Sabtu, 08 April 2017

Masalah



Ini tentang permasalahan hidup. Apakah ada yang mempunyai masalah dalam kehidupannya? Dan apakah ada yang berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut dan mencari solusi terbaiknya? Padahal mana bisa seorang manusia menyelesaikan masalahnya sendiri. Mengapa begitu?
Hakikatnya, setiap manusia adalah hamba Allah yang lemah, bodoh, fakir dan berdosa.

Bagaimana tidak? Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak Allah semata. Bukankah itu bisa dijadikan penguat bahwa manusia itu lemah?
Lalu, ketika kita berpikir bahwa manusia itu pintar, coba kita perhatikan terlebih dahulu, siapa yang mengajarinya dan memberikannya ilmu. Bukankah Allah?
Selanjutnya, adakah yang kita miliki di dunia ini? Harta, jabatan, pasangan, apapun itu bukankah hanya sebuah titipan? Bahkan setiap bagian dari tubuh ini pun adalah milik Allah.
Dan terakhir, manusia terlahir dengan diberikan pilihan untuk menjadi sosok yang berdosa atau sosok yang mulia. Nabi Muhammad saja beristighfar sekitar 100 kali di setiap harinya, bagaimana dengan kita yang penuh dengan dosa ini? Bersyukur bahwa Allah Maha Pengampun.
Jadi bagaimana kita menghadapi masalah yang kita miliki?
Sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu diingat ketika sedang mendapatkan suatu masalah.
Pertama, musibah yang menimpa atau masalah yang ada terjadi atas izin Allah. Bahkan sudah tertulis pada waktu lampau, jauh sebelum kita dilahirkan.
“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah...” (Q.S. At Taghabun ayat 11)
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum kami mewujudkannya...” (Q.S. Al Hadid ayat 22)
Kedua, permasalahan setiap orang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Karena setiap permasalahan tersebut kadar kesulitannya sudah diukur oleh Allah sesuai dengan kesanggupan masing-masing.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...” (Q.S. Al Baqarah ayat 286)
Ketiga, setiap permasalahan pasti mengandung kebaikan.
“...Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu...” (Q.S. Al Baqarah ayat 216)
Keempat, setiap permasalahan yang terjadi disebabkan oleh diri kita sendiri.
“...dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri...” (Q.S. An Nisa ayat 79)
Kita tentu mengetahui kisah Nabi Yunus yang menyerah dan meninggalkan kaumnya, sehingga diberikan peneguran oleh Allah dengan 3 kegelapan. Yaitu pada malam hari (kegelapan pertama), tercebur ke dalam laut (kegelapan kedua), dan masuk ke dalam perut ikan paus (kegelapan ketiga). Itu salah satu gambaran musibah yang muncul akibat kesalahan diri sendiri.
Lalu, apa yang dilakukan oleh Nabi Yunus? Beliau berdoa kepada Allah seraya mengucapkan,
“Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazzhaalimiin”
Tiada Tuhan melainkan Engkau (Kalimat ini mengandung pengungkapan Tauhid), Maha Suci Engkau (Kalimat ini mengandung pengugkapan Husnu Dzan dari beliau terhadap Allah), Sesungguhnya aku termasuk kedalam golongan orang-orang yang dzalim (Kalimat ini mengandung ungkapan Pengakuan Dosa beliau yang telah menzalimi diri sendiri).
Setelah mengingat 4 poin penting di atas, mari kita coba untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.
Logikanya, ketika kita sedang berada di perjalanan menuju suatu tempat dengan menggunakan kendaraan berupa mobil, apakah kita bisa melihat jalan dengan jelas padahal kondisi kaca mobil begitu kotor dan berdebu? Tidak bukan?
Seringkali, kita terlalu fokus memikirkan kemana jalannya bukan fokus ke membersihkan terlebih dahulu kaca mobilnya. Jika kaca mobilnya sudah dibersihkan, maka tentu jalan beserta petunjuk jalan pun akan terlihat. Bukankah begitu?
Begitupun dengan permasalahan, seringkali kita terlalu fokus kepada pemecahan masalah, penyelesaian masalah, jalan keluar masalah, tapi tidak fokus ke membersihkan kotoran dalam hati yang menjadikan diri tidak dapat melihat dengan jelas jalan dan petunjuk dari Allah. Ketika membersihkan kaca mobil dapat membantu terlihatnya jalan, maka membersihkan hati yang kotor dan penuh dengan dosa pun dapat membantu terlihatnya jalan keluar permasalahan, dapat membantu terlihatnya petunjuk yang telah Allah berikan.
Jadi, bagaimana kita dapat membersihkan hati kita?
Pertama, awali dengan istighfar.
“Astaghfirullaahal’azhim”
Kedua, membaca doa yang dibacakan oleh Nabi Adam.
“Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin”
Ketiga, dilanjutkan dengan kalimat Sayyidul Istighfar.
“Allaahumma anta Rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a’uudzubika min syarri maa shana’tu abuu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abuu-u bi dzanbii faghfirlii fainnahuu laa yaghfiru dzunuuba illaa anta”
Keempat, mantapkan dengan sedekah.
Kesimpulannya, rumusan dalam meminta petunjuk jalan keluar permasalahan yang dihadapi adalah
Taubat+Shalat+Sedekah
Wallaahu a’lam bi shawab.
Sumber: Pengajian ba’da shubuh bersama Aa Gym di Daarut Tauhiid Bandung, 2 April 2017.
Catatan: Disampaikan kembali menggunakan bahasa penulis pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar