Jumat, 24 April 2015

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #1

Hai bep, entah sejak kapan kita menjadi wanita kesepian sampai-sampai sahabat sendiri pun kita sapa dengan panggilan beb ataupun bep. Tapi yang pasti, hanya kata itu yang bisa membuktikan kedekatan antara kita *haha. Sepertinya membuat tulisan untukmu akan sedikit santai saja, tidak terlalu kaku meski tetap menggunakan kata-kata baku.
Oke bep, kita mulai dengan beberapa kalimat yang ingin  kusampaikan namun tak bisa kuucapkan secara langsung didepanmu. Kamu, dengan kondisi seorang wanita  yang tidak sempat mengalami menjadi santri namun sangat penasaran bagaimana rasanya menjadi santri. Kamu, aku sempat iri padamu, kau tahu kenapa?
Aku merasa dan tentu saja sangat berharap Allah menyayangimu. Itu sebabnya kau selalu berhasil menemukan jalan hijrah yang sesuai untukmu menurut versi-Nya dan sesuai untukmu menurut keinginanmu sendiri. Itu sebabnya kau selalu berhasil menjaga lisanmu agar tak menyebarkan aib orang lain yang kau ketahui, agar tak membuat orang yang mendengar ucapanmu hatinya tersakiti. Itu sebabnya kau selalu berhasil mengontrol hatimu untuk tidak berharap macam-macam dan mengontrol pikiranmu untuk tidak melakukan kesalahan fatal. Itu sebabnya, perlahan tapi pasti aku melihat bahwa kita akan selalu berada dalam satu paham dan keyakinan.
Kau tahu, mungkin dunia santri memang terlihat menarik dan menuntut tapi aku yakin dengan kehidupan dan cara yang kau jalani saat ini pun dapat menunjukkan bahwa kau adalah santri. Seorang santri yang sudah lulus dari pondok pesantrennya memang disebut sebagai alumni, tapi label santri tetap ada dalam dirinya sampai kapanpun. Dan yang kulihat adalah, kau memiliki label santri meskipun kau bukan lulusan pondok pesantren.
Sahabat (sebenernya lebih geli nyapa ini daripada ‘bep’), karena aku merasa bahwa Allah begitu menyayangimu, tetaplah berada dalam jalan hijrah yang memperkuat keyakinan-Mu pada-Nya, tetaplah menjadi pribadi yang membuat orang lain yang melihatmu iri karena sikap dan tingkah laku islami yang kau tunjukkan, tetaplah menjadi dirimu yang menjaga diri dan senantiasa mempertajam kemampuan diri. Akhir kata, semoga kita kelak akan kembali dipertemukan di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya dengan izin Allah menyayangimu.
Salam (alumni) santri,

Nisa Wiyati Ilahi

2 komentar:

  1. Gyahaha dapet tulisan begini, aku merasa terharu :')
    Alhamdulillaah yah, Allaah ngasih aku kesempatan sampai saat ini, merasakan umur yang bisa dibilang pergantian remaja menuju dewasa. Hahaha
    Kalo ceritanya tentang santri, penyesalan emang datang di akhir sih. Yang dulunya nolak abis-abisan, sekarang malah kepo. Ah sudahlah, kalopun emang belum bisa merasakan manisnya kehidupan santri, setidaknya aku merasa beruntung di kelilingi para santri dan alumni. :P
    Kalo ttg disayang Allah, akupun masih berusaha ingin dan terus disayang :')
    Alhamdulillaah sih masih dikasih kesadaran dan rasa malu sama Allaah, dan Alhamdulillaah nya lagi kalo aku masih bisa terima manisnya jalan hidayah-Nya. Pastinya dengan dukungan orang-orang terdekat, contohnya keluarga, sahabat, teman, kakak, adik, sodara, guru, dll. Hoho

    Pokoknya, terima kasih banyak untuk tulisan kece ini. Semoga setiap doa tersirat yg ada disini dapat dikabulkan Allaah Subhanahu Wa Ta'ala buatku dan buat kita semua~
    Aamiin Allaahumma Aamiin...

    Salam hangat untuk keluarga Indonesia, (ngutip dari Dahsyat haha)
    Shelfira Meisarani.

    BalasHapus