Ini tentang permasalahan hidup. Apakah ada yang mempunyai
masalah dalam kehidupannya? Dan apakah ada yang berusaha untuk menyelesaikan
masalah tersebut dan mencari solusi terbaiknya? Padahal mana bisa seorang
manusia menyelesaikan masalahnya sendiri. Mengapa begitu?
Hakikatnya, setiap manusia adalah hamba Allah yang lemah,
bodoh, fakir dan berdosa.
Bagaimana tidak? Laa haula wa laa quwwata illaa billaah,
tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak Allah semata. Bukankah itu bisa
dijadikan penguat bahwa manusia itu lemah?
Lalu, ketika kita berpikir bahwa manusia itu pintar, coba kita
perhatikan terlebih dahulu, siapa yang mengajarinya dan memberikannya ilmu. Bukankah
Allah?
Selanjutnya, adakah yang kita miliki di dunia ini? Harta,
jabatan, pasangan, apapun itu bukankah hanya sebuah titipan? Bahkan setiap
bagian dari tubuh ini pun adalah milik Allah.
Dan terakhir, manusia terlahir dengan diberikan pilihan untuk
menjadi sosok yang berdosa atau sosok yang mulia. Nabi Muhammad saja beristighfar
sekitar 100 kali di setiap harinya, bagaimana dengan kita yang penuh dengan
dosa ini? Bersyukur bahwa Allah Maha Pengampun.
Jadi bagaimana kita menghadapi masalah yang kita miliki?
Sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu diingat ketika sedang
mendapatkan suatu masalah.
Pertama, musibah yang menimpa atau masalah yang ada terjadi
atas izin Allah. Bahkan sudah tertulis pada waktu lampau, jauh sebelum kita
dilahirkan.
“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang),
kecuali dengan izin Allah...” (Q.S. At Taghabun ayat 11)
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang
menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz)
sebelum kami mewujudkannya...” (Q.S. Al Hadid ayat 22)
Kedua, permasalahan setiap orang memiliki tingkat kesulitan
yang berbeda-beda. Karena setiap permasalahan tersebut kadar kesulitannya sudah
diukur oleh Allah sesuai dengan kesanggupan masing-masing.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya...” (Q.S. Al Baqarah ayat 286)
Ketiga, setiap permasalahan pasti mengandung kebaikan.
“...Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi
sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal
itu tidak baik bagimu...” (Q.S. Al Baqarah ayat 216)
Keempat, setiap permasalahan yang terjadi disebabkan oleh diri
kita sendiri.
“...dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan)
dirimu sendiri...” (Q.S. An Nisa ayat 79)
Kita tentu mengetahui kisah Nabi Yunus yang menyerah dan
meninggalkan kaumnya, sehingga diberikan peneguran oleh Allah dengan 3
kegelapan. Yaitu pada malam hari (kegelapan pertama), tercebur ke dalam laut
(kegelapan kedua), dan masuk ke dalam perut ikan paus (kegelapan ketiga). Itu
salah satu gambaran musibah yang muncul akibat kesalahan diri sendiri.
Lalu, apa yang dilakukan oleh Nabi Yunus? Beliau berdoa kepada
Allah seraya mengucapkan,
“Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu
minazzhaalimiin”
Tiada Tuhan melainkan Engkau (Kalimat ini
mengandung pengungkapan Tauhid), Maha Suci Engkau (Kalimat ini mengandung
pengugkapan Husnu Dzan dari beliau terhadap Allah), Sesungguhnya aku termasuk
kedalam golongan orang-orang yang dzalim (Kalimat ini mengandung ungkapan Pengakuan
Dosa beliau yang telah menzalimi diri sendiri).
Setelah mengingat 4 poin penting di atas, mari kita coba untuk
mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.
Logikanya, ketika kita sedang berada di perjalanan menuju
suatu tempat dengan menggunakan kendaraan berupa mobil, apakah kita bisa
melihat jalan dengan jelas padahal kondisi kaca mobil begitu kotor dan berdebu?
Tidak bukan?
Seringkali, kita terlalu fokus memikirkan kemana jalannya
bukan fokus ke membersihkan terlebih dahulu kaca mobilnya. Jika kaca mobilnya
sudah dibersihkan, maka tentu jalan beserta petunjuk jalan pun akan terlihat. Bukankah
begitu?
Begitupun dengan permasalahan, seringkali kita terlalu fokus
kepada pemecahan masalah, penyelesaian masalah, jalan keluar masalah, tapi
tidak fokus ke membersihkan kotoran dalam hati yang menjadikan diri tidak dapat
melihat dengan jelas jalan dan petunjuk dari Allah. Ketika membersihkan kaca
mobil dapat membantu terlihatnya jalan, maka membersihkan hati yang kotor dan
penuh dengan dosa pun dapat membantu terlihatnya jalan keluar permasalahan,
dapat membantu terlihatnya petunjuk yang telah Allah berikan.
Jadi, bagaimana kita dapat membersihkan hati kita?
Pertama, awali dengan istighfar.
“Astaghfirullaahal’azhim”
Kedua, membaca doa yang dibacakan oleh Nabi Adam.
“Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir
lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin”
Ketiga, dilanjutkan dengan kalimat Sayyidul Istighfar.
“Allaahumma anta Rabbii laa ilaaha illaa anta
khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a’uudzubika
min syarri maa shana’tu abuu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abuu-u bi dzanbii
faghfirlii fainnahuu laa yaghfiru dzunuuba illaa anta”
Keempat, mantapkan dengan sedekah.
Kesimpulannya, rumusan dalam meminta petunjuk jalan keluar
permasalahan yang dihadapi adalah
Taubat+Shalat+Sedekah
Wallaahu a’lam bi shawab.
Sumber: Pengajian ba’da shubuh bersama Aa Gym di
Daarut Tauhiid Bandung, 2 April 2017.
Catatan: Disampaikan kembali menggunakan bahasa
penulis pribadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar