Apa pernah kau merasa menyesal karena sudah melakukan sesuatu hal?
Apa pernah kau merasa lega
karena sudah melakukan sesuatu hal?
Saat ini, aku merasakan
keduanya sekaligus.
Aku menyesal dan merasa bahwa aku telah menyakiti diriku sendiri, juga sepertinya menyakiti pihak yang bersangkutan karena perbuatanku. Tapi aku juga merasa lega karena dengan melakukan perbuatan tadi, menunjukkan bahwa aku telah membuka hatiku, atau mungkin lebih tepatnya aku berhasil membebaskan hatiku. Membebaskan hati dari ikatan kuat yang justru aku sendiri lah yang membuat ikatan itu semakin kuat di setiap harinya.
Aku menyesal dan merasa bahwa aku telah menyakiti diriku sendiri, juga sepertinya menyakiti pihak yang bersangkutan karena perbuatanku. Tapi aku juga merasa lega karena dengan melakukan perbuatan tadi, menunjukkan bahwa aku telah membuka hatiku, atau mungkin lebih tepatnya aku berhasil membebaskan hatiku. Membebaskan hati dari ikatan kuat yang justru aku sendiri lah yang membuat ikatan itu semakin kuat di setiap harinya.
Aku merasa bahwa aku
bersalah dan mengambil langkah yang seenaknya saja, memikirkan kebaikan diriku
saja, tapi aku juga merasa bahwa aku harus melakukannya dan aku telah diberikan
kekuatan untuk dapat melakukannya. Sehingga meskipun hati dan pikiranku
dipenuhi oleh rasa bersalah, ketidakenakan, terhadap pihak yang bersangkutan,
tapi hati ini berhasil memperoleh haknya untuk bebas dan bahagia tanpa adanya
ikatan apapun, perasaan bersalah apapun, ketidaknyamanan apapun.
Aku meyakini bahwa hati
dan pikiranku memiliki area yang harus dilalui untuk mendapatkan kebebasan
hati.
Area pertama adalah area
dimana adanya keraguan akan harapan yang belum pernah dipastikan.
Hal yang selalu ingin ku
lakukan adalah memastikan adanya harapan tersebut. Dan aku berhasil
memastikannya. Siapa sangka kepastian akan harapan itu membawa ku ke area
selanjutnya.
Area kedua adalah area
dimana adanya keraguan akan waktu terwujudnya harapan yang sudah dipastikan.
Hal yang selalu ingin ku
lakukan adalah memiliki batasan waktu akan terwujudnya harapan tersebut. Dan aku
tidak berhasil memastikannya. Hingga akhirnya ia membawa ku pada area
selanjutnya.
Area ketiga adalah area
dimana adanya kebebasan hati itu sendiri.
Hal yang selalu ingin ku
lakukan adalah melepaskan semua harapan dan mengembalikannya kepada pihak yang
seharusnya, Allah SWT yang mengatur segalanya.
Hal yang keliru adalah
terjebak di area kedua, dan menggantungkan harapan pada diri sendiri maupun pihak
yang bersangkutan. Padahal waktu dan pihak terbaik hanyalah Allah yang
mengetahuinya.
Saat ini, aku berhasil
berada dalam area kebebasan hati. Meski begitu, aku baru saja berada
didalamnya. Sehingga, hati ini belum bisa terbebas sepenuhnya (bisa dibilang
dikhawatirkan ia akan berjalan mundur ke area sebelumnya).
Hati ini baru merasakan
betapa bahagianya jika ia sudah terbebas sepenuhnya. Karena bahkan saat ini
saja, membayangkan kebebasan hati itu sendiri, menginjak area kebebasan hati
untuk pertama kalinya, rasanya sudah sangat membahagiakan. Aahh Allah memang
Maha Baik. Bahkan, seorang teman mengatakan bahwa kebahagiaan yang terasa ini
adalah hadiah yang diberikan kepada mereka yang bergantung hanya kepada Allah
dan mengembalikan semua urusan kepada-Nya. Aahh Allah memang Maha Penyayang.
Aaa, teringat, seseorang
dalam cerita fiksi pernah mengatakan,
“Buka hatimu, dan cobalah
hidup dengan bebas. Maka seluruh hal di dunia, apapun itu, akan terasa seperti
cahaya matahari yang indah.”
Yaa, memang membuka hati
dan membebaskan hati bukanlah hal yang mudah untukku. Tapi, setelah aku
berhasil melakukannya, sungguh sangat terasa membahagiakan. Cahaya itu nyatanya
memang sangat indah.
Sayang, hatiku belum
sepenuhnya pulih dari rasa takut, penyesalan dan juga rasa bersalah terhadap
pihak yang bersangkutan. Sehingga kebahagiaan itu belum terasa sepenuhnya. Meski
begitu, seperti kataku tadi, aku tetap bahagia karena hatiku berhasil
mendapatkan kebebasannya. Hanya saja, tentang rencana terdekat itu, dengan
kondisi hatiku yang belum pulih, sepertinya aku harus menundanya untuk
sementara waktu. Begitukah yang terbaik untukku, Allah Rabbii?
Lagipula, sikap dari pihak
yang bersangkutan itu sangat bijak. Siapa yang tak akan kagum dengan sikapnya
yang seperti itu? Bahkan aku pun luluh seketika. Ia, benar-benar cahaya
matahari yang indah, penginspirasi kata teristimewa.
Akhir kata,
Alhamdulillaah untuk rasa
hormat pada pihak yang bersangkutan yang semakin bertambah.
Alhamdulillaah untuk kebahagiaan
tak terhingga yang bahkan tidak dapat dideskripsikan secara sempurna.
Alhamdulillaah untuk area
kebebasan hati yang sudah mulai terasa kenyamanannya.
Terima kasih banyak, Allah
Rabbii.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar