Jumat, 24 April 2015

Alhamdulillah untuk kelahiranmu #2

Entah ini hanya perasaanku, atau mungkin memang seorang sanguinis tercipta dengan ketenarannya, dengan keakrabannya dalam berteman, dengan keistimewaan didalam dirinya. Iri, itulah yang bisa dirasakan ketika melihat seseorang yang berhasil baik di bidang prestasi, sosial maupun hal lainnya diluar akademik. Seperti dirimu yang memiliki banyak relasi dan berbagai macam peluang prestasi, mungkin kelak kau akan jadi sekretaris desa atau istri yang menjabat di kedinasan *haha.
Dimata melankolis, sanguinis adalah orang yang spesial, orang yang diinginkan, orang yang dikagumi dan orang yang disayangi bahkan dibanggakan. Bagaimana tidak? Ia benar-benar senang memberikan penghargaan pada orang lain, menyalurkan energi positif, bahkan yang paling fatal adalah merasa telah menyakiti dirinya sendiri saat tak sengaja menyakiti orang lain. Mungkin tak banyak yang ingin dikatakan, bahkan mungkin kau bosan dengan semua untaian kata yang kurangkai ini. Namun aku tetap ingin menulis, karena aku ingin berterima kasih.
Karena sanguinis telah membuatku mengerti bahwa melankolis itu berarti, bahwa melankolis itu dibutuhkan bahkan oleh seorang sanguinis yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan sekalipun. Bahwa melankolis itu mampu memberikan warna kehidupan layaknya sanguinis dengan caranya sendiri yang mampu membuat orang lain tenang dan nyaman berada disisinya. Meminta bantuannya dalam hal opini, pendapat, dan berbagai solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Kemampuan intrapersonal, itu yang sering kau ungkapkan, tentangku si melankolis. Kemampuan dalam memahami kondisi seseorang, kemampuan dalam mengendalikan seseorang, kemampuan dalam membaca keinginan seseorang, dengan menggunakan kekuatan hati dan firasat dalam diri.
Sekali lagi terima kasih, untuk semua penghargaan yang kau tunjukkan padaku. Atas semua respon dari setiap kata yang kau baca.
Meski kita memiliki perbedaan keyakinan dalam beberapa hal, namun kau perlu tahu bahwa pencapaianmu dalam pendekatan selaku hamba membuatku ingin juga seperti itu. Terbangun di sepertiga malam dengan sendirinya tanpa alarm paksaan, selalu meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an dan meneteskan air mata karena unsur penghambaan.
Semoga Allah menyayangimu dan kelak akan mempertemukan kita kembali di syurga-Nya. Aamiin.
Terima kasih telah terlahir di dunia ini dan memberikan kesempatan untukku bertemu denganmu hingga akhirnya dengan izin Allah menyayangimu.
Salam melankolis,

Nisa Wiyati Ilahi

1 komentar: