Minggu, 03 Januari 2016

Pelangiku



Pelangi terdiri dari 7 warna, meski aku tak memahami makna semua warna disana tapi aku ingin mengenang kalian sebagai pelangi yang ada setelah turunnya hujan, setelah turunnya salah satu keberkahan dari Allah, setelah turunnya sumber harapan bahwa bunga akan segera bermekaran. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Aku seolah melihat 7 warna itu dalam setiap diri kalian masing-masing.
Bagaimana jika kalian anggap saja itu sesuai dan bukan keterpaksaan? Lagipula ini dalam pandanganku, mungkin dalam pandangan kalian warna yang aku tentukan tidak pas dan akan sangat jauh berbeda. Kita anggap ini ungkapan tentang bagaimana caranya aku menggambarkan kalian dalam warna seindah 7 pelangi, yang bersamaan dan berdampingan.
Merah, siapa dia?
Warna merah akan mengingatkanku pada seorang bernama Dian Kirana Pitaloka yang mengajarkanku tentang keberanian. Ia adalah sosok yang sangat pemberani, saat temannya melakukan kesalahan, ia akan berbicara secara langsung bahwa temannya itu telah melakukan kesalahan. Saat temannya terlihat mulai menjauh, ia akan berbicara secara jelas bahwa hubungan mereka perlu diperbaiki kondisinya. Saat temannya bersedih, ia tak pernah ragu untuk bertingkah konyol agar temannya bisa kembali tersenyum. Dan saat temannya bahagia, ia akan mulai membagi keceriaan untuk merasakannya bersama.
Dian itu orangnya berani berbicara, berani bersikap, berani mengambil keputusan, tanpa keraguan dan rasa malu atau canggung, toh itu semua memang pantas dilakukan. Aku belajar berani darinya.
Jingga, siapa dia?
Warna jingga akan mengingatkanku pada seorang bernama Tenzani Dentiyana yang mengajarkanku tentang kekuatan. Ia adalah sosok yang terkadang terkesan masa bodo dengan tanggapan orang lain tentangnya. Saat temannya bersikap merendahkannya atau meremehkannya ia akan memberikan 2 tanggapan, yang pertama adalah tidak fokus pada perkataan temannya itu dengan bersikap masa bodo dan yang kedua adalah bangkit tanpa disadari oleh temannya dan menunjukkan sesuatu yang bisa dilakukan olehnya sendiri tanpa saran dan bantuan siapapun. Saat temannya tidak setuju dengan pendapatnya, terkadang ia bisa bersikap tidak mengikuti kesepakatan dan mengangguk mendengarkan tanpa berkomitmen untuk melakukan hal itu. Meyakini bahwa pendapatnya adalah yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Tenzani itu orangnya kuat secara fisik dan pikiran. Aku belajar kuat darinya.
Kuning, siapa dia?
Warna kuning akan mengingatkanku pada seorang bernama Lia Amalia yang mengajarkanku tentang keceriaan. Ia adalah sosok yang ceria dan hangat, cepat akrab dengan siapapun yang baru mengenalnya. Sikapnya dalam berteman mudah diterima oleh siapapun, pemikirannya dalam mengambil keputusan mudah dikomunikasikan dengan siapapun meski kadang agak sulit dimengerti tapi ia sukses dalam mengkomunikasikannya. Ia menjalani hidupnya dengan senantiasa mengawali hari di pagi yang cerah, dengan penuh semangat mengerjakan rutinitasnya. Menebar energi positif adalah kata kuncinya dalam memberikan semangat pada teman-temannya.
Lia itu orangnya ceria dalam menjalani rutinitasnya dan hangat dalam menjalani kehidupan bersama temannya. Aku belajar ceria darinya.
Hijau, siapa dia?
Warna hijau akan mengingatkanku pada seorang bernama Devi Andriani yang mengajarkanku tentang ketulusan. Ia adalah sosok yang cukup pendiam namun menakutkan, pemalu namun blak-blakan dan lemot namun emosian. Seorang divergent yang terlalu banyak sikap yang tak kupahami ada dalam dirinya. Namun layaknya pohon yang meski banyak macamnya namun tetap rindang dan indah, ia dengan sikap berbeda tetap konsisten dengan ketulusan dalam membantu temannya. Tak jarang ia terlihat mengorbankan dirinya sendiri meski ia tak pernah menyadarinya sendiri terlebih bersedia mengakuinya. Ia memiliki sisi positif yang belum ingin ia lihat sendiri.
Devi itu orangnya tulus dalam membantu tanpa memandang teman mana yang membutuhkannya. Aku belajar tulus darinya.
Biru, siapa dia?
Warna biru akan mengingatkanku pada seorang bernama Shelfira Meisarani yang mengajarkanku tentang kedamaian. Ia adalah sosok yang menghadapi setiap urusan dan perkataan dengan senyuman. Saat ia bersama dengan orang yang penuh dengan emosi, ia bisa saja ikut dalam emosi itu secara berlarut namun ia seringkali memilih diam dan tersenyum masam. Mungkin terkesan masa bodo, itu yang selalu ia ungkapkan namun aku tahu itu rasa memaafkan karena ia cinta kedamaian. Ia hanya belum bisa konsisten dalam memutuskan caranya dalam menebar kedamaian pada orang-orang disekitarnya. Hingga hanya orang-orang tertentu saja yang paham bahwa ia adalah seseorang yang mencintai kedamaian.
Shelfira itu orangnya cinta damai, pemaafdan penuh senyuman. Aku belajar menemukan kedamaian dalam diriku darinya.
Nila, siapa dia?
Warna nila akan mengingatkanku pada seorang bernama Fani Setiani yang mengajarkanku tentang kesederhanaan. Ia adalah sosok yang tenang dalam menghadapi situasi menegangkan, menghargai pendapat dan perkataan orang lain meski terkadang ada sedikit banyak perbedaan dengan pendapatnya sendiri. Saat temannya berada dalam kesulitan, ia akan menawarkan bantuan dengan mengulurkan tangannya, saat temannya berada dalam kesedihan, ia akan menguatkan, berbicara dengan penuh kelembutan.
Fani itu orangnya sederhana dalam bersikap, tak terkesan bertele-tele. Aku belajar bersikap sederhana darinya.
Ungu, siapa dia?
Warna ungu akan mengingatkanku pada seorang bernama Tita Sobariah yang mengajarkanku tentang kekayaan. Ia adalah sosok pekerja keras yang rajin dalam menekuni bidang yang disukai olehnya. Saat ada tuntutan yang mengharuskannya melakukan sesuatu yang tidak terlalu disukainya, ia akan bekerja keras utnuk melewatinya dan mendapatkan hasil terbaik atas usaha dan jerih payahnya. Jika ada suatu tantangan, ia akan sangat menyukainya dan melewatinya dengan penuh semangat dan pembelajaran. Seorang individualis yang memberikan banyak dorongan dan motivasi pada teman-temannya dan orang-orang disekitarnya. Ia begitu kaya akan pengalaman, perjuangan, pengetahuan, keterampilan dan keinginan.
Tita itu orangnya kaya akan impian dan itu membuatnya selalu belajar dan berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik. Aku belajar untuk kaya darinya.


Pelangiku. Terima kasih selalu hadir setelah hujan datang. =’)

Salam pecinta hujan,
Nisa Wiyati Ilahi

Sabtu, 31 Oktober 2015

Lia Amalia



Assalamu’alaikum a Rian.
Surat ini Nisa perkenankan untuk a Rian *sebenernya, tapi berhubung “nanaonan atuh nis pake ngasih surat buat a Rian segala”, jadi kayaknya yang baca mba Lia aja yah. =P
Sejauh ini, yang nisa kenal tentang seorang Lia Amalia tidaklah banyak. Tapi yang pasti Nisa pengen banget nitipin seorang dengan pribadi sanguinis koleris, si ceria yang alay dan keras kepala ini sama a Rian.
Lia ini a, orangnya “Seneng minta pendapat orang dan muji orang”. Kebukti sama sikap dia yang sering nanya pendapat nisa dan sering baper sama tulisan-tulisan nisa yang biasa aja. Tapi sikap Lia benar-benar hangat a, Lia bikin nisa ngerasa kalo pemikiran nisa dibutuhin juga ternyata sama orang lain, tulisan nisa bisa istimewa dan bermanfaat juga ternyata buat orang lain. A Rian beruntung bisa dapetin Lia yang baik hati, bisa hangat, bersahabat dan bikin orang lain ngerasa senang dan berarti.
Lanjut ya a, Lia itu “Paling gak suka dibilang berubah”. Kebukti sama cerita nisa tentang sikap nisa yang dulu nuduh ke 'temen' nisa kalo dia berubah padahal kata Lia bukan dia yang berubah tapi cara pandang nisa tentang dia yang berubah. Lia emang bener a, kadang dengan kata berubah kita seolah menghakimi seseorang dengan sikap yang justru itu hanya kita yang merasakan tapi bisa saja dirinya bahkan orang lain yang juga disekitarnya tidak merasakan perubahan itu. Tapi hanya diri kita sendiri lah yang merasakannya. Hati-hati yah a kalo mau bilang Lia berubah. Hihi.
Terus a, keras kepala nya lia ini muncul “Kalo mau harus iya, kalo nggak iya rungsing”. Dia sering bilang ke nisa khususnya kalo lagi stres dan galau “Mba, aku pengen pulang dan ketemu Mamah”. Sebelum Lia pulang ke rumah dan ketemu sama mamah tercintanya, biasanya Lia bakalan susah fokus dan susah diajak kerjasama buat ngerjain tugas. Jadi intinya kalo Lia pengen pulang, dia harus pulang. Kalo nggak, duh rungsing nya gak ketulungan a. Ripuh nisa, suka greget apalagi kalo liat Lia nyantei ngerjain tugas gegara galau pengen pulang *haha iya gitu pernah? Gatau sih nisa ngarang aja. Wkwk
Selain yang tadi a, Lia juga “Kalo gak mau harus nggak, kalo iya ya siap” aja liat perubahan sikapnya”. Lia itu kalo ngelakuin sesuatu secara terpaksa jatohnya dia gaakan ngeluarin kehebatannya dia. Dia bakal kerja tapi gak maksimal, asal meski gak jelek-jelek amat hasilnya. Yaa, ini beda tipis sih a sebenernya sama yang diatas. Hoho.
Nah ini sisi melownya Lia a, “Kalo lagi jauhin orang yg dia sayang karena kecewa dia juga nyakitin dirinya sendiri”. Lia pernah marah sama nisa sama epi juga gegara salah paham sama kejadian di lab computer. Waktu itu Lia nanya sesuatu ke nisa, Lia manggil” nisa tapi nisa gak nyaut dan malah ngobrol terus sama epi. Alhasil, Lia pundung dan ngerjain tugas lewat searching, padahal nisa sama epi bisa bantuin dia. Pas nisa nyapa, dia baeud wae a. Pas nisa mau bantu, Lia bilang Lia bisa sendiri. Sampe tiba waktunya kita kajian, tapi Lia pundung dan kita sms an ala ala orang gak kenal dengan bahasa yang kaku dan kita ini orang asing, Bhay. Tapi a, besoknya dia nangis ke nisa, minta maaf. Padahal nisa yang salah, tapi dia yang nangis. Hoho. Lia baik kan a, nisa yang salah tapi Lia yang minta maaf. Nisa yang cuekin dia duluan meski sebenernya karena gak denger dia manggil” nisa, tapi Lia yang nangis ke nisa. Dia peluk nisa, padahal harusnya marah besar. Haha Lia, Lia, kamu mah suka bikin malu aja. Hoho.
Nah, kalo yang ini a Rian kudu sabar yah, soalnya Lia “Sering lupa sama apa yg dia ucapin dan nasihatin”. Kebukti sama kejadian dimana nisa lagi curhat terus ditengah” curhat nisa bilang “kan kata mba juga … bla bla bla…” tiba” dia nyela dan nanya “emang aku pernah ngomong gitu?” atau “emang aku pernah ngeluarin nasehat sekece itu?” ini tanda kalo Lia seneng nasehatin orang a, bantuin orang yang lagi butuh nasehat, solusi dan teman berbagi *elaahh.
Yang kedua, Lia juga “Sering lupa kalo dia udah cerita tentang suatu hal sampe diulang berkali-kali”. Naahh, jadi a Rian jangan heran yah kalo dia tiba-tiba cerita hal berulang tanpa sadar kemudian nanya “ehh, aku udah pernah certain ini belum?” hohoho.
Kemarin, waktu kita kumpul geng terakhir ceritanya Lia bilang kalo dia paling gak enakan sama orang, apalagi kalo orang itu nunggu. Menurut nisa, itu sikap yang melankolis, tapi yaa kalo memang Lia merasakannya itu bukan masalah. Karena nisa tau, Lia orang baik a. Nisa udah cerita kan a, kalo Lia itu kadang suka minta maaf duluan sama orang yang justru punya salah sama dia. Hahaha ingetin aja yah a biar Lia jadi orang yang sabar dan kuat.
Masih banyak hal tentang Lia yang gak bisa Nisa sebut satu persatu, tapi yang pasti hal-hal diatas adalah diantara kenangan yang nisa inget tentang Lia. Tapi yang paling berarti buat nisa adalah Lia selalu bilang bahwa melankolis itu istimewa, itu selalu nisa jaga dan nisa tanam di diri nisa. Hehe.
Oiyah a, Lia itu kadang suka rada khilaf jadi dia centil dan alay sih a, tapi itu bentuk keceriannya dia, bentuk becandanya dia sama semua temen-temennya, bentuk bersahabatnya dia sama lingkungan. Diwajarin aja yah a, namanya juga sanguinis, kadang dia gak sadar sikap welcome nya dia bikin sakit melankolis *lho *curcol *pengalaman pribadi ajah.
Titip Lia yah a, mungkin setelah hari ini apa yang biasa dia ceritain ke nisa jadi ke a Rian aja, apa yang biasanya dia omelin ke nisa jadi ke a Rian aja, apa yang biasa dia tumpahin ke nisa jadi ke a Rian aja.
Salam buat Lia juga yah a, mungkin setelah hari ini nisa jadi canggung buat cerita sama dia, nisa jadi bingung kalo mau curhat dan nangis lepas ke dia, nisa makin ngerasa ngebebanin dia. Kita gak tau kan a apa yang bakalan terjadi di masa depan?
Akhir kata, nisa ucapkan selamat buat a Rian yang udah beruntung banget dapetin Lia dan makasih buat a Rian yang udah jadi pasangan terkece buat Lia. Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khaiir.
Nisa percaya bareng a Rian, Lia bakal makin hebat dan kece. Titip Lia yah a.

Salam, sahabat perkuliahan Lia,
Nisa Wiyati Ilahi.

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #4



Fifi Nurshifa Budiarti, itulah nama seorang divergent yang aku kenal sejak kami berada dalam salah satu organisasi Himpunan Mahasiswi sebagai alumni PPI (Pesantren Persatuan Islam). Saat itu, aku belum terlalu banyak mengenal kepribadian dan sifatnya. Yang aku tahu, dia adalah teman dari temanku saat duduk di tingkat mu’allimien. Yang aku tahu, dia berprestasi dan memiliki keahlian di bidang organisasi, sejak saat itu aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki kepribadian koleris. Pribadi yang menurutku pekerja keras dan dipercaya menduduki jabatan-jabatan penting dalam organisasi, seperti ketua atau bahkan sekretaris.
Waktu berlalu, jika kami bertemu maka kami hanya sekedar menyapa satu sama lain. Kami tidak memiliki kontak satu sama lain, tidak memiliki perbincangan diluar “Apa kabar himi? Masih suka ikut kegiatan himi?”. Bahkan mungkin kami tidak pernah memikirkan satu sama lain atau memperhatikan satu sama lain atau memperdulikan satu sama lain dalam setiap hari, minggu bahkan bulannya.
Qadarullah (itu bahasa yang dia ucapkan) kami dipertemukan kembali di kelompok KKN yang bertempatkan di Caringin, Karang tengah, Garut. Suatu kejutan dan hadiah dari Allah agar kami bisa saling menjaga satu sama lain, mengingatkan satu sama lain dan memperhatikan satu sama lain. Yang intinya, mengenal dengan baik satu sama lain untuk dapat berjalan bersama dalam kebaikan dan perubahan.
Pertemuan pertama kami dan perbincangan terpanjang kami adalah pada saat meet up pertama kelompok KKN. Ia diajukan dan disepakati untuk menjadi sekretaris kelompok, sisi kolerisnya sudah mulai terlihat disana. Berlanjut saat kami mulai sering mengadakan pertemuan dan perkumpulan, aku semakin mengetahui kepribadiannya, caranya memutuskan, arah berfikirnya, komunikasinya, dan hal lainnya yang menunjukkan bagaimana kepribadiannya. Kurasa dia mulai terlihat memiliki kemiripan denganku dari beberapa sisi, terkadang ia bisa menjadi orang yang pendiam, terkadang juga sangat tidak bisa berdiam diri di tempat, terkadang menangis tertahan, dan terkadang-terkadang lainnya. Intinya, aku sedikit kebingungan apakah ia melankolis atau phlegmatis.
10 hari pertama, kami seringkali bersama-sama dalam melakukan sesuatu. Memperbincangkan sesuatu yang terkadang hanya kita berdualah yang mengerti hal itu, seperti masa-masa di pesantren, teman-teman di pesantren, kisah cinta di pesantren, ups. Intinya, kami semakin dekat dan senantiasa berusaha satu sama lain untuk dapat saling memahami pribadi dan pola pikir masing-masing. Dan aku menyimpulkan bahwa dia memiliki 3 pribadi, koleris, melankolis dan phlegmatis.
Dia orang yang baik, dia bisa mengarahkan orang lain dengan bijak, mengerjakan sesuatu dengan tekun dan menjadi teman bicara atau bercanda yang asik dan enerjik. Dia anak gunung, bahkan mengikuti salah satu perkumpulan bernama Matagira. Sejujurnya aku belum bisa memahami dia sepenuhnya, itulah mengapa aku memandangnya sebagai seseorang yang divergent.
Poy, itu sapaan hangatku padanya. Meski bukan hanya dia yang kupanggil dengan sapaan ‘poy’ tapi melalui sapaan itulah aku merasa bahwa aku adalah teman dekatnya, akrab dengannya dan memahaminya.
Poy, kau tahu bukan bahwa kau adalah orang yang kuat dan menguatkan. Buktinya, aku membiasakan diri menjadi kuat karenamu. Kau juga orang yang perhatian dengan batasan yang pas, dari sikapmu aku bisa belajar untuk tidak memperhatikan dan peduli pada seseorang secara berlebihan. Kau pemimpin yang baik meski kau tak menyadarinya, dari caramu berfikir dan memutuskan aku belajar untuk bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Poy, terima kasih banyak sudah memberikan waktu dan kesempatan bagiku untuk mengenalmu, menjadi temanmu, meski sulit rasanya jika aku menjadi kakak iparmu (abaikan). Yang pasti, kau memberikan banyak kebaikan dan kenangan padaku termasuk saat kau tak menyadarinya. Ada saat dimana aku merasa tenang dan begitu bahagia meski hanya melihatmu terbaring dan tertidur pulas disampingku. Mungkin ini berlebihan, tapi di masa itulah aku bisa benar-benar tahu dan melihat keadaanmu secara langsung. Tak tega rasanya membayangkan kau menangis, lelah, terluka dan sakit tanpa aku berada disampingmu sebagai teman yang mendengarkan keluh kesahmu dan membantu menghilangkannya.
Poy, aku pun ingin minta maaf jika sikapku belum bisa memberikan yang terbaik bagimu. Jika pemikiranku belum bisa mendukung keputusan bijakmu. Jika pribadiku belum bisa memahami pribadimu secara jelas dan menyeluruh. Jika hadirku belum bisa menjadi bagian kecil dari kebahagiaanmu. Jika tulisanku belum bisa memberikan rasa haru yang berarti bagimu. Dan jika dilain waktu, aku menuliskan sesuatu untukmu atau tentangmu, semoga itu tidak mengganggu.
Akhir kata, ingin kuucapkan “Alhamdulillah untuk kelahiranmu, semoga umurmu berkah dan dapat memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada disisimu”. Aamiin.
Salam hangat (dari calon kakak iparmu *semoga jadi aamiin wkwk abaikan ini informal)
Nisa Wiyati Ilahi

Rabu, 02 September 2015

Memories of Caringin

Kalo dibahas tentang pribadi, semua punya pandangan masing-masing tapi yang pasti kita sekumpulan orang yang mayoritas phlegmatis. Alhamdulillahnya cinta damai, kangen satu sama lain karena gak ada lo gak rame, dan senengnya dibawa santai. Haha.
Memori pertama tentang cara perkenalan,
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu bapak sadayana abi teh mahasiswa kkn UPI Bandung. Jumlah sadayana aya 11 jalmi, istri na 7 teras pameget na 4, ari linggih na mah di bumi na pak Apip di cikulahan”, dan seterusnya.
Memori kedua tentang posko,
Posko caringin itu luas meskipun satu-satunya kamar dipake dempet-dempetan sama 7 orang cewe. Posko kita itu nyaman, meskipun cuman dari bilik dan anyaman tapi tetep aman. Terus posko kita itu juga deketan sama kandang ayam, pagi-pagi pasti udara segernya udah kecampur sama bau ayam dan pasti dengen suara “ooeo” nya ayam. Pintu depan suka bunyi kalo dibuka atau ditutup, pintu kamar besinya kayak yang udah mau copot, pintu belakang gampang banget buat dibuka tinggal dorong aja dan pintu wc selalu bikin waswas kalo lagi di kamar mandi, takut keliatannya itu loh.
Pagi-pagi (biasanya jam 5) Fatria pasti udah pergi ke mesjid atau bahkan udah pulang dari mesjid, ada bunyi alarm dari hp nya Rita yang kenceng banget dan jadi alarm andalan buat bangunin anak cewe. Kalo buat bangunin anak cowo sih jagonya ya siapa lagi kalo bukan Darma. Lagu yang sering didengerin waktu KKN sesi pertama itu dari medina, “Orang kaya mati, orang miskin mati..” dan seterusnya, kadang Dani suka ganti lirik jadi “Orang ganteng dani” sayangnya dilanjut lagi ke “Dani ganteng mati”. *Duh piiss mang :D
Memori ketiga tentang jalan-jalan
Tempat maen kita yang pertama itu waktu sesi pertama di sawah buat ciwi-ciwi nya, terus lanjut ke daerah deket sindanggalih (nisa lupa namanya). Gunung piramid belum sampe puncak dan baru sampe saung nya a irfan. Cipanas, dadakan banget padahal baru pulang dari jalan-jalan dan ambu sama mamake gak ikut, so sorry and sangat disayangkan *ckckck.Talaga bodas jalannya juara banget, untung ada mobil patroli yang bisa ditebengin sama ciwi-ciwi. Berakhir di Santolo, pantai yang udah ditargetin sama Fifi dari jauh-jauh hari. And so thanks buat kalian semua udah mau nganterin nisa buat bisa kecapai makan ramen di Garut. Hihi, thanks a lot guys.
Memori keempat tentang makanan
Ini candaan, tapi terkadang cuwu-cuwu ataupun ciwi-ciwi nanggepinnya serius. Sayuran, apapun warnanya, gimanapun bentuknya, khususnya yang berwarna hijau sudah pasti diistilahkan ‘jukut’. Apa itu jukut? Rita sama Darma belum terlalu paham, jukut itu dalam bahasa indonesia artinya rumput. Jadi, makanan pun diistilahkan dengan ‘parab’, biar cocok sama istilah jukut tadi. Apa itu parab? Parab itu dalam bahasa indonesia artinya makanan untuk hewan. Istilah yang berasal dari amarah serta memancing amarah, berangsur menjadi canda tawa dan kenangan.

Istilah lainnya, ada hubungannya sama salah satu nama kampung di desa caringin, yaitu jumbre. Awalnya ciwi-ciwi gak paham, dan cuman ikutin istilah itu, tapi akhirnya yaa kami paham arahnya kemana. Intinya, Fatria sempet mencetuskan kalimat ‘Jumre lah pokokna mah’ kalo dia abis nyobain makanan yang enak dan mantap. Jadilah tertular dengan kalimat itu, jumre adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makanan yang enak, padahal aslinya itu nama kampung *sopannya kita.
Memori kelima tentang perang dan perpisahan
Semua orang stres dan cape, tapi pengungkapan dan penunjukkan sikap yang beda. Ada yang ngambek sambil ngeyel, ada yang diem nahan nangis, ada yang lampiasin sama maen dan gak diem di posko, ada juga yang berusaha ngalem dan diem aja di posko. Yah, yang penting kita saling memahami dan memaafkan yah, toh semua punya salah satu sama lain, semua juga punya rasa simpati satu sama lain. Alhamdulillah perpisahan kita nangis bukan karena berantem, tapi karena kita keluarga dan mau rantau lagi di jurusan masing-masing semuanya.
Perpisahan diawali sama Darma yang pulang duluan karena mau ketemu saudara nya, kehilangan banget mamake yang satu ini karena posko jadi lebih rentan berantakannya, makan lebih jarang siap di dapurnya. Lanjut sama Fatria yang terus bilang kalo jam 1 dia harus udah sampe sukabumi, pergi jam 7 pagi, dia nangis dan bikin yang lain nangis juga. Siangnya pas mau pamitan, kita kumpul duduk-duduk di kursi, Rita udah siapin hp nya buat bikin video. Dani sibuk sama hp nya meskipun tetep bareng-bareng, Kamil ngider gatau kemana dan tiba-tiba pulangnya udah bawa batu sekeresek aja. Ujungnya salah satu dari 4 cowo di posko kita, neng yang satu ini, Ian dijailin sama ciwi-ciwi.
Sebelum pulang, kita pamitan ke warga sekitar sekaligus foto-foto terakhir dan penyerahan kenang-kenangan buat posdaya, SD, Desa, dan lainnya. Akhirnya, Nisa dijemput sama Aa Alief dan pulang duluan bareng Fifi sama Rita. Disusul sama Dea sore harinya, dan Tata, Cahya, Dani, Ian sama Kamil pun menyusul. Bye, kita pisah dulu yaahh.
Lanjut ke memori baper yang dibuat-buat,
Ketua, sekretaris, bendahara, gak aneh lah yah kalo baper atau disirikin sama anggota-anggota nya. Ya begitulah yang terjadi, ada Kamil, Fifi sama Dea. Kadang Kamil ditambah lagi baperannya sama Darma, hmm meski sebenernya itu lebih ke “Pawangnya Kamil itu ya Darma”. Hoho
Ada juga si kuku yang entah dari mana asalnya itu nama panggilan, kuku itu Cahya yang baperannya sama Dani. Soalnya mang Dani yang manggil dia kuku, semua anggota manggil dia cing ajah.
Yang paling kocak itu Rita sama Fatria, si Dede yang suka centilin Tata tapi gak berani centilin Rita balik. Soalnya, Tata udah serem duluan sama centilnya Fatria dan dia no respon ujung-ujungnya. Dede iya, aku padamu. Gitu lah kata mamita.
Terakhir, si couple Tata dan Ian. Beberapa hari terakhir di kkn sesi ke 2 di posko berantem mulu, tapi kalo jalan-jalan dan foto-foto bareng mulu dengan style yang kadang sama.
Kalo nisa, baperannya bener-bener parah dibuat becanda sama anak-anak. Dan yang memperparahnya sih nisa juga ikutan acting dan baper-baperan wae omongannya *deuh. Kita punya 4 desa di kecamatan karang tengah, alhasil karena gaada baperan didalem posko, posko lain lah yang dijadiin target. Haha. Ada Arif dari sindang galih yang ngajinya bagus banget, tenang gitu kalo denger dia ngaji, pernah diimamin sekali dan waktu shalat rasanya damai banget. Ada Irwan dari cinta yang suka salting kalo ketemu, padahal itu cuman acting doang yang artinya acting kamu berhasil uta haha, tapi dimana-mana bilangnya dia mh blacklist aja. Dan ada Muldan dari cintamanik yang suka dipanggil Aa kalo di posko, gak berani centil langsung dan paling seneng denger suara renyahnya dia kalo lagi ngomong, style nya dia yang suka masukin tangan ke celana dan pake sepatu warna abu, so cool. Haha padahal cuma liat sekali *sorrylebay
Diluar baperan posko, Rita kode-kode buat baper sama Aa Alief. Dan alhasil sempet becanda bareng pas mau perjalanan pulang ke Bandung. Udah sampe Bandung, dianterin pula lah dia ke kosan. Haha katanya dia liar dan buas, serem juga kan jadinya.
Beribu kata, berlembar kertas gaakan pernah cukup buat nulisin semua kenangan caringin family. Memori yang ditulis diatas cuman sekedar ingatan selintas tentang kita, tapi setiap detik yang dilalui bersama akan tersimpan dalam memori pribadi masing-masing, dalam hati, harap, cinta dan doa.
Siapa sangka saat memilih KKN bertemakan Posdaya, kabupaten Garut, kecamatan Karang Tengah dan desa Caringin membuat kita bertemu keluarga baru, membentuk rasa peduli dan simpati satu sama lain tanpa paksaan dan justru bahkan murni terasa sendiri. Kita memilih sendiri, kita mengklik desa itu sendiri, dan tanpa disadari kita memilih keluarga baru kita sendiri. Dan inilah jadinya kita, keluarga caringin ceria. Alhamdulillah.
Akhir kata, makasih banyak buat kalian yang udah jadi salah satu bagian dari perjalanan hidup nisa. Keluarga baru yang gaakan dilupain, sahabat baru yang ngasih banyak pelajaran dan kenangan, teman hidup 40 hari yang nerima semua sikap baik buruknya nisa.
Semoga Allah senantiasa melindungi dan membersamai langkah kalian semua. Aamiin.
Absen dulu yah.
Kang Emil/Pak Kamil (Kamil Mubarok) sebagai Ketua tim
Mpot (Fifi Nurshifa Budiarti) sebagai Sekretaris
Bude (Dea Santika Rahayu) sebagai Bendahara
Ambu (Nisa Wiyati Ilahi) sebagai Acara
Tecing (Cahya Metalia Pratiwi) sebagai Acara
Mamita (Rita Sugiarti) sebagai Dekdok
Tata (Nurachmadita Ayunia) sebagai Konsumsi
Mang Dani (Ramdhani Rahman) sebagai Logistik
A Udin (Supianudin) sebagai Humas (Internal)
Dede Iya (Fatria Cahya Ramadhan) sebagai Transportasi dan spesialis Cihanja
Mamake (Darmawati BR Tinambun) sebagai medis dan mamake kita semua ^^

Salam caringin,

Aku baper padamu.