Selasa, 09 Februari 2016

Bahagia Itu Sederhana

Entah untuk yang ke berapa kali nya kata Alhamdulillah ini terucap untuk sesuatu yang sederhana.
Nyatanya kita bahagia ketika hati kita tenang.
Bayangkan saat kita merasa benar-benar tertekan dengan ujian ataupun permasalahan yang sedang dihadapi saat ini, mungkin kita akan bersikap bodoh, menangis tersedu, bahkan hingga melampiaskan amarah dan emosi dalam diri tanpa alasan yang jelas. Bukankah itu hanya akan semakin menambah rasa sakit dalam diri kita?
Ada yang pernah mengungkapkan bahwa kita haruslah fokus pada tujuan hidup kita yaitu ibadah. Meski memang tak dapat dipungkiri bahwa kita pun menginginkan kesuksesan di dunia. Namun alangkah indahnya bukan jika saja seandainya kesuksesan dunia itu menghantarkan kita untuk semakin meningkatka kualitas iman dan intensitas dalam beribadah?
katanya "Jangan khawatir dengan dunia, karena itu milik Allah. Jangan khawatirkan pula rizkimu, karena semua itu dari Allah. Tapi, fokuslah untuk memikirkan satu hal, bagaimana menjadikan Allah ridho kepadamu". -Ustadz Musyaffa Ad Dariny-
yang terpenting adalah Allah ridha pada kita.
Jadi, jika ada masalah dan ujian, tersenyumlah saja, jalani dan hadapi, percayalah bahwa Allah akan senantiasa memberikan jalan dan kemudahan. Tentu dengan syarat adanya usaha dalam diri kita untuk berjalan dijalan kemudahan yang telah disediakan oleh Allah tersebut.

Singkat cerita, hari ini saya mengalami kondisi lemah dan payah dalam revisi proposal skripsi (maklum mahasiswa tingkat akhir haha).  Awalnya saya sangat ingin menangis dan menyerah dengan semua ini (hiks), hanya saja ketika saya teringat ada yang mengatakan bahwa "meragukan esok hari bisa atau tidak bisa makan pun sudah menghina Tuhan" karena rizki sudah diatur dengan begitu baik oleh-Nya yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alhasil saya berpikir, harusnya saya belajar bahagia saja. Harusnya saya belajar tenang saja, toh Allah sudah menetapkan kapan saya akan di ACC, kapan saya akan mulai bimbingan skripsi, kapan saya akan diberikan arahan untuk sidang, kapan saya akan menjalani ujian sidang tersebut hingga puncak akhir perkuliahan kapan dan dimana saya akan WISUDA. Jadi tugas saya hanya jalani proses revisi ini, berusaha sebaik mungkin dalam memanfaatkan waktu untuk mengerjakan revisian tersebut, dan percaya serta yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan. Entah itu dosen yang menyerah, atau otak dan pemikiran saya yang connect dengan maksud dari saran dosen tertentu.
Cobalah menjalani setiap permasalahan dengan penuh keyakinan dan harapan.
Sungguh rasanya menenangkan bisa selalu menggantungkan segala sesuatu pada-Nya yang Maha Segalanya.
Allah lah tempat bergantung kita.
-This is "Reminder" for my self-
Salam, semoga tenang dan bahagia Nisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar