Maa Syaa Allah, hari ini belajar banyak dari hal-hal kecil..
Sore tadi, saya melihat pasangan muda yang sedang membeli makanan. Kebetulan kami hendak membeli makanan yang sama. Secara tak sengaja saya melihat sang istri senantiasa memegang jari tangan suaminya. Sang suami sengaja, ia menghindar dan mengibaskan tangannya dengan senyuman lembut. Sang istri memukul tangan suaminya, lalu memegangnya dengan lebih erat dari sebelumnya. Tak hanya jari tangan yang dipegangnya, tapi juga tangannya. Akhirnya mereka bergandengan dan kulihat ada cincin yang terpasang tepat di jari manis sebelah kanan sang istri. Aku semakin yakin, mereka pasangan muda yang baru menikah. Bukan pasangan yang belum jelas kapan akan menghalalkan hubungannya. **
Dengan melihat kejadian tersebut saya mengerti bahwa pernikahan bukan hanya untuk hidup berdampingan dengan pasangan, tapi juga menjaga diri dari setiap hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan dengan yang bukan muhrimnya, cukup dengan pasangan kita berbicara dan saling berbagi. Seperti sang istri yang senantiasa menjaga dirinya agar tetap berada disamping suaminya. Dan sang suami yang senantiasa memberikan kebahagiaan sederhana yang dijanjikannya bahkan sebelum akad nikah terucap. Rabb, semoga mereka bisa menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah warahmah. Aamiin
Malam harinya saya merasa sangat letih, bahkan seusai shalat isya' saya niatkan untuk langsung beristirahat. Tanpa sadar saya melihat makanan yang tersaji di dekat meja makan. Tak tahan rasanya ingin menghangatkan makanan tersebut dan memakannya. Akhirnya saya mengalah dari jadwal tidur yang ingin dimajukan pada awalnya dan saya pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan tersebut. Sesaat mata saya tersorot pada tempat pencucian piring. Aahh kenapa begitu menumpuk piring kotor disana? Bahkan alat" yang kubutuhkan untuk menghangatkan makanan pun kotor semuanya. Saya kembali mengalah dan akhirnya mencuci semua piring, sendok dan gelas kotor yang tertumpuk disana. Seusai itu, akhirnya saya bisa menghangatkan makanan dengan disajikan teh lemon hangat di meja depan. Rasanya sangat bersyukur untuk kenikmatan makanan dan minuman yang aaya santap malam ini.
Dengan kejadian tadi, saya mengerti bahwa tugas seorang istri sekaligus ibu nantinya bukan hanya sekedar mengurus rumah tangga saja, tetapi juga membuat orang didalamnya merasa nyaman berada didalam rumah, tak peduli bangun paling pagi dan tidur paling malam sekalipun. Karena mengurus rumah beserta setiap orang yang didalamnya adalah kewajiban. Itulah mengapa ketika anak tertidur, ibu masih sibuk dengan rumahnya. Itulah mengapa ketika anak terbangun, ibu sudah tak ada disampingnya saat ia membuka mata. Itulah mengapa ketika siang hari, ibu sering tertidur pulas saat menemani anaknya yang sedang bermain secara tanpa sadar.
Ibu lelah, ibu butuh istirahat, karena jika ia sakit, maka siapa yang akan mengurus rumah beserta penghuninya?
Rabb, saya sangat menyayangi beliau, seorang ibu yang senantiasa rela mengorbankan setiap hal yang ia miliki dan ia butuhkan untuk anak dan keluarganya. Semoga rasa sayang-Mu padanya akan lebih besar daripadaku. Aamiin
Terakhir, hari ini ada seorang kakak baik hati yang menghubungi dan menanyakan kabar mengenai kegiatan yang sedang menjadi tanggung jawab saya untuk saat ini dan beberapa bulan kedepan. Ia memberikan waktu luangnya untuk berbagi cerita tentang semangat dan beban yang saya hadapi dalam menjalankan amanah. Ia pun mengingatkan bahwa setiap apa yang membuat kita lelah, tak boleh membuat kita menyerah. Karena ada Allah yang senantiasa mampu memberikan kekuatan yang tak terkira bagi hamba-Nya.
Dengan kejadian tadi, saya juga mengerti bahwa sesulit apapun keadaan, seberat apapun masalah yang datang, dan sesepi apapun diri ini merasa sendirian, akan selalu ada Allah. Allah yang senantiasa memberikan kekuatan tak terkira bagi hamba-Nya, Allah yang senantiasa memberikan keringanan dan kemudahan tak tersadarkan bagi hamba-Nya, dan Allah yang senantiasa berada didekat hamba-Nya, mendampingi hamba-Nya yang selalu ingat kepada-Nya.
Rabbii, semoga ia bisa selalu menjadi penguat hati bagi siapapun yang ada didekatnya. Penenang hati bagi siapapun yang meminta nasihatnya. Atas kuasa dan izin dari-Mu tentunya. Aamiin
Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruulii wa laa takfuruun.
Alhamdulillah 'alaa kulli haal, Rabbii
Semoga hamba bisa semakin memahami makna hidup, ibadah, khalifah, dan hamba. Aamiin
Kamis, 15 Januari 2015
Pelajaran besar pada kejadian kecil
Rabu, 17 Desember 2014
Pertengkaran kecil
Sedih bila kuingat pertengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu
Hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini
Tak ingin begini
Sobat rangkaian masa yang telah terlewat
Membuat batin ini menangis
Mungkin karena egoku
Mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini
Maaf aku begini
Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Takkan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin
Cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu
Kau tahu lagu ini, sahabat?
Ini lagu permintaan maaf untuk seorang sahabat, lagu dari Edcoustic. Kau bisa mendengarnya sendiri jika kau mau.
Aku hanya ingin meminta maaf, untuk setiap kata yang melukai perasaanmu. Mungkin aku tak sengaja, tapi bagimu itu bukan hanya sekedar canda tawa. Untuk setiap sikap yang membuatmu merasa berbeda. Mungkin aku merasa itu ajakan, tapi bagimu itu merupakan sindiran. Dan tugas seorang sahabat itu adalah mengingatkan dan mengajak dalam hal kebaikan dengan cara yang menyenangkan, tanpa ada unsur menyakitkan ataupun pemaksaan. Dan shock teraphy bukan hal yang disukai oleh setiap orang, begitupun denganmu, aku atau dia. Terlebih jika hal itu mengakibatkan timbulnya amarah tak tertahankan.
Kau tahu? Hariku berwarna dengan keceriaanmu, ini bukan guyonan ini memang kenyataan. Tapi apa yang kulakukan sebaliknya untukmu? Hanya membuat harimu mengesalkan, kelabu.
Dan maaf, karena aku belum faham betul bagaimana pribadimu. Dan aku tak tahu apakah aku masih punya kesempatan dan waktu yang lebih lama untuk memahamimu. Dengan kejadian itu, mungkin saja ya dengan catatan adanya kekakuan antara kita, tapi itu kebih baik dibandingkan dengan tidak sama sekali. Terlebih jika ada anggapan mungkin tak layak jika kau menganggapku sahabatmu. Bagaimana mungkin ada sahabat yang tega menyakiti hati sahabatnya sendiri? Apakah ada sahabat yang bersikap dan berkata bahwa sahabatnya itu tidak lebih baik darinya dan seolah merendahkannya?
Ahh aku sungguh tak layak kau sapa sebagai seorang sahabat.
Kita bukan anak kecil yang bertengkar karena aku mengambil permen dan mainan milikmu atau sebaliknya. Kita sudah dewasa dan ini masalah kepercayaan dan kekecewaan. Seolah ku cabut kepercayaanmu padaku bahwa aku mampu untuk mengerti tentangmu dan kuganti dengan kekecewaan dan rasa sakit yang mendalam.
Kau begitu marah, sakit rasanya melihatmu penuh dengan emosi dan kekecewaan. Dan aku tak bisa membayangkan lebih jika kelak aku kehilangan keceriaanmu, canda tawamu, kau berjarak dariku dan kau benar" tak lagi menyapaku sahabatmu.
Maaf, sekali lagi aku meminta maaf.
Akhir kata, kan kuucap. Apa kau masih mau menjadi sahabatku?
Meaki mungkin kau akan menjawab "Jika kau saja berfikir seperti itu, apalagi aku?"
Salam permohonan maaf,
Nisa Wiyati Ilahi
Jumat, 12 Desember 2014
Ujian hari ini
Tak terbayangkan bukan bagaimana manisnya iman? Dan jika kau belum merasakannya, mungkin ada yang salah denganmu. Entah itu karena kondisi keimananmu ataupun pola fikirmu.
Baru saja kau selesai melaksanakan salah satu ujianmu di kampus. Dan kau bisa pastikan bahwa keimanan dan pola fikirmu itu sedang jauh dari target pencapaian manisnya iman.
Kau melihat mereka, begitu mampu dan begitu pintar, begitu teliti dan begitu cerdas, begitu mampu mengkondisikan diri dengan keadaan.
Lalu, bagaimana denganmu?
Tentu saja kau asing, tidak melakukan apapun. Tertunduk, tak tau apa yang harus kau tuliskan dalam lembar kertas putih itu. Bahkan rasanya kau ingin menangis, bersedih dengan kondisi asingmu saat itu. Ingin menangisi kondisi ketidak mampuanmu saat itu.
Hey, mana semangat dan kepercayaanmu?
Mereka mampu dan mereka tetap mengingat Tuhannya. Apakah kamu tidak bisa melakukan hal yang sama? Hal yang serupa?
Ingatlah satu hal, kau boleh meragukan kemampuanmu sendiri tapi kau tak pernah diperbolehkan untuk meragukan kekuasaan Allah yang dapat memampukanmu.
Ini bukan hasil atas kerja kerasmu saja, tapi ini adalah apa yang diberikan Allah, apa yang dipercayakan Allah, hadiah dari Allah berupa kemampuan.
Termasuk apa yang sedang mereka lakukan tadi, itupun atas kuasa Allah.
Kerjakan, dan jangan lupakan bahwa semua itu atas kuasa Allah.
Entah itu untuk menghukummu yang bermalas-malasan, entah itu untuk menguji keimanan dan pola fikirmu yang tak stabil, atau apapun yang Allah inginkan dan Allah kehendaki.
Allah, Allah, Allah, tiada daya dan upaya melainkan atas kuasa-Mu.
Sapaan selepas ujian,
Nisa Wiyati Ilahi
Jumat, 21 November 2014
Sayang umy ({})
bunda, aku tau aku sudah dewasa. meski memang aku belum bisa bertanggung jawab dengan baik pada apa yang harus menjadi tanggung jawabku saat ini. meski memang banyak hal yang masih ku gantungkan padamu, ayah atau siapapun. meski memang aku lebih sering merindukan dekapan pelukanmu, sentuhan kasih sayangmu, yang takkan pernah kudapatkan dari siapapun selain darimu bunda.
bunda, aku tahu aku sudah dewasa. harusnya aku belajar banyak darimu untuk mempersiapkan diri menjadi ibu sepertimu kelak untuk anak-anakku. tapi bunda, aku merindukan pelukan hangatmu, sapaan senyummu di setiap paginya. usapan lembut tanganmu di setiap malamnya. alunan nada yang merdu saat kau menidurkanku ketika matahari sudah terbenam sejak sore tadi.
bunda, aku memang sudah dewasa. dan karena aku sudah dewasa, rasa rindu dan keinginan itu semakin kuat. ingin rasanya menangis dipangkuanmu, menceritakan setiap langkah perjalanan hidup yang kujalani. semuanya bunda, tanpa terkecuali.
bunda, aku sudah dewasa. tapi aku akan selalu membutuhkanmu. selalu bunda, selamanya. :')
edisi sayang bunda ^^
Nisa Wiyati Ilahi
Rabu, 19 November 2014
Salam melankolis bahagia
lihatlah betapa egois dan tidak bersyukurnya seorang melankolis.
saat benar dan merasa bahagia ia hanya tersenyum. Tak seperti sanguinis yang memancarkan keceriaan dengan sangat jelas di setiap tingkahnya.
Tak seperti plegmatis yang terlampau ceria seolah tertawa sepuas-puasnya.
Tak seperti koleris yang bangga pada dirinya dan pada apa yang telah diraih olehnya.
Lalu, saat salah ia bersedih dan merasa sangat terpuruk.
Tak seperti sanguinis yang bisa tetap tersenyum.
Tak seperti plegmatis yang tetap ceria dan melupakannya begitu saja.
Tak seperti koleris yang tetap bangga karena dirinya dapat belajar dari suatu kesalahan.
Ini bukan tentang kenapa aku harus menjadi orang dengan kepribadian melankolis, tapi ini tentang bagaimana seorang melankolis belajar untuk bersikap tenang, bahagia, dan bangga pada dirinya sendiri, pada apa yang telah diraihnya, pada apa yang telah dipelajari olehnya.
salam melankolis bahagia. :)