Jumat, 11 Maret 2016

Kota Istimewa



Yogyakarta, kota dimana aku ingin mendapatkan berbagai macam pengalaman disana. Kota dimana aku ingin menjadi seorang mahasiswa dari salah satu Universitas Islam disana. Kota dimana aku ingin mempelajari sesuatu hal disana. Kota dimana aku akan ditetapkan sebagai seorang Sarjana di bidang Syari’ah. Kota dimana aku menyimpan sebuah harapan akan kebahagiaan disana.
Sempat ku lakukan usaha secara langsung untuk mewujudkan setiap keinginan tadi. Namun Allah berkehendak lain, karena ternyata statusku saat ini adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi untuk mendapatkan gelar sarjana di bidang Pendidikan. Ya, aku adalah mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Kota istimewa ini ku singgahi ketika kakak laki-laki ku menjadi seorang mahasiswa di Yogyakarta. Ia sempat membantuku saat menjalani ujian masuk universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda. Dan saat aku memutuskan untuk memilih menetap Bandung dibandingkan merantau ke Yogyakarta, banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga beberapa waktu lalu.
Meski aku sangat ingin menjalani studi di kota istimewa, lantas kenapa rasanya setiap langkah yang ku ambil untuk menetap di Bandung terasa lebih mudah dan seolah terlihat lebih membanggakan dengan dukungan dari orang-orang terdekat.
Hingga suatu hari, terpilihlah seseorang untuk menjadi pendamping dan pembimbing dalam kegiatan Temu Ilmiah Nasional FoSSEI ke XV di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Orang itu adalah aku.
Dengan kondisi yang sama, rasanya meski begitu sulit bagiku untuk memutuskan dan hampir kuambil keputusan untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut, langkah dan jalan yang harus ku ambil seolah dipermudah dan diperlancar segala sesuatunya. Pendaftaran sudah ditutup, namun aku masih diberikan waktu lebih untuk mendaftar. Orang yang mampu menggantikanku menjadi official memiliki acara yang lebih penting yang tidak bisa ditinggalkan. Tugas skripsi yang terhenti selama 2-3 minggu karena kesibukan dosen pembimbing dapat terlaksana tepat pada waktu sebelum keberangkatan menuju kota istimewa.
Sejenak aku berpikir, apa mungkin ada sesuatu yang kelak akan aku dapatkan hanya jika aku mengikuti rangkaian acara Temilnas ini? Nyatanya, ada.
Bertahun-tahun menjadi penduduk daerah Lembang, membuatku tidak terbiasa untuk berada di lingkungan dengan suhu yang berbeda dengan daerah Lembang. Begitupun dengan kota istimewa ini. Masih untung jika aku tidak mengeluh dalam keadaan seperti ini, lalu jika aku mengeluh maka mungkin dalam jarak studi 4 tahun aku tak bisa terfokus untuk memahami pembelajaran. Mungkin saja ini hal sepele, tapi aku rasa ini akan patut ku pertimbangkan sebagai alasan kenapa aku memutuskan untuk menetap di Bandung.
Tapi, meski begitu poin utamanya adalah, aku menganggap bahwa ini adalah kota istimewa. Kota yang setiap kali aku singgah disana aku merasa bahagia dan bangga. Siapa sangka jika aku memutuskan untuk merantau aku akan tetap menganggap bahwa jogja se-istimewa-itu.
Lagipula, menurut salah satu pembicara dalam rangkaian acara ini, bahkan untuk daun kering yang jatuh pun tidak akan mungkin dan tidak akan pernah luput dari kekuasaan Allah. Oleh karenanya, aku disini, saat ini, berada di kota istimewa, adalah ketetapan Allah. Dan aku disana, menjalani studi selama 4 tahun, di kota idaman, adalah ketetapan Allah juga. Aku percaya itu. Semoga aku akan lebih memahami makna mendalam tentang hal itu.
Saat salah satu pertanyaan ku terjawab, tetiba saja muncul pertanyaan lainnya.
Ada seorang lelaki baik yang ku kenal di kota istimewa ini, apakah Allah akan mengizinkan aku melihatnya? Pertanyaan ini kuajukan dalam ruang lingkup melihat, bukan bertemu terlebih bertegur sapa. Itu diluar kuasa dan kendaliku sendiri.

Minggu, 06 Maret 2016

Harapan, Perjuangan, Kemenangan



Harusnya ketika seseorang memiliki harapan yang besar maka ia pun akan memberikan usaha yang besar. Karena hasil tidak akan mengkhianati usaha, itu terbukti secara pasti. Usaha dalam mewujudkan harapan akan bisa tergambarkan dalam kata perjuangan.
Karena hasil akan selalu bergantung pada usaha, maka kemenangan yang ingin diraih perlu didukung dengan adanya perjuangan.
Apa kau pernah melihat seseorang atau mungkin beberapa orang yang selalu menang?
Apa kau pernah melihat sejauh apa orang tersebut berjuang?
Apa kau tahu sedalam apa harapan yang ia tanamkan?
Aku pernah, bahkan aku mengenalnya dengan cukup baik sebagai rekan kerja. Kami tidak terlalu akrab dan dekat satu sama lain, kami hanya bekerja bersama, itu saja.
Yang ku tahu, setiap apa yang ia harapkan hasilnya selalu berakhir dengan label kemenangan.
Yang ku tahu, setiap apa yang ia perjuangkan selalu dilakukan dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang disertai dengan perjuangan bersama penduduk bumi maupun langit.
Lantas, ketika perjuangan bersama penduduk bumi tak ditampakkan secara terang-terangan olehnya bagaimana mungkin perjuangan bersama penduduk langit mampu terlihat jejaknya?
Aku sungguh malu padanya, ia senantiasa menang karena ia menggantungkan harapan dengan penuh kebaikan didalamnya dan ia mengusahakan perjuangan secara totalitas dalam dirinya. Namun yang terpenting adalah ia senantiasa merasa belum cukup sehingga ia terus belajar hingga menemukan harapan baru lagi.
Tak dapat rasanya ia disetarakan denganku. Jika dibandingkan, harapan yang kumiliki tak pernah ku besar-besarkan dalam benak diri. Perjuangan yang kulakukan tak pernah menjadi sebuah totalitas dalam gerak diri. Hingga akhirnya kemenangan yang kudapatkan tak pernah membuatku ingin belajar kembali terlebih menumbuhkan harapan baru lagi.
Lantas, ketika suatu hari aku mendapatkan kemenangan, apakah itu tamparan untuk diri?
Yang pasti, saat ini aku sungguh malu namun sangat berterima kasih padanya. Telah mampu membuatku tersadar bahwa seringkali aku mengabaikan kemenangan yang kudapatkan. Aku tak mensyukurinya dengan kembali belajar, aku terlalu membanggakannya dengan tak lagi menumbuhkan sebuah harapan.
Kini aku tahu mengapa aku selalu berada di posisi terbawah sedang ia berada di posisi teratas. Itu karena aku tak pernah memberikan totalitas dalam diri untuk berjuang, sedang ia bahkan melampaui batas diri agar mampu berkembang dan menang.
Ketika aku dan dia menang di waktu bersamaan, apa artinya semua ini?

Selasa, 09 Februari 2016

Bahagia Itu Sederhana

Entah untuk yang ke berapa kali nya kata Alhamdulillah ini terucap untuk sesuatu yang sederhana.
Nyatanya kita bahagia ketika hati kita tenang.
Bayangkan saat kita merasa benar-benar tertekan dengan ujian ataupun permasalahan yang sedang dihadapi saat ini, mungkin kita akan bersikap bodoh, menangis tersedu, bahkan hingga melampiaskan amarah dan emosi dalam diri tanpa alasan yang jelas. Bukankah itu hanya akan semakin menambah rasa sakit dalam diri kita?
Ada yang pernah mengungkapkan bahwa kita haruslah fokus pada tujuan hidup kita yaitu ibadah. Meski memang tak dapat dipungkiri bahwa kita pun menginginkan kesuksesan di dunia. Namun alangkah indahnya bukan jika saja seandainya kesuksesan dunia itu menghantarkan kita untuk semakin meningkatka kualitas iman dan intensitas dalam beribadah?
katanya "Jangan khawatir dengan dunia, karena itu milik Allah. Jangan khawatirkan pula rizkimu, karena semua itu dari Allah. Tapi, fokuslah untuk memikirkan satu hal, bagaimana menjadikan Allah ridho kepadamu". -Ustadz Musyaffa Ad Dariny-
yang terpenting adalah Allah ridha pada kita.
Jadi, jika ada masalah dan ujian, tersenyumlah saja, jalani dan hadapi, percayalah bahwa Allah akan senantiasa memberikan jalan dan kemudahan. Tentu dengan syarat adanya usaha dalam diri kita untuk berjalan dijalan kemudahan yang telah disediakan oleh Allah tersebut.

Singkat cerita, hari ini saya mengalami kondisi lemah dan payah dalam revisi proposal skripsi (maklum mahasiswa tingkat akhir haha).  Awalnya saya sangat ingin menangis dan menyerah dengan semua ini (hiks), hanya saja ketika saya teringat ada yang mengatakan bahwa "meragukan esok hari bisa atau tidak bisa makan pun sudah menghina Tuhan" karena rizki sudah diatur dengan begitu baik oleh-Nya yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alhasil saya berpikir, harusnya saya belajar bahagia saja. Harusnya saya belajar tenang saja, toh Allah sudah menetapkan kapan saya akan di ACC, kapan saya akan mulai bimbingan skripsi, kapan saya akan diberikan arahan untuk sidang, kapan saya akan menjalani ujian sidang tersebut hingga puncak akhir perkuliahan kapan dan dimana saya akan WISUDA. Jadi tugas saya hanya jalani proses revisi ini, berusaha sebaik mungkin dalam memanfaatkan waktu untuk mengerjakan revisian tersebut, dan percaya serta yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan. Entah itu dosen yang menyerah, atau otak dan pemikiran saya yang connect dengan maksud dari saran dosen tertentu.
Cobalah menjalani setiap permasalahan dengan penuh keyakinan dan harapan.
Sungguh rasanya menenangkan bisa selalu menggantungkan segala sesuatu pada-Nya yang Maha Segalanya.
Allah lah tempat bergantung kita.
-This is "Reminder" for my self-
Salam, semoga tenang dan bahagia Nisa.

Tentang PUSPA (tak terlalu penting ^^)



Program Pendampingan UMKM Syariah oleh Akademisi dan Praktisi ini lebih dikenal dengan kegiatan PUSPA. Pembicaraan tentang program ini dimulai bahkan jauh sebelum kami memasuki tahun ajaran baru. Kabarnya diharapkan acara ini diikuti oleh pengurus SCIEmics yang sudah berada di tingkat akhir perkuliahannya. Alhasil, terpilih lah dan terdaftar lah 10 orang perwakilan dari kampus tercinta kami, Universitas Pendidikan Indonesia. Jumlah total dari peserta PUSPA adalah 30 orang, sedang 20 orang lagi berasal dari kampus STIE Ekuitas dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan jumlah masing-masing kampus sebanyak 10 orang. Sedang pihak panitia dan pengurus adalah pihak CIES BI, Misykat DPU DT dan BJB Syariah.
Banyak yang kami dapatkan dari kegiatan PUSPA ini.
1.     Ilmu
Sekitar bulan september, dilakukan pembekalan terlebih dahulu. Isi dari pembekalan itu adalah mengenai teori-teori yang diharapkan dapat membantu peserta PUSPA selama kegiatan berlangsung dalam penerapannya di lapangan.
2.     Pengalaman
Waktu yang ditempuh untuk pembekalan, pelaksanaan hingga evaluasi dan penutupan adalah sekitar 5-6 bulan. Dan dalam waktu 6 bulan itu tentu banyak pengalaman yang didapatkan. Seperti saat-saat dimana kami menghadapi UMKM bersangkutan yang tentunya dapat dikatakan tidak mudah untuk dapat merealisasikan program kerja yang telah dirumuskan. Sebagian menerima dengan baik sedang sebagian lagi menolak dengan tegas.
Tapi jauh daripada itu, yang terpenting bagi kami bukanlah hanya tentang pencapaian keterlaksanaan program yang telah dirancang melainkan kebermanfaatan. Bagaimana caranya agar dengan adanya proses pendampingan ini pihak UMKM tidak merasa terganggu melainkan terbantu, juga dengan adanya peserta PUSPA sebagai pendamping UMKM akan memberikan dampak positif serta peningkatan yang baik bagi pihak UMKM, perubahan yang membanggakan. Bukan hanya dari segi pendapatan, tapi yang utama adalah penerapan nilai-nilai syariah.
3.     Kerja sama tim
Kelompok yang dibentuk dalam kegiatan ini adalah 10 kelompok, dimana terdapat 3 orang anggota pada masing-masing kelompok dan setiap orang dalam kelompok tersebut berasal dari kampus yang berbeda. Terkadang ada rekan tim yang sangat mudah dan menyenangkan diajak kerja sama namun ada juga yang cukup sulit bahkan untuk membuat janji pertemuan kelompok. Terkadang ada rekan tim yang memiliki waktu luang untuk melakukan pendampingan kapan pun itu, namun ada juga yang berada dalam kondisi dan tuntutan yang super sibuk. Tapi dibalik itu semua, ukhuwah sebagai saudara, angkatan pertama PUSPA, sejauh ini sudah dapat berjalan baik.
4.     Penghargaan
Meski pelaksanaan kegiatan PUSPA ini belumlah dapat dikatakan sukses dan masih jauh dari kata sempurna, pihak penyelenggara benar-benar memberikan apresiasi yang baik pada setiap peserta PUSPA. Adanya pemilihan peserta terbaik bukan untuk menunjukkan bahwa ia adalah satu-satunya yang sukses dalam kegiatan ini, melainkan ia adalah satu sosok yang menggambarkan angkatan pertama PUSPA yang berjumlah 30 orang. Penentuan kelompok terbaik pun bukan untuk menunjukkan bahwa hanya 3 atau 6 kelompok itu saja yang berhasil melakukan pendampingan, melainkan itu adalah bentuk penghargaan dari segi ketercapaian tujuan program. Karena tak dapat dipungkiri bahwa setiap usaha dan gerak dari setiap kelompok bahkan setiap orang memiliki perbedaan.
Mengingat tentang usaha dan gerak, kebermanfaatan, itulah yang utama dalam pencapaian dan ukuran keberhasilan PUSPA ini.
Semoga kebaikan senantiasa hadir pada diri setiap orang yang terlibat dalam pelaksanaan PUSPA ini. Rasanya membanggakan sekali bisa menjadi alumni PUSPA angkatan pertama. Alhamdulillah.
Siapapun yang membaca namun tak mengalaminya, ada hal penting yang ingin disampaikan dalam tulisan ini.
Setiap kegiatan berlabel organisasi memang memiliki tujuan dan ukuran ketercapaian program, namun yang paling utama dari semuanya adalah tentang kebermanfaatan.
Salam, peserta PUSPA.
AlFatih? Pelopor bukan Pengekor, Siap dan Buktikan, Allahu Akbar! =D

Kamis, 28 Januari 2016

Cumlaude



Cumlaude, suatu pencapaian hasil perkuliahan mahasiswa dengan rating IPK diatas 3,8 atau disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
Cumlaude, suatu impian dari setiap mahasiswa semenjak awal perkuliahan berlangsung.
Cumlaude, suatu tujuan atas adanya usaha setiap mahasiswa untuk mengusahakan nilai terbaik.
Cumlaude, suatu kebanggaan bagi orang yang mendapatkannya.
Cumlaude, aku tak tahu apakah aku akan mampu mendapatkannya dan layak mendapatkannya?
Di lingkungan sekitarku aku bertemu dengan orang-orang yang kemungkinan besar akan mendapatkan Cumlaude di akhir perkuliahannya. Tapi ada sesuatu hal yang menurutku cukup istimewa yang kudapatkan dari mereka.
Cumlaude bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan nilai A di setiap mata kuliah, tapi juga tentang bagaimana belajar dan berusaha keras, memanfaatkan waktu untuk menjadi seseorang dengan kualitas nilai A. Sehingga nilai A dalam mata kuliahnya akan sesuai dengan nilai A yang tercermin dalam dirinya.
Cumlaude, bukan hanya tentang ahli dan mampu dalam membahas setiap mata kuliah bersangkutan, tapi juga tentang menjelaskan secara singkat dan mudah dipahami oleh rekan-rekan yang meminta bantuannya dalam memberikan penjelasan disetiap mata kuliah.
Cumlaude, bukan hanya tentang memiliki hubungan dan etika yang baik terhadap dosen, tapi juga memiliki hubungan yang baik dengan setiap teman yang dikenalnya, dan terutama dengan Allah yang telah menciptakannya.
Cumlaude, ingin sekali rasanya aku belajar untuk menjadi layak mendapatkannya.
Ini bukan hanya tentang nilai, tapi juga tentang memberi manfaat pada sekitar.
Ini bukan hanya tentang kebanggaan pribadi, tapi juga tentang membantu teman secara tulus dari hati.
Untuk setiap pihak yang sudah memberikan inspirasi dan pandangan baru tentang Cumlaude meski tidak secara langsung, kuucapkan terima kasih. Selamat untuk tercapainya Cumlaude yang membanggakan dalam diri anda.
Salam pembelajar Cumlaude,
Nisa Wiyati Ilahi