Entah ini hanya perasaanku, atau
mungkin memang seorang sanguinis tercipta dengan ketenarannya, dengan
keakrabannya dalam berteman, dengan keistimewaan didalam dirinya. Iri, itulah
yang bisa dirasakan ketika melihat seseorang yang berhasil baik di bidang prestasi,
sosial maupun hal lainnya diluar akademik. Seperti dirimu yang memiliki banyak
relasi dan berbagai macam peluang prestasi, mungkin kelak kau akan jadi
sekretaris desa atau istri yang menjabat di kedinasan *haha.
Dimata melankolis, sanguinis
adalah orang yang spesial, orang yang diinginkan, orang yang dikagumi dan orang
yang disayangi bahkan dibanggakan. Bagaimana tidak? Ia benar-benar senang
memberikan penghargaan pada orang lain, menyalurkan energi positif, bahkan yang
paling fatal adalah merasa telah menyakiti dirinya sendiri saat tak sengaja
menyakiti orang lain. Mungkin tak banyak yang ingin dikatakan, bahkan mungkin
kau bosan dengan semua untaian kata yang kurangkai ini. Namun aku tetap ingin
menulis, karena aku ingin berterima kasih.
Karena sanguinis telah membuatku
mengerti bahwa melankolis itu berarti, bahwa melankolis itu dibutuhkan bahkan
oleh seorang sanguinis yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan sekalipun.
Bahwa melankolis itu mampu memberikan warna kehidupan layaknya sanguinis dengan
caranya sendiri yang mampu membuat orang lain tenang dan nyaman berada
disisinya. Meminta bantuannya dalam hal opini, pendapat, dan berbagai solusi
dari permasalahan yang dihadapi.
Kemampuan intrapersonal, itu yang
sering kau ungkapkan, tentangku si melankolis. Kemampuan dalam memahami kondisi
seseorang, kemampuan dalam mengendalikan seseorang, kemampuan dalam membaca
keinginan seseorang, dengan menggunakan kekuatan hati dan firasat dalam diri.
Sekali lagi terima kasih, untuk
semua penghargaan yang kau tunjukkan padaku. Atas semua respon dari setiap kata
yang kau baca.
Meski kita memiliki perbedaan
keyakinan dalam beberapa hal, namun kau perlu tahu bahwa pencapaianmu dalam
pendekatan selaku hamba membuatku ingin juga seperti itu. Terbangun di sepertiga
malam dengan sendirinya tanpa alarm paksaan, selalu meluangkan waktu untuk
membaca Al-Qur’an dan meneteskan air mata karena unsur penghambaan.
Semoga Allah menyayangimu dan
kelak akan mempertemukan kita kembali di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di
dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya
dengan izin Allah menyayangimu.
Salam melankolis,
Nisa Wiyati Ilahi
Permisi, boleh numpang nangis (lagi) gak? *sesenggukan*
BalasHapus