Hai bep, entah sejak kapan kita menjadi wanita kesepian
sampai-sampai sahabat sendiri pun kita sapa dengan panggilan beb ataupun bep.
Tapi yang pasti, hanya kata itu yang bisa membuktikan kedekatan antara kita
*haha. Sepertinya membuat tulisan untukmu akan sedikit santai saja, tidak
terlalu kaku meski tetap menggunakan kata-kata baku.
Oke bep, kita mulai dengan beberapa kalimat yang ingin kusampaikan namun tak bisa kuucapkan secara
langsung didepanmu. Kamu, dengan kondisi seorang wanita yang tidak sempat mengalami menjadi santri
namun sangat penasaran bagaimana rasanya menjadi santri. Kamu, aku sempat iri
padamu, kau tahu kenapa?
Aku merasa dan tentu saja sangat berharap Allah menyayangimu.
Itu sebabnya kau selalu berhasil menemukan jalan hijrah yang sesuai untukmu
menurut versi-Nya dan sesuai untukmu menurut keinginanmu sendiri. Itu sebabnya
kau selalu berhasil menjaga lisanmu agar tak menyebarkan aib orang lain yang
kau ketahui, agar tak membuat orang yang mendengar ucapanmu hatinya tersakiti. Itu
sebabnya kau selalu berhasil mengontrol hatimu untuk tidak berharap macam-macam
dan mengontrol pikiranmu untuk tidak melakukan kesalahan fatal. Itu sebabnya,
perlahan tapi pasti aku melihat bahwa kita akan selalu berada dalam satu paham
dan keyakinan.
Kau tahu, mungkin dunia santri memang terlihat menarik dan
menuntut tapi aku yakin dengan kehidupan dan cara yang kau jalani saat ini pun
dapat menunjukkan bahwa kau adalah santri. Seorang santri yang sudah lulus dari
pondok pesantrennya memang disebut sebagai alumni, tapi label santri tetap ada
dalam dirinya sampai kapanpun. Dan yang kulihat adalah, kau memiliki label
santri meskipun kau bukan lulusan pondok pesantren.
Sahabat (sebenernya lebih geli nyapa ini daripada ‘bep’),
karena aku merasa bahwa Allah begitu menyayangimu, tetaplah berada dalam jalan
hijrah yang memperkuat keyakinan-Mu pada-Nya, tetaplah menjadi pribadi yang
membuat orang lain yang melihatmu iri karena sikap dan tingkah laku islami yang
kau tunjukkan, tetaplah menjadi dirimu yang menjaga diri dan senantiasa
mempertajam kemampuan diri. Akhir kata, semoga kita kelak akan kembali
dipertemukan di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di
dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya
dengan izin Allah menyayangimu.
Salam (alumni) santri,
Nisa Wiyati Ilahi
Gyahaha dapet tulisan begini, aku merasa terharu :')
BalasHapusAlhamdulillaah yah, Allaah ngasih aku kesempatan sampai saat ini, merasakan umur yang bisa dibilang pergantian remaja menuju dewasa. Hahaha
Kalo ceritanya tentang santri, penyesalan emang datang di akhir sih. Yang dulunya nolak abis-abisan, sekarang malah kepo. Ah sudahlah, kalopun emang belum bisa merasakan manisnya kehidupan santri, setidaknya aku merasa beruntung di kelilingi para santri dan alumni. :P
Kalo ttg disayang Allah, akupun masih berusaha ingin dan terus disayang :')
Alhamdulillaah sih masih dikasih kesadaran dan rasa malu sama Allaah, dan Alhamdulillaah nya lagi kalo aku masih bisa terima manisnya jalan hidayah-Nya. Pastinya dengan dukungan orang-orang terdekat, contohnya keluarga, sahabat, teman, kakak, adik, sodara, guru, dll. Hoho
Pokoknya, terima kasih banyak untuk tulisan kece ini. Semoga setiap doa tersirat yg ada disini dapat dikabulkan Allaah Subhanahu Wa Ta'ala buatku dan buat kita semua~
Aamiin Allaahumma Aamiin...
Salam hangat untuk keluarga Indonesia, (ngutip dari Dahsyat haha)
Shelfira Meisarani.
Alhamdulillaah, Aamiin Yaa Rabb.. =')
Hapus