, Tim SCIEmics B tempat kita dipaksa buat bisa kerja sama barengan. Right?
Juara, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil dipanggil sebagai seorang Juara? Bahagia? Atau justru Bersedih?
Olimpiade, apa yang terlintas difikiranmu saat berhasil melewati tahapan-tahapan olimpiade yang terhitung sulit dan menegangkan? Hatimu masih tetap tenang?
Pengumuman pemenang, apa yang terlintas difikiranmu saat mendengar namamu disebutkan oleh MC sebagai salah satu peserta yang lolos ke tahap selanjutnya dan berpeluang menjadi pemenang? Penuh harapan atau justru pasrah?
Asma, ada beberapa pesan yang ingin disampaikan. Ini bukan pesan pribadi, ini pesan dari semua kakak guru kita di SCIEmics yang dituangkan dengan bahasa nisa pribadi.
Kemenangan, jangan pernah anggap bahwa juara sama dengan kemenangan. Itu berbeda Asma, karena menurut nisa pribadi pun kemenangan dapat tetap kita maknai meski hasil sebenarnya yang kita dapatkan adalah kekalahan. Begitupun dengan juara, yang dapat tetap kita maknai sebagai ujian yang berat disertai dengan amanah yang besar nantinya. Dan nisa yakin, Asma sudah paham tentang hal itu. Ahh bahkan kondisi hati dan fikiran Asma lebih tenang dibandingkan dengan sikap yang nisa tunjukan, niat Asma mengikuti perlombaan lebih jernih dari yang nisa rasakan dalam prediksi nisa terhadap diri sendiri sekalipun.
Mari kita sedikit mengenang bagaimana kita bisa menjadi pemenang perlombaan.
Temilreg 2015, mungkin ini akan sedikit ‘nyelekit’ tapi ini hanya untuk dijadikan pelajaran saja. Tahap pertama, kita lolos dengan penuh air mata. Tahap kedua, kita lolos dengan penuh ketegangan. Dan tahap ketiga kita lolos dengan penuh kekecewaan. Mengapa? Karena kita tahu pasti ada pihak yang juga kecewa atas lolosnya tim kita. Tapi, kau ingat? Kuasa Allah yang mengizinkan kita menjawab soal mawaris terakhir berpoin 1000 yang mampu meloloskan kita ke babak final, padahal sebelumnya kita berada di posisi terakhir, poin 150 saja. Terakhir, tahap keempat kita sukses dengan juara pertama, membawa 2 piala, dengan penuh beban bahkan tak ada sedikitpun senyuman. Kita ini seolah pemenang yang tak disambut sekaligus peserta yang tak diharapkan. Begitu bukan?
Lihat, kita adalah juara, tapi justru kita tak merasa bangga dan bahagia. Itulah mengapa kita perlu mengerti arti dari kemenangan, agar kita juga mengerti bagaimana bersikap tenang dan bahagia sebagai pemenang.
Temilnas 2015, tak ada niat untuk menjadi pemenang. Bahkan yang terlintas dipikiran adalah apakah saat aku pergi olimpiade tugas telah usai ku kerjakan? Apakah selama aku menjalani kegiatan ada tugas tambahan yang diberikan oleh dosen dikelas? Bagaimana aku bisa mempersiapkan ujian sepulang dari sini? Ahh lemah sekali persiapan mental kita ini. Tapi hasilnya, dengan fokus yang terbagi, dengan harapan yang tak pasti, kita lolos dari tahap pertama. Berada di posisi 5 diantara berpuluh KSEI lainnya.
Tahap kedua, terjadi hal serupa. Berada di posisi terakhir, menjawab soal dengan poin terbesar, dan lolos ke babak final. Hingga akhirnya, tahap terakhir mengantarkan kita menjadi juara 3. Sungguh, persiapan presentasi itu adalah titik dimana kita tak sekompak biasanya. Mungkin karena terlalu fokus dengan ketiga kasus yang dipegang oleh masing-masing namun keukeuh disampaikan oleh ketiganya. Tak fokus, tak jelas, tak sempurna. Maaf, nisa pun merasa ada keegoisan diri dalam membahas kasus tentang ayat-ayat saat itu.
Tapi, kita perlu belajar dan menarik hikmah utama dari temu ilmiah.
Jadilah pemenang yang bahagia dan bangga dengan kemenangannya, bukan juara yang tidak dapat paham dan mengerti arti dari kemenangan yang sebenarnya. Dan saat kau merasa bersedih karena kekalahan yang didapat, bersedih dengan kekecewaan diluar batas, tengok apa niatmu dan bagaimana usahamu.
Sebesar apapun rasa takut dan khawatirmu, tetaplah berusaha untuk menyeimbangkannya dengan harapan. Agar dapat tercapai apa yang diharapkan dan terhindar dari apa yang ditakutkan. Harap dan takut, keduanya tetap adalah bukti bahwa kita senantiasa berdoa kepada Allah, mengusahakan untuk senantiasa berikhtiar secara maksimal dan akhirnya tawakkal atas semua ketetapan dari-Nya.
Hal lain yang ingin disampaikan mungkin lebih pribadi, karena kita bertiga melankolis nisa merasa bahwa ada satu rasa yang sama dalam diri kita, timbulnya prasangka bahwa saya menang karena sedang bersama mereka, begitu bukan?
Terlintas bahkan di fikiran nisa, bahwa Temilreg tahun lalu nisa menang karena ada Mumuh dan Teh Irni. Tahun ini pun sama, karena ada Ipeh dan kamu, Asma. Namun saat Nisa bertanya pada hati nisa sendiri, mengapa harus selalu Nisa yang dijadikan anggota tim yang dijadikan sebagai tim unggulan? Jawabannya karena kamu tak sadar akan keunggulanmu itu. Dijadikan anggota tim unggulan saja merendah lebih bawah, terlebih jika tidak maka semakin merendah dan tidak bersyukurnyalah kamu itu.
Asma, kerjasama tim sangat diperlukan dalam perlombaan khususnya olimpiade. Jadi, seseorang takkan menang tanpa bantuan yang lain, sekecil apapun itu bantuannya. Intinya, kita menang karena kita bersama, kita kalah pun karena kita bersama, bukan karena dia atau siapapun. Dan semua sudah ditata dengan rapi dan seindah mungkin oleh sang Pencipta, Allah SWT.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca tulisan sepanjang ini. Dan, hanya ingin mengucapkan “Tetaplah tebarkan semangat dan keikhlasan yang Asma miliki, jangan lupa ajarkan pada adik-adikmu nanti bahkan rekanmu sekalipun mengenai arti dari kemenangan, lanjutkan perjuangan meski Nisa ataupun Ipeh tak lagi mampu memberikan bimbingan, diluar itu mohon maafkan jika Nisa tak bisa menjadi kakak pendamping tim yang baik dan membina, jadilah kakak yang lebih baik dari Nisa, dari Ipeh dan dari siapapun yang lainnya dengan kelebihanmu, tenang sebagai pemenang”.
Titip ZIEE ya, Juara Mutlak !!
Salam Semangat,
Nisa Wiyati Ilahi –Rekan tim-

Minggu, 29 Maret 2015

Antara cinta dan ketulusan

Antara cinta dan ketulusan, atau cinta yang tulus? yang pasti disini akan kucoba ungkapkan pendapatku mengenai hal itu.
cinta adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, berupa rasa peduli, kasih sayang yang suci dan tak pantas jika dinodai dengan hal-hal negatif yang salah dan menimbulkan dosa. itu menurutku.
lalu, apa itu tulus? tulus adalah tanpa syarat. itu saja.
ada yang pernah memberi tahu bahwa tingkatan cinta yang paling tinggi adalah cinta yang tulus. tapi yang kutahu, itu adalah seperti cinta Allah kepada hamba-Nya yang shaleh.
namun ada hal yang kutemukan dalam pemikiranku tentang perkataan itu, bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang mana seseorang rela melepaskan orang yang begitu dicintainya bersama dengan orang lain.
kita bicara tentang jodoh? tidak, aku berbicara tentang cinta yang tulus.
mari kita lihat, siapa yang paling rela melepaskan diri kita untuk bersama orang lain? apakah kekasih kita, sahabat kita, teman kita atau bahkan mungkin mantan pacar (bagi yang sempat berpacaran)? kurasa bukan mereka. tapi orang tua kita.
bagimu para wanita, lihatlah ayahmu. beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang lelaki yang nantinya menjadi imammu, menjadi suamimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ayah berusaha untuk selalu menghidupi kebutuhanmu hingga mengalahkan egonya sendiri untuk bermain bercanda denganmu yang pada akhirnya hanya dapat dilakukannya di sela-sela waktu. betapa ayah berusaha untuk selalu menguatkanmu lewat doanya disetiap sujudnya atau disetiap shalatnya atau bahkan disetiap hembus nafasnya. betapa ayah berusaha untuk selalu merangkulmu meski terkadang itu disampaikan lewat ibumu.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang laki-laki yang akan membuat cinta anaknya menjadi terbagi, kini tak hanya ia yang dihormati tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang diperhatikan tapi juga lelaki itu, kini tak hanya ia yang dilayani tapi juga lelaki itu, dan kini tak hanya ia yang dicintai dan disayangi putrinya tapi juga lelaki itu. bahkan tanggung jawab untuk senantiasa membimbing putrinya akan berpindah pada lelaki itu, tanggung jawab dunia akhirat putrinya akan berpindah pada lelaki itu, selepas akad diucapkan dan pernikahan disahkan.
bagimu para lelaki, lihatlah ibumu, beliau begitu tulus mencintaimu hingga rela melepaskanmu bersama dengan orang lain, seorang wanita yang nantinya menjadi makmummu, menjadi istrimu, menjadi pendamping hidupmu.
kau mungkin tahu, betapa ibu selalu memberikan yang terbaik untukmu dari mulai kau berada didalam kandungannya, kau dilahirkan dari rahimnya, menyusui selama kurang lebih 2 tahun padanya, dan melihat perkembanganmu hingga sampai saat ini. betapa ibu selalu merawatmu disetiap harinya, menitnya, bahkan detiknya. menyiapkanmu makan, merapikan pakaian, mempersiapkan segala keperluan, meski sebenarnya kau sudah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri bahkan keluarga kecilmu kelak.
namun ia rela melepaskanmu dengan orang lain, seorang wanita yang seolah akan menggantikannya. menggantikan ibumu dalam menyiapkan makanmu, merapikan pakaianmu, merawatmu, mengurus segala keperluanmu. bahkan wanita itu kelak akan berperan seperti ibumu, ia akan merawat dan membesarkan anak-anakmu seperti yang selalu dilakukannya padamu sejak dimasa yang lalu.
hai ayah, hai ibu, terima kasih karena kalian selalu memberikan cinta pada kami anak-anakmu, cinta yang tulus, cinta tanpa syarat dan penuh dengan tanggung jawab. doakan kami agar kelak dapat memiliki cinta setulus apa yang dimiliki oleh ayah dan ibu. aamiin.

Jumat, 27 Maret 2015

Salam Perjuangan dan Kemenangan

Temu Ilmiah Regional atau yang sering disebut Temilreg adalah salah satu alasan mengapa saya berada di ukm SCIEmics. Saat itu, saya merupakan salah satu anggota dari tim SCIEmics 1 yang beranggotakan bunda Irni Inayah Rahman, putra Mumuh Muhammad dan saya sendiri, Nisa Wiyati Ilahi. Dengan kerja keras dan usaha kami, Allah mengizinkan kami untuk menjadi juara pertama di Temilreg 2014 yang diselenggarakan di kampus tercinta kami, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Berlanjut ke tingkatan yang lebih luas, kami bersama ke-2 tim lainnya mengikuti Temu Ilmiah Nasional atau yang sering disebut Temilnas. Mengikuti olimpiade tingkat nasional merupakan hal yang sangat memberikan banyak pengalaman, pelajaran dan juga hikmah yang dapat diambil saat sedang berada disana. Hasil yang tim kami dapatkan adalah peringkat 15 besar, sehingga kami belum berhasil mengikuti tahapan semifinal saat itu.
Tahun berganti tahun, tibalah saatnya saya mempersiapkan diri beserta anggota SCIEmics lainnya untuk mengikuti Temilreg 2015 dan Temilnas 2015. Begitu besarnya kuasa Allah yang telah mengizinkan saya memiliki rekan tim yang sangat kece di SCIEmics B, yaitu sang penyemangat Asma Arisman Dewi dan sang bintang Siti Latipah (Ipeh). Dengan mereka berdualah, saya bisa meraih juara pertama Temilreg 2015. Tanggung jawab saya untuk dapat mempertahankan apa yang telah diraih tahun lalu terbayar sudah disana.
Namun, meski begitu, jangan salah sangka. Banyak air mata disana, saat ada yang tak senang tim saya mampu menjawab pertanyaan. Saat ada yang tersenyum ketika poin cerdas cermat dari tim saya berkurang. Saat amanah untuk mempersiapkan anggota SCIEmics adalah tanggung jawab besar tim saya pribadi selaku pengurus di bagian pendidikan dan keilmuan (Science and Academic). Dan saat hasil yang didapatkan oleh kami menimbulkan pertentangan dan pertengkaran kecil nan samar tak terlihat di internal kami sendiri.
Tak berhenti disana, saya dan tim menempati posisi terakhir di babak semifinal saat sedang cerdas cermat. Hal itu memicu semangat kami untuk tidak mempermalukan nama SCIEmics dan akhirnya saya dan tim berhasil menjawab soal terakhir senilai 1000 yang meloloskan kami ke tahap final. Usailah perjalanan Temilreg, dan kami harus melanjutkan perjuangan kami di tingkat nasional, saatnya menghadapi Temilnas 2015.
Saat sedang penentuan delegasi, saya menghadiri kegiatan untuk melihat dan mengawasi bagaimana proses penentuan delegasi dilakukan. Namun, pada akhirnya, bunda meminta saya untuk juga mengikuti tes tersebut. Jujur, saat itu saya merasa bahwa saya tak perlu mengikuti Temilnas karena saya pernah mengikutinya tahun lalu dan saya ingin hak ini diberikan pada adik kelas saya nanti. Sayang, bunda bilang ia sudah mempercayai saya dan rekan-rekan lainnya untuk mengikuti Temilnas, jadi kita lihat saja hasilnya apakah saya termasuk kepada anggota delegasi atau tidak.
Penilaian dilakukan dengan transparan, masing-masing anggota dapat langsung mengetahui hasilnya. Dan ternyata benar, tak bisa dipungkiri lagi dengan izin dari orang tua saya, dukungan dari kakak guru saya dan juga dorongan dari rekan-rekan saya, saya menjadi delegasi Temilnas 2015 bersama kedua rekan saya yang semakin hebat, Ipeh dan Asma.
Babak penyisihan, kami lewati dengan penuh prasangka bahwa soal yang kami anggap mudah, maka akan dianggap sangat mudah oleh peserta lainnya. Hingga hari diumumkannya tim yang lolos semifinal pun membuktikan bahwa saya berada di posisi 5 besar bahkan tim A yang terdiri dari putra Mumuh Muhammad, si kalem Ani Sumiyati dan si cantik Hanifah Kania berada di posisi pertama, yang artinya kami masuk tahapan selanjutnya yaitu Lomba Cepat Tepat.
Beruntung, saat pengocokan batch, tim A berada di batch pertama dan tim B berada di batch kedua. Setidaknya kami tidak akan melawan rekan sendiri disana, meski tetap yang diloloskan adalah 2 tim dari masing-masing batch. Sayangnya, tim A bertahan sampai disana dan tidak bisa melanjutkan ke babak final.
Sedang saya dan tim, yang kembali mengulangi kejadian semasa Temilreg, berada di posisi terakhir dan berhasil menggunakan kesempatan terakhir untuk menjawab soal dengan poin 2000. Itulah yang membuat kami berhasil lolos ke babak final.
Di babak final kami diarahkan untuk melakukan studi kasus dari 3 kasus yang diberikan. Tim kami tampil pertama, dan timbullah firasat bahwa setelah pertolongan Allah selalu datan di kedua babak sebelumnya, ini adalah puncak dari kekacauan yang kami buat. Penampilan pertama, dengan persiapan materi yang seadanya, hanya bisa membuat kami membicarakan apa yang ada difikiran kami saat itu.
Namun, seperti yang selalu diajarkan oleh kakak guru Kumita Ary Fhuspha mengenai sajak juara dan sikap tawakal, kami tidak boleh menyerah dan antara rasa takut dan harap haruslah seimbang, agar Allah mengabulkan harapan dan menghilangkan rasa takut. Alhasil, kami menjadi tim yang berada di posisi 3 besar, menjadi juara 3 Temilnas 2015.
Ini adalah hadiah terbesar bagi tim kami, bagi SCIEmics dan bagi FoSSEI Jabar. Sejarah pertama dimana salah satu KSEI dari Jabar mampu lolos ke babak semifinal bahkan mendapatkan juara 3.
Namun, apalah arti juara jika tidak memberi manfaat kepada yang lainnya?
Juara 1 dan 3, membuat saya belajar bahwa setelah ini ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan materi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan strategi. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan kerja sama tim. Ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari doa, usaha, ikhtiar dan tawakal. Dan ada tanggung jawab besar untuk bisa mengajarkan arti dari sebuah kemenangan.
Terima kasih, untuk semua kakak guru dan rekan-rekan semua yang telah mengajarkan saya materi Ekonomi Islam.
Terima kasih, untuk bunda Irni dan putra Mumuh yang telah mengajarkan saya cara untuk memiliki strategi saat berjuang sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk sang penyemangat Asma dan sang bintang Ipeh yang telah mengajarkan saya cara untuk ikhlas dan pasrah dalam doa, usaha, ikhtiar dan tawakal sekaligus cara untuk bekerja sama dalam tim.
Terima kasih, untuk kakak guru Kumita Ary yang telah mengajarkan saya arti dari sebuah kemenangan, kompetisi, prestasi dan kejuaraan.
Terima kasih, untuk sahabat terdekat, jombs, yang selalu mewarnai setiap langkah perjuangan.
Uhibbukum fillaah, insya Allah.

Alhamdulillah, untuk setiap kesempatan yang telah diberikan. Aahh Allah, semakin malu saja pada-Mu.

Salam perjuangan, keikhlasan, ketakutan, harap dan kemenangan.

Nisa Wiyati Ilahi.

Kamis, 15 Januari 2015

Pelajaran besar pada kejadian kecil

Maa Syaa Allah, hari ini belajar banyak dari hal-hal kecil..
Sore tadi, saya melihat pasangan muda yang sedang membeli makanan. Kebetulan kami hendak membeli makanan yang sama. Secara tak sengaja saya melihat sang istri senantiasa memegang jari tangan suaminya. Sang suami sengaja, ia menghindar dan mengibaskan tangannya dengan senyuman lembut. Sang istri memukul tangan suaminya, lalu memegangnya dengan lebih erat dari sebelumnya. Tak hanya jari tangan yang dipegangnya, tapi juga tangannya. Akhirnya mereka bergandengan dan kulihat ada cincin yang terpasang tepat di jari manis sebelah kanan sang istri. Aku semakin yakin, mereka pasangan muda yang baru menikah. Bukan pasangan yang belum jelas kapan akan menghalalkan hubungannya. **
Dengan melihat kejadian tersebut saya mengerti bahwa pernikahan bukan hanya untuk hidup berdampingan dengan pasangan, tapi juga menjaga diri dari setiap hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan dengan yang bukan muhrimnya, cukup dengan pasangan kita berbicara dan saling berbagi. Seperti sang istri yang senantiasa menjaga dirinya agar tetap berada disamping suaminya. Dan sang suami yang senantiasa memberikan kebahagiaan sederhana yang dijanjikannya bahkan sebelum akad nikah terucap. Rabb, semoga mereka bisa menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah warahmah. Aamiin
Malam harinya saya merasa sangat letih, bahkan seusai shalat isya' saya niatkan untuk langsung beristirahat. Tanpa sadar saya melihat makanan yang tersaji di dekat meja makan. Tak tahan rasanya ingin menghangatkan makanan tersebut dan memakannya. Akhirnya saya mengalah dari jadwal tidur yang ingin dimajukan pada awalnya dan saya pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan tersebut. Sesaat mata saya tersorot pada tempat pencucian piring. Aahh kenapa begitu menumpuk piring kotor disana? Bahkan alat" yang kubutuhkan untuk menghangatkan makanan pun kotor semuanya. Saya kembali mengalah dan akhirnya mencuci semua piring, sendok dan gelas kotor yang tertumpuk disana. Seusai itu, akhirnya saya bisa menghangatkan makanan dengan disajikan teh lemon hangat di meja depan. Rasanya sangat bersyukur untuk kenikmatan makanan dan minuman yang aaya santap malam ini.
Dengan kejadian tadi, saya mengerti bahwa tugas seorang istri sekaligus ibu nantinya bukan hanya sekedar mengurus rumah tangga saja, tetapi juga membuat orang didalamnya merasa nyaman berada didalam rumah, tak peduli bangun paling pagi dan tidur paling malam sekalipun. Karena mengurus rumah beserta setiap orang yang didalamnya adalah kewajiban. Itulah mengapa ketika anak tertidur, ibu masih sibuk dengan rumahnya. Itulah mengapa ketika anak terbangun, ibu sudah tak ada disampingnya saat ia membuka mata. Itulah mengapa ketika siang hari, ibu sering tertidur pulas saat menemani anaknya yang sedang bermain secara tanpa sadar.
Ibu lelah, ibu butuh istirahat, karena jika ia sakit, maka siapa yang akan mengurus rumah beserta penghuninya?
Rabb, saya sangat menyayangi beliau, seorang ibu yang senantiasa rela mengorbankan setiap hal yang ia miliki dan ia butuhkan untuk anak dan keluarganya. Semoga rasa sayang-Mu padanya akan lebih besar daripadaku. Aamiin
Terakhir, hari ini ada seorang kakak baik hati yang menghubungi dan menanyakan kabar mengenai kegiatan yang sedang menjadi tanggung jawab saya untuk saat ini dan beberapa bulan kedepan. Ia memberikan waktu luangnya untuk berbagi cerita tentang semangat dan beban yang saya hadapi dalam menjalankan amanah. Ia pun mengingatkan bahwa setiap apa yang membuat kita lelah, tak boleh membuat kita menyerah. Karena ada Allah yang senantiasa mampu memberikan kekuatan yang tak terkira bagi hamba-Nya.
Dengan kejadian tadi, saya juga mengerti bahwa sesulit apapun keadaan, seberat apapun masalah yang datang, dan sesepi apapun diri ini merasa sendirian, akan selalu ada Allah. Allah yang senantiasa memberikan kekuatan tak terkira bagi hamba-Nya, Allah yang senantiasa memberikan keringanan dan kemudahan tak tersadarkan bagi hamba-Nya, dan Allah yang senantiasa berada didekat hamba-Nya, mendampingi hamba-Nya yang selalu ingat kepada-Nya.
Rabbii, semoga ia bisa selalu menjadi penguat hati bagi siapapun yang ada didekatnya. Penenang hati bagi siapapun yang meminta nasihatnya. Atas kuasa dan izin dari-Mu tentunya. Aamiin ��
Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruulii wa laa takfuruun.
Alhamdulillah 'alaa kulli haal, Rabbii ��
Semoga hamba bisa semakin memahami makna hidup, ibadah, khalifah, dan hamba. Aamiin ��